My Sexy CEO

My Sexy CEO
MSC 90 - Hati Yang Risau


__ADS_3

Jesslyn dan Micheline saling diam. Entah mengapa Micheline tidak fokus menjawab pertanyaan yang dilontarkan Jesslyn. Pikirian Micheline berlarian tiada arah tujuan. Tidak beberapa lama, Keily dan Jason datang. Keduanya masuk dalam ruangan lalu menyapa Micheline.


"Hallo, kak." sapa Keily.


"Nona, bagaimana keadaan anda?" tanya Jason.


"Hai. Jason, Keily. Apa kabar kalian berdua? aku sudah lebih baik. Terima kasih," jawab Micheline.


"Oh, syukurlah. Senang saat Kak Jesslyn menghubungiku. Mengatakan jika Kakak sudah bangun setelah beberapa hari tidak sadarkan diri. Apa kakak tahu? aku sedih dan khawatir," kata Keily, menyampaikan isi hatinya.


"Oh, maafkan aku. Aku tak bermaksud seperti itu, Kei. Terima kasih banyak, kau sudah mengkhawatirkanku." sahut Michelie tersenyum tipis.


Jason menatap Jesslyn, "Kakak tidak berjaga di klinik?" tanya Jason.


Jesslyn menggelengkan kepala perlahan, "Tidak. Hari ini aku akan menemani Nona. Kau sendiri, apa yang kau kalukan seharian? pekerjaanmu hanya merepotkan Keily saja," kata Jesslyn mencibir Jason.


"Aku membantu Keily membersihkan apartemennya. Entah, sudah berapa lama tidak dibersihkan. Banyak debu berhamburan," sindir Jason, melirik Keily.


Keily menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Ya, mau gimana lagi. Aku kan sibuk. Kau yang sedang santai, dan hanya kau yang bisa membantuku." jawab Keily, setengah malu-malu.


"Tidak apa, Kei. Perbudak saja Jason. Dia hanya akan jadi pemalas jika terlalu banyak berdiam diri," goda Jesslyn.


Micheline merasa sedikit terhibur dengan adanya Jesslyn, Keily dan Jason. Namun tetap saja, perasaan tidak tenang menyelimuti hatinya. Rasanya ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.


Jesslyn mendekati Micheline dan bertanya, "Ada apa? Nona terlihat gelisah sejak tadi," tanya Jesslyn.


Micheline menggelengkan kepala, "Entahlah, rasanya hatiku tidak tenang sama sekali. Apa ada kabar dari Charlie?" tanyanya.


"Tidak ada informasi apapun dari Charlie. Ada apa? apa perlu aku hubungi dia?" tawar Jesslyn.


"Tidak, tidak, biarkan saja. Pasti saat ini dia sedang sibuk bekerja. Mungkin saja ini hanya perasaanku yang memang tidak nyaman," jawab Micheline.


"Istirahatlah, Kak. Kakak terlihat pucat," saran Keily melihat keadaan Micheline.


"Aku baik-baik saja. Tidak apa-apa," jawab Micheline.


Keily dan Jesslyn saling memandang. Jesslyn pun mengajak Keily keluar dari ruangan agar Micheline bisa istirahat. Keily menyetujui, begitu juga Jason.


"Keily, Jason. Ayo minum kopi. Biarkan Nona istirahat dulu," ajak Jesslyn.


"Ok," jawab Jason.


"Ayo, Kak. Aku juga ingin minum kopi," jawab Keily senang.


"Nona, boleh aku mengajak mereka keluar sebentar minum kopi, kan? Nona istirahatlah. Kami akan segera kembali," kata Jesslyn.


"Baiklah, baiklah. Aku akan pergi tidur. Kalian bisa santai minum kopi. Tidak apa-apa," jawab Micheline yang langsung mengubah posisinya berbaring.


Setelah meminta izin dan berpamitan, Jesslyn, Keily, dan Jason pun pergi. Micheline seorang diri di dalam ruangan. Jesslyn sengaja meninggalkan Micheline sendiri, agar Micheline bisa istirahat.


