Naga Di Langit Ming

Naga Di Langit Ming
Perjalanan Menuju Ke Kota Chen An Barat.


__ADS_3

Keesokan harinya rombongan Kasim Bo dan Li Hong Yi meneruskan perjalanan mereka untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di dunia persilatan daratan besar yang melibatkan diri mereka berdua.


"Lihatlah dua orang yang duduk di tepi sungai di jalan menuju ke gunung Chen itu seperti dua orang yang pernah Aku kenal." kata Tang Hung Chien yang berjalan di belakang Shi Lun.


"Ya, kau dekati saja mereka dan tanya kenapa mereka menunggu kita di tengah jalan." kata Li Hong Yi menepuk-nepuk bahu sahabatnya.


"Mereka berdua adalah murid-murid dari sekte Merak Chen pengawal pribadi Ratu Chen yang dahulu pernah menjadi murid dari sekte Lembah Naga Api yang telah berkhianat terhadap sekte yang telah mendidik mereka menjadi seorang pendekar."kata Tang Hung Chien menatap sebal ke arah dua orang itu.


Lalu Tang Hung Chien berjalan ke depan kedua orang yang membalas tatapannya dengan sinis sekali seakan-akan ia tak layak untuk hadapi dua orang itu.


" Tang Hung Chien senang sekali kami sepasang merak merah bertemu denganmu di tengah jalan menuju ke kota Chen An Barat."kata pria yang berkumis tebal dengan seringai kepada Tang Hung Chien.


"Huh, dua orang bodoh yang terlalu sombong dan merendahkan orang lain dengan kebodohan yang dimiliki oleh kalian para murid dari sekte Merak Chen." kata Tang Hung Chien nada tajam sekali.


"Kurang ajar kau Tang Hung Chien..!" hardik pria berkumis tebal yang telah menggunakan pedang bersinar terang menyerang Tang Hung Chien di depannya.


Wutzzz!


Trang!


Tang Hung Chien dengan sigap telah menangkis serangannya dengan pedang yang tak kalah hebatnya dengan pedang di tangan pria yang berjuluk Panglima Merak Merah.


Pria kedua yang berjuluk Jenderal Merak Merah telah maju untuk mengeroyok Tang Hung Chien dengan golok yang sangat tajam sekali namun ia dikejutkan oleh pedang di tangan Shi Lun yang sudah lebih dulu menangkisnya.


Trang!


"Lancang siapa kau yang telah berani untuk ikut campur urusan kami?! " hardik Jenderal Merak Merah sambil menggerakkan goloknya untuk ia bisa menghabisi lawannya yang terlihat lebih muda darinya.


"Tak perlu kau tahu siapa aku,si mulut bau." kata Shi Lun nada mengejek kepada Jenderal Merak Merah yang memekik kaget karena pedang di tangan Shi Lun telah mengarah ke lehernya dari arah samping.


Maka Jenderal Merak Merah segera menangkis serangan maut itu dengan goloknya yang telah melintang di dekat lehernya namun ia menjerit kesakitan karena tangan Shi Lun yang lainnya itu telah mencengkram rahangnya hingga remuk.


Trang!


Kretakk!


Shi Lun sudah kembali ke dekat Kasim Bo dan Li Hong Yi serta teman-temannya yang berdiri di pinggir jalan sambil menyaksikan pertarungan antara Tang Hung Chien melawan Panglima Merak Merah di depan mereka.

__ADS_1


Panglima Merak Merah berdebar-debar setelah ia melihat kehadiran Kasim Bo yang menakutkan baginya di antara rombongan Tang Hung Chien yang ingin mendatangi kota Chen an Barat.


"Celaka orang itu ada disini." batin Panglima Merak Merah.Pria ini terpaksa harus melawan dengan gagah perkasa agar ia tak mendapatkan rasa malu dalam menghadapi Tang Hung Chien yang sejak dahulu amat dibencinya itu.


Pedang di tangannya menyelinap di antara sinar pedang di tangan Tang Hung Chien dengan niat hatinya ingin menusukkan pedangnya ke ulu hati Tang Hung Chien.


