Naga Di Langit Ming

Naga Di Langit Ming
Penobatan Putri Yun Hui Menjadi Ratu Yun Huan Penguasa Kerajaan Yun.


__ADS_3

Sesudah Kasim Bo menghabisi Tong Yan dan putrinya juga para pengikut setia Tong Le Le di malam hari bulan musim dingin di tahun ke lima Kerajaan Yun berdiri dan di hari berikutnya Putri Yun Hui yang merupakan satu-satunya penerus Kerajaan Yun di nobatkan sebagai penguasa baru Kerajaan Yun dengan gelar Ratu Yun Huan oleh seluruh rakyat di wilayah Yun.


Peristiwa ini disaksikan oleh Kasim Bo dan Shi Lun juga para tokoh masyarakat wilayah ini di istana Kerajaan Yun secara terbuka.Ratu Yun Huan terlihat begitu agung dan berkarisma di hadapan rakyatnya.


"Bo Hai, kau harus ingat janjimu untuk kau harus membawakan kepala Ming Yue ke hadapanku di istana ku ini dan kau juga harus kembali kepada ku setelah misi terakhir mu di pegunungan Hoa dapat terselesaikan dengan sempurna sesuai dengan keinginanmu." kata Ratu Yun Huan pada suatu malam hari dengan senyuman manis dan memikat kepada Kasim Bo di paviliun bunga lily putih di depan istana pribadinya.


"Baik,Ratu Yun. Sekarang aku harus pergi untuk melanjutkan tugasku sebagai seorang Pendekar besar di dunia persilatan daratan besar." kata Kasim Bo menjura hormat kepada Ratu Yun di hadapannya sebelum pemuda ini berkelebat naik ke atas genteng istana Kerajaan Yun dan dalam hitung beberapa detik saja telah menghilang dari pandangan sepasang mata Ratu Yun.


Kasim Bo terlihat memacu kuda meninggalkan wilayah Kerajaan Yun melalui pintu gerbang di bagian utara Kerajaan Yun bersama dengan Shi Lun yang berkuda di samping kuda besar warna hitam pekat dan gagah.


Di tengah jalan setapak yang mengarah ke hutan rumput warna ungu yang merupakan jalan ke wilayah pegunungan Hoa, keduanya di hadang oleh sekelompok orang berpakaian seperti biksu Shao Lin namun sinar mata sekelompok orang itu mencorong bengis kepada mereka berdua di depan jalan itu.


"Mmm, orang-orang hina yang berkedok sebagai seorang pemuka agama yang baik hati tetapi nyatanya kalian semua adalah perampok hina dari wilayah Kekaisaran Ming yang berniat untuk membunuhku di pintu masuk ke hutan ungu." kata Kasim Bo nada tajam kepada sekte Musang Perak yang berdiri tegak di depan kudanya dan kuda yang ditunggangi oleh Shi Lun di samping kanannya.


"Cih, jika kamu sudah tahu siapa kami sebaiknya jangan mencoba untuk melawan kami anggota sekte Musang Perak yang menjadi pelindung kiri Kekaisaran Ming yang dipimpin oleh Kaisar Ming Yen Khu yang sampai saat ini penguasa tunggal wilayah ini." kata salah seorang dari anggota sekte Musang Perak nada meremehkan kepada Kasim Bo.


"Kalau aku mau melawan kalian,apa yang akan lakukan kepada kami?" tanya Kasim Bo dengan sinar matanya yang menantang anggota sekte Musang Perak yang menghadangnya saat itu.


"Kalian berdua akan menerima hukuman mati di ujung tongkat kami ini dan kepala kalian akan kami jadikan cinderamata di rumah kami." jawab salah seorang dari anggota sekte Musang Perak dengan seringai kejam kepada Kasim Bo dan Shi Lun.

__ADS_1


"Baiklah, mari kita buktikan saja di ujung senjata kita masing-masing untuk membuktikan apakah kalian semua dapat menghukum mati kami dan membawa pulang kepala kami ke rumah kalian untuk dijadikan cinderamata di rumah kalian..!" tantang Kasim Bo sambil menghunuskan ujung pedang Penakluk langit dan bumi Ming di tangan kanannya ke arah pasukan sekte Musang Perak di depan kudanya.


