
Kapal laut yang mengarungi perairan sungai di desa perbatasan antara wilayah Chen pusat dan Zhao timur dilakukan oleh rombongan Kasim Bo dengan satu tujuan utama mereka adalah untuk menyelamatkan Kekaisaran Zhao dari rencana pemberontakan yang dipimpin oleh Perdana Menteri Kekaisaran Zhao dengan Permaisuri Yu.
Kini telah berlayar ke tengah sungai tersebut dan mereka dapat melihat betapa air sungai ternyata memiliki ombak yang persis seperti ombak di lautan lepas saja.
"Hei, lihat ikan di airnya pun bukanlah ikan air tawar pada umumnya." kata Shi Lun menunduk ke air sungai dari tempatnya bekerja sebagai ahli pengendali kapal laut.
"Ya, ikan di air sungai ini persis seperti di sungai ganas di daerah belahan dunia lainnya." kata Chou Cie bergidik ngeri melihat ikan-ikan yang di air sungai ini memiliki gigi yang runcing.
"Namanya ikan piranha." kata Kasim Bo dengan senyuman tenangnya sambil duduk di tepi tiang kapal laut memainkan benang pancing untuk ia bisa menangkap ikan untuk dijadikan makanan mereka.
"Ei,apakah kau bermaksud untuk makan malam dengan menu ikan itu?" tanya Li Hong Yi dengan nada tak percaya dengan ide makanan mereka di otak saudara kembarnya.
"Ya, karena Aku tak melihat ada jenis ikan yang lain di dalam sungai ini." jawab Kasim Bo santai sekali menaruh ikan-ikan piranha hasil pancing ke keranjang anyaman di samping.
"Ahh?Aku tak mau makan ikan itu yang biasanya makan bangkai hewan apa saja di sungai ini dan termasuk manusia yang nasibnya buruk sekali di mangsa oleh ikan-ikan kecil yang ganas itu." kata Putri Yun Hui bergerak mundur dari dekat Kasim Bo.
"Ya,sudah kau tak perlu ikut makan malam untuk malam ini." kata Kasim Bo nada tegas kepada Putri Yun Hui seraya membersihkan ikan-ikan itu dengan air sungai yang diambilnya dengan topi jeraminya dan memotong ikan-ikan dengan jari tangannya sendiri dengan kecepatan luar biasa.
"Chou Cie, siapkan panci masak dan air untuk membuat sup ikan lezat." kata Kasim Bo meraih tangan Chou Cie dan menaruh ikan-ikan di kedua tangan Chou Cie.
"Ah, katamu dirimu yang akan memasak makan malam kita tapi kenapa kau menyuruh ku juga?" keluh Chou Cie pelan namun tidak berani untuk membantah terang-terangan kepada Kasim Bo ketika ia di lirik oleh Kasim Bo.
Nona Bai Xiao Chen datang dari ruangan dalam kapal laut dengan membawakan setumpuk baju bersih untuk Kasim Bo dengan senyuman ramah dan manisnya.
"Tuan Bo, Aku sudah siapkan air mandi untukmu di kamar khusus untukmu di ruangan dalam di kapal laut ini." kata Nona Bai Xiao Chen dengan senyuman sopan kepada Kasim Bo.
"Eh, kenapa kamu yang menyiapkan air mandi untuk Kasim Bo tanpa minta izin dahulu padaku yang menjadi teman dekatnya?" tanya Putri Yun Hui nada ketus kepada Nona Bai Xiao Chen.
"Hei, kenapa dia harus minta izin kepadamu?" tanya Nona Peng Cheng yang segera berdiri di depan Putri Yun Hui dengan nada keras.
"Hai, Aku sudah merapikan kamar untuk Kasim Bo." kata Nona Khong Li Mei dengan sikap riang gembira kepada Kasim Bo di hadapan mereka di bagan kapal laut yang namanya diganti dengan nama 'Kapal Laut Bo Hai' oleh Kasim Bo sendiri.
__ADS_1
"Hmm,terimakasih untuk semuanya yang sudah membantuku untuk keperluanku." kata Kasim Bo nada biasa saja sambil berjalan ke lantai bawah kapal laut.
"Wah, sudah ada tiga orang gadis cantik jelita di sisi Kasim Bo yang selalu ribut untuk melayani Kasim Bo." kata Tang Hung Chien sambil makan kuaci yang di kupas kulitnya oleh Liu Shi Shi di sampingnya.
"Empat." kata Nona Bai Xiao Chen meluruskan perkataan Tang Hung Chien dengan menunjuk pada dirinya sendiri.
Li Hong Yi menggelengkan kepala dengan sikap dewasa melihat empat orang gadis cantik jelita itu berlomba-lomba untuk mendapatkan cinta Kasim Bo.Ia melirik ke arah Yang Chao Yue dan Putri Mung Fan di kedua sisinya sedang merajut pakaian untuk dirinya.
