
Perhatian!
Dalam cerita mengandung unsur dewasa. Seperti 21+, kekerasan fisik, darah, kata- kata umpatan dan lain-lain. Diharapkan pembaca bijak dalam menanggapi isi bacaan. Terima kasih.
*****
Charlie dan Hansel memarkir mobil di seberang jalan. Keduanya melihat Micheline berjalan perlahan mendekati sebuah rumah yang diyakini oleh Charlie adalah rumah dari Matteo dan Bella. Charlie meminta Hansel tenang dan bersabar, karena melihat Hansel yang terus-menerus gelisah.
"Tenanglah," pinta Chrlie kepada Hansel.
"Bagaimana bisa tenang. Micheline sudah masuk ke dalam. Dan kita tidak tahu apa yang akan terjadi di dalam sana," jawab Hansel mengutarakan isi hatinya.
"Aku yakin dia sudah punya rencananya sendiri, Hans. Jika dia merasa tidak yakin, dia pasti akan bicara pada kita sejal awal. Kau tahu, kan? apa yang kita pikirkan, hal itu bisa menjadi pemikiran yang berbanding terbalik jika Micheline yang memikirkannya. Santai saja, yang terpenting kita tidak kehilangan jejeknya. Itu sudah lebih dari cukup." jelas Charlie.
Hansel langsung diam, ia duduk bersandar memaksa dirinya untuk tenang. Seperti kata Charlie, ia harus percaya pada keputusan yang dibuat oleh Micheline. Meski pikirannya melayang tidak menentu. Ada rasa takut, khawatir, cemas bercampur gelisah. Semua teraduk rata dalam pikiran Hansel saat itu.
"Semoga kau memang baik-baik saja, El. Jangan sampai terluka," batin Hansel mengepalkan tangannya.
Charlie tahu Hansel khawatir, ia semakin mencurigai adanya hubungan antara Hansel dan Micheline. Sangat penasaran, sejauh apa hubungan dan sedekat apa keduanya. Meski tidak ada pengakuan, rasa khawatir dan cemasnya Hansel bisa dijadikan tolak ukur oleh Charlie. Seberapa besar rasa yang dimiliki Hansel pada Micheline.
"Tidak salah juga dia begitu khawatir. Jika yang pergi Jesslyn, tentu aku juga akan cemas. Mungkin saja aku langsung menyusulnya tanpa banyak keluhan," batin Charlie.
Sesaat kemudian, Charlie melihat sebuah mobil hitam masuk ke halaman rumah Matteo dan Bella. Charlie menepuk bahu Hansel pelan dan menunjuk ke arah mobil itu. Bermaksud memberitahu jika ada yang datang.
*****
Matteo dan Bella baru saja sampai dari seuatu tempat. Keduanya turun dari dalam mobil sembari melempar senyuman. Matteo langsung merangkul pinggang Bella.
"Kau senang?" tanya Matteo.
Bella mengangguk, "Ya. Terima kasih sayang. Aku mencintaimu," ucap Bella yang langsung berjinjit mencium pipi Matteo.
Matteo tidak tinggal diam, langsung diciumnya bibir Bella. Langkah mereka semakin cepat mendekati pintu utama. Bella meraba saku celana jeansnya, lalu tangannya berpindah ke dalam tasnya. Ia mencari kunci rumahnya.
Bella melepas ciuman Matteo, "Cukup, sayang. Kita masuk dulu," kata Bella.
Matteo tidak mendengarkan. Ia menyusupkan tangannya ke dalam kaus yang dikenakan Bella. Bella menemukan kunci dan ingin memasukan ke lubang kunci pintu rumahnya. Ada yang aneh, saat hendak memasukkan kunci, pintu rumahnya sudah bisa dibuka tanpa kunci.
"Sayang..." kata Bella perlahan memanggil Matteo. Bella menunjuk pintu yang bisa dibuka tanpa kunci.
Matteo mengernyitkan dahi, dengan segera langsung membuka pintu rumahnya. Seketika ia kaget, saat melihat ruang tamunya berantakan. Bas bunganya pecah dan berserakan di mana-mana.
