
Kasim Bo melayang turun ke dalam kamar yang sudah di amatinya dari rumah pejabat Mun sejak awal Ia datang ke rumah pejabat Mun melalui genteng paling tinggi di pejabat paling penting di kota Shi namun sesungguhnya adalah pejabat paling banyak kasus korupsi pajak kota Shi di seluruh wilayah Kerajaan Yun.
Swushh!
Kamar yang dimasukinya itu adalah kamar yang tirainya berwarna merah motif bunga krisan dan di sekelilingnya terdapat hiasan yang menarik perhatian dari Kasim Bo.
"Bunga krisan pada tirai di kamar ini membuatku teringat sesuatu yang selama ini menjadi hantu di malam hari aku tidur. " pikir Kasim Bo.
Teman-temannya membongkar-bongkar setiap laci, guci, pintu, lemari dan berbagai tempat yang dapat mereka mencari yang mereka inginkan dari kamar itu.
"Aduh, kenapa tempat tinta ini sangat keras dan tidak bisa ku angkat dari mejanya? " tanya Chou Cie yang mengusik kesadaran Kasim Bo.
"Coba kau putar ke kiri atau ke kanan." usul Shi Lun.
Chou Cie mengikuti usul dari Shi Lun yaitu di putarnya tempat tinta ke kiri dan ke kanan tetapi tidak ada perubahan pada posisi tempat tinta itu di mejanya.
"Mmmm, minggirlah dari sana dan biarkanlah ku coba pakai cara lain." kata Putri Yun Hui dengan tangannya mengusir keduanya untuk menjauh dari meja kerja di ruang kamar pribadi Pejabat Mun.
Kasim Bo memperhatikan gadis itu memutar tempat tinta seperti angka enam dan muncullah sebuah pintu di belakang meja. Kasim Bo pun segera mendekat ke pintu yang bentuknya bulat seperti bulan purnama.
"Hmm."
"Ada kata sandinya, " kata Xiao Feng mendekati pintu itu juga.
"Tak ada jalan lain kecuali..? "
"Apa?? "
Kasim Bo menggerakkan telapak tangannya ke arah pintu yang langsung hancur oleh telapak tangan Kasim Bo.
Blaarr!
__ADS_1
"Menghancurkan adalah jalan paling jenius bagi kita semua. " kata Kasim Bo santai.
"Wah kalau begitu bank di kota Shi yang rusak pada pintunya adalah ulahmu ya? " ucap Putri Yun Hui di belakang Kasim Bo.
"Jangan sembarangan kau menuduhku hanya di karenakan kamu melihat aku menghancurkan pintu kamar pribadi pejabat korupsi pajak di kota Shi. "kata Kasim Bo nada galak kepada Putri Yun Hui.
"Emm, aku cuma menduga bukan menuduhmu, Kasim Bo. Eh, sejak kapan kamu mengubah gaya penampilanmu dalam berpakaian dan juga merias rambutmu? " Putri Yun Hui baru sadar kalau Kasim Bo tidak seperti biasanya dalam berpenampilan.
"Bawel kamu. " kata Kasim Bo menyumpal buah kamboi ke mulut mungil Putri Yun Hui.
"Umm, maaf jangan marah nanti kamu bisa sakit hati terhadap aku." kata Putri Yun Hui tersenyum lebar kepada Kasim Bo.
Chou Cie, Xiao Feng dan Shi Lun yang berjalan di belakang mereka berdua hanya bisa diam dan saling berpandangan satu sama lainnya dengan ekspresi wajah mereka terheran-heran dengan cara Kasim Bo menangani kebawelan Putri Yun Hui.
"Tolong diperhatikan dan di ingat dengan cermat sebelum ruangan ini akan kujadikan puing-puing tak jelas. " kata Kasim Bo nada serius kepada keempat temannya itu.
"Ya.. " jawab keempatnya serentak.
