
Putri Yun Hui cemberut mendengar jawaban dari Kasim Bo dengan nada yang ketus maka gadis remaja itu hanya bisa diam mengikuti Kasim Bo ke arah dermaga tepi sungai desa kecil itu untuk membeli sebuah perahu kepada nelayan.
"Tuan, perahu ku ini adalah perahu terbaik untuk mengarungi sungai ini yang bermuara ke teluk Dalam kota Shi yang ingin anda kunjungi. " kata nelayan yang didatangi oleh Kasim Bo yang ingin membeli perahunya.
"Baik, aku beli perahumu dengan harga yang kau inginkan yakni satu tail perak dariku. " kata Kasim Bo melemparkan kepingan uang perak kepada nelayan.
Lalu Kasim Bo melompat ke perahu yang sudah di lemparkan ke tengah sungai lebih dulu oleh Kasim Bo sendiri dan yang lainnya segera ikuti langkahnya.
"Biar aku yang mendayung perahu ini, Tuan Bo. " kata Chou Cie menawarkan dirinya sebagai tukang perahu untuk Kasim Bo dan kedua orang gadis remaja cantik jelita yang duduk di dalam perahu bersama-sama dengannya.
"Baiklah."
Xiao Feng membuka bungkusannya lalu tangan kanan gadis remaja yang memakai baju warna biru itu menawarkan roti canai kepada Kasim Bo dan Putri Yun Hui.
"Terimakasih Xiao Feng. " kata Kasim Bo ramah.
"Kau baik sekali, Adik Feng. " kata Putri Yun Hui sopan.
"Untukmu juga ada, Chou Cie.. Ini rotimu.. " kata Xiao Feng mengulurkan sekeping roti canai pada Chou Cie yang segera menerimanya dan seulas senyum cerah mengembang dibibir Chou Cie.
Perahu berlayar dengan tenang ke arah muara teluk Dalam kota Shi namun ditengah jalan ada suara berdegup di bawah perahu yang mereka tumpangi dan muncullah dua ekor buaya muara di dua sisi perahu mereka.
"Buayaaa.... ! " cicit Putri Yun Hui meringkuk ke sisi Kasim Bo.
"Kak Bo Hai, aku takut ada buaya di dekat perahu kita.. " erang Xiao Feng.
Chou Cie menggerakkan dayung dengan cepat ke arah buaya -buaya itu yang membuat arus perahu berlayar ke arah lain sungai sampai dua orang gadis remaja itu menjerit ketakutan, tapi Kasim Bo memegang kedua sisi perahu dengan kedua tangannya lalu perahu melompati dua ekor buaya muara sungai desa kecil dan jatuh di air teluk dalam kota Shi tanpa perahu oleng dan terbalik posisinya.
__ADS_1
Bruakk!
"Hebat.. Kau bisa membuat perahu melompati dua ekor buaya itu dan kita sudah aman di teluk dalam kota Shi.. " kata Chou Cie takjub.
"Sudahlah, cepat kau cari dermaga yang paling dekat dengan pusat kota Shi untuk aku bisa segera jumpa dengan Shi Lun di tokonya. " kata Kasim Bo nada tegas.
"Iy.. Iyaa, Tuan Bo.. " jawab Chou Cie segera.
Untuk perahu mereka bisa menepi di dermaga di bagian utara kota Shi harus memakan waktu cukup lama karena disebabkan munculnya lima orang berpakaian serba coklat menyerang ke arah mereka dengan tombak yang terhunus ke arah kepala, dada dan perut mereka dari perahu lain yang mengurung perahu mereka.
Wutttzz!
Kasim Bo bergerak dengan kecepatan yang luar biasa melalui kedua tangannya dan kakinya itu berputar cepat dan memukul hancur tombak - tombak yang mengarah kepada mereka lalu, ia menggunakan ujung sisa tombak-tombak untuk membunuh lima orang itu yang kaget melihat serangannya yang luarbiasa cepat itu dan tahu- tahu tenggorokan, dada dan perut lima orang itu tertusuk sisa tombak-tombak itu.
