
Chou Cie membawakan dua ekor ikan panggang kepada Kasim Bo dan Xiao Feng di gua yang tak sengaja mereka temukan di hutan pegunungan Awan Lu sebagai tempat istirahat mereka pada malam hari itu.
"Terimakasih untuk ikan panggang ini, Chou Cie. " kata Kasim Bo menerima ikan panggang yang lebih besar dari Chou Cie berikan kepadanya.
"Chou Cie, apa disini tak ada buah segar untuk kita pakai sebagai cuci mulut dan minum kita usai kita makan ikan panggang yang bau amis ini? " tanya Xiao Feng sambil menikmati makan ikan panggang di atas batu karang di dekat api unggun dalam gua.
"Entahlah, aku belum mencari buah-buahan di sekitar hutan pegunungan awan Lu, tapi jika kamu ingin makan buah segar maka aku akan segera mencarikan buah segar untukmu di hutan ini. " jawab Chou Cie ramah.
"Iya, Chou Cie, aku takkan pernah bisa makan ikan panggang tanpa makan buah segar sebagai cuci mulutku dari minyak ikan dan bau amis dari ikan. " Kata Xiao Feng mengernyitkan hidungnya saat ia sedang menikmati makan malamnya.
"Baiklah, aku akan pergi ke dalam hutan untuk carikan buah segar untuk kita bertiga sekarang juga, dan kalian berdua harus tetap menunggu aku di sini sampai aku kembali kepada kalian." kata Chou Cie yang selalu memikirkan orang lain daripada dirinya sendiri terutama Xiao Feng si gadis cantik jelita yang telah menjatuhkan hati nya itu.
"Ya, tentu saja Chou Cie. " Jawab Xiao Feng nada manis sekali kepada Chou Cie namun tatapan dan senyumnya selalu ditujukan untuk Kasim Bo Kakak angkatnya yang kalem itu.
Chou Cie meninggalkan mereka berdua di gua ke hutan pegunungan awan Lu bagian lainnya dan Kasim Bo yang sudah menghabiskan makan malamnya sudah mencuci tangan dan mulutnya di air sungai dan daun di sekitar sungai lalu ia tak sengaja melihat ada jejak kaki berdarah di gua dari tepi sungai.
"Xiao Feng, kau tunggu Chou Cie di sini.. " pesan Kasim Bo kepada adiknya sebelum melompat ke dalam sisi gua.
"Kak Hai, kau memangnya mau kemana sih?" tanya Xiao Feng segera kepada Kasim Bo tetapi Kasim Bo tak menjawabnya karena bayangan Kasim Bo telah hilang dari pandangan matanya.
__ADS_1
Gadis itu mencari-cari di dalam kegelapan gua di tengah malam untuk menemukan bayangan dari tubuh belakang Kasim Bo ke sekitar gua namun ia hanya bisa melihat bayangan tubuh depan Chou Cie yang sudah kembali ke gua dari hutan pegunungan awan lu dengan membawakan lima belas butir buah jeruk Mandarin kepadanya.
"Eh, dimana Tuan Bo? Kenapa kamu sendirian di gua ini? " tanya Chou Cie nada serius kepada Xiao Feng seraya mengedarkan pandangannya ke sekitar gua untuk mencari Kasim Bo.
"Dia pergi ke arah sana dan melarangku untuk mengikutinya. " jawab Xiao Feng nada sedih.
Chou Cie mengikuti arah yang ditujukan oleh jari telunjuk Xiao Feng lalu melesat cepat menuju ke arah bayangan kepala Kasim Bo sambil tangan kanannya memanggil Xiao Feng untuk mengikuti dirinya.
"Aha.. Aku segera datang....! " seru Xiao Feng di belakangnya.
Mereka berdua menemukan Kasim Bo sedang mengamati jejak kaki berdarah di sisi lain gua itu lalu ekor mata Kasim Bo melihat adanya celah di antara aliran air terjun dari dinding gua. Kasim Bo meninju dinding gua hingga runtuh dan Chou Cie menarik keluar seorang gadis remaja cantik jelita yang berlumuran darah pada tubuhnya.