Wuttzz!


Trang!


Namun pedang di tangan Tang Hung Chien telah cepat menangkisnya sehingga ia gagal dalam niatnya untuk menusukkan pedangnya ke ulu hati lawannya.


Tang Hung Chien yang melihat kelicikan musuh di depannya itu dengan cepat menggerakkan pedangnya ke arah jantung Panglima Merak Merah yang langsung menjerit kesakitan karena ia telah merobek daging di dada pria berkumis tebal itu.


Krekkkk!


"Arghhh! " jeritan memilukan dari Panglima Merak Merah yang kini tergeletak tak bernyawa di tanah.


"Hung Chien, kau hebat sekali dapat mengatasi orang-orang bau itu." puji Kasim Bo.


"Terimakasih atas pujian dari Tuan Bo." kata Tang Hung Chien menjura hormat kepada Kasim Bo.


Li Hong Yi mengangkat seruling naga ke atas di kepala pemuda itu dengan asal saja namun lima orang berpakaian serba merah lambang Merak Chen telah berjatuhan ke tanah.


Bruakkk!


"Kurang ajar...! " hardik Kasim Bo yang langsung membunuh mereka dengan tamparan yang telah disertai ilmu sinkang naga api yang membuat lima orang sekte Merak Chen tewas dalam fisik mereka semua telah gosong.


Plakk!


"Mereka rupanya sudah mengintai kita sejak kita datang ke pintu masuk ke kota Chen an." kata Chou Cie nada serius.


"Ya, biarkan mereka semua datang kepada kita di tempat ini agar kita akan dapat membantai mereka semua. " kata Kasim Bo nada marah dan bengis yang ditunjukkan kepada para musuh yang telah mengintai mereka.


"Kau tak perlu menunggu lama, Kak Bo Hai." kata Li Hong Yi memegangi seruling naga di tangan kanannya sembari mengedarkan pandangan mata ke penjuru arah pintu masuk ke kota Chen an.


Dan,benar saja karena muncullah delapan puluh lima orang sekte Merak Chen di depan mereka yang segera mengeluarkan pedang mereka dari sarung pedang, lalu mereka melesat dengan pedang di tangan mereka menyerang delapan puluh pedang di tangan anggota sekte Merak Chen.

__ADS_1


Wuttzz!


Trang!


Trang!


Trang!


Pedang Shi Lun mengaduk kekuatannya dengan pegang di tangan seorang wanita berwajah luar biasa sadis di depannya dan memimpin sekitar lima belas orang sekte Merak Chen untuk hadapi dirinya.


Chou Cie menggunakan pedangnya menerjang ke arah delapan belas anggota sekte Merak Chen yang mengeroyok dirinya sehingga dapat mendesak serangan-serangan para pengeroyok dirinya itu.


Wettzz!


Trang!


Tang Hung Chien menghadapi sekitar tiga puluh lima orang sekte Merak Chen yang mengeroyok dirinya dengan serangan-serangan pedang yang berbahaya bagi keselamatannya.


Betzz!


Trang!


Para gadis menghadapi sekitar dua puluh orang sekte Merak Chen yang menggunakan pedang di depan mereka sehingga mereka harus saling menjaga untuk melindungi diri mereka dan juga menghadapi musuh-musuh mereka.


Li Hong Yi menggerakkan seruling naga dengan kecepatan yang luar biasa di antara para musuh yang mengeroyok dirinya sehingga ia dengan cepat membantai para pengeroyoknya.


Trang!


Crakk!


Kasim Bo meliuk-liuk dengan gerakan belut yang licin dan gesit di antara para musuh yang berada di sekitarnya dengan telapak tangannya itu telah menampar kepala, dada, perut, punggung dan wajah para musuhnya yang langsung berserakan di sekitarnya dalam keadaan tak bernyawa lagi.


Plakk!


Bruak!


Bruak!

__ADS_1


Bruak!


Bersambung!!


__ADS_2