Obsesi Cinta Tuan Psycho

Obsesi Cinta Tuan Psycho
104. Jawaban dari permintaan


__ADS_3

"Hemmppp"


Bryan membekap mulut seorang wanita yang diikutinya ke toilet tadi, lalu membawanya masuk ke dalam salah satu bilik toilet di sana. Dia memang benar-benar gila karena melakukan hal seperti itu.


"Apa yang kau lakukan??!!" Bryan melepaskan tangannya dari bibir Tara setelah menguncinya berdua di dalam bilik itu.


"Aku hanya ingin bicara denganmu" Mereka berdua berbicara dengan suara berbisik karena takut suaranya akan terdengar dari luar sana.


"Kenapa harus mengunciku di dalam sini?? Kau gila?? Bagaimana kalau ada yang melihatmu di dalam sini??" Tara mendelik maksimal karena tindakan yang terlalu berani dari Bryan.


"Aku melakukan ini karena kamu terus menghindari ku!! Sekarang aku tanya, kalau aku mengajakmu bicara di luar apa kamu mau?? Tidak kan??"


Tara membuang mukanya. Sejak hari pemotretan itu memang Tara sekalu menghindari bertemu langsung dengan Bryan. Jika ada janji temu dengan Bryan sehubungan dengan brand yang di promosikan Bryan, pasti Tara akan mengirim Desi atau timnya yang lain untuk menemui Bryan.


"Memangnya apa lagi yang harus kita bicarakan?? Bukannya kita tidak saling mengenal??" Tara berdiri menyamping menghindari bertatapan langsung dengan Bryan.


Bryan sudah sangat frustasi dengan sikap angkuh yang ditunjukkan Tara kepadanya. Tadi pun begitu, sepanjang acara berlangsung. Tara sedikitpun tak mau menatap Bryan, padahal sesekali Bryan mencoba mendekati Tara, namun wanita itu tetap tak peduli.


"Oke, aku minta maaf atas semua kata-kataku satu bulan yang lalu. Maaf karena sudah menyakiti hatimu. Mulai sekarang aku tarik kata-kata itu lagi. Kita saling mengenal Tara, bukan orang asing" Bryan berubah melemah, dengan tatapannya yang sendu.


"Untuk apa minta maaf, lagipula apa yang kamu katakan waktu itu benar adanya. Aku memang wanita murahan yang bisanya hanya mengejar laki-laki" Tara buru-buru mengusap air matanya yang sudah tak tahan lagi untuk keluar. Sakit rasanya jika harus mengingat penghinaan Bryan waktu itu.


Bryan salah, ternyata wanita di depannya itu begitu keras kepala.


"Jadi kamu tidak mau memaafkan aku??"


"Bagian mana yang harus aku maafkan?? Aku tidak merasa kamu punya salah denganku. Semua yang kamu katakan tentang aku itu anggap saja benar. Jadi bersikaplah biasa saja selayaknya orang yang tidak saling mengenal" Tangan Tara bergerak ingin meraih kunci pintu itu namun buru-buru di halangi Dewa.


Dewa memutar bahu Tara untuk menghadapnya lalu mengurung tara di antara kedua tangannya.


"Baiklah kalau kamu terus mengelak dengan mengatakan tidak ada yang salah dengan kata-kata ku. Tapi kamu ingat kan kalau aku masih belum menjawab permintaan kamu waktu itu??"


Dari yang semula membuang wajahnya ke samping, Tara langsung mengangkat wajahnya untuk menatap wajah pria yang jauh lebih tinggi darinya itu.


"Permintaan?" Pertanyaan Tara diiringi dengan kening yang berkerut.


"Bukankah kamu meminta kesempatan untuk menggantikan seseorang di hatiku?? Aku punya jawabannya sekarang, mau dengar??"


"Tidak, itu sudah tidak penting lagi untukku" Penolakan langsung di terima Bryan.

__ADS_1


Bryan tersenyum miring, lalu menurunkan sedikit wajahnya. Menatap dengan begitu dalam manik mata yang mulai bergerak tak tenang milik Tara.


"Benarkah??"


"Iy-iya" Kegugupan Tara saat ini cukup meyakinkan Bryan tentang keputusannya.


"Sayangnya aku tidak peduli. Aku akan tetap memberimu kesempatan untuk memenuhi hatiku dengan namamu"


Bryan semakin memajukan wajahnya hingga membuat Tara membeku tak bisa bergerak.


"Sekarang kamu milikku, sayang" Bryan sengaja berbisik dengan begitu dekat di telinga Tara. Tubuh wanita itu bagaikan terkena aliran listrik saat tak sengaja bibir Bryan menyentuh dauh telinganya.


"Apa yang kau lakukan minggir!!" Tara mendorong dada Bryan menjauh saat mendapatkan kembali kesadarannya.


"Aku tidak peduli lagi denganmu. Aku juga tidak mau lagi mengenal orang seperti mu. Aku masih ingat dengan jelas penolakan dan penghinaan yang aku terima waktu itu. Sekarang dengan seenaknya kamu mengatakan itu kepadaku?? Dasar sinting!!" Tara ingin keluar dari bilik yang pengap itu namun kembali Bryan mencegah Tara.


