Obsesi Cinta Tuan Psycho

Obsesi Cinta Tuan Psycho
45. Apa kamu tega??


__ADS_3

Dua manusia yang masih terlihat nyenyak harus terganggu dengan bunyi ponsel Diandra yang terus berdering.


Dua pasang mata itu saling mengerjab berlahan membuka matanya. Diandra yang merasa sebagai pemilik benda yang berbunyi itu pun mencoba meraih ponselnya dengan susah payah.


Kakinya yang masih terasa sakit di gerakkan membuatnya meringis kesakitan.


Dewa yang masih berbaring memperhatikan Diandra yang tampak kesusahan itu.


Diandra terkejut karena tiba-tiba ada tangan yang lebih panjang meraih ponselnya, pemilik tangan itu berada di atas Diandra dengan tangannya sebagai tumpuan agar tidak menindih perut diandra yang buncit.


Walau hanya sepersekian detik tubuhnya berada di bawah tubuh milik Dewa namun itu sukses membuat jantung Diandra berdebar begitu kencang.


"Kalau nggak bisa itu minta tolong!!" Ucap Dewa sambil menyerahkan ponsel milik istrinya itu.


"Iya Mas, makasih ya" Diandra melihat siapa yang membuat ponselnya itu terus berbunyi.


"Siapa??" Tanya Dewa yang kembali berbaring.


"Ayah. Aku sudah lama tidak memberinya kabar. Bentar ya Mas"


Diandra segera mengangkat panggilan telpon dari Ayahnya yang lumayan lama tidak terdengar suaranya itu.


"Halo Ayah??"


"Didi anak Ayah, akhirnya kamu angkat juga Nak. Kemana saja kamu, kenapa kamu lama sekali mengangkatnya?? Apa terjadi sesuatu sama kamu. Perasaan Ayah tidak enak"


Baru saja Diandra mengucapkan satu kalimat tapi Ayahnya sudah memberondongnya dengan berbagai pertanyaan.


"Ayah satu-satu dong. Maaf Diandra lama angkatnya karena baru saja bangun tidur"


"Iya maaf, habisnya Ayah kangen sama kamu. Sudah lama kamu ngga telepon Ayah. Tiba-tiba saja Ayah begitu memikirkan kamu. Ayah kangen sama kamu Didi" Suara Ayahnya di sana membuat Diandra juga merasakan kerinduan yang sama.


"Diandra juga kangen Ayah. Maafkan Diandra yang jarang sekali menghubungi Ayah. Tapi Ayah baik-baik saja kan di sana??"


"Ayah baik Didi, kamu sendiri bagaimana??"


"Diandra baik Yah, tapi ada sesuatu yang ingin Diandra sampaikan sama Ayah" Diandra menatap Dewa di sampingnya. Dewa yang sepertinya tau apa yang ingin Diandra katakan pada Ayahnya pun mengangguk setuju.


"Apa itu??"


"Ayah, sebelumnya maaf karena Diandra baru memberi tahu kabar gembira ini"


"Memangnya ada apa Didi??"

__ADS_1


"Ayah, sebentar lagi Ayah akan punya cucu" Ucap Diandra dengan suara bergetar menahan tangisnya.


Dewa segera meraih tangan istrinya itu, mengusapnya dengan lembut untuk menenangkannya.


"A-apa Nak, Kamu hamil?? Ayah punya cucu?? Alhamdulillah, akhirnya Ayah bisa gendong cucu" Ungkapan kebahagiaan dari Ayah Diandra itu justru semakin membuat Diandra menangis.


"Sudah berapa bulan kandungan kamu Nak??" Tanya Ayahnya lagi.


"Hampir 7 bulan Ayah" Diandra membuat suaranya senetral mungkin.


"Kenapa sudah sebesar itu kamu baru kasih tau Ayah Didi, kabar sebahagia Ayah baru tau sekarang Nak??" Ucap Ayahnya dengan kecewa.


"Maaf Ayah" Sesal Diandra.


Bagaimana Diandra mau memberi tau Ayahnya, jika dia sendiri kelak juga tidak akan bisa memiliki anaknya sendiri.


"Tidak papa, yang penting Ayah sekarang sudah bahagia dengan kabar ini. Oh ya bagaimana kabar Dewa?? Dia baik kan sama kamu??"


Diandra menoleh pada Dewa yang senantiasa menatapnya sedari tadi.


"Mas Dewa sehat kok Yah, Mas Dewa juga baik sama Diandra. Ayah tidak usah khawatir, Diandra menikah dengan orang yang tepat Yah"


Meski Diandra sedang berbicara dengan Ayahnya tapi matanya terkunci pada Dewa. Tatapan mereka berdua begitu dalam seakan saling mengungkapkan isi hati mereka masing-masing.


"Benarkah Ayah??"


"Iya Diandra, Dewa menepati janjinya. Dia bahkan selalu membantu Ayah agar mendapatkan tender-tender yang besar"


"Alhamdulillah kalau begitu Yah, akhirnya perusahaan Ibu bisa kita selamatkan"


"Itu semua berkat kamu Didi, berkat pengorbanan kamu" Ucap Ayahnya penuh haru.


