
Sesudah Kasim Bo dan teman-temannya telah berhasil membunuh Ma Dao dan para anak buah dari salah seorang penguasa di daerah gunung Lun di puncak gunung Lun pada tengah malam hari itu. Ia dan teman-temannya mengadakan pesta kecil-kecilan dengan menikmati makanan enak dan pemandangan alam di puncak gunung Lun dengan sukacita.
"Tuan Bo,coba kau lihat ke arah belakangmu," kata Chou Cie yang duduk di atas batang pohon di depannya.
Kasim Bo membalikkan badannya untuk melihat cahaya yang bersinar di balik semak belukar yang menutupi sebuah gua yang terdapat di sisi tengah gunung Lun yang menarik perhatiannya.
"Wah, gua Pancawarna ada di sini." kata Kasim Bo yang segera melesat cepat menuju ke gua Pancawarna yang tidak pernah sengaja telah di temukan olehnya dan teman-temannya.
"Tuan Bo, kita bisa mencari tahu apa yang telah tersimpan di dalam gua itu dengan kita melihat isi dalam gua Pancawarna ini." kata Shi Lun yang berada di belakangnya dengan senyuman ingin tahu yang besar.
"Iya, kau benar Shi Lun.Mari kita segera masuk ke dalam gua Pancawarna dan melihat ada apa di dalam sana." kata Kasim Bo yang sudah lebih dahulu berjalan masuk ke dalam gua tersebut.
Chou Cie dan teman-temannya mengikutinya di belakangnya lalu mereka melihat sebuah patung Dewi yang sangat cantik sedang menari di sisi lain gua Pancawarna dengan dikelilingi jamur- jamur yang memiliki warna-warni seperti pelangi di langit.
"Jamur Pancawarna dan Dewi menari adalah dua simbolik dari desa di bawah gunung ini dan menjadi legenda rakyat di seluruh wilayah ini dari leluhur hingga generasi muda sekarang di desa ini selalu memuja patung Dewi menari yang ada di dalam gua Pancawarna ini." kata Xiao Feng yang duduk di atas batu karang di sisi lain dinding gua Pancawarna.
"Apakah kalian semua mempercayai takhayul tentang patung Dewi menari di depan mata kita saat ini yang katanya memiliki ilmu mistik yang sangat kuat dan bisa mempengaruhi kita semua sehingga kita menjadi orang-orang bodoh? " tanya Chou Cie dengan nada tegang.
"Tidak, " jawab Kasim Bo tegas.
"Aku juga tidak pernah mempercayai segala hal yang tidak masuk akal sehat bagiku." kata Shi Lun lantang.
"Aku juga tidak. " jawab Xiao Feng yang tertawa renyah.
"Uhhh, kenapa kalian semua tidak mempercayai takhayul tentang Patung Dewi menari ini bisa bergerak sendiri? " tanya Chou Cie yang telah melihat patung Dewi menari sudah lebih dekat dengan mereka dari tempatnya berada.
"Tidak." jawab Kasim Bo yang meluncur ke arah patung Dewi menari dengan telapak tangannya itu memukul mundur patung Dewi menari telah bergerak kembali ke tempatnya berada dan ia merampas seorang pria yang telah dilempar ke depan teman-temannya.
Wuttzz!
Plakk!
__ADS_1
Dess!
Bruakk!
"K.. Kau jangan membunuh aku yang hanya di perintahkan untuk memata-matai kalian semua di gua Pancawarna oleh Tuan Muda- ku. " kata pria ini yang dadanya di injak oleh kaki Kasim Bo yang bersepatu kulit warna hitam.
"Siapa Tuan Muda-mu itu?" tanya Kasim Bo yang menatap tajam kepada pria yang dadanya di injak oleh kakinya itu.
"Xu Huo Liang putra dari Adipati Agung Xu yang tinggal di kota bawah gunung Lun yang berada di dekat desa bunga Lun." jawab pria ini yang langsung meninggal dunia karena dadanya telah remuk diinjak oleh kaki Kasim Bo.
