Naga Di Langit Ming

Naga Di Langit Ming
Surat Kosong.


__ADS_3

Kasim Bo membuka jepitan rambut di tangannya itu untuk mengeluarkan kain putih di salah satu selipan lubang jepitan rambut dan ia dikejutkan dengan surat itu tak ada tulisannya sama sekali.


"Ehhhh.. "


"Tak ada tulisan. " kata Shi Lun jengkel.


"Ya.. Ahh menyebalkan sekali." kata Chou Cie di dekat Kasim Bo.


"Simpan saja nanti kita cari misteri dari surat ini." kata Kasim Bo memasukkan surat ke dalam saku pakaiannya.


"Ya, terserah kamu sajalah, Tuan Bo.Kita hanya bisa mematuhimu saja." kata Shi Lun yang telah berjalan keluar dari istana Tuan Muda Xu yang telah hancur berantakan karena serbuan mereka terhadap Tuan Muda Xu dan para pasukannya.


Shi Lun terbelalak kaget melihat seorang gadis di depan pintu gerbang istana Tuan muda Xu.Ia segera bersiul untuk melaporkan apa yang di lihatnya kepada Kasim Bo yang masih berada di dalam istana Tuan muda Xu bersama dengan yang lainnya.


"Suara si bodoh bersiul seperti burung Beo yang dipelihara oleh Ayah kita, Kak Lian." kata pemuda tampan yang muncul di belakang gadis muda di depan mata Shi Lun.


"Kau jangan pernah mengatakan temanku itu si bodoh, Jun." kata Kasim Bo telah berdiri di dekat Shi Lun bersama dengan yang lain.


"Bo Hai.. "panggil gadis muda itu mendekat ke arah Kasim Bo.


" Phang Lian untuk apa kamu menemui Tuan Bo kami? "tanya Ching Er menyelinap di bawah lengan Kasim Bo untuk menghadapi gadis muda yang bernama Phang Lian.


"Bukan urusanmu,dayang busuk." jawab Phang Lian nada ketus dan merendahkan kepada Ching Er.


Kasim Bo menggerakkan tangannya menampar pipi Phang Lian hingga gadis itu terjerembab ke tanah dan mengejutkan Phang Jun Kakak tiri dari Phang Lian sendiri


Plakk!

__ADS_1


"Bo Hai kau berani untuk memukul saudari tiri dari Ratu Kerajaan Yun??!" bentak Phang Jun di depan Kasim Bo.


"Cih,Aku bukan hanya berani untuk memukulnya tetapi juga Aku berani untuk membunuhnya dan juga kamu yang selalu menghina teman baikku dari dahulu." desis Kasim Bo menarik kerah baju Phang Jun.


Phang Lian cepat berdiri dan memohon Kasim Bo melepaskan Kakaknya dengan tatapannya itu begitu pedih karena Kasim Bo begitu membenci dirinya.


"Aku akan melepaskan Kakakmu apabila kamu mau meminta maaf kepada Ching Er dan dia juga harus meminta maaf kepada Shi Lun."kata Kasim Bo nada tegas sekali.


"Ya.." jawab Phang Lian segera.


Gadis itu menghampiri Ching Er dan berkata."Aku minta maaf atas sikapku kepadamu tadi, Ching Er." ia memandang kakaknya untuk segera minta maaf kepada Shi Lun.


"Aku minta maaf kepadamu Shi Lun." kata Phang Jun gemetaran karena takut terhadap Kasim Bo yang tidak pernah main-main dalam ancaman yang dikeluarkan dari mulut pria muda tampan itu kepada siapapun yang menghina diri pemuda ini dan teman-temannya.


"Kau sama sekali tidak tulus dalam meminta maaf kepada Shi Lun, Phang Jun. Jadi, kamu tak bisa menyalahkan Aku yang harus membunuh mu.. "kata Kasim Bo yang langsung mencekik remuk batang leher Phang Jun lalu membuang jasadnya begitu saja di tanah.


Kasim Bo sudah mengajak semua temannya itu untuk mengikutinya ke arah keluar dari kota kecil di bawah pegunungan Lun tanpa menghiraukan Phang Lian yang menangisi kematian saudara tiri dari gadis itu sendiri.


