
Bayi yang sedang tidur terlentang di pangkuan Mamanya, tak lupa kacamata kecil untuk menutupi matanya dari sinar matahari terlihat begitu menggemaskan saat ini. Akhtar yang sedang menikmati sinar matahari pagi tampak begitu menikmatinya dengan terus memejamkan matanya.
"Hey, jagoan Papa kenapa tidur terus sih. Bangun dong, Papa mau berangkat kerja nih" Dewa terus menciumi pipi Akhtar yang sudah terlihat berisi itu.
"Dia keenakan kayaknya Mas" Diandra terus menatap Dewa yang sudah berpakaian rapi dan sedap di pandang mata.
"Kamu ngomongin anaknya tapi matanya terus menatapku. Kenapa?? Mas ganteng ya??" Dewa begitu narsis jika di hadapan istrinya.
"Kalau itu kan aku sudah akui dari dulu kalau kamu memang ganteng" Diandra tak mengelak, memang ke kenyataannya begitu.
"Iya, iblis berwajah tampan katamu. Iya kan??" Dewa mencubit pipi Diandra dengan gemas.
Diandra yang ingin protes mendadak harus terhenti karena kedatangan Niko.
"Tuan, ada kabar yang harus saya sampaikan" Niko datang dengan wajah cemasnya.
"Apa itu Nik??" Dewa berdiri di hadapan Niko.
Niko menyerahkan ponselnya, di dalam sana sudah ada beberapa foto yang membuat heboh jagat dunia hiburan dari kemarin.
"Ada apa Mas??" Diandra melihat perubahan di wajah Dewa menjadi ikut penasaran.
Dewa kemudian memperlihatkan apa yang menjadi sumber keterkejutannya kepada Diandra.
Di dalam ponsel Niko itu terdapat fotonya dan Dewa saat menggendong Akhtar keluar dari rumah sakit. Ada juga saat mereka berada di toko perlengkapan bayi beberapa hari yang lalu.
"Siapa yang berani melakukan ini??" Desis Dewa.
"Mereka hanya orang biasa yang tak sengaja melihat Tuan dan Nyonya saat berdua. Mereka juga mengunggahnya karena dari beberapa bulan yang lalu netizen terus mencari keberadaan Nyonya yang tiba-tiba menghilang. Saya sudah menyelidikinya Tuan" Jelas Niko.
Diandra terus melihat kolom komentar dari foto itu. Banyak tanggapan negatif dari orang-orang di sana. Salah satunya adalah sebab menghilangnya diandra 9 bulan ini adalah karena hamil duluan.
Dewa mengambil lagi ponsel Niko dari tangan Diandra karena istrinya itu langsung terlihat sendu.
"Bagaimana ini Mas?? Kita harus segera melakukan konferensi pers Mas. Kalau tidak, perusahaan kamu akan terkenda dampak buruk. Mereka terus menyebarkan berita tidak benar. Mereka bahkan sudah menyimpulkan hal yang tidak-tidak tentang kita"
Bukan reputasinya sebagai selebritis yabg Diandra khawatirkan. Melainkan keselamatan perusahaan Dewa. Toh Diandra juga sudah tidak ingin lagi menjadi selebritis, jadi untuk apa dia takut karirnya akan hancur.
"Tidak perlu sayang, Mas punya rencana sendiri untuk membantahnya"
"Apa itu Mas??" Jelas sekali kekhawatiran di wajah Diandra saat ini.
__ADS_1
"Nanti Mas kasih tau, sekarang Mas kerja dulu ya. Kamu baik-baik di rumah. Tidak usah pikirkan hal ini" Tangan dewa terulur pada Diandra.
Sekarang ini mencium tangan Dewa sebelum berangkat kerja sudah menjadi kebiasaan bagi Diandra.
Tak lupa Dewa memberikan kecupan di kening kedua orang yang dicintainya itu.
"Hati-hati ya Mas"
"Iya sayang"
Bagaimana bisa Diandra tidak mencemaskan tentang gosip yang sedang beredar luas di luar sana. Tentu saja pikirannya terus tertuju pada semua itu.
🌻🌻🌻
"Sebentar lagi orangnya pasti datang" Ucap Papa Rayan kepada Tara yang sudah mulai bosan menunggu. Tara tidak suka orang yang tidak bisa tepat waktu. Apalagi setelah ini ada janji dengan seseorang yang akan menjadi fotografer saat pemotretan nanti.
