
Kasim Bo dengan sikap malas-malasan tangan kanannya membuat rajutan topi yang bergerak ke arah kirinya yang telah menjerat seorang pria yang terlilit benang-benang rajutannya sampai Ching Erl terkejut dan melompat bangun untuk berdiri di dekatnya.
Serrttt!
"Siapa kau? " tanya Kasim Bo nada dingin sekali kepada pria itu yang memilih untuk bunuh diri dengan menggigit lidah hingga putus.
Kress!
"Wahh, dia jantan juga sebagai anak buah." kata Shi Lun yang telah datang ke ruang dalam rumah sementara Bo bersama dengan Phang Bi Lian di sampingnya.
"Dia anak buahnya Tuan Ma Dao penguasa desa kecil kupu-kupu gunung Lun yang ingin bertemu dengan mu, Kasim Bo. " kata Chou Cie dan Xiao Feng yang sudah kembali dari pasar desa kecil kupu-kupu gunung Lun dengan membawakan sepucuk surat kepada Kasim Bo.
"Mmm, Tuan Ma Dao ternyata mengundang aku untuk bertemu dengannya di puncak gunung Lun di tengah malam hari ini untuk membicarakan tentang apa yang ingin dia ketahui dariku." kata Kasim Bo usai membaca surat dari Tuan Ma Dao yang langsung dihancurkannya dengan satu kali remas tangannya saja.
"Tuan Bo,kami tadi di pasar desa kecil kupu-kupu gunung Lun bertemu dengan anak buahnya yang dipimpin oleh putrinya yang bernama Ma Li Sa yang centilnya sangat mengesalkan kami untuk kami mengirim pesan dari ayahnya untukmu di sini. " kata Xiao Feng dengan raut wajahnya yang kesal sekali.
"Ma Li Sa itu ulat belatung nangka yang selalu tertarik pada pria tampan dan gagah perkasa juga normal seperti Shi Lun dan Chou Cie- kita." kata Kasim Bo dengan nada senang sekali bisa menjahili teman-temannya.
__ADS_1
"Ughh, aku Phang Bi Lian akan mengulitinya jika dia benar-benar menggoda Kak Lun kesayangan ku. " kata Phang Bi Lian nada keras.
"Aku dari tadi sudah ingin sekali memotongnya karena dia bersikap centil terhadap Chou Cie ketika kami ingin membeli kue lembut di toko kue depan jalan pasar desa ini. " kata Xiao Feng yang menjelaskan kenapa wajahnya masam usai pulang ke pasar desa kupu-kupu gunung Lun kepada Kasim Bo dan teman-teman mereka di rumah sementara Bo.
"Sabarlah, sebaiknya kita makan dulu sebelum kita melanjutkan perjalanan ke gunung Lun untuk menjadi saksi mata dalam pembicaraan rahasia antara Tuan Bo dengan Tuan Ma Dao." kata Ching Erl memegangi perutnya sambil melihat ke arah bungkusan warna coklat di tangan Xiao Feng dan Chou Cie.
"Ya, benar sekali. Ayo kita sarapan pagi dahulu untuk mengisi tenaga kita." kata Kasim Bo nada ceria mengambil bungkusan warna coklat yang disodorkan oleh Chou Cie untuknya.
Shi Lun, Phang Bi Lian, Chou Cie dan Xiao Feng juga Ching Erl menikmati makanan sarapan pagi mereka berupa cakwe dan roti bantal goreng di dekat Kasim Bo yang menikmati sarapan pagi berupa segelas susu kacang kedelai dan telur rebus.
"Lain waktu aku ingin mencoba untuk makan mie mala yang segar khas kota Sichuan yang sudah lama ku rindukan. " kata Kasim Bo sambil makan sarapan paginya.
"Tidak juga, aku teringat tentang dosa Tuan Wan Le yang harus ku bunuh secepatnya karena dia sudah membunuh Pendeta Xu yang menjadi sahabat ke lima ku di dunia ini." kata Kasim Bo di luar dugaan Chou Cie.