"Kak Hong Yi,apa rencanamu setelah akhirnya kau bisa kembali ke Kekaisaran Zhao?" tanya Yang Chao Yue duduk dengan bersandar pada bahunya.
"Mengambil alih kekuasaan Ayahandaku yang telah gagal dalam menjaga wilayah Chen kami di seluruh perbatasannya yang nyaris direbut oleh Kerajaan di sekitarnya." jawab Li Hong Yi dengan sikap wibawa.
"Lalu? " tanya Putri Mung Fan menatapnya penuh cinta yang tulus sekali.
"Menikah dengan kalian berdua tentunya." jawab Li Hong Yi dengan senyumannya sambil meraih keduanya dan mencium bibir keduanya dengan adil.
"Tunggu, Hong Yi, di istana Kekaisaran Zhao kita bukankah kau sudah mempunyai selir kecilmu?" ucap Zhao Beng kakaknya dengan senyum cerah kepadanya.
"Putri Lu Lu gadis suku Manchu yang diberikan oleh Bangsawan Mu untukmu di hari ulang tahun Ayahanda kita namun gadis itu hilang dari istana Kekaisaran Zhao sesudah kamu harus menikah dengan Putri Chen Yi Yi di usiamu baru delapan tahun untuk perdamaian suku Zhao dengan suku Chen yang akhirnya gagal dan kau merebut suku Chen menjadi bagian dari wilayah Zhao kita." jawab Kakaknya sambil menerima daun teratai yang diatasnya ada sup ikan lezat karya Chou Cie yang diberikan oleh Kasim Bo untuknya dan Li Hong Yi.
"Hmm, begitukah? tapi bagaimana gadis kecil itu bisa hilang dari istana Kekaisaran Zhao?" tanya Li Hong Yi dengan nada terheran-heran dengan informasi tersebut.
"Tak perlu merasa heran dengan orang-orang di istana manapun juga karena mereka sepertimu ingin mencari kebebasan juga." jawab Kasim Bo dengan senyuman khasnya yang santai sekali.
"Ya, kau benar, tapi Aku harus tetap mencarinya untuk tanggungjawab ku sebagai seorang pria sejati." kata Li Hong Yi sambil menerima cawan berisi arak dari guci arak milik Kasim Bo.
"Ahh,Apa kau tak pernah merasakan pusing di otakmu dengan para gadis di sekitarmu?" tanya Kasim Bo mengangkat bahunya dengan ekspresi wajahnya yang menunjukkan bahwa ia jenuh dan bosan dengan suara ramai-ramai para gadis di sekitarnya.
"Tidak, kalau kau mensyukuri nikmat Tuhan yang diberikan kepadamu dengan kehadiran mereka di sekitarmu sebagai teman yang menemanimu menjalani kehidupan yang rumit ini." jawab Li Hong Yi tersenyum melihat saudara kembarnya begitu berbeda prinsipnya dengan dirinya.
"Aku tidak pernah tertarik dengan para gadis itu karena menurutku mereka itu merepotkan dan selalu menjadi penghalang untuk mencapai apa pun yang menjadi tujuan hidupku di dunia ini." kata Kasim Bo dengan senyuman tegasnya pada Li Hong Yi.
__ADS_1
Nona Shiang Hui Jing memekik pelan namun itu adalah cukup untuk Kasim Bo dan yang lainnya bisa mengetahui kehadiran musuh-musuh di tengah perjalanan mereka ke wilayah Zhao, dan benar saja karena sejumlah anak panah api dari segala penjuru meluncur ke arah mereka dengan kecepatan tinggi.
Werrrr!
Werrr!
Syuttt!
Syuttt!
Li Hong Yi dengan sigap menggerakkan seruling naga menangkis serangan-serangan anak panah api itu yang segera runtuh dan terlempar ke arah air sungai.
Trakk!
Trakk!
Brush!
Kasim Bo menggunakan ilmu sinkang panas di kedua telapak tangannya yang membuat anak panah api meleleh oleh serangannya itu dan ia bahkan membuat cairan panas dari anak panah api menjadi senjatanya untuk menyerang balik ke arah musuh- musuh yang menjerit kesakitan dan kepanasan lalu hangus seketika itu juga.
Chou Cie menyerang sejumlah besar musuh - musuh yang sudah meluncur ke kapal laut milik mereka dengan sejumlah gerakan yang ganas sekali melalui ilmu pedang yang dimainkan oleh musuh-musuh itu dengan memakai bangkai ikan piranha.
Trang!
Trang!
Trang!
Trang!
Trang!
__ADS_1
Bersambung!!