My Sexy CEO

My Sexy CEO
MSC 08 - Trik Licik


__ADS_3

Empat bulan berlalu, Hansel masih giat bekerja menjadi Asisten pribadi Micheline. Banyak hal baru yang ia pelajari. Banyak hal menarik yang ia lihat dan dengar dari sosok CEO cantiknya. Ada beberapa hal yang ia tahu dan mengerti, juga ada yang sebagian masih terkesan asing. Hansel perlu berusaha keras memahami kemauan Micheline, selera Micheline, keinginan Micheline. Meski begitu semua masih berjalan lancar antara pekerjaan utama dan samarannya.


Hansel masih aktif melaporkan hasil dari pengamatannya pada Alfonzo secara langsung meski hanya melalui panggilan di telepon. Hanya beberapa kali ia bertemu secara langsung untuk menujukan beberapa data dan foto pertemuan Micheline dengan beberapa orang asing yang terlihat mencurigakan.


Siang itu, Micheline mengajak Hansel ikut bersamanya untuk menemui seseorang penting di sebuah restorant. Seperti biasanya, Hansel selalu siap siaga dengan perintah atasannya tersebut.


"Hans..." panggil Micheline dengan suara lirih.


"Ya, Bu CEO?" jawab Hansel mendekati Micheline yang tiba-tiba menghentikan langkah dan berbalik menatap Hansel.


"Kau bawa yang aku butuhkan, kan?" bisik Micheline tidak ingin ucapannya didengar orang lain.


Hansel mengangguk, "Ya. Saya sudah siapkan apa yang anda butuhkan. Apakah pertemuan kali ini sangat penting?" bisik Hansel ingin tahu.


"Sangat, sangat, sangat penting. Pertemuan ini bernilai lima tahun gajimu bekerja sebagai Asisten," jawab Micheline tersenyum cantik.


Hansel terdiam ia tidak sanggup berkata-kata lagi. Ia mengangguk mengiyakan jawaban CEO-nya. Micheline berbalik dan kembali berjalan untuk segera keluar dari gedung kantornya. Sedangkan Hansel hanya terus mengikuti langkah atasanya itu sampai akhirnya mereka masuk dalam mobil bersama-sama.


*****


Sementara itu di restorant. Ada seseorang yang sudah menunggu kedatangan Micheline dengan duduk santai menikmati secangkir kopi hitam.


"Tuan, apakah Anda yakin dengan hal ini? bukankah Anda tahu bagaimana karakter Nona Robert?" bisik seseorang khawatir di telinga atasannya.


Seseorang tersenyum miring, "Dia hanya seorang perempuan. Tidak perlu dipikirkan," jawabnya seakan meremehkan.


"Tetapi, Tuan..." kata-kata seorang yang berdiri di sampimg laki-laki muda yang tampan itu tiba-tiba terhenti saat atasannya melirik tajam ke arahnya.


"Kau khawatir sekali. Kau tahu aku adalah laki-laki sempurna. Perempuan mana yang tidak akan terpesona olehku," ucapnya menyombongkan diri.


"Baiklah jika itu adalah kemauan Anda. Saya hanya mengingatkan saja jika Nona Robert berbeda dengan perempuan lainnya. Rumor yang beredar ia adalah si Rubah cantik yang cerdik dan licik."


"Itukan hanya rumor. Belum tentu kenyataanya seperti itu, kan? Sudahlah, kau diam saja. Aku pasti bisa melelehkan hatinya sekeras apapun itu. Aku adalah Frederick Arron. Tidak ada hal yang tidak bisa aku dapatkan," katanya kembali dengan angkuhnya dan senyum tampannya.


"Keras kepala sekali. Jangan mengomel padaku jika Anda tidak dapat apa-apa, Tuanku. Saya sudah peringatkan Anda," batin Asisten Frederick mengehela napas panjang.


Beberapa menit kemudian, Micheline datang bersama Hansel. Mucheline langsung menyapa Frederick dan duduk di hadapan Frederick.


"Selamat siang, Tuan Arron."


"Selamat siang, Nona Robert. Akhirnya Anda datang," kata Arron tersenyum tampan penuh pesona.

__ADS_1


Micheline membalas senyuman Frederick dengan cantiknya, "Maafkan saya sudah membuat Tuan Arron yang terhormat menunggu. Saya akan menebus keterlambatan saya dengan mentraktir Anda," jawab Micheline dengan anggun.


"Tidak bisa seperti itu, Nona. Saya yang mengundang Anda, menunggu Anda adalah sebuah kehormatan bagi saya. Saya tidak keberatan meski harus menunggu musim berganti demi perempuan secantik Anda."


Micheline terseyum lebar, "Anda bermulut manis, Tuan Arron. Terima kasih atas pujian Anda," kata Micheline.


"Panggil saja Frederick. Jangan terlalu formal padaku. Boleh aku memanggil Micheline?" tanya Frederick mulai menggoda Micheline.


"Silakan saja," jawab Micheline.


Micheline dan Frederick masih berbincang sembari menunggu pesanan makan siang mereka. Micheline dengan sikap ramahnya menjawab pertanyaan Frederick, meski hanya menjawab seperlunya. Frederick terus berusaha mencari celah kelemahan Micheline. Ia tidak lelah terus tersenyum dan merayu Micheline.


"Jadi..." kata Frederick yang tiba-tiba diam.


"jadi..." ulang Micheline melirik arah Frederick.


"Jadi, bagaimana dengan penawaranku?" tanya Frederick ragu-ragu.