"Lancang..! Lihat serangan-serangan kami..!" hardik Pemimpin pasukan sekte Musang Perak yang meluncur ke arah Kasim Bo dengan ujung tongkatnya di arahkan secara langsung ke depan sepasang mata Kasim Bo dengan desiran angin yang sangat berbahaya bagi keselamatan Kasim Bo.


Wutttttzzz!


Betzzz!!


Kasim Bo menggerakkan tubuhnya secepat kilat yang mengejutkan lawannya karena pemuda ini tiba-tiba lenyap dari pandangan sepasang mata pemimpin pasukan sekte Musang Perak yang menyerangnya itu.


"Heiiiii..! "pekik kaget Guo Tuo nama pemimpin pasukan sekte Musang Perak.


Pria ini menggerakkan tongkat ke segala penjuru arah untuk menyerah lawan mudanya yang lihai itu namun ia di kejutkan oleh ujung pedang di tangan kanan Kasim Bo telah cepat mengincar ke arah pelipis kirinya dengan kecepatan yang tak terduga olehnya, maka ia pun dengan cepat menggunakan ujung tongkat di bagian kanan ke arah pelipis kirinya untuk menangkis serangan maut dari ujung pedang di tangan kanan Kasim Bo yang sangat tajam itu.


"Aiyaaa..! " pekik kaget dari Guo Tuo yang telah kehilangan tongkatnya yang telah terpotong oleh ujung pedang di tangan kanan Kasim Bo dan Ia semakin terkejut karena Kasim Bo telah lebih cepat bergerak dengan memukul pelipis kanan dengan pukulan telak yang mengakibatkan retak pada tempurung kepalanya seketika itu juga.


Plakk!


Bruakk!

__ADS_1


Pasukan sekte Musang Perak secara serentak telah menyerang Shi Lun dengan sejumlah ujung tongkat yang mengarah ke seluruh bagian tubuh Shi Lun yang terbuka.


Wutttttzzz!


Betttzzz!


Trakk!


Trakk!


Crakk!


Kasim Bo bergerak dengan kecepatan tinggi di sekitar pasukan sekte Musang Perak yang telah maju untuk mengeroyok sahabatnya itu telah lebih dahulu menebas sejumlah ujung tongkat di tangan pasukan sekte Musang Perak sekaligus menebas habis kepala dan tubuh pasukan sekte Musang Perak hingga tak tersisa lagi.


"Shi Lun, cepat kau ambil plakat di pinggang pria sialan itu untuk kita gunakan untuk masuk ke wilayah ini dengan mudah dan sekaligus kita bisa menghabisi markasnya di tengah jalan kita menuju ke gunung Hoa." kata Kasim Bo dengan nada tenang kepada Shi Lun sambil kembali naik ke punggung kudanya.


"Baik, Tuan Bo." jawab Shi Lun cepat mematuhi perkataan Kasim Bo dengan mengambil plakat tersebut lalu mengikuti langkah derap kaki kuda Kasim Bo dengan kudanya di pacu dengan cepat sekali.


Mereka menajamkan pendengaran mereka yang dapat mendengar suara sejumlah orang yang bertarung dengan sengit di jalan menuju ke arah timur hutan ungu.

__ADS_1


"Mmmm, sekte Hoa San Pai yang di pimpin oleh mantan kakak seperguruan Li Hong Yi ternyata mendapatkan musuh di tengah perjalanannya di saat ia akan pulang dari perjalannya ke daerah Dunhuang yang tandus. Mmm, mari kita lihat di atas pohon ini untuk kita semua bisa lihat siapa musuhnya itu." kata Kasim Bo tanpa menoleh ke arah Shi Lun yang telah di ketahui olehnya telah lebih dahulu naik ke pohon dan bersembunyi di balik rimbunan dedaunan warna ungu di dekat Kasim Bo yang telah menyembunyikan kuda- kuda mereka di kuil kosong di sisi kanan hutan ungu atau lebih tepatnya di tepi sungai lereng gunung Hoa San.


Bersambung!


__ADS_2