"Sudahlah Ayah, tidak udah bahas itu lagi. Yang penting sekarang Ayah jangan terlalu lelah bekerja. Jaga kesehatan selama Diandra jauh dari Ayah ya??"


"Iya sayang itu pasti. Kamu juga harus jadi istri yang baik untuk Dewa. Walau kamu menikah karena terpaksa, tapi Dewa sudah banyak membantu kita" Nasehat Ayah Diandra.


"Diandra sedang mencobanya Ayah"


"Ya sudah kalau begitu, Ayah harus kembali bekerja. Kapan-kapan Ayah akan datang menjenguk mu"


"Iya Ayah, sampai jumpa"


Tut..

__ADS_1


Pembicaraan yang panjang itu akhirnya di akhiri juga oleh Diandra.


Dengan tangannya yang terpasang jarum infus itu, Diandra membersihkan sisa air matanya.


"Mas, kamu dengar sendiri kan betapa bahagianya Ayah saat mendengar tentang kehamilanku??" Dewa mengangguk mengiyakan.


"Itu sebabnya aku tidak berani memberitahu Ayah dari kemarin. Tapi setelah aku pikir lagi, akan lebih berdosa lagi kalau aku nggak kasih tau Ayah soal cucunya ini" Lanjut Diandra dengan sendu.


"Apa yang kamu lakukan ini sudah benar Dee. Memang sebaiknya Ayah tau soal ini. Aku sudah bilang kan. Ayah bisa kapan saja menemui cucunya, aku tidak akan melarang sama sekali" Ujar Dewa.


" Iya Mas terimakasih untuk semuanya, termasuk bantuan kamu ke perusahaan kita. Kalau nggak ada kamu mungkin perusahaan peninggalan Ibu itu sudah hancur"


"Itu sudah tugasku, karena putrinya adalah istriku" Jawab Dewa mengulas senyumnya yang tampan.


"Tapi kalau kita nanti berpisah, apa kamu akan menarik lagi semua bantuan yang kamu berikan itu Mas??" Tanya Diandra dengan ketakutannya.


"Aku bukan orang yang akan meminta kembali sesuatu yang telah aku beri Dee. Jadi kamu tidak usah khawatir" Dewa mengusap kepala Diandra.


"Tapi kalau seandainya akulah yang meminta sesuatu yang telah aku berikan kepadamu bagaimana Mas??" Tanya Diandra yang serius.


"Maksudnya??"


"Mas, aku tidak tau kenapa rasa egois ku muncul begitu saja. Maafkan aku karena aku sempat berpikir kalau aku menginginkan anak kita Mas. Aku seperti ingin mengingkari janjiku sendiri" Diandra sudah menunduk dengan tangisannya.


"Apa Dee?? Kamu menginginkannya??" Dewa tampak syok dengan ucapan Diandra yang tak masuk ke dalam akalnya itu.


"Apa kamu tega sama aku Dee?? Kamu saja tidak pernah mengijinkan hatimu untuk aku miliki. Masa kamu juga tidak mengijinkan aku untuk membawa anakku Dee. Kamu yakin ingin melakukan itu kepadaku Dee??"


Dewa tampak tak percaya dengan keinginan Diandra itu. Padahal dulu Diandra mati-matian ingin menyingkirkan janin itu. Mungkin rasa keibuannya sidah muncul, namun kenapa harus seegois itu.


"Tidak Mas, pikiran itu hanya melintas di otakku sejak beberapa hari yang lalu. Semakin aku merasakan kehadirannya, semakin aku berniat serakah untuk memilikinya. Mungkin ini terdengar lucu karena dulu aku yang tidak menginginkannya sama sekali, justru kini sangat tidak mau kehilangannya. Aku menyayanginya Mas, aku mulai mencintainya. Tapi aku sadar dia sepenuhnya hak kamu, jadi kamu tidak udah khawatir, dia akan tetap bersama kamu. Maafkan aku yang sempat membuatmu terkejut" Diandra mengusap pipi Dewa dengan lembut.


Dewa menahan tangan Diandra yang sudah hampir menjauh.


"Mungkin aku akan gila kalau tidak bisa mempertahankan salah satu dari kalian di sisiku Dee" Ucap Dewa dengan sendu.


"Maaf" Lirih Diandra.


"Sudahlah, jangan sedih-sedih lagi. Kalian sudah lapar kan?? Ini sudah jam 4 sore. Aku ambil makanan dulu ya" Dewa mengakhiri pembicaraan mereka yang tak ada ujungnya itu. Dewa sempat mengusap lembut perut Diandra sebelum berjalan keluar kamar mereka.


Diandra tampak sendu menatap punggung Dewa yang mendekat ke pintu itu. Entah apa yang ada di dalam pikiran Diandra saat ini. Hang jelas tatapannya begitu dalam dan tampak menyimpan berbagai hal di dalamnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2