Naga Di Langit Ming

Naga Di Langit Ming
Gunung Heng..


__ADS_3

Pagi harinya rombongan Kasim Bo berpencar ke seluruh wilayah Kekaisaran Ming sesuai dengan rencana besar Kasim Bo terhadap Kaisar Ming Yen dan keluarga serta pejabat Kekaisaran Ming lainnya yang akan datang ke kota tersebut untuk menghadiri pesta pernikahan Putri Ming Lan dan Pangeran Raja Heng yang merupakan kerabat dekat dari Ibu Suri Kekaisaran Ming.


Pesta pernikahan tersebut akan diselenggarakan di istana peristirahatan Permaisuri Agung Lu Lan Shing pada awal musim panas tahun ini dan hal ini merupakan kesempatan emas bagi Kasim Bo dan pasukannya untuk menyerang Kekaisaran Ming dan menguasai seluruh dunia yang berada di tangan Kaisar Ming Yen pada saat itu.


Karena itulah Kasim Bo segera melakukan suatu perjalanan besar bersama dengan pasukannya ke kota Heng An barat laut yang terdapat dengan kota masuk ke dalam wilayah Kekaisaran Ming pada akhir musim semi tahun ke ketiga Kaisar Ming Yen berkuasa di seluruh negeri.


Dan, ditengah jalan Kasim Bo dan rombongan di belakang ekor kuda gagah perkasa yang di tunggangi olehnya itu berhenti sejenak untuk ia bisa menyambut kedatangan tamu istimewanya akan datang kepada Kasim Bo di hutan luar kota Heng an barat laut.


"Li Hong Yi, keluarlah dari persembunyianmu di belakang gunung ini."kata Kasim Bo tersenyum senang mendengar suara seruling yang sudah dikenalnya itu.


Lalu tak lama kemudian seorang pemuda persis dengannya melesat keluar dari belakang gunung Heng dan tiba di depan kuda hitam milik Kasim Bo dengan sikap gagah sekali.


" Ei.. Kalian berdua mirip sekali bak pinang di belah dua?"suara terkejut Ketua Shao Lin Pai di dekat Shi Lun ketika rahib tua ini melihat Li Hong Yi berdiri begitu dekat di depan kuda hitam milik Kasim Bo.


"Dia saudara kembarku tentu saja kami mirip." kata Kasim nada santai sekali menghadapi raut wajah terkejut seluruh rombongannya kecuali Shi Lun.


"Ya, dia saudara kembarku yang agak sinting." kata Li Hong Yi yang terkekeh melihat teman- teman Kasim Bo begitu terkejut melihatnya dan Kasim Bo silih berganti dengan ekspresi wajah mereka begitu lucu bagi Li Hong Yi.


"Hei, kau harus bersikap sopan kepadaku, Hong Yi.Aku ini kakakmu." kata Kasim Bo mengangkat alisnya melihat Li Hong Yi menariknya turun agar mereka bisa berjalan bersama-sama menuju ke kota Heng an barat laut sesuai dengan rencana besar mereka.


"Kata siapa kau kakakku, Bo Hai. Kita tidak tahu siapa diantara kita berdua yang lahir lebih dulu dari rahim dan gua Ibu kandung kita." kata Li Hong Yi menolak untuk memanggil Kasim Bo di dekatnya sebagai kakak.

__ADS_1


"Dari ukuran tubuh mu dan Aku bisa terlihat aku lebih tinggi darimu,dasar Kaisar mini kau ini." kata Kasim Bo mendelik ke arah Li Hong Yi yang bersikap santai terhadapnya.


"Tak bisa di nilai dari ukuran tubuh kita untuk kita mengetahui siapa diantara kita yang lebih dahulu lahir ke dunia ini." kata Li Hong Yi menggeleng- geleng kepala dengan tegas kepada Kasim Bo.


"Tuan Li benar sekali jika dilihat dari wajah Tuan Bo dan Tuan Li bisa diketahui dengan jelas oleh ku bahwa Tuan Bo wajahnya lebih kecil dari Tuan Li yang wajahnya lebih besar." kata gadis manis murid dari sekte Ching San Pai yang mendapat dukungan dari Li Hong Yi.