"Ini seperti gambar yang harus kita pecahkan dan isi yang kosong untuk mengetahui gambar apakah yang dimaksud dari dinding ini. " kata Kasim Bo dengan wajahnya yang begitu serius sekali.
"Aku akan mencoba untuk memecahkannya." kata Putri Yun Hui tersenyum lebar sambil maju ke dinding lalu menggunakan kuas di tangannya menggambar beberapa tempat yang kosong dan masih ada celah-celah di gambar itu.
"Naga berenang di sungai Nil? " ucap Chou Cie.
"Itu sih mumi di Mesir, Chou Cie. " ujar Kasim Bo.
"Ikan paus menari di gurun pasir di padang utara dan selatan... " kata Shi Lun menebak gambar itu.
"Gadis malu-malu jumpa kekasihnya yang belum mandi selama seminggu.. " tebak Xiao Feng.
"Eh,laki-laki macam apa yang tidak suka mandi? " tanya Shi Lun menoleh kepada Xiao Feng.
__ADS_1
"Macam kucing garong di gurun pasir yang tidak pernah mandi." jawab Xiao Feng.
"Kucing seperti itu harus dijauhkan dari wanita di dunia ini supaya tidak pernah mengganggu dan menyakiti hati wanita." kata Shi Lun yang melirik ke arah Kasim Bo yang menyikut rusuk kanannya hingga ia menubruk dinding dan mengubah tiap gambar yang sudah dilengkapi oleh gambar dari Putri Yun Hui buatkan.
Mereka melihat dinding menampilkan lukisan di dalam ingatan Kasim Bo yaitu pegunungan Liu yang pernah dilihatnya di istana Kekaisaran Ming ketika ia jumpa dengan Kaisar Ming Yen sekitar beberapa tahun yang lalu.
"Hmm, Ming Yen merepotkan sekali. "batinnya.
" Pegunungan apakah ini? Siapa yang melukis pegunungan ini di sini? "tanya Chou Cie dengan nada penasaran.
" Yang jelas bukan kita karena kita baru pertama kali ke rumah pejabat Mun, "jawab Shi Lun yang mendapatkan pukulan di dahinya oleh Kasim Bo di sampingnya.
" Aduh, aku akan memikirkan orang itu di dalam hatiku saja. "kata Shi Lun menghindari Kasim Bo dengan takut.
" Ya, sudahlah lupakan saja,mari kita pikirkan apa yang harus kita lakukan untuk perjalanan ke Kota Chang an yang akan di mulai dari esok pagi sekali. "kata Chou Cie yang mengikuti Kasim Bo keluar dari kamar rahasia itu.
"Uang untuk biaya hidup selama di perjalanan menuju ke kota Chang an adalah hal terbesar di dunia persilatan daratan besar bagi kita semua.. " kata Kasim Bo yang melirik ke arah Shi Lun.
"Ahh, pakai uangku lagi.. ?! " teriak Shi Lun.
"Ya,karena diantara kita semua yang paling kaya raya adalah kamu,Kawan.Ayolah jangan kamu perhitungan dengan kami."kata Kasim Bo yang merangkul pundak Shi Lun.
" Emm, siapa suruh aku menjadi temanmu, Bo Hai? "tanya Shi Lun pasrah saja terhadap Kasim Bo yang pintar berdebat dengannya.
Putri Yun Hui tersenyum lebar kepada Kasim Bo di sisi kanannya saat mereka keluar dari rumah pejabat Mun untuk pergi ke Bank kota Shi untuk menemani Shi Lun mengambil uang tunai untuk modal perjalanan mereka ke kota Chang an.
" Kereta kuda yang lengkap, pakaian bersih dan riasan rambut juga alat rias harus kita siapkan dengan cermat. "kata Kasim Bo mencatatkan perlengkapan apa saja yang harus mereka beli usai dari Bank kota Shi kepada Shi Lun.
" Hmm, ya, Tuan Bo.. "jawab Shi Lun menutupi wajahnya di depan meja kasir di Bank kota Shi di depannya.
Bersambung!!
__ADS_1