Obsesi Cinta Tuan Psycho

Obsesi Cinta Tuan Psycho
93. Yakin untuk bertahan


__ADS_3

Dewa dan Diandra sudah sepakat untuk merobek surat yang tadinya sudah berisi tanda tangan Dewa itu. Bahkan Diandra mengancam akan memotong urat nadinya lagi kalau sampai Dewa berani memberinya surat itu lagi.


Ternyata waktu singkat yang di berikan Diandra, yang awalnya begitu menyakitkan bagi Dewa karena harus rela melepaskan dua orang yang sangat penting di dalam hatinya kini justru berbuah manis. Waktu yang singkat itu nyatanya berhasil di manfaatkan dengan baik oleh Dewa. Dia berhasil mengubah hati Diandra dengan cinta tulusnya. Kali ini Dewa benar-benar percaya jika keajaiban itu memang benar adanya.


Kedua tangan itu sekarang saling bergenggaman. Meski di dalam mobil dan dalam keadaan menyetir, Dewa tak lantas melepaskan tangan Diandra. Dewa memang sengaja tidak meminta Niko untuk mengendarai mobilnya. Dia hanya ingin berduaan dengan Diandra.


"Sudah dong Mas, kamu lagi nyetir loh. Bahaya"


"Nggak papa Dee, Mas bisa kok"


"Mas, panggil aku seperti waktu itu" Perintah Diandra menahan malu.


"Panggil seperti apa memangnya??" Dewa mengerutkan keningnya.


"Sayang" Diandra tak dapat menutupi pipinya yang merona saat mengatakan permintaannya itu.


Dewa ikut tersenyum melihat Diandra yang tersenyum malu-malu seperti itu.


"Baiklah, seperti yang kamu mau, Sayang" Dewa menyebut kata sayang dengan suaranya yang sengaja di buat selembut mungkin membuat Diandra merinding mendengarnya.


Dua manusia di mabuk asmara itu bahkan tak menghentikan senyumnya sama sekali. Mereka berdua saat ini sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Mengunjungi putra mereka bersama-sama untuk pertama kalinya.


"Mas, kata Dokter, tiga hari lagi Akhtar sudah boleh pulang loh" Ucap Diandra.


"Iya, Mas sudah tau"


Diandra yang belum tau kalau Dewa juga setiap hari mengunjungi putranya merasa bingung dengan jawaban Dewa.

__ADS_1


"Mas juga selalu datang ke sana setiap hari. Mana bisa Mas tidak melihat wajah lucunya itu barang sehari saja" Diandra begitu terkejut karena dia tidak pernah melihat Dewa sekalipun saat mengantarkan asi untuk Akhtar.


"Kenapa?? Kamu bingung karena nggak pernah ketemu Mas di sana??" Diandra mengangguk dengan wajah polosnya.


Dewa hanya tersenyum menanggapi Diandra tanpa memberitahunya.


"Kalau Mas tidak bisa melihat Akhtar barang sehari. Kenapa Mas betah sekali tidak melihatku berhari-hari?? Mas tidak benar-benar merindukanku??" Lirik Diandra dengan tajam.


"Asal kamu tau saja sayang, rasanya hampir mati menahan rindu sama kamu" Diandra benar-benar di buat seperti kepiting rebus karena ungkapan sederhana dari Dewa.


"Aku percaya, karena aku juga merasakannya Mas" Sahut Diandra dengan pelan karena masih malu dengan perasaannya pada Dewa.


"Benarkah?? Apa rasa rindumu padaku mengalahkan rasa rindumu pada Bryan waktu itu??"


Tiba-tiba Dewa membahas Bryan membuat Diandra menyurutkan senyumnya.


Diandra melepaskan tangannya dari Dewa, bukan menjauhkan tapi berganti menggenggam tangan Dewa dengan kedua tangannya.


"Mas, aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Bryan. Aku juga sudah melupakannya Mas, entah bagaimana caranya, rasa itu sidah hilang begitu saja. Aku juga tidak tau pasti, tapi semua bayangan Bryan itu sudah terganti olehmu. Jadi terus bantu aku untuk benar-benar melupakannya Mas"


Dewa melihat kejujuran di mata Diandra. Mata jernih itu sekarang hanya menatapnya, hanya ada dia di dalam sana.


"Aku pasti membantumu sayang, aku akan terus meracuni isi otak dan hatimu sampai tidak ada pria lain lagi di sana" Dewa menarik tangan diandra dan memberikan kecupan hangat pada punggung tangan itu.