"Oh, soal itu. Sepertinya aku perlu mempertegas ini semua, Tuan Arron. Ahh... maksudku Frederick," Micheline tersenyum dingin menatap Frederick lalu menatap Hansel yang berdiri di sampinganya, "Berikan padaku," katanya pada Hansel.


Hansel mengeluarkan sebuah amplop cokelat berisikan sebuah dokumen. Frederick tidak mengetahui jika dokumen itu begitu berharga untuknya, tidak menduga jika Micheline akan mengetahui rahasia terbesarnya.


"Apa Anda tahu apa ini?" tanya Micheline.


Mucheline tertawa, "Hahaha... Baiklah, aku akan langsung saja pada intinya. Sebelumnya, aku menolak harga yang diberikan olehmu. Kenapa aku harus menerima sedikit uang darimu? itu tidak adil, Tuan Arron. Harga jualku tidak lebih dan tidak akan aku kurangi sepeserpun," jelas Micheline menatap tajam pada Frederick.


Wajah Frederick berubah masam, "Apa maksudmu?" tanyanya bingung.


"Kau ingin tempat itu, kan? bayar sesuai harga yang ditentukan," jawab Micheline.


"Apa-apaan perempuan ini? dia ingin aku memberikan uangku begitu saja? apa dia gila," batin Frederick geram.


"Hoho, apa kau sedanh berpikir Tuan Arron? aku tidak mau merugi, kau tau itu. Aku tidak pernah bermain-main dengan penawaran harga," kata Micheline lagi.


"Aku tidak bisa, Nona Robert. Turunkan harganya," kata Frederick meninggikan suara.


Micheline menyipitkan matanya, "Terserah saja jika seperto itu. Aku tidak akan memaksamu. Aku bisa mrnjualnya pada pesaingmu," kata Micheline tersenyum cantik.


"Apa lagi yang kau bicarakan? jangan bertele-tele denganku. Jangan buat aku kesal," sentak Frederick kesal.


"Tuan, tenangkan diri Anda. Kita sedang berada di tempat umum," kata seseorang di samping Frederick.

__ADS_1


Micheline melempar amplop di tangannya kepada Frederick, "Buka matamu dan baca baik-baik isi dalam amplop itu. Aku tahu semuanya, Frederick Arron. Kau tidak bisa melawanku jika kau ingin menang darinya," ucap Micheline penuh keyakinan.


Frederick segera membuka amplop dan membaca dokumen yang baru ia keluarkan dari dalam amplop tersebut. Matanya melebar melihat apa yang tertulis dalam dokumen itu. Itu semua adalah bukti-bukti yang selama ini di simpannya rapat tanpa seorangpun yang tahu.


Brak...


Frederick memukul meja penuh emosi. Frederick meremat lalu segera merobek-robek dokumen yang baru saja ia baca. Melihat itu, Micheline tertawa merasa senang dan puas.


"Robek saja. Aku masih punya salinannya," kata Micheline dengan santainya.


"Apa maumu?" tanya Frederick pada Micheline.


"Mauku? bukankah sudah jelas? menyerah saja," jawab Micheline.


"Jika ini menyangkut pembelian gudang itu, aku tidak bisa. Aku tidak punya uang sebanyak itu. Aku tidak mampu membayar sejumlah uang yang kau inginkan," jawab Frederici berterus terang.


Micheline mengernyitkan dahi, "Jadi kau menyerah untuk memiliki gudang senjata itu?" tanya Micheline.


"Ahhh... sial. Aku tidak bisa membelinya jika kau memerasku," keluh Frederick merasa frustasi.


"Baiklah jika seperti itu. Bagimana dengan penawaran baru saja. Aku rasa kau akan tertarik," kata Micheline mencoba membuat Frederick penasaran.


"Apa itu?" tanya Frederick.


"Bekerjalah untukku. Hancurkan rumah permainan milik Tuan Theodorre dalam waktu tiga bulan," kata Micheline.


"Apa? itu mustahil. Rumah permainan itu adalah tempat kelas atas. Bagaimana aku bisa membuatnya hancur," keluh Frederick lagi.


"Itu mudah saja. Aku akan berikan dua pilihan. Jalannya kau sendiri yang tentukan. Kau berhasil gudang senjata itu aku berikan cuma-cuma. Bagaimana?" tawar Micheline.


"Perempuan ini sungguh gila. Apa dia tidak berpikir lebih dulu sebelum bicara?" batin Frederick bingung.


"Kau tak punya pilihan Frederick. Aku tahu kau sangat butuh banyak senjata untuk kau jual pasar gelap. Aku bisa gunakan kau untuk memutus rantai investasi aliran dana untuk Alfonzo. Ini menarik, aku tak perlu repot turun tangan. Hahaha," batin Micheline sangat senang.


Frederick merasa bimbang, "Bisa aku pikirkan lagi soal ini? aku rasa, aku butuh waktu untuk mengambil keputusan yang berat ini," kata Frederick.


"Silakan saja. Batas waktu berpikir hanya sampai akhir bulan ini. Tidak lebih dari hari yang ditetapkan," jawab Micheline menegaskan.


"Aku mengerti," jawab Frederick.


Selesai dengan kesepakatan itu, Micheline memutuskan untuk berpamitan dan pergi meninggalkan restorant. Frederick masih tinggal, ia dilanda dilema yang berat. Bagaimanapun ia harus menghancurkan tempat bisnis milik Pamannya sendiri. Di sisi lain Frederick juga ingin meraup keuntungan dengan mendapatkan gudang senjata yang akan ia dapat secara cuma-cuma.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2