"Hahaha dia benar sekali, Bo Hai. Kamu pantas untuk menjadi adikku daripada menjadi kakakku. " kata Li Hong Yi memberikan jempol kanannya kepada gadis manis bernama Ching Erl.


"Oh itu berarti aku lebih muda dan manis darimu, Hong Yi." kata Kasim Bo memamerkan senyum tampannya di depan sepasang mata Li Hong Yi dengan bangga.


"Mmm, kurang ajar kau! Kau mengatakan bahwa aku berwajah tua darimu..!"teriak Li Hong Yi.


"Bo Hai.. Tunggu aku dan yang lainnya..!" teriak Li Hong Yi yang cepat menyusulnya dengan di ikuti oleh seluruh pasukannya dengan kecepatan tinggi sehingga mereka dapat menemukannya di dekat seorang gadis muda baju merah yang luar biasa cantik jelita duduk di atas batu paviliun di dekat tebing gunung Heng.


"Eh..Niocu, kau memanggilku untuk apa dengan alunan lagu bodoh mu itu? " tanya Kasim Bo di dekat gadis yang dipanggil Niocu oleh Kasim Bo.


"Aku merindukanmu karena aku ingin membantu mu untuk membunuh musuh besarmu." jawab Niocu nada manis kepada Kasim Bo.


"Hmm,aku tak membutuhkan bantuanmu, jadi lebih baik kau kembali saja ke gunungmu, ini ku berikan kau satu sisir buah pisang enak." kata Kasim Bo acuh tak acuh sambil menyodorkan buah pisang kepada Niocu.


"Eii.. Kau pikir aku seekor monyet ya?!" bentak Niocu menepis buah pisang di depan wajahnya sehingga buah pisang terlempar ke arah kanan dan terdengar suara pekikan seseorang yang terjungkal ke jurang di kanan mereka.

__ADS_1


"Kyaaaaaaa..!" pekik nenek tua yang mengintai mereka.


"Eh suara siapakah itu yang terjungkal ke jurang oleh lemparan buah pisang ku yang dilakukan oleh mu, Niocu?" tanya Kasim Bo sikap santai di dekat Niocu yang berdiri di depannya dengan raut wajah cantik jelita itu tampak jengkel.


"Dia nenek Kim Hong dari pulau ular di timur laut wilayah ini." jawab Niocu yang memegang harpa dan menoleh kepada Li Hong Yi dan teman- teman Kasim Bo dengan sikap tak perduli.


"Bocah perempuan laknat jika kamu telah kenal aku maka cepat kau berikan benda yang telah kau curi dari istana Putri Heng Leng kepadaku!" suara ancaman tersebut datang dari jurang ke arah gadis baju merah dengan deru angin yang datang dari sebuah tongkat berkepala ular cobra putih yang diarahkan secara langsung ke kepala Niocu.


Wutttzz!


Trakk!


Kasim Bo mengangkat rantingnya dengan tepat ke arah tongkat itu sehingga kepala ular cobra putih tak menyentuh kepala gadis baju merah di sampingnya.Ia juga dengan cepat menarik Niocu ke belakangnya sehingga dirinyalah yang kini berhadapan dengan Nenek Kim Hong.


"Nenek bau tanah jangan pernah berharap kau bisa menyentuhnya dengan tongkat lapukmu itu karena aku Bo Hai akan menghabisimu..!" hardik Kasim Bo yang menatap tajam kepada nenek Kim Hong di hadapannya.


"Hei bocah laknat ada hubungan apakah kamu dengan gadis liar di belakangmu sehingga kamu begitu melindunginya?" tanya nenek Kim Hong nada bengis kepada Kasim Bo.


"Dia tawananku yang sudah lama ku cari- cari di seluruh negeri ini karena dia harus mati di ujung jari ku bukan di ujung tongkat lapukmu." jawab Kasim Bo nada garang kepada nenek Kim Hong.


Bersambung!

__ADS_1


__ADS_2