Naga Di Langit Ming

Naga Di Langit Ming
Markas Besar Sekte Merak Lu.


__ADS_3

Kasim Bo mendorong pintu batu yang menutupi jalan masuk ke markas besar sekte merak Lu dengan ilmu sinkang tapak gajah sakti melalui tangan kanannya.


Kreekkkkk!


Druk!


Druk!


Bruak!


Pintu batu terdorong ke arah dalam dengan luar biasa cepat oleh daya dorong dari telapak tangan kanan Kasim Bo sampai membuat pintu batu itu ambruk ke arah dinding ruangan utama dari markas besar sekte merak Lu.


"Wah, kau luarbiasa hebatnya meskipun kamu itu laki-laki tak jelas.. " kata Wi Wi mengikutinya dari arah belakangnya.


"Kau wanita tua yang mengkhayal dirimu masih muda dan cantik jelita padahal dirimu itu sama sekali tidak cantik jelita. " kata Kasim Bo nada mencemooh rekannya sendiri.


"Ugh, Bo Hai kau selalu saja mencemooh aku si Raja Dewa Naga Utara Wi Wi...! " bentak Wi Wi.


"Weh, masa bodoh aku sama sekali tidak ada rasa takut padamu.. " kata Kasim Bo yang terus saja berjalan ke ruangan lain dari markas besar sekte merak Lu dengan ditemani oleh Chou Cie sahabatnya.


"Pintu ruangan pribadi Ketua Sekte merak Lu ini tak ada, Tuan Bo. " kata Chou Cie menatapnya kebingungan.


"Mana mungkin ruangan tak ada pintunya sama sekali, Chou Cie. " kata Kasim Bo yang tangan kanannya memeriksa setiap dinding di ruangan yang tertutup itu.


"Biasanya tempat rahasia itu terdapat dinding di antara dinding lainnya untuk mengecoh orang lain atau musuh yang ingin menyelidiki ruang rahasia. " kata Wi Wi sambil berjalan mondar- mandir di sekitar Kasim Bo dan Chou Cie.


Kasim Bo menekan salah satu dinding yang ada ukiran obor bentuk merak Lu yang tersembunyi di antara susunan dinding di ruangan pribadi dari Ketua sekte merak Lu.

__ADS_1


Lalu...


Krekkk!


Dinding bergerak dengan posisi miring sehingga menampakkan celah untuk Kasim Bo, Chou Cie dan Wi Wi masuk melewati celah sempit itu lalu mereka bertiga melihat sebuah kolam di tengah ruangan rahasia.


"Kolam ini berisi ular-ular racun merah.. " kata Wi Wi mengenali binatang melata di dalam kolam itu.


"Tapi, aku harus menyeberangi kolam ini untuk ku bisa mendapatkan kotak besi warna hijau di meja kayu seberang sana yang harus aku selidiki isinya. " kata Kasim Bo nada serius.


"Mmm berbahaya bagi mu untuk menyeberangi kolam ini karena kalau kamu sampai jatuh ke kolam ini maka kamu akan di serang oleh ular-ular racun merah yang dapat menyerangmu hingga organ-organ vital tubuhmu rusak. " kata Wi Wi juga nada serius kepada Kasim Bo.


"Tuan Bo.. Kau jangan mengambil resiko yang membahayakan nyawamu sendiri demi pusaka yang diminta oleh Kaisar Ming untuk mu cari di seluruh dunia persilatan daratan besar. " kata Chou Cie menatap serius Kasim Bo.


"Aku tidak takut untuk mengambil resiko apapun itu karena bagiku adalah identitas asli ku yang harus aku temukan untuk diriku sendiri. " kata Kasim Bo nada lebih serius lagi.


"Mmm, kau tak tahu kalau Tuan Bo ini..! " bentak Chou Cie marah karena Wi Wi menghina Kasim Bo.


"Chou Cie.. Diamlah.." kata Kasim Bo sabar.


"Tapi, Tuan Bo.. Apa benar kamu sudah dikebiri sejak kamu lahir di dunia ini? " tanya Chou Cie polos kepada Kasim Bo yang memutar bola matanya mendengar pertanyaan lugu Chou Cie.