Krekk!
Kasim Bo mengambil mustika warna ungu yang ada di kening patung Dewi menari menari secara diam-diam dan disimpan di dalam saku pakaian dalamnya sambil memetik beberapa jamur di depannya.
"Chou Cie, rebus jamur-jamur ini dengan daging kelinci yang telah kau rebus di panci depan gua Pancawarna ini untuk sayuran enak dalam sup daging kelinci. " kata Kasim Bo melemparkan jamur-jamur warna Pancawarna kepada Chou Cie.
Chou Cie segera melakukan tugas yang telah di berikan oleh Kasim Bo kepadanya.Shi Lun yang masih penasaran dengan ruang yang berada di dalam gua Pancawarna yang mempunyai dua buah kotak bentuk segitiga warna biru muda.
Dukk!
Brak!
Dua buah kotak bentuk segitiga warna biru muda memperlihatkan permata yang memancarkan cahaya warna kehijauan yang memantul ke arah dinding gua Pancawarna.
"Lihat ada tulisan yang tertera di dinding gua ini." kata Shi Lun yang telah memandangi dinding itu yang terdapat tulisan yang ternyata tidak dapat dipahami olehnya dan Xiao Feng.
"Ah,bahasa apakah di dinding gua Pancawarna ini?" tanya Xiao Feng yang mendadak pusing lihat tulisan yang sama sekali tidak dipahaminya itu.
"Tulisan orang-orang bangsa Persia." kata Kasim Bo yang mengenali tulisan tersebut namun ia tak bisa memahaminya.
"Ah, aku paling malas mempelajari bahasa asing yang tidak masuk akal sehat bagiku."kata Kasim Bo berdecak lidah namun ia tetap menghafalnya untuk kepentingannya di masa depan.
__ADS_1
"Mmm,lalu apa rencana mu untuk tulisan ini? " tanya Shi Lun sambil mengelus-elus dagunya sendiri.
"Menghancurkannya usai aku menghafalnya di otakku yang tajam." jawab Kasim Bo yang lalu menggunakan ilmu sinkang tapak bunga teratai emas melalui kedua telapak tangannya yang di arahkan langsung ke arah dinding gua tersebut.
Blaaaarr!
"Tuan Bo, makan malam untuk Anda telah aku siapkan di dekat tenda khusus untuk Anda." kata Chou Cie dari pintu depan gua Pancawarna.
"Ya, Chou Cie aku akan datang.. " kata Kasim Bo yang segera mengajak teman-temannya untuk makan malam.
Mereka berempat makan malam bersama di depan tenda dengan ditemani oleh langit malam yang memiliki sinar cahaya rembulan yang dapat memberikan penerangan bagi mereka di malam hari itu di puncak gunung Lun.
"Besok pagi kita harus segera turun dari puncak gunung Lun untuk mengunjungi kota di bawah gunung Lun." kata Kasim Bo yang duduk di atas batu karang di depan pintu tenda.
"Mmm, mencari seseorang yang telah mengirim anak buahnya untuk memata-matai kita di sini." kata Shi Lun yang tahu maksud hati Kasim Bo.
"Kak Bo Hai, ada beberapa kecoak yang sedang memata-matai kita di bawah gunung Lun bagian utara dari tenda kita." bisik Xiao Feng.
"Ya.. " kata Kasim Bo yang melemparkan kuah sup kelinci jamur Pancawarna ke arah bagian utara dari tenda mereka dengan sikap acuh tak acuh.
Wutttzz!
Bresss!
"Arghhh...! " terdengar pekikan sejumlah besar pasukan yang bersembunyi di balik batu karang di belakang mereka telah tewas terkena kuah sup kelinci milik Kasim Bo.
Wushhh!
Sekelebatan bayangan enam orang telah terlihat oleh sepasang mata Kasim Bo dan teman-teman nya sehingga mereka berempat segera waspada di depan tenda mereka untuk menanti hadirnya musuh- musuh mereka.
Bersambung!!
__ADS_1