
Kasim Bo dan teman-temannya mulai meneliti isi dalam wisma di kota bunga Lun ungu setelah ia menghabisi Tuan Jang Moon Gu dan menolong Putri Yun Hui dari cengkeraman tangan pejabat yang sudah lama diincar olehnya untuk dihukum mati karena kasus penyalahgunaan kekuasaan di wilayah tersebut.
"Tak ada ruangan sama sekali di dalam wisma ini." kata Shi Lun yang lebih dulu masuk ke dalam wisma dan melihat jalanan.
"Dari luar bangunan ini memang wisma namun dari dalam sesungguhnya adalah jalur alternatif menuju ke arah sungai Lun yang menuju ke arah kota Han." kata Kasim Bo yang melewati teman baiknya itu untuk berjalan di depan.
"Sungai Lun adalah sebuah sungai ganas sekali karena ada banyak hewan buasnya." kata Chou Cie bergidik ngeri usai mengetahui jalan yang akan mereka lalui adalah jalan paling berbahaya bagi keselamatan mereka.
"Tak perlu cemas karena kita bukan berenang di sungai Lun melainkan menyelusuri tepi sungai Lun saja. " kata Kasim Bo yang menggenggam sebuah peta wilayah tersebut di tangannya.
"Oh, kalau kita tidak berhati-hati dalam berjalan di tepi sungai Lun maka kita juga akan jatuh ke sungai Lun dan disantap oleh aligator di dalam sungainya." kata Putri Yun Hui yang berjalan di samping kanan Kasim Bo.
"Yang penting kalau jalan itu lihat yang benar." kata Kasim Bo melirik sebal kepada Putri Yun Hui.
"Aduh,perutku." keluh Xiao Feng dari belakang Shi Lun dan Nona Phang Lian yang berwajah cemberut melihat Putri Yun Hui bersikap begitu dekat dengan Kasim Bo.
"Kamu kenapa, Xiao Feng? " tanya Shi Lun yang menengok ke arah sampingnya.
"Perutku sakit sekali, Kak Lun." jawab Xiao Feng yang wajah memucat saat memeluk perutnya.
Kasim Bo mendekati adik angkatnya lalu meraih telapak tangan adiknya untuk memeriksa denyut nadi, kening, lidah dan kedua telinga adik angkat yang sangat disayanginya itu.
"Xiao Feng, siapa Ayah kandung dari janin yang sedang tumbuh di rahimmu? " tanya Kasim Bo di depan Xiao Feng yang terkejut dengan hasil dari pemeriksaan kesehatannya.
"Ehhh.. Kau hamil?Siapa yang sudah menodaimu dan membuatmu mengandung?" tanya Putri Yun Hui yang menatap Xiao Feng dengan penasaran lalu mengalihkan tatapannya kepada Kasim Bo.
"Hei bukan Aku yang melakukannya!"Hardik Kasim Bo kepada Putri Yun Hui.
"Putri Yun Hui,dia bukan seorang laki-laki sejati yang bisa melakukan hal itu dan membuat gadis di depanmu itu mengandung bayi." kata Chou Cie dengan sikapnya yang menyakinkan sekali pada Putri Yun Hui.
__ADS_1
"Ya, tentu saja seorang pria yang sudah dikebiri seperti dia seumur hidupnya takkan pernah bisa melakukan hal itu terhadap wanita mana pun di dunia ini." kata Putri Yun Hui tersenyum lebar.
Xiao Feng yang kaget karena Kasim Bo dan para sahabatnya kini telah mengetahui bahwa dirinya telah ternoda dan mengandung seorang bayi di rahimnya tanpa ia sadari.
"Pangeran Mahkota Yun Bai, dialah yang telah melakukan hal itu kepadaku." jawab Xiao Feng di depan Kasim Bo dan yang lainnya dengan wajah tertunduk malu.
Putri Yun Hui mengangkat alisnya dan senyum di bibirnya ditujukan untuk Kasim Bo yang menatap gadis itu dengan heran sampai gadis itu tertawa ringan sambil merangkul lengan pemuda manis ini.