"Dasar kau ini bodoh sekali menjadi sahabatku.. " kata Kasim Bo tanpa mengalihkan perhatian nya kepada kolam di depannya itu.


Kasim Bo meluncur dengan ilmu ginkang belut sakti yang membuat tubuhnya licin dan gesit di antara benang-benang tipis dan tajam di atas kolam itu sehingga ia berhasil tiba di seberang ruangan dengan aman.


"Wahhh.. Dia bisa menyeberangi kolam itu... " kata Wi Wi takjub dengan ilmu ginkang yang dimiliki oleh Kasim Bo yang telah disaksikannya sendiri.

__ADS_1


"Siapa dulu Tuan Bo- ku yang selalu membuat kejutan yang mengagumkan setiap orang yang pernah berjumpa dengannya?" Chou Cie selalu memuji kehebatan Kasim Bo dengan bangga di setiap orang yang melihat kehebatan ilmu silat Kasim Bo.


"Emm, kau sendiri sebagai sahabatnya tak bisa apa-apa.. " cibir Wi Wi.


"Kata siapa aku tak bisa apa-apa ? " tanya Chou Cie yang telah mencengkram tengkuk Wi Wi di sampingnya sampai Wi Wi mencengkram balik kedua tangan Chou Cie.


Chou Cie mendorong Wi Wi ke pinggir kolam itu sampai Wi Wi menarik tubuh pemuda itu untuk ke pinggir kolam itu namun ia dikejutkan oleh sebuah sentilan yang berasal dari Kasim Bo di seberang kolam itu dan membuatnya jatuh ke kolam dan di serang oleh ular-ular racun merah.


"Argghhh...! Tidakk..! Bo Hai ampunkan akuu...! " teriak histeris Wi Wi di dalam kolam itu yang kini kaku tak bernyawa lagi karena ular-ular racun merah telah mematuk seluruh wajah dan tubuh wanita itu.


"Tuan Bo, kau selalu membunuh setiap orang yang menghinamu dan sifatmu ini sungguh ku kagumi. " kata Chou Cie memberikan dua ibu jari kepada Kasim Bo yang sudah membongkar isi kotak besi di ruangan seberang kolam itu.


"Ya, tentu saja harga diriku jauh lebih tinggi dari apapun di dunia ini. " jawab Kasim Bo melempar kotak besi hijau ke dalam kolam itu lalu melesat cepat kembali ke tempat Chou Cie dengan cara yang sama yaitu menggunakan ilmu ginkang belut sakti.


"Tuan Bo, bagaimana dengan pusaka itu apakah ada di kotak besi hijau itu? " tanya Chou Cie di samping Kasim Bo sesudah Kasim Bo kembali ke tempatnya yaitu di dekat pintu dinding ruang rahasia Ketua sekte merak Lu kepada Kasim Bo.


"Tak ada isinya sama sekali namun aku berhasil menemukan jejak orang yang telah lebih dulu mengambil pusaka itu dari kotak besi hijau itu sebelum kita datang ke tempat ini." jawab Kasim Bo jujur.


"Jejak? Siapakah menurutmu orang yang telah lebih dulu mengambil pusaka itu sebelum kita datang ke tempat ini? " tanya Chou Cie kaget.


"Putra dari Ketua sekte bulan darah yang tinggal di kota Chang An pusat, dan aku harus mencari bocah itu sampai ke tempatnya berada agar aku bisa mendapatkan pusaka itu darinya." jawab Kasim Bo dengan nada serius kepada Chou Cie.


"Wah semakin rumit saja permasalahan hidup kita di dunia persilatan daratan besar, Tuan Bo." Kata Chou Cie lesu seketika itu juga.


"Jangan patah semangat sebelum kita mencoba untuk berubah kesialan menjadi keberuntungan bagi kita di dunia persilatan daratan besar, Chou Cie. Karena kau bersamaku Bo Hai. " kata Kasim Bo menepuk-nepuk bahu Chou Cie untuk berikan semangat untuk sahabatnya itu.


Bersambung!

__ADS_1


__ADS_2