My Sexy CEO

My Sexy CEO
MSC 96 - Kejutan Manis (Hansel)


__ADS_3

Hansel*


Aku dan Micheline pergi meninggalkan rumah, hendak ke kantor. Entah apa yang Micheline bicarakan dengan Charlie. Yang jelas, perempuan kesayangku ini mengajakku untuk segera bergegas. Aku hanya menjawab, 'Ya' dan segera bergerak mengikuti kemauannya. Aku tidak bisa untuk mengabaikan apa yang ia inginkan.


Kurang lebih setelah melewati setengah perjalanan, Micheline memintaku mencari toko bunga terdekat. Aku pun bingung, untuk apa ia mencari toko bunga? dan jika ingin membeli bunga, bunga untuk siapa?


"Berenti di toko bunga, Hans." katanya memecah keheningan.


"Toko bunga?" ulangku.


"Hm," gumamnya.


Aku hanya diam, namun aku bingung sendiri. Meski bingung, aku tidak bisa menolak apa yang ia pinta. Aku pun memperhatikan jalanan, mencari di mana letak toko bunga terdekat. Aku melihatnya, segera ku arahkan laju mobil menuju tempat tersebut. Mobil pun terparkir di depan toko bunga.


"Apa kau suka bunga, Hans?" tanya Micheline, lalu menatapku.


Aku terkejut, aku tidak membenci bunga. Tetapi tidak juga terlalu menyukainya. Apa yang harus aku katakan? hah, aku katakan saja aku menyukainya.


"Apa? bunga? Hm... suka, aku suka bunga Mawar putih." jawabku tanpa ragu. Sebenarnya ragu-ragu, namun aku berusaha menutupinya.


"Kenapa suka dengan mawar putih?" tanya Micheline. dan itu membuatku kembali bingung.


Aku kembali berpikir, "Itu, mungkin karena dulu pengasuhku sering mengajakku ke taman saat aku merasa kesepian. Dan di taman itu hanya ada mawar putih yang bermekaran, yang kulihat. Jadi aku menyukainya," jawabku menjelaskan.


Micheline berpamitan hendak pergi ke toko bunga itu. Aku ingin turun dari dalam mobil dan menemanimya. Tetapi ia menolak permintaanku. Kami sempat sedikit saling bersitegang.


"Menurutlah, sayang. Aku tidak lama," kata Micheline begitu manis. Micheline pun langsung keluar dari dalam mobil, meninggalkanku seorang diri yang ternganga karena terkejut.


"Sa, sayang? dia bisa mengucapkan kata itu? padaku?" gumamku terheran-heran. Aku pun lalu tersenyum, "Apa ini mimpi? dia manis sekali," gumamku lagi dengan wajah merona.

__ADS_1


Cukup lama aku menunggu kira-kira hampir sepuluh menit lamanya. Ku lihat Micheline keluar dari toko bunga dengan membawa buket bunga dengan ukuran yang cukup besar. Ia mendekati mobil, menyimpan buket bunganya di bangku belakang. Aku jadi penasaran, untuk diberikan kepada siapa buket bunga itu. Aku pun iseng bertanya, jawabannya diluar dugaanku. Ia menjawab pertayaanku, entah dengan sengaja memancing cemburuku, atau ia memang benar-benar tidak tahu bagaimana perasaanku.


Aku menanyakannya. Apakah itu buket bunga untuk laki-laki atau perempuan?


Kudengar jawaban yang sukses membuatku teramat kesal. Apa lagi jika bukan 'laki-laki', aku kembali bingung. L**aki-laki siapa yang berani mendekati Micheline? aku tidak akan membiarkannya begitu saja, batinku tersiksa.


Sementara aku yang yang menahan kekesalan. Micheline hanya tersenyum-senyum seakan tidak bersalah. Aku diam, dan membiarkannya. Jika memang terjadi sesuai apa yang ia katakan, aku akan lamgsung bertindak. Bahkan aku akan langsung merampas dan membuang buket bunga itu ke tempat sampah.


Tidak terasa kami sudah sampai. Sepanjang perjalanan, aku hanya sibuk memikirkan siapa orang yang akan mendapat buket. Micheline keluar dari dalam mobil, aku menyusulnya dan meninggalkan mobil di lobby. Mobil yang aku tumpangi bersama Micheline, akan dipindahkan oleh penjaga. Micheline melangkah memasuki gedung kantor, langkah kakiku mengikutinya. Baru saja masuk pandangan semua orang sudah tertuju pada kami. Beberapa berbisik-bisik, entah apa yang mereka gosipkan. Beberapa lain menyapa karena berpapasan dengan kami. Tak kulihat Micheline menanggapi, ia hanya berjalan terus menuju ruang pertemuan yang aku pun tidak tahu ada apa di sana.


Langkah kakinya terhenti, aku pun menghentikan langkah kakiku juga. Kami sudah ada di depan sebuah ruangan yang biasa kami gunakan untuk pertemuan besar disetiap bulannya. Tiba-tiba aku merasa tegang, sampai-sampai Micheline menegurku. Ia tahu jika aku sedang tegang. Tetapi aku berusaha menutupinya. Kubuka pintu ruangan dan mempersilakannya masuk dalam ruangan.