"Lalu bagaimana dengannya sayang?? Apa dia benar-benar bisa melepas mu??"


"Sebenarnya Bryan sudah menyadari perasaanku yang mulai berubah sejak lama Mas. Tapi dia masih yakin sebelum aku sendiri yang mengatakan kepadanya. Sampai saat Niko membawa surat itu di hadapanku, Bryan juga ada di sana. Bryan melihat dengan mata kepalanya sendiri jika aku hancur saat itu. Dan katanya, itu membuatnya yakin kalau cintaku padanya sudah benar-benar hilang"

__ADS_1


Penjelasan sederhana itu mampu membuat Dewa semakin yakin untuk mempertahankan Diandra di sisinya. Tidak akan pernah membiarkan siapapun merebut wanita itu darinya. Biarkan saja orang menganggap Dewa egois, yang dia tau hanya Dewa yang berusaha mempertahankan Diandra, miliknya seorang.


"Lalu apa yang membuatmu yakin untuk mempertahankan pernikahan kita. Bukankah kamu tidak pernah membalas kata cinta yang selalu aku ucapkan?? Bahkan di saat sebelum kecelakaan itu terjadi, kamu juga masih bungkam kan??" Kini Dewa mempertanyakan keyakinan hati Diandra.


"Maafkan aku karena tidak pernah membalas kata cinta yang selalu kamu ucapkan Mas. Bukannya aku tidak mau atau ragu saat itu, tapi aku masih terikat janji dengan Bryan. Aku juga sama sepertimu yang tidak ingin mengingkari janji. Tapi aku sadar Mas, jika janjiku di depan Tuhan lebih penting. Ditambah lagi saat saku tak berdaya saat itu, meski kamu sangat menginginkan Akhtar lahir ke dunia ini, kamu lebih memilih menyelamatkan aku. Itu semakin membuatku yakin kalau kamu adalah yang terbaik. Bukan lagi di antara dua pilihan antara kamu dan Bryan, tapi memang kamu yang terbaik untuk aku dan anak kita".Dewa kembali mengecup punggung tangan Diandra, kali ini berkali-kali sampai membuat Diandra merasa geli.


"Dan saat aku meminta kamu untuk tidak memisahkan aku dengan Akhtar, saat itu aku berharap kamu akan egois dan memilih untuk mempertahankan aku. Tapi nyatanya saat itu kamu salah paham, dan memilih pergi. Bahkan tak sekalipun mengunjungi ku di rumah sakit. Setiap hari aku menunggumu Mas, bahakan malamnya aku tak bisa tidur, aku sendirian menanti kedatangan mu" Air mata Diandra terlihat lagi karena ingat saat dirinya menunggu Dewa di rumah sakit.


Dewa menepikan mobilnya, melepas seatbeltnya dengan cepat, lalu merengkuh istrinya dalan dekapannya yang hangat lagi.


"Maaf sayang, maafkan Mas. Saat itu Mas benar-benar takut menemui kamu. Mas takut jika rasa ingin memiliki mu itu timbul lagi. Mas tidak mau menyakitimu lagi. Jadi sebisa mungkin Mas menahan diri untuk menemui kamu. Sama halnya dengan kamu, Mas juga tidak bisa tidur, semakin Mas mencoba menutup mata, bayangan kehilangan kamu semakin menghantui"


Diandra semakin mempererat pelukannya. Dia percaya apa yang Dewa katakan. Karena lingkaran hitam pada mata Dewa sudah menjadi bukti bahwa pria itu tidak bisa tidur beberapa hari ini.


"Maafkan aku juga Mas, aku yang tidak bisa tegas dengan perasaanku sendiri. Kebimbangan membuat aku semakin menyakitimu. Ketidakjujuran tentang perasaanku bahkan hampir saja menghancurkan rumah tangga kita"


Dewa melepaskan pelukannya, membelai wajah halus milik Diandra.


"Mulai sekarang kita harus jujur tentang perasaan masing-masing. Entah itu marah, sedih, tidak suka, atau apapun itu. Kita hanya manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Jadi jangan semakin memperumit masalah kita dengan ketidakjujuran. Kamu mau kan sayang??"


"Aku mau Mas" Diiringi dengan senyumnya yang cantik Diandra menerima sebuah kecupan pada dahinya. Kecupan dari suami yang sangat mencintainya.


"Ayo kita jalan lagi, Akhtar sudah menunggu kita" Dewa mengangguk mengiyakan perintah istrinya.


"Akhtar, Mama berhasil mempertahankan Papa sayang"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2