"Iya, mereka terlalu sombong dan bisanya cuma mengandalkan pengaruh dari Ratu Kerajaan Yun saja untuk menekan kita." kata Shi Lun yang kini menoleh kepada Kasim Bo yang duduk di kursi depan meja kedai teh di hutan pinggir jalan kota lainnya.


"Ratu Kerajaan Yun adalah saudari seperguruan ku yang sampai detik ini masih menghargaiku tapi jika dia mulai bersikap tak sopan kepadaku, aku pasti akan membunuhnya juga." kata Kasim Bo sambil meneguk air teh segar dari cawan di tangan kanannya.


"Kak Bo Hai, lihat Phang Lian berdiri di luar kedai teh sepertinya dia mengikuti mu." kata Ching Er di kursi sebelah kanan Kasim Bo.


"Biarkan saja. " kata Kasim Bo acuh tak acuh.


Kasim Bo terkenang akan gadis cantik jelita di benaknya.Ia sendiri bingung dengan dirinya yang seakan-akan memikirkan gadis itu yang menurut logikanya sangat bertentangan dengan prinsip hidupnya.

__ADS_1


"Ahhh, berengsek! Kenapa aku memikirkan Putri Yun Hui??? " pikir Kasim Bo.


"Kak Bo Hai,teh mu itu tumpah ke celanamu." kata Xiao Feng menyikut lengan kiri Kasim Bo.


"Ehhh, iya.."kata Kasim Bo cepat mengelap air teh di celananya dengan saputangannya sendiri.


Dan,ketika ia mengangkat pandangannya itu ke arah luar kedai teh.Ia bergegas menuju ke arah luar kedai teh untuk pergi ke arah pohon rindang di dekat Phang Lian. Lalu telapak tangannya itu menatap guratan di batang pohon itu yang dapat diartikan olehnya adalah pesan dari musuhnya.


"Jika kamu ingin dia selamat maka kamu harus memberikan nyawamu kepadaku di wisma kota besar bunga Lun ungu." baca Kasim Bo.


"Bo Hai, apa kamu bisa mengartikan goresan itu yang berada di batang pohon ini? " tanya Phang Lian menengok ke arah Kasim Bo.


"Iya,tapi bukan berarti si kecil Jang Moon Gu bisa meraih apa yang dia inginkan dariku Bo Hai Raja Dewa Naga Timur." jawab Kasim Bo dengan nada dingin.


"Jang Moon Gu itu siapa,Tuan Bo? " tanya Shi Lun yang sudah berkumpul di dekatnya dan yang lainnya mengikuti Shi Lun.


"Asisten menteri pendidikan di istana Kekaisaran Ming yang juga merupakan salah satu murid dari sekte istana rembulan abadi yang juga saingan dari, sekte istana bunga Yue." jawab Kasim Bo.


"Ada berapa banyak musuhmu itu, Kasim Bo?" tanya Chou Cie nada terkejut dengan raut wajah Kasim Bo yang mengeras dan dingin seketika itu juga.


"Tujuh sekte dan orang-orang yang menyusup ke istana Kerajaan Yun yang mengancam nyawa nya hanya karena dia adalah putri ketiga dari Raja muda Yun dengan Ratu Zhao Min."jawab Kasim Bo geram.


"Siapa yang sedang kau bicarakan itu, Tuan Bo? " tanya Shi Lun melihat semburat merah muda di kedua pipi Kasim Bo.


"Musuhku yang lain." jawab Kasim Bo singkat.


"Lalu siapa yang diancam dibunuh oleh Jang Moon Gu apabila kamu tak menurut kepada pria kurcaci itu? " tanya Shi Lun penasaran sekali.

__ADS_1


"Putri Yun Hui yang aku minta untuk pulang ke istananya namun ditengah jalan gadis itu malah di tangkap oleh anak buah dari Jang Moon Gu." jawab Kasim Bo yang menghela napas panjang lalu melesat cepat ke arah dalam kota besar di dekat hutan luar kota kecil di bawah gunung Lun.


Bersambung!!


__ADS_2