Micheline berjalan dengan langkah kaki elegan menuju tempat duduknya. Ia tidak langsung duduk, ia berdiri dan langsung menyapa. Bahkan perempuan yang kukenal lebih dari satu tahun itupun hanya memberikan sambutan sepatah dua patah kata saja. Ternyata, ada beberapa orang yang meminta pembatalan kontrak secara sepihak. Aku kaget, kenapa hal ini baru terjadi sekarang, selama aku bekerja di sini. Baru kali ini ada klien kami yang bahkan rela membayat ganti rugi pembatalan kontrak.


Aku hanya berdiri mematung dekat pintu. Karena aku tidak bertugas dan aku hanya ingin mengawalnya saja saat ini. Sesuatu yang tidak mengenakkan kudengar. Seperti sindiran yang mengarah pada seseorang. Aku kesal, ia berani mengatai Eline-ku di hadapanku.


Apa maksudnya? calon suami? siapa? aku? cecarku


Suasana berubah tegang, Micheline berhasil membuat semuanya terdiam sekaligus tercengang. Aku masih tetap diam, aku sungguh tidak tahu apa yang terjadi. Namun, tiba-tiba saja Micheline melangkah ke arahku. Ia menyerahkan buket bunga yang dipeluknya padaku dan mengatakan hal mengejutkan.


Ia memintaku menikah dengannya. Bahkan ia tidak ragu menatapku dengan tajam saat mengatakan hal tidak terduga itu. Sungguh, ini semua seperti mimpi. Dadaku berdebar, jantungku melompat-lompat seperti katak di yang bermain air. Aku sungguh senang, sangat, sangat senang. Sesaat aku diam, aku menyusub jawabanku dan tidak lama menjawab pertanyaanya padaku.


Sesaat setelah menjawabnya, aku memeluknya erat. Rasanya ingin segera kubawa pergi ia dari ruangan dan segera menikahinya hari ini juga. Keinginanku kupendam, aku tidak ingin mengacaukan hari bahagia ini.


Seperti mimpi. Perempuan yang bahkan dengan mulutnya sendiri terang-terangan mengatakan tidak mencintaiku sebelumnya, kini ia di hadapanku dan bahkan melamarku. Ini sedikit aneh, perempuan cantik yang sekaligus seorang CEO mau melakukan hal gila seperti ini. Aku sebagai laki-laki malu sebenarnya, tetapi rasa maluku tertutup dengan rasa bahagiaku. Ini adalah kesempatan emas untukku. Ia sungguh mengejutkan, meluluh lantakan perasaan dan membawaku terbang meraih angan. Terima kasih, Eline. Terima kasih. Aku sangat senang sampai ingin menangis. Aku sangat bahagia, sampai aku tidak tahu harus bicara apa lagi. Terima kasih, aku mencintaimu.


*****


Kami ada di ruangan Micheline, di hadapan kami ada Charlie yang dengan raut muka tegang dan tatapan mata yang tajam. Ini aneh, ia seperti bukan Charlie. Tidak lama, ia mengatakan kata-kata yang mengejutkan. Iya, mengejutkan untukku dan mungkin untuk Micheline juga. Ia memberikan kabar gembira karena ia akan menikah dengan Jesslyn, kekasihnya di akhir bulan ini. Ia bahkan mengabarkan jika Jesslyn sedang mengandung buah cinta keduanya.

__ADS_1


Aku sempat mengira Charlie akan menentang hubunganku dengan Micheline. atau apalah yang intinya menentang pernikahan kami. Nyatanya, ia seperti orang yang tidak mau tersaingi, ia tidak mau pernikahanya didahului oleh kami. Sungguh psikopat gila yang aneh. Aku sempat tersenyum, tetapi tiba-tiba perasaanku berubah menjadi sedih. aku terbayang akan kejadian enam bulan lalu, di mana kami harus kehilangan calon bayi kami. Dan itu seperti pukulan untukku.


Jika saja, jika saja kejadian itu tidak terjadi. Jika saja aku tahu akan ada kejadian seperti itu. Jika saja aku bisa menolongnya saat itu. Pikiranku seketika kacau. Hanya di penuhi kata-kata 'Jika saja' ini sangat berat. Meski sudah enam bulan berlalu, selamanya aku tak akan bisa melupakan kejadian buruk itu di dalam hidupku.


Micheline menghiburku, aku tahu ia lebih sedih dariku, ia merasakan kehilangan serta menderita dalam kesakitan. Tetapi aku justru seperti anak-anak yang merengek padanya. Dengan tegarnya, ia menenangkanku.


Rasa sedih bercampur bahagia. Satu hal yang bisa ku janjikan padanya, selamanya aku tidak akan pernah berpaling darinya. Aku akan selalu ada di sisi perempuan ini, baik itu dalam keadaan paling buruk dan terpuruk sekalipun. Aku akan menjadi perisainya, pionnya, dan wadahnya bernaung. Tidak akan kubiarkan ia menangis dalam kesedihan, dan hanya akan kuberikan kebahagiaan semumur hidupnya.


Hari ini, aku menerima kejutan termanis dalam hidupku. Dan ini, tidak akan bisa aku lupakan. Bahkan sampai akhir mataku tertutup tanpa bisa dibuka lagi.


...*****...


**Yuk, follow ig author


ig: dea_anggie


Jangan lupa like setiap episodenya ya..


Bagi-bagi Hadiah dan votenya juga..


Semakin banyak hadiah semakin rajin author update lho..


Ayo... ayo... kasih semangat dan dukungan buat author..


Terima kasih semuanya...


Bubaiii~~~ sampai jumpa di episode selanjutnya..


Salam hangat dari author~~🙂**

__ADS_1


__ADS_2