My Sexy CEO

My Sexy CEO
MSC 39 - Lihat Aku Dan Percayalah


__ADS_3

Di rumah sakit. Mendengar kabar Kakaknya kembali, Keily dan Jason langsung menyambut kedatangan Kakak mereka masing-masing.


"Kakak," panggil Keily memeluk Charlie.


Charlie mengusap rambut Keily, "Kau baik-baik saja, kan? tidak terluka?" tanya Charlie.


Keily menggeleng lalu melepas pelukannya, "Aku tidak kenapa-kenapa, Kak. Kakak kenapa tidak pakai baju?" tanya Keily, Keily melihat darah yang terus menetes dari lengan Charlie. ia pun panik, "Kakak terluka?"


Charlie mengusap wajah Keily, "Aku baik-baik saja. Ini hanya luka kecil," jawab Charlie.


Mucheline memanggil dokter dan meminta dokter mengobati luka Charlie. Saat dokter mempersilakan Charlie ke ruang perawatan, ia menatap Jesslyn dan mengajak Jesslyn ikut bersamanya.


"Jason, kaki kakakku terkilir. Dia juga harus mendapatkan perawatan. Boleh aku bawa Kakakmu bersamaku?" tanya Charlie.


Jason menatap Charlie, "Iya," jawab Jason.


"Kau bisa jalan? mau pakai kursi roda? atau aku gendong?" tanya Charlie.


"A-aku bisa jalan pelan-pelan. Tidak perlu repot," jawab Jesslyn.


"Baiklah jika seperti itu, kemarikan tanganku. Aku akan memapahmu," kata Charlie mengulurkan tangannya.


Jessly menatap tangan Charlie lalu menyambut uluran tangan Charlie. Keduanya berjalan perlahan mengikuti dokter untuk menjalani perawatan. Hansel menghampiri Micheline dan menanyakan keadaan Micheline.


"Kau baik-baik saja?" tanya Hansel menatap Micheline.


"Ya. Seperti yang kau lihat," jawab Micheline.


"Lalu, bagaimana dengan orang yang membawa Jesslyn?" tanya Hansel lagi.


"Nona, apakah Calvin akan mengganggu kami lagi?" tanya Jason.


Micheline menggeleng, "Aku akan pastikan ini yang terakhir dia bisa berulah. Tidak akan ada kejadian seperti ini lagi kedepannya. Kau bisa tenang, Jason. Bagaimana keadaan Kakekmu?" tanya Micheline.


"Untunglah Kakek baik-baik saja. Beliau hanya tidak sadarkan diri karena jatuh dan terkejut," jawab Jason.


"Syukurlah, jika begitu. Apa kau juga baik-baik saja? lukamu parah?" tanya Micheline memastikan.


"Tidak apa, Nona. Aku sudah mendapatkan perawatan," jawab Jason tersenyum.


Micheline tersenyum lega. Meski sempat terjadi kekacauan. Ia merasa senang karena bisa menyelamatkan orang-orang terdekatnya.


*****


Dokter selesai memeriksa, seorang perawat bertugas mengobati dan membalut luka di lengan Charlie. perawat juga memberikan perawatan pada pergelangan kaki Jesslyn.


"Nona, apakah ada luka di bagian lain?" tanya perawat yang baru saja selesai merawat pergelangan kaki Jesslyn.


Jesslyn menggeleng, "Tidak ada. Terima kasih," jawab Jesslyn.


"Baiklah jika seperti itu. Bagaimana dengan Anda, Tuan?" tanyanya lagi menatap Charlie.

__ADS_1


"Lukaku hanya di lengan," jawab Charlie.


"Baiklah jika seperti itu. Silakan Anda berdua beristirahat lebih dulu. Saya permisi," pamitnya yang langsung pergi meninggalkan Charlie dan Jesslyn di dalam ruangan.


Charlie menatap Jesllyn, "Apa kakimu sudah lebih baik setelah dirawat?"


Jesslyn mengangguk, "Ya. Kakiku sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Oh... bagaimana dengan lenganmu? pasti sakit sekali."


"Tidak sakit sama sekali. Luka seperti ini bukan hal besar buatku. Setidaknya masih mending dibandingkan luka tusuk, kan?" jawab Charlie.


Jesslyn meraba lengan Charlie, "Terima kasih, Charlie. Kau sudah menolongku," ucap Jesslyn berterima kasih pada Charlie.


"Ya. Sama-sama. Aku senang bisa menolongmu, lega rasanya saat aku bisa menemukanmu. Meski aku sempat melihat sesuatu yang membuatku naik darah."


Jesslyn menangis, "Ini semua salahku. Kau juga Nona Micheline jadi terlibat. Seharusnya aku tidak menolaknya, jika aku mau menikah dengannya, mungkin saja hal ini tidak akan terjadi. Kakek, Jason, dan kalian semua akan baik-baik saja."


Charlie mengernyitkan dahi, "Kau mau menikah dengannya?"


Jesslyn menggeleng, "Aku tidak menyukainya, tentu saja aku tidak ingin menikah dengannya. Tapi jika itu jalan satu-satunya agar semua bisa tenang, aku harus lakukan, kan?"


Charlie menarik napas dalam lalu mengembuskan panas kasar, "Jika kau menikah dengannya. Apa yang yang aku lakukan hari ini akan jadi sia-sia. Cara satu-satunya tidak harus kau menikah dengannya. Kau bisa mencari seseorang yang bisa melindungimu juga keluargamu, kan? seseorang yang memiliki kekuasaan juga kemampuan."


"Aku tidak punya teman ataupun kenalan seperti itu. Lagi pula, mana ada laki-laki yang mau denganku?" kata Jesslyn.


"Tentu ada," jawab Charlie.