"Putri Yun Hui, kenapa dia bisa berada di sini? " tanya Kasim Bo mengenali gadis remaja yang sudah pingsan itu.
"Majikanku di istana Kerajaan Yun. " jawab Kasim Bo sambil memeriksa sekujur tubuh dari Putri Yun Hui dengan telapak tangannya telah menggunakan ilmu sinkang bunga teratai harum dari luar pakaian yang dikenakan oleh Putri Yun Hui yang berlumuran darah.
"Aihhh.. " keluh Putri Yun Hui membuka matanya dan menemukan sosok Kasim Bo didepannya. Ia langsung menarik telapak tangan Kasim Bo yang berada di luar pakaiannya dengan jarak aman ke atas dadanya sampai Kasim Bo kaget sekali.
"Putri Yun Hui, apa yang sedang kamu lakukan ini? " tanya Kasim Bo yang cepat menarik tangan kanannya dari dada Putri Yun Hui.
__ADS_1
"Merasakan kehadiranmu disisiku membuatku merasakan kebahagiaan dan ketenangan hakiki. " jawab Putri Yun Hui menatap lekat -lekat wajah tampan Kasim Bo.
"Emmm, kau rupanya berpura-pura terjebak di celah dinding gua ini untuk menarik perhatianku dengan kau menumpahkan darah ikan di atas telapak sepatumu agar aku datang kepadamu dan menemukan kamu di sini. " kata Kasim Bo nada kesal dipermainkan oleh Putri Yun Hui.
"Iya, karena aku memikirkan dirimu sejak kamu berniat untuk melindungi aku dari orang-orang di dalam istana Kerajaan Yun yang ingin bunuh aku hanya karena aku putri ketiga dari Raja muda Yun." kata Putri Yun Hui dengan sikap manjanya kepada Kasim Bo
"Emm, sejak kapan kamu mengikuti aku dari istana Kerajaan Yun sampai ke sini? " tanya Kasim Bo berdiri di atas tanah menghadapi dara remaja manja itu.
"Sejak melihatmu menyelinap keluar dari istana Kerajaan Yun dengan temanmu ini lalu aku ini dengan cerdik mengikuti kamu tanpa kamu dan temanmu tahu tentang keberadaan aku yang mengikuti kalian. " jawab Putri Yun Hui juga ikut berdiri dan berhadapan dengan Kasim Bo yang semakin tampan di dalam pandangan mata Putri Yun Hui.
"Heii.. Menjauhlah kau dari Kakakku...! " bentak Xiao Feng cepat -cepat berdiri diantara Putri Yun Hui dengan Kasim Bo sambil menatap galak kepada Putri Yun Hui.
"Hei memangnya kamu itu siapakah, ah? " tanya Putri Yun Hui tak kalah galaknya kepada Xiao Feng seraya bertolak pinggang.
"Aku adiknya, kenapa? " balas Xiao Feng.
"Oh. Aku calon kakak iparmu, jadi kau harus bisa menempatkan diri mu dan jaga sikapmu kepada ku, Putri Yun Hui. " ujar Putri Yun Hui yang telah mendorong kasar Xiao Feng ke samping kanan agar gadis remaja ini bisa mendekati Kasim Bo yang membalikkan badan lalu berjalan kembali ke pintu gua.
"Kasim Bo.. Tunggu akuu... " kata Putri Yun Hui mengejarnya dan duduk di batu karang di depan Kasim Bo yang menambahkan kayu bakar pada api unggun.
__ADS_1
Chou Cie terperangah sendiri kebingungan usai mendengar perkataan yang telah keluar dari mulut Putri Yun Hui dan melihat sikap Xiao Feng yang berlebihan itu. Pemuda ini segera datangi Kasim Bo dengan tatapan matanya bertanya kepada Kasim Bo.
Bersambung!