*****


Ponsel Charlie terus berdering di atas meja di dalam ruangan. Charlie baru saja masuk dalam ruangannya, selepas rapat. Mendengar ponselnya berdering, ia bergegas mendekati meja kerjanya untuk mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja.

__ADS_1


"Hansel," gumam Charlie. Ia segera menerima panggilan dari Hansel.


"Ya, Hans... maaf, aku sedang rapat tadi." jawab Charlie menjelaskan.


"Semuanya kacau! ada hal besar terjadi, Charlie." kata Hansel.


"Kacau? hal besar apa? jelaskan perlahan," ucap Charlie mulai mengernyitkan dahi.


"Saat aku tiba di lokasi, bersama bibiku dan juga anaknya. Aku melihat semua penjaga terkapar tidak bernapas, Matteo terluka, dan... dan Jack, dia juga sama seperti para penjaga. " jelas Hansel.


"Di mana Pamanmu?" tanya Charlie.


"Itulah yang membuatku bingung. Pamanku tidak ada. Apa ada seseorang yang sengaja membawanya?" sahut Hansel


Charlie berpikir sejenak, "Tunggu aku. Kau akan segera ke sana. Di mana Matteo?" tanya Charlie lagi, yang langsung melangkah keluar dari ruangannya.


"Aku meminta Luky membawanya ke rumah sakit bersam bibi juga. Aku masih di lokasi mencari paman," kata Hansel.


"Tunggulah, aku akan datang dan membawa bantuan." jawab Charlie.


"Ya," jawab Hansel yang langsung mengakhiri panggilannya.


"Bagaimana bisa ada kejadian seperti ini? berani-beraninya, " batin Charlie berlari keluar gedung kantor.


*****


Jesslyn, Keily dan Jason sudah berada di luaf gedung rumah sakit. Mereka hendak pergi ke kedai kopi di area sekitar rumah sakit. Tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti di lobby dan keluar seseorang dari dalam mobil sembari berteriak meminta bantuan.


"Ada apa, Kak?" tanya Keily penasaran, melihat arah yang sama seperti yang dilihat Jesslyn.


"Kalian bisa duluan ke kedai kopi. Aku masih harus memastikan sesuatu," ucap Jesslyn yang tiba-tiba pergi.


Keily dan Jason saling bertatapan. Keily mengangkat alisnya seakan bertanya, 'ada apa?' dan Jason mengangkat kedua bahunya seakan menjawab, 'Entahlah atau tidak tahu'. Keily menghela napas, ia pun menarik tangan Jason dan mengajaknya pergi mengikuti arah kepergian Jesslyn.


"Ayo, Jason..." ajak Keily, menarik tangan Jason dan lalu berjalan cepat menuju arah yang dituju Jesslyn.


"Eh, kita mau ke mana?" tanya Jason yang bergerak mengikuti Keily.


"Mengikuti Kakakmu," jawab Keily.


Keduanya berjalan cepat menyusul Jesslyn. Dari jarak yang cukup jauh, terlihat oleh Keily dan Jason, Jesslyn masih terus berjalan dengan langkah setengah berlari.


*****


Benar saja apa yang dilihat oleh Jesslyn. Kedua orang yang dilihatnya memanglah Ertha dan Luky. Jesslyn pun menghampiri kedunya yang berada di depan ruang perawatan seperti sedang menunggu seseorang.


"Bibi, Luky..." sapa Jesslyn. Jesslyn mengatur napasnya sedikit terengah.


"Jesslyn," panggil Ertha menatap arah Jesslyn.


"Kau di sini? bukan kah kau dokter hewan? kenapa di rumah sakit?" cecar Luky penasaran, menatap arah Jesslyn juga.


"Nona Micheline di rawat di rumah ini. Ada apa? siapa yang membuat kalian menunggu?" tanya Jesslyn ingin tahu.

