
Dewa sempat tersentak karena serangan tiba-tiba dari Diandra. Yang awalnya dia kira Diandra berbalik ingin menamparnya lagi, tapi ternyata justru menamparnya dengan bibirnya.
Dewa mulai terhanyut karena Diandra benar-benar mulai menggerakkan bibirnya. Tentu saja sebagai seorang pria yang normal dan dalam hitungan bulan tak tersalurkan h*sratnya, Dewa mulai terpancing.
Dewa juga mulai mengimbangi permainan Diandra dengan lihai. Tangan Dewa bergerak ke atas ingin menahan tengkuk Diandra tapi buru-buru Diandra melepaskan p*gutan mereka.
"Jangan pernah coba-coba bertindak bodoh lagi!!" Mata Diandra yang tajam langsung menusuk mata Dewa yang tepat berada di depannya.
"Tidak akan sayang" Jawab Dewa dengan suaranya yang sudah berat menahan sesuatu yang sudah pemberontak dari dalam tubuhnya.
Diandra menempelkan hidungnya pada hidung Dewa. Dengan jarak sedekat itu tentu saja bibirnya sangat dekat dengan bibir Dewa.
"Janji??" Bibir Diandra yang bergerak ketika mengucapkan kata itu, sedikit menyentuh bibir Dewa. Membuat Dewa ingin segera memangsanya dengan ganas.
"Demi apapun" Jawab Dewa langung melahap bibir ranum Diandra lagi. Dewa terus bermain di sana sampai Diandra yang memulainya lebih dulu sulit mengimbangi suaminya itu.
Dengan sekali hentakan Dewa berhasil mengangkat tubuh Diandra hingga kaki Diandra melingkar sempurna di pinggang Dewa. Tanpa melepaskan c*umannya Dewa membawa Diandra ke ranjangnya.
Lutut Dewa di jadikan tumpuan saat menaiki ranjang lalu mereka berguling di ranjang hingga Diandra duduk di atas perut rata Dewa.
Mereka melepaskan aksinya itu sejenak untuk sekedar mengambil nafas dengan posisi Diandra masih berada di atas tubuh Dewa.
Mata mereka berdua saling beradu pandang menyiratkan perasaan masing-masing tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Hanya suara nafas memberubu saja yang terdengar di ruangan itu.
Dewa menyentuh pipi Diandra yang bersemu merah. Mengusapnya dengan lembut, lalu tangannya bergerak ke samping menyingkirkan rambut Diandra yang terjatuh sampai mengenai wajah Dewa. Diselipkannya rambut hitam dan lembut itu di belakang telinga Diandra.
Diandra memejamkan matanya merasakan lembutnya tangan Dewa yang menyentuh belakang telinganya. Baru sentuhan tangan itu saja rasanya sudah merinding seperti tersengat aliran listrik. Sentuhan tangan suaminya itu bahkan bukan pertama kali untuknya, tapi rasanya amat sangat membuatnya terbuai.
Diandra yang masih memejamkan matanya menikmati tangan Dewa yang menelusuri wajahnya di buat terkejut karena Dewa merubah posisinya begitu saja.
Kini Diandra yang di buat tak berdaya di bawah kungkungan Dewa. Tubuh berotot itu seakan menguasainya, memenjarakannya dalam buaian meski hanya dengan tatapan yang penuh gairah itu.
"Diandra sayang, apa kamu tau?? Di mataku kamu adalah wanita tercantik di dunia. Tatapan matamu, senyuman mu semuanya indah" Dewa mencium dahi Diandra dengan lembut.
"Hanya untuk mendapatkan kamu, Mas sampai rela melakukan apapun, tidak peduli penolakan atau kebencian yang Mas terima darimu" Kecupan kecil jatuh di hidung Diandra.
__ADS_1
Diandra masih diam di bawah Dewa dengan terus menatap suaminya yang sedang menguasainya itu.
"Mungkin saja Mas bisa gila jika perceraian itu benar terjadi. Kehilangan kamu dan anak kita sama seperti Mas kehilangan jiwa di dalam raga yang masih bisa bernafas ini" Kali ini Dewa mencium pipi Diandra dengan bibirnya yang lembut itu.
"Mas tidak tau, apa yang membuat Mas begitu jatuh bertekuk lutut dalam pesona mu sayang. Tapi saat pertama kali Mas melihatmu, hati dan pikiran Mas hanya terisi olehmu. Kamu sebagai wanita pintar, pasti tidak akan percaya dengan kata-kata pria seperti Mas dan mungkin hanya akan menganggap Mas sebagai buaya yang menjual gombalan pada setiap wanita" Kali ini Dewi tidak mencium Diandra di akhir kalimatnya seperti ketiga ciuman yang baru saja diberikannya. Pria tampan dengan wajah memerah itu hanya menatap Diandra dengan begitu dalam.
"Aku percaya" Tutur Diandra dengan suara lembutnya.
"Aku percaya dan aku menerima apapun kata cinta yang kamu ucapkan. Tapi aku tidak akan pernah menerima satupun kalimat perpisahan darimu. Apapun itu dan tidak terkecuali!!" Diandra memang tak sekeras tadi saat marah. Namun di setiap katanya tersimpan ancaman yang begitu menakutkan bagi Dewa.
"Aku tidak akan melakukannya walaupun di dalam mimpi" Tegas Dewa memberi keyakinan pada istrinya.
Cup..
