
Shi Lun memicingkan sebelah matanya setelah ia mendengar pernyataan yang dikeluarkan oleh Kasim Bo yang mengatakan bahwa ia akan jadi pemilik semua harta karun apabila ia mau ikut serta dalam misi ke kota Chang An.
"Bo Hai, apa kamu tidak mabuk arak sampai kau bilang kamu takkan pernah berebut harta karun apabila aku mau ikut serta dalam misi ke kota Chang an denganmu? " tanya Shi Lun nada ragu terhadap kejujuran Kasim Bo.
"Hei, sejak kapan seorang Bo Hai menjilat air ludahnya sendiri terhadap sahabat-sahabatnya sendiri?? " tanya balik Kasim Bo menunjuk ke dada lembut Shi Lun.
"Mmmm, sejak aku melihatmu mengambil pil menara sakti di gunung Thai San pada turnamen lima tahunan di dunia persilatan daratan besar yang sudah lama aku incar." jawab Shi Lun yang menepis tangan Kasim Bo yang menyentuh dada lembutnya.
"Turnamen berbeda dengan misi ini, Shi Lun. Aku takkan pernah membiarkan siapapun merebut hakku sebagai pemenang tunggal di turnamen lima tahun lalu di gunung Thai San." kata Kasim Bo berbalik ke arah ruangan lain dari rumah toko kelontong kepunyaan Shi Lun.
"Kasim Bo, tunggu aku..! " teriak Putri Yun Hui.
"Eh siapa gadis kecil itu? Kenapa dia menjadi lalat yang beterbangan di sekitar Bo Hai -kita? " tanya Shi Lun menatap heran kepada Chou Cie.
"Teman baru Tuan Bo ya istilahnya penggemar baru Tuan Bo. " jawab Chou Cie yang mengikuti langkah Kasim Bo ke ruangan lain.
"Rumah ini adalah rumahku, kenapa kalian bisa bersikap seakan-akan rumah ini adalah rumah kalian dengan seenaknya saja masuk ke ruangan dalam rumahku..? " ucap Shi Lun melihat para tamunya memasuki ruangan dalam rumahnya tanpa permisi lagi darinya.
Namun Shi Lun tidak pernah bisa marah kepada Kasim Bo karena ia terlalu sayang terhadap sahabat terbaiknya itu maka ia hanya mengikuti Kasim Bo, Putri Yun Hui, Chou Cie dan Xiao Feng melihat-lihat sejumlah ruangan dalam rumahnya dan mengizinkan mereka untuk memilih kamar tamu yang mereka sukai.
"Shi Lun, aku ingin tahu mengenai buku sastra milik Pejabat Ci yang hilang itu apakah sudah kamu temukan bukunya? " tanya Kasim Bo yang sudah mendapatkan kamar tamu paling besar dan rapi kepada Shi Lun.
"Sudah, tunggu sebentar aku akan mengambil buku itu dari kamarku untukmu. " jawab Shi Lun segera.
__ADS_1
"Tak perlu dikeluarkan sekarang, Shi Lun. Aku mau kamu menyimpannya untuk sementara waktu sampai aku memerlukannya untuk misteri di otakku ini." kata Kasim Bo melihat Shi Lun luar biasa cekatan dalam menjalankan tugas darinya.
"Tak apalah, aku juga tak mau hidupku dibebani oleh buku yang memusingkan kepalaku sampai rambutku ada jaraknya di kepalaku." kata Shi Lun yang memaksa Kasim Bo untuk mengambil buku tersebut darinya.
"Buku sastra apakah yang dimaksud olehnya, Kasim Bo? " tanya Putri Yun Hui menatap ingin tahu kepada Kasim Bo.
"Bukan urusanmu, jadi kau tak perlu tahu apapun mengenai hal yang kau lihat dan dengar di sini dariku atau teman-temanku." jawab Kasim Bo nada ketus melarang Putri Yun Hui mengetahui banyak hal tentang kehidupannya.
"Emm, pelit dan kikir sekali kamu ini menjadi laki-laki tak jelas." kata Putri Yun Hui manyun di bentak oleh Kasim Bo.
"Kalau tak jelas bukan Bo Hai namanya,Nona kecil. " kata Shi Lun yang mulutnya disumpal kain lap meja oleh Kasim Bo sampai pemuda ini tersedak karena bau dan debu di kain lap meja di mulutnya itu.
Chou Cie memanggil Shi Lun yang segera keluar dari kamar tamu yang ditempati oleh Kasim Bo untuk menjalankan tugas rahasia yang telah di berikan oleh Kasim Bo untuk mereka berdua di kota Shi yang dikenal baik oleh Shi Lun sebagai orang asli kota itu.
"Apa tugas apa yang ingin Bo Hai kita lakukan di kota ku sendiri? " tanya Shi Lun di luar kamar tamu Kasim Bo kepada Chou Cie.
"Oh, Pejabat Mun yang memang sudah lama aku curigai namun aku tidak menyangka bahwa ia itu adalah mata-mata sekte bulan kematian musuh kita semua. "kata Shi Lun mengangguk paham.
"Kak Lun..Kak Cie, aku akan membantu kalian untuk membantu Kakak Bo Hai-ku. " kata Xiao Feng mendatangi mereka diluar kamar tamu.
"Baik, mari kita segera jalankan tugas sekarang juga. " kata Shi Lun melompat ke arah genteng rumahnya sendiri lalu melesat cepat ke arah barat kota Shi dengan diikuti oleh Chou Cie dan Xiao Feng yang berkelebatan di atas genteng- genteng rumah, toko atau bangunan lainnya di kota Shi.
Mereka bertiga meluncur ke sebuah bangunan di pusat kota Shi yang ada tulisan emas bernama 'Gedung Pejabat Mun' dengan pedang dan alat sempoa yang bergerak lincah ke seluruh penjaga rumah Pejabat Mun.
__ADS_1
Wutttzz!
Pedang di tangan Xiao Feng berkelebatan ke arah sejumlah penjaga rumah Pejabat Mun yang kaget melihat serbuan tiga orang yang bayangan tubuh tak bisa dilihat oleh mata mereka dan tahu -tahu tebasan pedang telah menebas mereka.
Crakk!
Shi Lun melemparkan alat sempoa nya ke arah sejumlah besar pasukan dari dalam rumah pejabat Mun yang ingin membantu kawan- kawan mereka namun kepala mereka telah jatuh ke tanah oleh sebuah alat sempoa yang telah memotong leher mereka.
Crakk!
Chou Cie menyerang keluarga pejabat Mun yang menyerbu untuk menghadapinya bersama-sama sehingga ia melontarkan pukulan telak yang dilontarkannya secara cepat telah menghantam hancur berkeping-keping kepala, wajah dan juga dada para anggota keluarga Pejabat Mun.
Bughhh!
Bruakk!
Pejabat Mun yang melihat keluarga dan para penjaga rumahnya telah dibunuh oleh tiga orang penyusup ke rumahnya itu segera melesat cepat ke arah belakang rumahnya untuk kabur dari tiga orang musuh gelapnya itu.
Namun sebuah kancing pakaian seseorang yang entah darimana datangnya telah menancap di lehernya sehingga ia terjerembab di tanah oleh seorang pemuda sangat tampan yang duduk di atas genteng rumahnya sambil menikmati arak langsung dari guci di tangan kanan pemuda itu.
Cring!
Cep!
__ADS_1
"Tuan Bo.. " panggil Chou Cie dengan senyuman cerah melihat kehadiran Kasim Bo di genteng rumah pejabat Mun.
Bersambung!!