Naga Di Langit Ming

Naga Di Langit Ming
Dasar Sungai Dalam Gunung Batu Tulis.


__ADS_3

Li Hong Yi dan teman-temannya mendapatkan tugas untuk menunggu kembalinya Kasim Bo di tepi sungai dalam namun mereka dikepung oleh pasukan orang-orang kerdil yang bermarkas di salah satu dari wilayah gunung tersebut.


Shi Lun menghadapi pimpinan dari orang kerdil usai sebagian besar sekte Rubah Mini dengan pimpinannya bernama Qu Ri Ping menghadapi Li Hong Yi dengan lihai sekali.


Wuttzz!


Trang!


Alat sempoa di tangan Shi Lun menghancurkan tiap serangan-serangan pimpinan orang kerdil di hadapinya sehingga ia tak perlu lebih lama lagi menebas kepala pimpinan orang kerdil itu.


Crakk!


Tang Hung Chien meliuk-liuk dengan pedangnya menerobos masuk setiap celah-celah dari tiap serangan-serangan para anggota sekte rubah mini yang membuat pedangnya menusuk habis para pengepungan dirinya.


Jlebb!


Chou Cie dan yang lainnya menerjang dengan pedang mereka menembus setiap serangkaian serangan para anggota sekte rubah mini yang di tusuk seperti sate oleh mereka semua.


Jlebb!


Li Hong Yi menggunakan seruling naga dengan ilmu pedang sekte Hoa San Pai menghadapi ilmu pedang sekte rubah mini yang dimainkan oleh Qu Ri Ping untuk mengalahkannya sehingga ia membuat perubahan dalam tiap serangan- serangan seruling naga- nya yang membuat ilmu pedang sekte rubah mini yang digunakan oleh Qu Ri Ping dapat di ketahui kelemahannya dan Ia langsung menghancurkannya dan seruling naga telah menembus dada Qu Ri Ping.


Jlebb!

__ADS_1


Sementara itu,Kasim Bo berenang ke dasar air sungai dalam dengan kecepatan tinggi sehingga ia dapat menghindari sejumlah hewan buas di dasar sungai tersebut yang ingin memangsanya hidup-hidup dengan menyelinap masuk ke dalam lubang yang memiliki cahaya terang benderang di atas kepalanya.


Dan, Ia bisa melihat sebuah daratan yang cukup luas dengan sejumlah pepohonan dan bunga- bunga yang sangat indah sekali. Ia pun menjadi penasaran dengan tempat yang tidak sengaja di temukan olehnya itu.Ia melompat keluar dari air sungai dalam.


"Tolonggg..! " terdengarlah suara halus seorang wanita yang meminta pertolongan dari arah kiri saat Ia berdiri di atas tanah yang subur dengan rumput yang halus dan hijau bak permadani di jalanan para Dewa dan Dewi di langit menurut legenda yang didengarnya itu.


Kasim Bo melesat ke arah kiri dan menemukan gubuk kecil yang mulai rapuh dan dipastikan akan roboh ketika di terjang oleh angin kencang di musim dingin. Pemuda tampan itu membuka pintu masuk untuk memasuki ruang dalam dari gubuk kecil itu.Disana, Ia melihat seorang gadis yang dikenalnya di gunung Thai San disekap di dalam tungku api yang sudah tidak terpakai lagi di dalam ruang gubuk kecil itu.


"Nona Peng Cheng, kenapa kau bisa berada di sini?" tanya Kasim Bo seraya menggunakan ilmu sinkang tapak suci membuat gadis itu melayang keluar dari tungku api dan berhasil di tangkap olehnya sebelum seorang kakek tua kerdil yang tiba-tiba muncul dari tempat gelap menyerang mereka dengan ilmu sinkang yang cukup bahaya bagi keselematan mereka.


Wusss!


Tepp!


Desss!


Kasim Bo melontarkan pukulan panas dan dingin secara bergantian dengan luar biasa tangkasnya membuat kakek tua kerdil itu terpelanting dan tewas dalam keadaan separuh hangus dan beku dari wajah sampai ke ujung kedua kaki kakek tua kerdil itu.


