
Chou Cie dan Peng Cheng menyelusuri hutan di dekat kuil kosong di daerah pegunungan tak di kenal untuk mencari makanan dan minuman di sekitar daerah tersebut sampai ke tengah hutan dan tak sengaja menemukan sebuah benda yang berkilauan terkena cahaya rembulan di langit di tanah dekat sungai.
"Chou Cie, lihat.." kata Peng Cheng yang pertama kali melihat benda berkilauan tersebut kepada Chou Cie yang berjalan di belakang gadis manis ini.
"Ada apa,Nona Peng?"tanya Chou Cie berhenti di belakang gadis itu.
"Di tanah dekat sungai itu ada benda yang dapat mengeluarkan cahaya terang benderang."jawab Peng Cheng yang menarik lengan pemuda di belakangnya.
Chou Cie pun mengikuti arah pandangan kedua mata Peng Cheng ke arah tanah dekat sungai di depan sepasang mata mereka lalu menemukan benda yang telah dilihat oleh Peng Cheng.
" Pecahan koin emas milik Kekaisaran Ming ada di sini."kata Chou Cie yang segera mengambil benda itu dari tanah dan menyimpannya di saku dalam pakaiannya.
Dan, ketika ia sedang membungkuk terdengarlah suara gemuruh dari dalam sungai sampai airnya bergelombang dan memercikkan buih-buih air ke arah dirinya sehingga ia berguling-guling di atas tanah karena air sungai itu mengandung racun.
"Arghhh..! Peng Cheng pergilah dari sini dan kau harus menunjukkan koin emas ini kepada Tuan Bo...!" teriak Chou Cie yang merasakan sakit luar biasa pada kulitnya yang melepuh hingga daging dan tulang pada tubuhnya bernanah.
"Chou Cie..!" teriak Peng Cheng kaget melihatnya melemparkan koin emas dan sepasang matanya meredup lalu merapat untuk selamanya.
Peng Cheng menangis sambil mengambil koin emas itu lalu melesat cepat kembali ke arah kuil kosong untuk menemui Kasim Bo di sana tetapi berkelebatan bayangan hitam entah darimana datangnya telah melontarkan pukulan maut ke belakang kepalanya.
Plakk!
Bruakk!
Tewaslah gadis itu juga dan koin emas telah di ambil oleh bayangan hitam itu yang segera pergi dari hutan dan membuat suasana di sana telah berubah menjadi mencekam sekali.
Kasim Bo yang sedang menunggu kembalinya Chou Cie dan Peng Cheng dari mencari makanan dan minuman di hutan telah tidak sabar untuk mencari keduanya dan terkejut melihat jasad dari keduanya berada di tepi sungai dalam hutan desa petir hitam.
"Chou Cie..! Peng Cheng..!" teriak Kasim Bo yang menarik perhatian dari Shi Lun dan yang lainnya yang segera datang ke lokasi tersebut.
"Tidak..! Siapakah orang yang telah membunuh mereka berdua di dekat sungai ini?" tanya Shi Lun nada geram sekali.
"Aku akan menemukan pembunuh mereka dalam waktu dekat ini dan akan aku pastikan mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal dari ku." kata Kasim Bo nada bengis.
"Darah yang berceceran di dekat sungai ini bisa dijadikan sebagai petunjuk untuk mengetahui pembunuh mereka." kata Siang Hui Jing dengan nada tak kalah marahnya terhadap pembunuh Chou Cie dan Peng Cheng.
__ADS_1
Kasim Bo memeriksa darah di sekitar sungai ini lalu mencium aroma racun mematikan dari air sungai yang memercik keluar dan menyerang ke arah dirinya dan teman-temannya.
Wushhh!
"Mundur..! " perintah dari Kasim Bo kepada Shi Lun dan yang lainnya sambil mengibaskan ujung lengan pakaiannya ke arah percikan air sungai yang menimbulkan ledakan di tengah-tengah udara.
Blaarrr!
Lalu muncullah sejumlah orang berpakaian suku Khitan dengan sepasang mata yang ganas dan memegang sejumlah pedang bergerigi tajam di tangan. Orang-orang ini dipimpin oleh seorang wanita cantik berpakaian serba merah di depan sepasang mata Kasim Bo.
"Siapa kau yang sudah berani untuk menyerang ku dengan ilmu racun kelabang gurun pasir yang telah kau sebar di air sungai yang malang ini?" tanya Kasim Bo nada dingin kepada wanita itu.
