
Perhatian!
Dalam cerita mengandung unsur dewasa. Seperti 21+, kekerasan fisik, darah, kata- kata umpatan dan lain-lain. Diharapkan pembaca bijak dalam menanggapi isi bacaan. Terima kasih.
*****
Sampai lewat tengah malam, Hansel akhirnya selesai dengan perkerjaannya. Ia mengerjakan tugas yang diberikan Micheline dengan sangat hati-hati dan teliti. Ia ingin memberikan rasa puas pada Micheline.
Hansel mematikan komputer dan merapikan berkas-berkas dokumen, lalu menumpuknya, meletakan di atas meja. Ia segera mrninggalkan meja kerja Micheline untuk menghampiri Micheline yang terlelap tidur di sofa ruang kerja. Micheline tertidur saat menunggu Hansel bekerja.
Ia berjalan perlahan mendekati sofa di mana Micheline tidur. Dibelainya wajah Micheline yang tertidur pulas. Bisa dilihat jelas wajah lelah Micheline oleh Hansel. Dengan hati-hati Hansel menunduk dan mengecup kening lalu turun ke hidung Micheline. Hansel duduk di samping Micheline, menaikan kakinya ke atas sofa, memasukan kakinya dalam selimut yang juga digunakan Micheline.
Tangan Hansel terus membelai lembut rambut Micheline. Dipandanginya lekat paras cantik perempuan di sampingnya itu. Ia tersenyum lebar, merasa senang dan tenang bisa ada di samping Micheline. Entah mengapa perasaan yang sebelumnya kacau saat berjauhan, kini sirna begitu mereka dekat satu sama lain.
"Mimpi indah sayang," bisik Hasel di telinga Micheline.
Cukup lama Hansel membelai-belai Micheline. Matanya yang tadi terbuka lebar, perlahan menyipit. Hansel merasa lelah dan mengantuk. Ia lalu berbaring di sampimg Micheline. Saat Hasel baru saja berbaring, Micheline yang tadinya tidur dalam posisi telentang, kini memutar posisinya miring menghadap Hansel. Mata yang mengantuk kembali melebar, Hansel terlejut karena tiba-tiba Micheline mengubah posisi tidurnya.
"Mengagetkan saja," gumam Hansel lirih.
Micheline tanpa sadar tidur dengan memeluk Hansel. Merasakan nyaman, Micheline membenamkan wajahnya ke dada bidang Hansel. Hansel mendekap Micheline, mengusap-usap punggung Micheline penuh kasih sayang. Selimut di naikkan oleh Hansel, lebih tinggi sampai menutupi setengah wajah Micheline yang tenggelam dalam dekapannya. Mata Hansel perlahan terpejam. Ia pun terlelap tidur dengan Micheline yang ada dalam pelukannya.
*****
Keesokan paginya. Micheline tejaga dari tidurmya. Ia meraba-raba sesuatu yang keras. Merasa tidak asing, Micheline pun membuka matanya ingin memastikan apa yang ia raba. Micheline melebarkan mata langsung saat ia melihat Hansel tidur di sampingnya.
Micheline kaget, "Apa-apan ini?" batinnya.
Mata Micheline melihat jam di dinding, jam sudah menunjukan pukul enam pagi. Saatnya untuknya juga budaknya bangun. Micheline pun membangunkan Hansel. Bukannya bangun, Hansel malah mendekap erat Micheline seakan tak ingin lepas.
"Hans..." panggil Micheline perlahan, "Sudah pukul enam. Ayo bangun," kata Micheline menepuk-nepuk punggung Hansel.
Karena didekap Hansel, Micheline tidak bisa bergerak bebas. Sekalinta bergerak ia justru tidak sengaja menyentuh sesuatu yang tidak seharusnya ia sentuh.
"Ahh, sial! kenapa harus aku menyentuhnya," batin Micheline merasakan sesuatu milik Hansel menonjol di bawah sana.
"Kau sengaja membuatku bergairah, ya?" bisik Hansel.
Micheline melebarkan mata, "Apa? tidak ada yang seperti itu. Lepaskan pelukanmu, ini terlalu erat. Aku tidak bisa bernapas," kata Micheline sedikit meronta.
__ADS_1
Hansel melepaskan pelukannya, "Sudah bisa bernapas?"
Micheline menghela napas, "Kenapa kau tidur di sini? aku tidak memitamu tidur bersamaku," keluh Micheline.
"Aku ingin. Memangnya ada masalah? kita kan hanya tidur bersama satu tempat, bukan bercinta. Kenapa reaksimu berlebihan seperti itu."
"Apa?" kaget Micheline, "berani sekali mulutmu bicara," kesal Micheline.
"Aku bisa lebih berani," jawab Hansel.
Micheline menatap tajam mata Hansel, "Lebih berani? kau kira aku akan tergoda olehmu, hah? menyebalkan," ucap Micheline, "Cepat bangun dan..." belum sampai kata-kata Micheline terucap semua. Hansel sudah langsung mencium bibir Micheline.
Micheline bergerak hendak mendorong Hansel, tetapi Hansel lebih dulu mendorong Micheline lalu menindihnya. Hansel memperdalam ciumannya. Kedua tangan Micheline diangkat sampai di atas kepala Micheline lalu disatukan dan dipegang satu tangan oleh Hansel.
"Umh," gumam Micheline ingin ciuman Hansel dilepas. Namun, Hansel tidak memepedulikan dan terus menyusuri bibir Micheline, dari tepi ke tepi atas dan bawah.
"Laki-laki ini semakin berani saja. Arrgh... aku tidak punya tenaga melawannya. Sial!" batin Micheline kesal dan mengumpat.