"Kasim Bo, kau bisa juga datang ke tempat yang tertutup ini?" tanya Nona Peng Cheng usai mulut kecilnya di bebaskan dari sumpalan saputangan milik kakek tua kerdil itu oleh Kasim Bo.


"Mencari apa yang ingin ku cari di dasar sungai dalam." jawab Kasim Bo yang sibuk mengobrak- abrik gubuk kecil itu dan melihat adanya wajan di atas tungku api yang masih terpakai lalu pria muda ini membuka tutup wajan dan menemukan kotak kecil yang digembok dan dirantai begitu kuat.


"Oh, kau mau mencari dan menemukan medali naga Ming di sini." kata Nona Peng Cheng nada pelan kepada Kasim Bo.

__ADS_1


"Benar sekali."kata Kasim Bo membuka paksa kotak kecil dan menemukan sepucuk surat lapuk yang membungkus medali tersebut dan dibaca olehnya dengan cermat.


" Tidak semudah itu orang menemukan medali naga Ming yang merupakan milikku Tuan Yang Bin di gunung Rusa Hitam."baca Kasim Bo.


"Hmm, medalinya sudah diambil oleh Yang Lang adik seperguruan Yang Bin sebelum Aku datang ke tempat ini dari jalan yang lain." kata Nona Peng Cheng memberitahunya dengan sikap dan nada jujur dan ramah.


"Hmm,darimana kau bisa tahu bahwa medalinya sudah diambil oleh Yang Lang dari gubuk kecil ini?" tanya Kasim Bo tenang sekali kepada Nona Peng Cheng yang telah jatuh cinta padanya pada saat itu juga.


"Dari si kakek tua kerdil itu yang sudah menjadi mayat olehmu tapi kamu jangan khawatir karena Aku pasti akan tunjukkan jalan paling aman dan nyaman untuk keluar dari tempat ini kepadamu." jawab Nona Peng Cheng nada lembut dan ramah kepada Kasim Bo.


"Emmm,baiklah terimakasih banyak." kata Kasim Bo dengan sikap acuh tak acuh kepada Nona Peng Cheng.


Nona Peng Cheng menunjukkan jalan keluar dari tempat asing itu dan menemukan sebuah kota kecil yang cukup padat penduduknya dan ia bisa melihat adanya jalanan Setapak yang panjang yang terhubung dengan tepi sungai dalam untuk ia bisa jumpa dengan Li Hong Yi dan yang lain di sana.


"Kota apakah ini?" tanya Kasim Bo santai saja di wajahnya yang tampan luarbiasa kepada Nona Peng Cheng.


"Kota Awan Batu Tulis." jawab Nona Peng Cheng nada lembut dan sikapnya begitu terbuka untuk menunjukkan ketulusannya kepada Kasim Bo.


Kasim Bo mengikuti langkah gadis itu menuju ke dalam kota ini lalu ia tiba di depan pintu masuk ke dalam rumah seorang pejabat publik kota ini, dimana ia bisa lihat adanya patung-patung kuda bersayap emas di depan sepasang matanya.


"Mmm, Aku harus memanggil Li Hong Yi dan yang lainnya untuk bersenang-senang di rumah pejabat Khong yang terkenal dengan keramahan dan kecantikan cucunya yang bernama Khong Li Mei." kata Kasim Bo di dalam hatinya sambil ia mengikuti langkah Nona Peng Cheng ke ruangan dalam rumah pejabat tersebut dengan mulutnya tak pernah berhenti untuk bersiul ringan namun merdu hingga sampai ke telinga Li Hong Yi dan yang lainnya di tepi sungai dalam di istana milik markas besar sekte ular sanca.


Li Hong Yi dan yang lainnya dapat mendengar siulan dari Kasim Bo dengan tepat sekali lalu Li Hong Yi dan yang lainnya segera meninggalkan istana milik markas besar sekte ular sanca untuk mencarinya ke rumah pejabat Khong.

__ADS_1


Bersambung!


__ADS_2