"Aku tidak peduli, sekarang kamu adalah milikku. Milik Bryan, kamu yang memintaku lebih dulu dan sekarang aku menyetujuinya. Aku juga tidak peduli seberapa keras kamu menolak. Yang jelas aku tidak akan melepaskan mu mulai sekarang!!" Bryan tak kalah kerasnya dengan Tara.


"Apa tujuanmu sebenarnya?? Bukankah kau tidak mencintaiku?? Kenapa kau jadi menjilat ludah mu sendiri?? Ada sesuatu yang kamu inginkan dengan memanfaatkan aku??" Selidik Tara.


"Tidak, aku akui aku memang belum mencintaimu tapi di acuhkan oleh mu selama satu bulan membuat ku begitu frustasi. Terserah kamu mau menganggap ku sebagai pria plin plan atau menjilat ludah sendiri. Yang jelas aku tidak mau melepaskan mu saat ini!!"


Bryan begitu menekankan setiap katanya kali ini. Memang benar Bryan sepertinya telah memakan omongannya sendiri. Buktinya, setiap melihat Tara yang tak mau menoleh sedikitpun kepadanya membuat sisi lain dari dirinya memberontak. Dia kesal dan marah.


"Baiklah, kata terserah itu aku anggap sebagai lampu hijau darimu"


Bryan membuka kunci pada bilik kamar mandi yang sedari dia tahan dengan tangannya itu.


Sebelum Tara melesat keluar Bryan mengatakan sesuatu yang membuat Tara melirik Bryan dengan tajam.


"Hati-hati sayang, tunggu aku di luar jika ingin pulang bersama ku"


"Dasar tidak waras" Gumam Tara.


Bryan memang membiarkan Tara keluar terlebih dahulu karena tidak mungkin jika dia keluar bersama dari toilet. Bisa-bisa pesta pernikahan megah ini jadi berantakan karena sepasang kekasih di temukan dalam toilet.


🌻🌻🌻


Diandra telah selesai membersihkan tubuhnya, setelah berendam di air hangat badannya menjadi lebih relax setelah beberapa jam berdiri di atas pelaminan.

__ADS_1


"Mas Dewa belum kembali ternyata"


Diandra tidak menemukan Dewa di kamarnya. Tadi Dewa bilang akan menyusulnya ke kamar setelah menemui beberapa rekan bisnisnya. Tapi sudah satu jam lebih Dewa belum juga kembali ke kamar.


Diandra duduk di ranjang yang sudah di taburi ratusan kelopak mawar itu. Entah siapa yang melakukan itu Diandra juga tidak tau karena mereka saat ini menginap di hotel yang menjadi tempat resepsi pernikahan mereka.


Semua itu karena keinginan Mama Bella, karena mereka ingin memberi waktu untuk Dewa dan Diandra menghabiskan waktu berdua tanpa ada siapapun yang mengganggunya.


Diandra berniat untuk menghubungi Dewa. Tapi belum sempat Diandra menemukan kontak milik suaminya itu, pintu sudah di buka dari luar.


"Mas??"


"Maaf ya sayang, kamu nunggu lama ya??" Dewa melepas jas hitam dan dasi kupu-kupunya lalu meletakkannya di sembarang tempat.


"Iya, kamu kenapa lama sekali Mas??"


"Banyak sekali rekan bisnis Mas yang memberikan selamat, tidak enak kalau meninggalkan mereka. Maaf ya"


Dewa meraih pinggang Diandra mendekat. Diandra begitu harum saat ini, karena rambutnya juga masih sedikit basah membuat aroma sampo semerbak menusuk hidung Dewa.


"Kamu wangi sekali" Dewa sengaja semakin mempererat tubuhnya dengan Diandra hingga dahi mereka berdua menempel dengan sempurna.


"Mandilah dulu Mas, kamu pasti lelah kan??"


Dewa menatap Diandra dengan senyuman nakalnya.


"Apa kamu sudah seleksi??" Diandra tau apa yang suaminya itu maksud, melihat dari tatapan yang penuh damba itu.


Diandra hanya menjawabnya dengan senyum malu dan pipinya yang mulai kemerahan.


"Kalau begitu tunggu Mas sebentar saja"


Cup..


Setelah memberikan kecupan singkat di pipi Diandra, Dewa benar-benar melesat ke kamar mandi.


Diandra terus tersenyum melihat tingkah kekanakan dari Dewa. Wanita yang sudah siap lahir batin itu memilih menunggu suaminya dengan berbaring di atas ranjang beraroma mawar itu.


Meski sudah mencoba merendamnya dengan air hangat, tapi badannya tetap masih terasa letih. Berlahan mata Diandra mulai berat dan tak bisa di tahan lagi, mata cantik itu mulai terlelap.

__ADS_1


Dewa yang sudah sangat bersemangat hingga mempersingkat waktu mandinya hanya mamou menelan kekecewaan saat melihat istrinya sudah terlelap di atas ranjang.


Bersambung...


__ADS_2