"Siapa suruh memancing birahiku," batin Hansel.
Hansel melepas ciumannya, "Ingin dilanjutkan?" godanya.
"Hahaha..." Hansel tertawa, "Aku tidak yakin kau akan membunuhku," jawab Hansel.
"Lepaskan tanganku!" seru Micheline.
Hansel mempererat genggamannya pada tangan Micheline, "Ada syarat yang harus kau penuhi jika ingin dilepaskan," kata Hansel menatap lekat mata Micheline.
"Aku tidak mau tawar menawar denganmu. Siapa kau bersikap seperti ini padaku," geram Micheline.
Micheline kesal karena Hansel berani kurang ajar padanya. Ingin melawan, tetapi ia tidak bertenaga. Ia merasa seluruh tubuhnya lemas. Mungki juga karena malam sebelumnya Micheline tidak makan malam denga benar dan hanya meminum wine.
"Terserah saja. Aku tidak akan terpengaruh oleh tatapan jahatmu, Bu CEO ku yang sexy."
Micheline memejamkan mata perlahan sembari meghela napas. Lalu ia kembali membuka matanya dan bertanya persyaratan apa yang harus dilakukannya dengan Hansel.
"Katakan langsung. Apa maumu?" tanya Micheline.
"Terima aku sebagai kekasihmu," ucap Hansel.
__ADS_1
"Tidak," tolak Micheline langsung tanpa berpikir panjang, "Apa yang kau inginkan jika aku tidak mau menjadi kekasihmu," tanya Micheline.
"Bercinta denganku," jawab Hansel tanpa rasa malu.
"Kau..." kata-kata Micheline terhenti karena Hansel sudah membungkam bibir Micheline dengan bibirnya.
Merasa dipermainkan, Micheline tidak ambil pusing lagi. Micheline melawan dengan cara menggigit bibir Hansel. Seketika Hansel melepaskan ciumanya karena merasakan sakit karena bibirnya terluka.
"Jangan mempermainkanku. Aku tidak akan segan lagi padamu, Hans."
Hansel menunduk kesal, "Hah..." lengkuhnya, "Pada akhirnya aku hanya membuatmu kesal, ya. Maafkan aku," ucap Hanseo melepaskan tangan Micheline lalu berdiri dari segera dori posisinya.
"Aku sedang malas bergurau denganmu, Hans. Jangan membuatku emosi dan kesal. Atau aku sungguh-sungguh akan melakukan hal buruk padamu," ungkap Micheline yang langsung bangun dan duduk bersandar sofa.
"Aku tidak bisa tahan jika kau terus mengulur waktu," kata Hansel.
"Aku juga tidsk tahan kau terus bersikap seperti tadi, Hans. Jangan buat aku menunjukan sisi kejamku padamu," jawab Micheam seakan mengancam Hansel. Micheline juga langsung meleabrkan matanya.
"Baiklah-baillah. Aku tidak akan melakukan hal ini lagi. Jangan marah dan kesal padaku, ok?" kata Hansel.
"Lupakan saja. Apa pekerjaamu sudah selesai?" tanya Micheline.
Hansel mengangguk, "Sudah. Aku mengerjakannya dengan cermat dan sangat teliti. Semoga kau puas dan memberikan hadiah untuk kerja kerasku," jawab Hansel.
"Hadiah apa? tidak ada hadiah untukmu. Satu kesalahan sudah mendapatkan hukuman. Kau sudah berulah lagi," kesal Micheline.
Micheline melihat Hansel, Hansel terlihat sedih karena dirinya terus mengomel dan menyalahkan Hansel. Melihat tatapan sedih tidak berdaya Hansel, membuat Micheline tidak tega. Tidak tahu kenapa, setiap Micheline kesal dan marah pada Hansel. Seketika rasa kesalnya bisa berubah menjadi rasa kasian. Ia tidak bisa marah-marah sampai meluap pada Hansel.
"Wajahnya sangat mengesalkan. Bisa-bisanya memasang wajah seperti itu," batin Micheline tidak habis pikir.
"Aku akan periksa semua dokumen yang kau kerjakan. Kau buatkan aku sarapan, itu hukumanmu hari ini. Aku sangat lapar, Hans. Buatkan sarapan yang lezat dan enak, ya. Aku hanya makan sore saat bersamamu itu saja. Malamnya aku tidak makan lagi," jelas Micheline.
"Sesuai perintahmu," jawab Hansel.
Hansel langsung pergi meninggalkan Micheline di ruang kerja milik Micheline. Micheline merasa tidak enak pada Hansel. Tidak ada yang salah jika Hansel ingin mencitainya, tetapi Micheline masih enggan menerima karena takut Hansel akan terseret jauh dengan masalahnya.
"Apa aku terlalu keras padanya, ya? aku tidak bisa bersikap melunak karena aku tidak ingin dia terseret jauh dalam urusanku dan Paman. Aku tidak ingin menjadikan siapapun tameng menghadapi Paman. Aku tidak bisa melibatkan siapapun," batin Micheline.
Micheline memijat lembut pangkal hidungnya. Ia tidak tahu harua bicara apa untuk menjelaskan situasinya pada Hansel. Ia tidak pernah sekalipun membenci Hansel atau tidak menyukai Hansel, tetapi ia juga tidak ingin Hansel terluka. Hansel adalah orang yang keras kepala menurut Micheline. Ia yakin jika Hansel pasti akan bersiap melindunginya, jika terjadi apa-apa. Hal itu bisa terlihat jelas dari sikap Hansel yang selalu siaga.
__ADS_1
...*****...