__ADS_1


"Oh, itu. Bagaimana caraku menjelaskannya, ya. Intinya aku dan Mamaku hendak menemui Papaku bersama dengan Hansel. Setibanya kami di sana, semua orang sudah tergeletak di lantai berlumuran darah. Sepertinya ada lebih dari satu orang yang menyusup dan membuat semunya seperti itu. Saat aku hanya diam karena tidak tahu harus apa, tiba-tiba saja Hansel memanggilku. Selanjutnya kami diminta mengantar seseoranv bernama Matteo ke rumah sakit. Karena terluka," jelas Luky mendetail.


"Ah, begitu. Lalu, di mana Hansen? aku tidak melihatnya," tanya Jesslyn melihat sekeliling.


"Dia tinggal di sana. Katanya masih ingin memastikan sesuatu," jawab Luky.


Jesslyn diam sejenak. Ia pun lalu mengajak Ertha dan Luky untuk duduk di tempat yang sudah tersedia. Keily dan Jason tiba-tiba datang dan menghanpiri Jesslyn.


"Kakak..." sapa Keily.


"Oh, Kei. Kalian menyusulku?" tanya Jesslyn.


Keily mengangguk, "Ya, Kak. Kami khawatir sekaligus penasaran," jawab Keily.


"Kalian, tolong aku jaga Bibi dan Putranya. Aku ingin menghubungi seseorang dulu," pinta Jesslyn yang langsung berjalan menjauhi semuanya.


Jesslyn mengeluarakan ponselnya, ia menghubungi Charlie. Ia ongin memberitahu serta bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Dan, apakah Charlie sudah mengetahui kejadian yang dia dengar dari Luky atau belum. Panggilan Jesslyn di terima oleh Charlie. Suara Charlie terdengar seperti seseroang yang sedang kesal.


"Hallo," jawab Charlie.


"Sayang, ada apa? suaramu... apa kau sedang kesal?" tanya Jesslyn.


"Sedikit. Sisanya khawatir saja. Ada apa, sayang? apa terjadi sesuatu?" tanya balik Charlie.


"Umh, begini. Aku bertemu Bibi Ertha dan Luky, membawa seseorang yang terluka datang ke rumah sakit. Kau tahu, ada apa? apa Hansel sudah menghubungimu?" tanya Jesslyn lagi.


"Sudah. Aku sedang dalam perjalanan menyusulnya. Hampir sampai," jawab Charlie, "Sayang, aku sampai. Nanti aku hubungi. Ok. Jaga baik-baik dirimu sendiri dan tolong awasi Micheline. Hubungi aku jika kau melihat sesuatu yang mencurigakan atau hal yang janggal. Ingat, apapun yang terjadi minta bantuan orang sekelilingmu. Jangan melakukan tindakan yang tidak menguntungkan," kata Charlie berpesan pada Jesslyn.


Jesslyn menganggukkan kepalanya, "Iya, Aku mengerti." jawab Jesslyn, "Hati-hati. Semoga tidak ada hal buruk terjadi," imbuh Jesslyn.


"Semoga saja. Terima kasih, sayang. Aku mencintaimu..." kata Charlie yang langsung mengakhiri panggilan Jesslyn.


Jesslyn menatap layar ponselnya. Ada foto Charlie dan dirinya yang terpasang menghiasi layar ponselnya. Jesslyn mengusap gambar Charlie. Berharap tidak terjadi sesuatu pada orang kesayangannya itu.


...*****...


**Yuk, follow ig author


ig: dea_anggie


Jangan lupa like setiap episodenya ya..


Bagi-bagi Hadiah dan votenya juga..


Semakin banyak hadiah semakin rajin author update lho..


Ayo... ayo... kasih semangat dan dukungan buat author..


Terima kasih semuanya...


Bubaiii~~~ sampai jumpa di episode selanjutnya..


Salam hangat dari author~~🙂**

__ADS_1


__ADS_2