Diandra mengangkat kepalanya untuk meraih bibir Dewa, memberinya satu kecupan singkat lalu menjatuhkan kembali kepalanya seperti semula.
"Maaf sayang, sepertinya nanti sore Akhtar akan di mandikan Mbak Susi, karena aku tidak akan melepaskan kamu sampai nanti. Kamu milikku saat ini"
Setelah kalimat itu, Dewa mulai menuntaskan h*sratnya yang sempat tertunda dan membuatnya salah paham.
Kegiatan panas itu mereka lakukan berulang kali hingga Diandra mulai kelelahan dan tak mampu menggerakkan tubuhnya lagi.
"Mau mandi sekarang?? Mas gendong ya??" Diandra hanya mampu mengangguk pasrah karena dia benar-benar kehabisan tenaga saat ini.
"Kenapa telinga kamu merah kaya gini Mas??" Diandra yang berada di gendongan Dewa bisa melihat dengan jelas telinga kiri suaminya itu memerah.
"Oh ini, tadi di gigit singa betina" Diandra tak bertanya lagi karena sudah sampai di kamar mandi meski masih bingung dengan jawaban Dewa.
-
-
Beberapa jam yang lalu....
"Siapa yang mau Mama jewer??"
__ADS_1
Suara itu membuat kedua orang tuanya menoleh ke arah suara itu berasal.
"Akhirnya anak bandel ini pulang juga. Sini kamu!!" Mama Dewa langsung berdiri menyambut putranya dengan tatapan yang tidak bersahabat.
"Ada apa sih mamaku sayang?? Anaknya pulang kok di marahin kaya gini?" Dewa yang belum tau arti kemarahan Mamanya hanya menuruti Mama Bella untuk mendekat ke arahnya.
"Rasakan ini!!" Mama Bella benar-benar menjewer telinga Dewa hingga anaknya itu berteriak kesakitan.
"Awwww, lepas Ma. Sakit Mama, ampun"
Papa Elang hanya bergidik saja melihat telinga anaknya jadi sasaran kemarahan istrinya. Bisa-bisa Papa Elang juga jadi korban jia dia ikut campur urusan ibu dan anak itu. Jadi diam jadi pilihan yang tepat bagi Papa Elang saat ini.
"Salah sendiri jadi suami nggak tanggung jawab!! Kenapa kamu susah sekali di hubungi?? Kelayapan kemana kamu?? Tega sekali membiarkan istri dan anaknya di rumah menunggu kabar yang tidak jelas dari kamu!!" Omel Mama Bella degan matanya yang melebar menunjukkan bola matanya yang bulat.
"Maaf Ma, Dewa sibuk" Tak mungkin Dewa jujur dengan Mamanya tentang perasaannya saat ini.
"Sibuk, sibuk!! Sesibuk apa sampai kamu tak punya waktu untuk sekedar menghubungi Diandra hah?? Papa kamu dulu juga sibuk tapi dia tidak pernah lupa sama Mama. Entah apa yang kamu urus di luar sana sampai kamu sok sibuk bszegitu" Mama Bella sampai mengeluarkan uratnya kali ini.
"Iya Ma, Dewa salah. Dewa minta maaf" Ucapnya pasrah, kalau tidak pasti omelan Mamanya tidak akan selesai dalam waktu satu jam.
"Minta maaf sana sama istri kamu. Asal kamu tau Dewa, setelah keberangkatan kamu yang mendadak itu, paginya Diandra di temukan Mbak Sari dalam keadaan pingsan di kamarnya. Dia kelelahan dan telah makan. Selama tiga hari dia hanya terbaring di ranjang, bahkan untuk makan pun dia tidak mampu membuka matanya karena kepalanya yang terus-terusan pusing. Mama ingin sekali menghubungi kamu tapi Diandra melarang. Dia takut kamu akan mengkhawatirkannya dan tidak fokus dengan pekerjaan kamu"
Hanya mendengar itu daja dari Mama Bella, Dewa sudah memaki-maki dirinya sendiri di dalam hati.
"Belum lagi Mama sering melihat Diandra melamun dan bicara dengan Akhtar kalau dia sangat merindukan mu. Coba sekarang Mama tanya sama kamu, sebenarnya otak kamu itu sedang di gadaikan kemana kok sampai bisa mengabaikan istrimu??"
Omelan panjang lebar itu tidak mendapat balasan sama sekali dari Dewa. Pria yang baru merasakan hatinya tercambuk itu hanya terpaku di depan Mamanya.
Rasanya marah dan malu pada dirinya sendiri. Pikirannya yang naif itu mampu meracuni hatinya untuk mengabaikan Diandra dan ternyata saat mereka jauh, Diandra begitu memperhatikannya.
Dewa berjalan meninggalkan Mama dan Papanya di ruangan keluarga itu. Dia berlari menuju kamar atas untuk mencari keberadaan istrinya. Beribu kata maaf sudah Dewa ucapakan di dalam hatinya karena salahnya sendiri.
"Dewa!! Mama belum selesai bicara!!" Teriak Mama Bella dari bawah karena putranya sudah menaiki tangga menuju kamarnya.
"Lihatlah Pa kelakuan anak kamu itu. Bandelnya nggak ketulungan meski sudah ada buntutnya satu" Mama Bella masih saja mengomel meski sudah tidak ada Dewa di sana.
__ADS_1
"Anak kita Ma!!" Jawab Papa Elang dengan santai sambil membalik surat kabar yang dibacanya.
Bersambung....