"Kasim Bo, apakah kau sudah lupa kepadaku?" tanya balik wanita cantik yang ganas itu kepada Kasim Bo dengan sikap sombong.
"Cih! Kau tak layak untuk aku ingat dengan baik, wanita bau.." jawab Kasim Bo nada tajam sekali dengan seringai yang memandang rendah pada wanita cantik ini.
"Sialan kau..! Aku Ratu Yi dari Sekte Ular Salju di Utara atau lebih dikenal sebagai Ratu Phoenix Utara yang dahulu pernah bertarung denganmu di puncak gunung Thai San untuk merebut pil keabadian milik Kaisar Dewa Dunia Persilatan Liang Huo Jian. " kata Ratu Yi nada marah sekali karena direndahkan oleh Kasim Bo.
"Hmmm, aku tak peduli kau Ratu atau Dewi atau Ketua sekte apapun itu karena bagiku kau hanya seorang wanita busuk yang layak untuk di bakar hidup-hidup olehku.." kata Kasim Bo nada sadis sekali.
Wuttzz!
Kasim Bo tentu saja takkan pernah membiarkan wanita itu menyerang dan menghabisi teman- temannya telah melontarkan ilmu pukulan naga menyemburkan api melalui kedua kibasan ujung lengan pakaiannya ke arah pukulan racun kelabang gurun pasir putih yang diarahkan oleh Ratu Yi ke arah teman-temannya.
Desss!
"Huwekk..! " Ratu Yi memuntahkan darah segar dari mulutnya karena isi perutnya telah hancur berantakan karena serangan maut dari Kasim Bo secara langsung.
Sejumlah anak buahnya telah menghadapi Shi Lun dan yang lainnya yang sudah menggunakan ilmu pedang mereka masing-masing di sekitar Kasim Bo.
Trang!
Trang!
Trang!
__ADS_1
Shi Lun menggunakan ilmu pedang matematika di tangan kanan dengan menggunakan senjata alat sempoa dan ilmu sinkang tapak bunga lotus di tangan kiri sehingga para anak buah Ratu Yi yang dihadapinya telah berjatuhan ke dalam air sungai dan menjerit kesakitan karena tubuh para anak buah Ratu Yi melebur oleh racun kelabang gurun pasir putih ciptaan dari majikan mereka sendiri.
Desss!
Brushh!
"Arghhhh!! " pekik kematian mengerikan dari para anak buah Ratu Yi.
Siang Hui Jing dan yang lainnya juga menyerang dengan ilmu pedang yang sangat hebat kepada para anak buah Ratu Yi yang lainnya sehingga ia dan teman-temannya telah berhasil mengurung para anak buah Ratu Yi di sekitar mereka.
Lalu Kasim Bo melompat dengan telapak tangan menggunakan ilmu sinkang tapak hawa salju ke arah para anak buah Ratu Yi yang telah dikurung oleh teman-temannya.
Wuuuttttz!
Desss!
"Arghhh!! " pekik kematian para anak buah Ratu Yi yang langsung membeku oleh serangan maut dari Kasim Bo.
Kasim Bo menendang mereka ke sungai yang langsung meleburkan seluruh mayat anak buah Ratu Yi hingga tak ada tersisa lagi.
Dukk!
Brushh!
"Tuan Bo.. Sungai ini sudah tak bisa digunakan untuk sumber kehidupan untuk rakyat sekitar desa ini karena air sungai sudah tercemar racun kelabang gurun pasir dan mayat-mayat musuh kita." kata Shi Lun nada mencemaskan rakyat di sekitar desa tersebut kepada Kasim Bo.
"Aku akan mengurung sekitar sungai ini dengan pagar besi dan menulis bahwa sungai telah mati untuk selamanya." kata Kasim Bo dengan nada tenang.
"Kau benar sekali, Tuan Bo.Kami semua akan siap untuk membantu Anda." kata Siang Hui Jing dan yang lainnya dengan sikap sopan kepada Kasim Bo.
"Ya, lakukanlah dengan baik."kata Kasim Bo di depan mereka.
Siang Hui Jing dan yang lainnya segera bergerak untuk membuat pagar besi untuk mengurung sekitar sungai dengan bantuan dari Shi Lun yang sigap.Kasim Bo yang tak menemukan Putri Ming Yue di antara teman-temannya itu telah pergi ke arah kuil kosong dengan gerakan ilmu ginkang walet sakti dengan kecepatan tinggi.
Weeezzz!
__ADS_1
Bersambung!!