"Apa ada pencuri?" gumam Bella kaget. Bella langsung berjalan cepat menuju ruang tengah. Ia juga menemui kondisi yang sama seperti ruang tamunya.
"Br*ngs*k! siapa yang berani-beraninya memporak porandakan rumahku. Aku akan habisi dia," geram Matteo.
"Sayang..." panggil Bella.
Mendengar panggilan sang istri, Matteo langsung berjalan cepat menemui Bella. Matteo semakin kesal, ia langsung murka dan meluapkan amarahnya dengan memaki si pembuat ulah.
__ADS_1
"Bedeb*h! si br*ngs*k mana yang berani bertingkah seperti ini. Arrrghhh... sial!" umpat Matteo. Matteo makin kesal, ia melihat pintu ruang kerjanya terbuka. Ia merasakan hal buruk. Buru-buru ia pergi ke ruang kerjanya.
Bella berlari ke kamar setelah melihat seseran uang kertas yang mengarah ke kamar. Kamarnya juga berantakan. Semua pakaiannya dan Matteo berserakan. Melihat isi kamar yang kacau, Bella pun bergegas menemui Matteo. Matteo juga keluar dari ruang kerjanya dengan wajah yang emrah padam. Bertemu dengan Bella yang baru keluar dari kamar.
"Ada apa?" tanya Matteo melihat Bella.
"Pelakunya juga mengacaukan kamar. Kau lihat? uang kita dicecernya ke mana-mana. Apa sebenernya motifnya," gumam Bella. Matteo dan Bella kebingungan.
Prokk... prokk... prokk..
Terdengar suara tepuk tangan diiringi suara langkah kaki. Seseorang yang tidak lain adalah Micheline terlihat sedang menuruni anak tangga satu per satu dengan langkah perlahan.
"Siapa kau?" sentak Matteo yang langsung mengeluarkan pistol dari balik jaketnya.
Dorrr...
Suara tembakan yang dikeluarkan dari pistol temuan Micheline di ruang senjata Matteo. Micheline menembak tangan Matteo yang ingin mengeluarkan pistol dari saku jaketnya. Membuat pistol yang sudah ada di tangan Matteo terjatuh ke lantai.
"Ahhh..." teriak Marco kesakitan memegang tangannya.
"Sayang," panggil Bella panik.
"Gerakan yang lambat," kata Micheline. Micheline duduk di sofa menyilangkan kaki kirinya menumpu kaki kanannya. Ia tersenyum menatap Matteo yang kesakitan dan Bella yang panik.
"Kau siapa?" tanya Bella.
Matteo melebarkan mata, "Apa? tidak mungkin!" sentak Matteo.
"Apa tujuanmu datang?" tanya Bella berteriak.
"Shhh..." desis Micheline, "Jika ingin bertanya kalian harus duduk. Ayo duduk yang baik, dan tanya baik-baik. Aku akan menjawab pertanyaan kalian dengan senang hati," kata Micheline.
"Dasar jal*ng!" maki Bella, "Beraninya kau mengusik kami," kata Bella emosi. Bella melihat Pistol Matteo, mengambil pistol itu dan mengarahkan ke Micheline.
Micheline tersenyum, "Kau juga ingin ku tembak seperti pejantanmu?" kata Micheline.
"Sebelum kau menembakku, aku akan lebih dulu menembakmu jalang!" kata Bella.
Dorrr...
Suara tembakan dari pistol Micheline. Peluru tembakan Micheline tepat menembus kaki Bella membuat Bella melesatkan tembakannya juga, tetap meleset dan mengenai lemari kaca ruang tengahnya.
Dorrr...
"Ahh..." teriak Bella. Ia menekan luka tembak dibahunya.
Micheline berdiri dan berjalan mendekati Bella dan Matteo. Ia menendang jauh pistol yang sebelumnya di pegang Bella membuat kedua lawannya tidak bisa menggapainya. Micheline berdiri di hadapan Bella dan Matteo, meminta kedunya berlutut di hadapannya.
"Berlutut!" perintah Micheline.
__ADS_1
"Kau..." Kata-kata Bella terpotong oleh Matteo.