Jlebb!
Brrrr!
Kasim Bo melompat keluar dari perahu memilih untuk pergi ke arah lain kota Shi untuk Kasim Bo dapat memancing musuh-musuh menjauhi dari ketiga orang temannya yang pergi ke arah yang benar untuk jumpa dengan Shi Lun temannya yang lainnya.
Brrrr!
Weeezzzzz!
Desiran angin kencang telah dirasakan olehnya di sekitarnya lalu kedua kakinya telah menapak di tangan di hutan tepi teluk dalam kota Shi dan telapak tangannya membentuk gerakan awan di langit dan sebuah kekuatan dashyat meluncur dari kedua telapak tangannya yang membunuh sejumlah musuh yang merupakan sekte singa lu yang ingin balas dendam kepadanya.
Brees!
__ADS_1
"Arghhh!! " pekik kematian sejumlah musuhnya itu.
Lalu Kasim Bo menerjang pepohon dihutan tepi teluk dalam kota Shi dengan ilmu ginkang naga terbang lalu kedua kakinya membuat pepohonan itu tumbang dan menusuk jantung para pengejar dirinya itu.
Jlebb!
Disaat yang genting sebuah kipas lipat dan alat sempoa meluncur ke arah sejumlah musuh yang ingin mengejarnya itu dan kedua senjata hebat dari Shi Lun temannya itu telah melumpuhkan para pengejarnya dengan tangkas.
"Bo Hai, kau jangan khawatir karena aku telah tahu kedatanganmu ke kota ku untuk misi yang tidak bisa kamu beritahukan kepada ku secara terbuka namun aku tahu kau ada alasannya untuk menutupi rahasia misimu dariku, Shi Lun. " kata Shi Lun temannya yang sudah muncul di bawah pohon yang tersisa di hutan tepi teluk dalam kota Shi.
"Umm, aku minta maaf kepadamu untuk rahasia misiku yang sampai saat ini aku tutupi darimu. " kata Kasim Bo melayang turun ke atas tanah di depan Shi Lun.
"Emm, siapa suruh aku adalah sahabat keduamu yang sangat memahami watakmu itu. " kata Shi Lun tersenyum ramah menyambutnya.
"Shi Lun.. " panggil Chou Cie riang gembira usai mereka berdua tiba di toko kelontong milik Shi Lun.
Shi Lun memperkenalkan istri dan anak-anaknya kepada Kasim Bo, Chou Cie, Xiao Feng dan Putri Yun Hui di ruangan dalam rumah tokonya yang rapi dan bersih.
"Shi Lun, aku ingin mengajakmu berpetualang ke kota Chang an, apakah kamu bersedia untuk ikut serta bersama kami? " tanya Kasim Bo dengan nada menggiurkan bagi Shi Lun.
"Chang an? Untuk apa kamu mau mengunjungi kota Chang an? " tanya balik Shi Lun terdengar biasa saja.
"Wisata di kota besar jauh lebih menyenangkan daripada kota kecil dan tak ada apa-apa untuk dibawa pulang ke rumah sebagai oleh-oleh. " jawab Kasim Bo misterius sekali kepada Shi Lun.
"Baik, aku akan ikut jika aku mendapatkan harta karun yang lebih besar daripada Chou Cie, Xiao Feng dan gadis baru di sebelahmu itu. " kata Shi Lun akhirnya tertarik untuk ikut berpetualang ke kota Chang an bersama dengan Kasim Bo.
"Iya, tentu saja. Aku Bo Hai tidak pernah tertarik dengan harta karun apapun itu maka semuanya akan aku berikan kepadamu,Shi Lun. " kata Kasim Bo nada tegas dan senyumannya amatlah menyakinkan sekali untuk Shi Lun.
__ADS_1
Bersambung!!