
Shi Lun, Chou Cie, Tang Hung Chien dan Liu Shi Shi tiba di tepi sungai di bagian barat yakni di ujung sungai tersebut sehingga mereka terpisah jauh dari rombongan.
"Ahh, dimana Kasim Bo dan Tuan Muda Li Hong Yi berada sekarang ini? " tanya Shi Lun bertolak pinggang menatap air sungai yang warna airnya agak kuning dan kecoklatan.
"Mereka mungkin berada di tempat lain dari tepi sungai ini. " jawab Tang Hung Chien yang meraih pinggang kekasihnya agar pemuda tampan itu bisa selalu melindungi kekasihnya dari segala marabahaya yang mengancam mereka.
"Ya, sudah mari kita telusuri aliran sungai supaya kita bisa menemukan mereka dalam keadaan hidup." kata Chou Cie berjalan di depan teman - temannya.
Mereka menyelusuri aliran sungai tersebut tapi mereka tidak bisa menemukan Kasim Bo dan Li Hong Yi sehingga mereka memutuskan untuk menginap di dekat sebuah bukit yang berada di daerah barat sungai lidah neraka untuk istirahat sejenak untuk memulihkan tenaga mereka.
Dan, ditengah malam harinya sekelebatan orang- orang berpakaian serba hitam bak kelelawar di gua menyerang mereka dengan kibasan pedang yang terhunus ke arah mereka.
Wuttzz!
Shi Lun melompat dengan gerakan seekor ular di rerumputan telah menggerakkan tangannya ke arah sekelebatan pedang dari orang-orang yang berpakaian serba hitam itu dengan tepat waktu dan Chou Cie menendang pelipis sejumlah orang berpakaian serba hitam yang menyebabkan lima orang berpakaian serba hitam di dekat Tang Hung Chien telah tewas dengan pelipis remuk.
Dukk!
Bruakk!
Tang Hung Chien berguling-guling di tanah lalu pria muda tampan ini melompat dengan pedang ditangannya menebas leher salah seorang dari musuh yang menyerang mereka.
Wuttzz!
Crakk!
Liu Shi Shi memukul pelipis sejumlah musuh di dekatnya dengan ilmu sinkang Laba-laba merah yang menyebabkan kerusakan mengerikan bagi musuh-musuh yang di hadapinya.
__ADS_1
Plakk!
Dess!
"Laknat! siapa kalian yang sudah lancang tangan menyerang kami di bukit hutan sungai tak kami kenal?" tanya Shi Lun nada berwibawa dengan alat sempoa di tangannya diarahkan kepada pria pimpinan dari para penyerang mereka.
"Kami anggota sekte Bison Merah." jawab salah seorang dari lima puluh orang sekte Bison Merah di hadapan Shi Lun dan ketiga orang teman dari Kasim Bo dan Li Hong Yi.
"Oh, rupanya kalian adalah budak-budak dari si Tua Du Lao penjahat di wilayah barat suku Lu?" suara penuh getaran hebat dari Chou Cie kepada pimpinan dari penyerang mereka terkejut dan jantungnya berdebar-debar tak beraturan.
"Kau jaga mulutmu itu..! " hardik pimpinan dari anggota sekte Bison Merah yang menyerangnya dengan celurit yang meluncur ke arah bagian kiri leher Chou Cie.
Wuttzz!
Shi Lun dengan cepat melemparkan sempoa ke arah celurit milik pria ganas yang ingin menebas leher Chou Cie sehingga celurit itu terbang dari genggaman tangan pria ganas itu yang langsung di tebas kepalanya oleh Kasim Bo dari arah lain di bukit sungai itu.
Crakk!
"Chou Cie, kau tenang sajalah karena Aku pasti bisa mencari dan menemukan bahkan menolong kalian semua dari orang-orang tak tahu diri yang berada di depan kita." kata Kasim Bo yang sudah menggunakan alat sempoa milik Shi Lun telah melesat dan menebas tubuh dan kepala anggota sekte Bison Merah yang mengurung teman- temannya.
Crakk!