"Ehh?? Dimana Tuan Wan Le itu tinggal?" tanya Shi Lun yang wajahnya berubah merah karena marah mengenang peristiwa kelam masa lalu mereka yang membuat mereka kehilangan salah seorang dari teman-teman seperjuangan mereka di seluruh dunia persilatan daratan besar.
"Entahlah, namun aku pasti akan menemukan orang biadap itu dengan kemampuanku sendiri dan memotong-motong dirinya dengan pedang pusakaku sendiri." jawab Kasim Bo yang telah berdiri di atas lantai lalu berjalan keluar dari rumah sementara Bo.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang telah terjadi pada diri kalian setelah kalian pergi ke pulau hantu di utara sekitar tiga tahun yang lalu untuk mencari informasi mengenai pusaka Kekaisaran Ming yang hilang dari ruang penyimpanan harta karun Kekaisaran Ming sendiri? " tanya Phang Bi Lian yang memang telah mendengar tentang kisah perjalanan Kasim Bo dan teman-temannya ke pulau hantu bersama para pendekar di dunia persilatan daratan besar usai pertemuan yang digelar di puncak gunung Thai San.
"Kami dijebak oleh musuh-musuh gabungan dari enam sekte yang bertentangan dengan hukum yang berlaku di seluruh dunia persilatan daratan besar di pulau hantu sehingga teman kami itu menjadi korban mereka bersama dengan lima belas orang anggota sekte Hoa San Pai dan Gobi Pai." jawab Shi Lun nada perih karena dia telah teringat tentang bagaimana teman mereka itu di bunuh oleh Tuan Wan Le yang dikenal sebagai Pendekar Rajawali Hitam Barat.
"Emm, ya seharusnya jumlah kami adalah lima orang yang terdiri dari Kasim Bo, Chou Cie, Shi Lun, Xu Xian atau Pendeta Xu dan Xiao Chen yaitu kakak kandung Xiao Feng." kata Kasim Bo dengan raut wajahnya begitu sedih sekali sambil berjalan dengan santai ke arah selatan yaitu ke arah pegunungan Lun yang menjulang tinggi di kejauhan.
"Lalu dimana Xiao Chen berada? Kenapa dia tak ada bersama dengan kalian bertiga yang dikenal sebagai lima pendekar dari timur?" tanya Phang Bi Lian menoleh kepada Shi Lun.
"Dia telah menghilang semenjak kami kembali ke daratan besar dari petualangan kami di gurun pasir utara sampai sekarang dia belum pernah kembali kepada kami."jawab Shi Lun nada getir sekali.
" Aneh sekali dia menghilang tanpa sebab?Hmm, ini sungguh mencurigakan sekali bagiku. "kata Chou Cie yang telah lama tidak menyukai Xiao Chen yang menjadi salah seorang teman- teman seperjuangan mereka.
"Chou Cie kenapa kamu bicara tentang Kakakku seperti musuhmu sendiri? " tanya Xiao Feng tak suka kakaknya di curigai oleh para sahabat dari kakaknya sendiri.
"Maaf, aku lupa kalau dia adalah kakakmu, Xiao Feng." kata Chou Cie cepat-cepat minta maaf kepada Xiao Feng.
Kasim Bo meliriknya dan tahu bahwa Chou Cie itu ada benarnya juga dalam mencurigai siapa pun yang hidupnya malang melintang di dunia persilatan daratan besar adalah orang-orang yang tak bisa dipercaya akan kejujurannya sama sekali, karena disebabkan oleh hidup yang saling bermusuhan satu sama lainnya untuk menjadi yang terbaik di dunia ini dan menguasainya.
__ADS_1
"Tuan Bo,apakah kamu mempercayai apa yang ada di dalam pikiran ku ini mengenai diri Xiao Chen? " tanya Chou Cie melalui lirikan matanya di tujukan kepada Kasim Bo yang berjalan di sampingnya.
Bersambung!!