"Kasim Bo,Adik angkatmu ternyata kekasih dari Kakakku yang berarti dia adalah menantu Ayah dan Ibuku." kata Putri Yun Hui tersenyum senang mempunyai seorang Kakak ipar seperti Xiao Feng adik angkat dari Kasim Bo.
"Hmm.. " gumam Kasim Bo sambil melepaskan diri dari rangkulan Putri Yun Hui secara halus.
Chou Cie tampak sedih dan kecewa sekali usai ia mengetahui bahwa gadis yang dicintainya itu telah menjadi milik orang lain dan orang itu ialah putra mahkota dari Kerajaan Yun.
"Chou Cie.. " panggil Kasim Bo cepat untuk Chou Cie tak larut dalam kesedihan dan kekecewaan terhadap Xiao Feng.
"Ya, Aku tahu Tuan Bo. Aku akan baik-baik saja karena Aku seorang laki-laki sejati." kata Chou Cie yang memperlihatkan senyumannya kepada Kasim Bo supaya sahabatnya itu tak merasakan kekhawatiran terhadap dirinya.
Pada malam hari mereka tiba di sebuah hutan di tepi sungai Lun yang membuat mereka harus mencari penginapan yang aman untuk mereka dapat beristirahat.
"Tak ada penginapan maupun rumah penduduk di sekitar tepi sungai Lun." kata Shi Lun dengan raut wajahnya yang tegang.
"Tenanglah.. "kata Kasim Bo memberikan isyarat untuk teman-temannya bersikap tenang.
Putri Yun Hui memekik pelan di samping Kasim Bo ketika mereka tiba di bagian paling dalam dari hutan tersebut dan terlihatlah sekitar dua puluh lima ekor aligator berbaring santai di tepi sungai Lun sedang menatap mereka.
"Mereka telah naik ke darat... "kata Shi Lun yang gemetaran melihat hewan buas yang jumlahnya banyak di depan sepasang matanya.
"Melompat saja ke atas pohon di seberang para penghuni sungai Lun." kata Kasim Bo dengan sigap memberikan petunjuk kepada teman- temannya untuk menyelamatkan nyawa mereka dari dua puluh lima ekor aligator dihadapannya.
__ADS_1
"Ya, tapi pohon itu ada semutnya."kata Putri Yun Hui tersenyum kecil.
"Bukan pohon di kiri tetapi pohon di kanan." kata Kasim Bo mengajak teman-temannya melompat dengan kecepatan tinggi ke arah pohon.
Wuss!
Teman-temannya mengikutinya dengan cepat di belakangnya dan tepat waktu sebelum dua puluh lima ekor aligator itu merayap dan menyerang mereka.
"Kyaaaaa...! " teriak teman-temannya yang telah tiba di pohon di dekatnya.
"Aku akan mengembalikan mereka ke sungai Lun dari atas pohon ini sekarang juga." kata Kasim Bo nada tenang kepada teman-temannya.
"Iya, cepatlah..! " sahut teman-temannya dengan nada serentak.
Kasim Bo menggerakkan telapak tangan kanan ke arah bawah pohon yang membuat dua puluh lima ekor aligator berguling-guling di tanah dan terlempar kembali ke sungai Lun sehingga tanah di bawah pohon telah aman untuk mereka injak kembali.
Bress!
Brush!
"Wahh..Hebat ilmu apa yang kamu gunakan agar dua puluh lima ekor aligator berguling-guling dan terlempar kembali ke sungai Lun,Kasim Bo."kata Putri Yun Hui memandang kagum pada Kasim Bo usai mereka telah berjalan di tanah dengan aman.
"Ilmu memulangkan hewan buas ke asalnya."
Semua teman-temannya tertawa begitu ramai di belakangnya setelah mendengar jawabannya.
"Kasim Bo sikapmu yang dingin kepadaku justru membuat Aku semakin ingin tahu banyak hal tentangmu." bisik Putri Yun Hui sambil berjalan di depan Kasim Bo untuk sampai di sebuah kota di depan jalan usai mereka berhasil keluar dari hutan tepi sungai Lun.
"Terserah pemikiranmu saja, Putri Yun Hui."balas Kasim Bo yang mempercepat langkahnya untuk lebih dulu sampai di kota sebelum Putri Yun Hui dan yang lainnya.
__ADS_1
Bersambung!