"Sebenarnya siapa sih Pa orangnya??" Tara penasaran karena Papanya belum juga memberitahu siapa orang itu, bahkan namanya saja belum.
"Nanti kamu kenalan sendiri. Nah itu dia orangnya"
Tara mengikuti Papa Rayan yang berdiri menyambut kedatangan model yang dikenal Papanya itu.
Deg...
Tara sudah membuang wajahnya ke samping tak mau melihat orang itu.
"Maaf Pak Rayan, tadi mobil saya tiba-tiba mogok"
"Kamu tenang saja, saya juga belum lama kok. Oh ya kenalkan ini anak saya"
Mau tak mau akhirnya Tara melihat orang yang berdiri di dampingnya.
"Tara??" Sejak tadi dia memang hanya memperhatikan Papa Rayan saja. Tidak melirik sedikitpun perempuan yang ternyata di kenalnya itu.
"Kalian sudah saling kenal??" Papa Rayan tampak sumringah.
"Iya Pak"
"Tidak Pa" Jawab mereka bersamaan.
"Tara, dia adalah Bryan. Model yang pernah menjadi BA di kantor Papa"
__ADS_1
Bryan mengerutkan keningnya karena Tara bilang tidak mengenalnya.
"Saya Tara, anaknya Pak Rayan"
Tara mengulurkan tangannya benar-benar seolah tak mengenal Bryan.
Sementara pria itu masih terus menatap Tara dengan bingung namun tangannya tetap menyambut uluran tangan Tara.
"Bryan"
"Ayo silahkan duduk"
Papa Rayan menyarankan untuk makan siang terlebih dahulu sebelum menjelaskan niat Papa Rayan mengajak Bryan bertemu dengan anaknya di restoran itu.
"Jadi begini Nak Bryan, niat saya yang sebenarnya mengajak kamu bertemu disini adalah ingin mengenalkan anak saya dengan kamu. Karena Tara sedang membutuhkan seorang model yang bisa mempromosikan brandnya"
Bryan menatap Tara yang sedang mengaduk minumannya. Seperti tak berminat sama sekali dengan apa yang sedang Papanya katakan kepada Bryan.
"Brand punya Tara??" Tanya Bryan sedikit bingung, karena dia tidak tau jika Tara mempunyai sebuah Brand sendiri.
"Iya, belum besar namun cukup terkenal di kalangan anak muda" Bryan mengangguk-angguk saja.
"Lalu apa yang bisa saya bantu Pak??"
"Sebaiknya Tara saja yang akan menjelaskan lebih detailnya sama kamu. Saya harap kamu bisa membantu anak saya" Ucap Papa Rayan dengan ramah.
Tentu saja Bryan tidak akan pernah menolak apapun yang di minta oleh Papa Rayan. Karena berkat bantuannya dulu, akhirnya Bryan bisa menjadi model terkenal seperti sekarang.
"Maaf Pa, kayanya Tara nggak bisa menjadikan Bryan sebagai model untuk Brand Tara deh Pa. Sebelumnya maaf ya Bryan" Tara masih terus mengabaikan Bryan sehingga membuat pria tampan itu terus mengerutkan keningnya melihat tingkah Tara.
"Memangnya kenapa??" Tanya Bryan langsung kepada Tara.
"Maaf Bryan, sepertinya orang tak berarti sepertiku tidak mampu untuk membayar mu mengingat karirmu yang sudah sebagus ini" Kalimat Tara sekilas sindiran bagi Bryan.
"Baiklah Tara aku akan mengikuti permainanmu" Bryan tersenyum miring.
"Tak usah pikirkan itu Tara. Karena Pak Rayan adalah orang yang sungguh saya hormati. Jadi berapapun kamu akan membayar ku, aku akan menerimanya. Bahkan tak usah di bayar lun aku bersedia" Tara langsung berubah masam mendengar balasan dari Bryan.
Sedangkan Papa Rayan tampak tersenyum senang. Dia tau kalau Bryan memang orang yang bisa diandalkannya untuk membantu putrinya.
"Jadi kapan pemotretannya bisa di lakukan??" Bryan semakin menantang Tara yang terus menatapnya tajam.
__ADS_1
Bersambung...