"Sayang, ikuti saja." Kata Matteo yang masih meringis merasakan sakit di pergelangan tangannya.
"Apa-apaan ini, Matteo?" teriak Bella, "Aku tidak mau berlurut di depan jal*ng ini!" seru Bella.
Plakkk...
Tamparan keras mendarat di pipi kanan Bella. Micheline menampar Bella dengan tangan kirinya. Karena tamparan kerasnya, membuat sudut bibir Bella berdarah sedikit. Micheline menarik kuat rambut pirang Bella dan menadahkan wajah Bella.
"Apa kau bilang? katakan sekali lagi!" seru Micheline, "Jal*ng? siapa di sini yang jal*ng, kau atau aku? kau lah jal*ngnya. Perempuan yang tidak setia. Bisa-bisanya berkhianat pada kekasih sendiri dan memilih menikahi adik kekasihnya. Dasar perempuan jal*ng!" maki Micheline gemas.
"Apa? kau gila, dasar perempuan gila!" Teriak Bella membela diri. Bella menyerang Micheline, ingin mencakar Micheline.
Dengan gerakan cepat Micheline mencengkaram kedua tangan Bella dan menatap Bella dengan tatapan mata yang tajam. Micheline langsung menendang kaki Bella keras, membuat Bella berlutut di harapanya.
"Kau jangan macam-macam denganku! jika kau tidak sayang pada nyawamu," ancam Micheline.
"Lepaskan dia, Nona. Jangan menyakitinya." kata Matteo mememohon.
"Kau memohon? memohon dengan benar!" sahut Micheline.
Matteo langsung berlutut dan bersujud di depan Micheline meminta Micheline melepaskan Bella. Micheline membantint Bella dan menginjak bahu Bella yang terluka.
"Ahh... sakit..." raung Bella.
"Aku tidak main-main dengan kalian berdua. Kedatanganku hanya ingin memberikan pelajaran dan peringatan. Jangan ganggu Hansel Feliks, atau kepala kalian akan terpisah dari tubuh kalian dan menjadi makanan hewan buas!" kata Micheline.
Matteo memeluk kaki Micheline, "Ampuni istriku, Nona. Dia sedang hamil," kata Matteo.
Micheline mengernyitkan dahi, "Ah... bodohnya aku menyakiti anak tidak berdosa." kata Micheline mengangkat kakinya. Micheline membantu Bella duduk dan melihat luka Bella.
"S*al! kenapa juga dia harus hamil!" sentak Micheline.
Micheline merobek pakaian Bella dan mengikat kuat bahu Bella. Ia mengehala napas panjang dan memejamkan matanya. Ia cukup merasa bersalah sudah menyakiti wanita hamil.
"Meski begini, aku tidak akan meminta maaf pada kalian berdua. Aku cukup berbaik hati tidak membunuh kalian hari ini. Ini peringatan terakhir dariku. Jauhi Hansel Feliks." kata Micheline. "Di mana rumah sakit terdekat?" tanya Micheline.
"Tidak jauh dari sini," jawab Matteo.
Micheline mengernyitkan dahi, "Ahh s*al! kalian membuatku kesal saja. Kenapa juga kalian langsung ingin menyerangku tadi. Kalian tidak tahu aku sangat peka mempertahankan diri dalam keadaan terdesak. Mengesalkan sekali!" omel Micheline.
Micheline melirik Bella lalu melirik Matteo, "Hei, kau. Bantu istrimu. Aku akan akan antar kalian ke rumah sakit sekarang. Cepat!" perintah Micheline yang langsung untuk segera keluar dari rumah.
"Ya," jawab Matteo yang langsung membantu Bella berdiri dan membopong Bella keluar dari rumah.
Matteo berjalan cepat mengikuti Micheline. Micheline juga bergegas mendekati mobilnya. Segara ia membukakan pintu belakang mobilnya dan Matteo segera mendudukan istrinya dan ikut masuk lalu duduk di samping istrinya. Micheline juga masuk ke dalam mobil, ia segera mengemudikan mobilnya pergi menuju rumah sakit terdekat.
...*****...
__ADS_1