"Ada? di mana?" tanya Jesslyn mengernyitkan dahi.


Jessly semakin bingung, "Dihadapanku? dihadapanku kan cuma ada kau. Tidak ada orang lain lagi."


"Kau ini polos atau memang tidak peka, Jesslyn. Tentu saja dihadapanmu hanya ada aku. Artinya ada aku yang bisa kau andalkan. Aku tidak keberatan menjadi pelindungimu juga keluargamu."


"Apa? apa kau tidak salah bicara? jangan mmebuatku bingung dengan ucapanmu," kata Jesslyn.


"Tatap mataku, Jesslyn."


Jesslyn menatap mata Cahrlie, "Kenapa memintaku menatap matamu?"


"Apa aku terlihat sedang bergurau? apa aku terlihat seperti sedang bermain-main atau bicara omong kosong?" tanya Cahrlie.


Mata Jesslyn berkaca, ia lalu kembali menangis. Charlie menyeka air mata Jesslyn, Charlie lalu memeluk Jesslyn. Mengusap lembut punggung dan kepala belakang Jesslyn.


"Kau percaya padaku, kan?" bisik Charlie.


Jesslyn mengangguk, "Ya," jawab Jesslyn mengeratkan pelukan.


Jesslyn merasa nyaman saat berpelukan dengan Charlie. Rasa cemas dan khawatirnya langsung sirna. Charlie melepas pelukannya dan menatap wajah cantik Jesslyn. Diciumnya kening Jesslyn dengan penuh perasaan.


"Jangan khawatir tentang apapun lagi. Karena aku akan selalu ada di sisimu," ucap Charlie mengusap-usap wajah Jesslyn.


Jesslyn tersenyum malu, "Terima kasih."

__ADS_1


Charlie mendekatkan wajahnya perlahan-lahan ke wajah Jesslyn. Hidung keduanya saling menempel satu sama lain. Tidak beberapa lama, bibir Charlie dan Jesslyn saling bersentuhan. Mereka saling berciuman. Jesslyn mengalungkan kedua tangannya ke leher Charlie. Charlie merangkul pinggang Jesslyn dengan tangan kiri dan tangan kanannya menyusup ke tengkuk leher Jesslyn. Mata Jesslyn memejam, begitu juga Charlie. Mereka saling meluapkan perasaan masing-masing.


*****


Charlie meminta Micheline kembali ke Villa bersam Keily, Jason dan Jesslyn. Charlie mengatakan pada Jason dan Jesslyn untuk tinggal dulu di Villa. Meminta Micheline meminjamkan pakaiannya untuk Jesslyn, dan meminta Keily menemani Jesslyn tidur.


"Kau juga seharusnya pulang, Charlie. Biar aku saja yang berjaga di sini. Kau kan juga terluka," kata Hansel.


Charlie menggeleng, "Tidak apa-apa. Dua orang lebih baik daripada seorang diri, kan?" jawab Charlie.


"Kau ada sesuatu? kenapa kau perhatian sekali pada Jesslyn?" bisik Micheline.


Charlie melebarkan mata, "Aku akan ceritakan nanti. Jangan bertanya apapun pada Jesslyn, kau mengerti?" jawab Charlie yang juga berbisik.


"Baiklah, Hansel dan Charlie akan tinggal. Ayo kita kembali ke Villa dan istirahat. Aku juga sudah sangat lelah," kata Micheline.


"Kak, berhati-hatilah. Kami pulang dulu," kata Keily memeluk Charlie.


"Kei," panggil Charlie.


"Ya," jawab Keily.


"Bisakah kau pinjamka jaketmu pada Jesslyn? Kakakmu tidak mungkin bertelanjang dada sepanjang malam, kan?" bisik Charlie pada Keily.


"Ah, iya. Ini yang ingin aku tanyakan. Memangnya kenapa Kak Jesslyn memakai kemeja Kakak?" jawab Keily berbisik lagi.


"Nanti aku ceritakan, sekarang bukan waktu yang tepat. Cepat, ajak Jesslyn berganti pakaian dulu. Ok," bisik Charlie meminta tolong.


Keily mengangguk dan langsung menghampiri Jesslyn, "Kak, bisa ikut aku sebentar?" bisik Keily.


Jesslyn menatap Charlie lalu menatap Keily, "Baiklah," jawab Jesslyn.


"Kak, aku ada perlu sebentar dengan Kakak Jesslyn. Tunggu kami di mobil saja," kata Keily.


Micheline mengangguk, "Ok," jawab Micheline.


Keily dan Jesslyn berjalan perlahan menuju kamar mandi. Sesampainya di depan kamar mandi, Keily mengajak Jessly masuk dalam kamar mandi. Keily langsung melepas jaketnya, menyisakan kaus yang dikenakannya. Lalu memberikan jaketnya pada Jesslyn.


"Pakai ini, Kak. Aku tidak tahu apa alasan Kakaku memintaku meminjamkan jaketku pada Kak Jesslyn."


Jesslyn menerima, "Terima kasih," jawab Jesslyn.


Jesslyn melepas kemeja Charlie yang di pakainya, lalu memberikannya pada Keily. Keily kaget saat melihat kemeja Jesslyn yang berantakan dengan kancing yang sudah tidak terpasang dan terbuka sampai memperlihatkan pakaian dalam milik Jesslyn.


"Apa yang terjadi, Kak?" tanya Keily.


"Ya. Ini perbuatan laki-laki brengs*k itu! Ia menarik kasar pakaianku. Maaf, membuatmu melihat ini."


Keily merasa sedih. Kini ia tahu mengapa Kakaknya bicara berbisik padanya tadi. Keily terus menatap sendu ke arah Jesslyn.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2