"Tuan Bo, bagaimana dengan Tuan Li?" tanya Shi Lun yang tidak melihat kehadiran Li Hong Yi di dekat Kasim Bo namun ia bisa melihat kehadiran Putri Yun Hui di belakang Kasim Bo.
"Ya, Aku justru sedang mencarinya dengan cara menelusuri tepi sungai dari arah barat ke timur tepi sungai namun ya Aku tersesat di sini." jawab Kasim Bo menghela napas panjang.
"Oh,kalau begitu kita berpencar untuk mencari Tuan Li Hong Yi di segala penjuru arah di daerah ini termasuk ke desa suku Lu di ujung bagian kiri kita saat ini." kata Tang Hung Chien yang terlihat resah gelisah memikirkan keselamatan Li Hong Yi segera mengusulkan pendapatnya itu kepada Kasim Bo.
__ADS_1
"Tidak, Hung Chien.Aku memikirkan untuk pergi ke desa suku Lu bersama-sama agar kita semua bisa saling menjaga keselamatan teman- teman kita dari suku Lu yang masih liar dan tidak suka dengan kedatangan orang-orang asing diluar desa mereka." kata Kasim Bo menolak usul dari Tang Hung Chien dengan sikap tegas.
"Baiklah, Tuan Bo. Aku hanya bisa mematuhimu saja." kata Tang Hung Chien nada sopan kepada Kasim Bo.
Kasim Bo memimpin teman-temannya berjalan ke arah yang diterangi oleh kunang-kunang di sekitar mereka sehingga mereka bisa bisa lihat lokasi desa tersebut dengan tepat.
"Batu petunjuk nama desa suku Lu ada di tengah pintu masuknya yang tertutup sebuah sandi agar tidak ada seorangpun dari luar desa suku ini bisa sembarangan untuk memasuki desa tersebut." kata Kasim Bo yang telah berdiri di depan batu itu.
"Lalu bagaimana cara kita untuk masuk ke desa suku Lu?" tanya Shi Lun nada serius sekali pada Kasim Bo di sampingnya.
"Menunggu sampai salah seorang warga desa suku Lu keluar dari desa mereka." jawab Kasim Bo yang menyempatkan diri untuk berbaring di rumput depan pintu masuk ke dalam desa suku Lu.
"Ehh, dia malah bersantai di bawah sinar bulan di malam hari tanpa memikirkan cara untuk masuk ke dalam desa suku Lu." kata Tang Hung Chien nada geram dengan sikap santai Kasim Bo.
"Sabar, sabar.." kata Shi Lun mengusap kepala Tang Hung Chien untuk sabar menghadapi sikap luar biasa Kasim Bo.
"Hei,aku bukan anak kecil yang diusap kepalanya lalu bisa merasa tenang." kata Tang Hung Chien nada marah dengan Shi Lun yang cepat mundur dari Tang Hung Chien dengan kedua tangan pria tampan itu di angkat ke atas kepala untuk minta kesabaran dari Tang Hung Chien.
"Kakak Chien, kau sabarlah dan tunggu langkah apa yang akan dilakukan oleh Kasim Bo untuk masalah kita saat ini."kata Liu Shi Shi nada halus untuk menyabarkan hati kekasihnya.
Tang Hung Chien merangkul kekasihnya lalu pria ini mengajak kekasihnya untuk menjauhkan diri dari Kasim Bo dan teman-teman mereka yang lain.
" Hmmm, dia emosian orangnya."bisik Chou Cie di telinga Shi Lun sambil makan buah apel hijau liar di dapatkannya dari hutan dekat tepi sungai.
"Ya, siapa sih orangnya yang tak bisa menahan emosi terhadap sikap terlalu santai Kasim Bo." kata Shi Lun bijak.
"Aku." jawab Putri Yun Hui tersenyum manis dan ramah kepada Shi Lun sambil menunggu Kasim Bo membuka sepasang mata.
__ADS_1
"Ahh, ya karena kamu telah tergila-gila padanya dan kami sudah mengenalnya sejak dahulu." kata Shi Lun dan Chou Cie bersamaan kepada Putri Yun Hui yang terkekeh-kekeh mendengar ucapan kedua teman dekat Kasim Bo itu.
Bersambung!!