
Manda, Tara dan Bryan duduk di ruang tamu, mereka bertiga masih menunggu Dewa yang tak kunjung keluar juga dari kamarnya.
Jelas sekali jika Bryan tampak mengkhawatirkan keadaan Diandra. Tapi dia tidak bisa berbuat banyak apalagi menerobos kamar Diandra begitu saja, karena peringatan Dewa waktu itu agar dia tak melewati balasannya. Tapi bukan itu alasan utamanya, dia hanya tidak mau membuat Diandra menanggung akibat dari kemarahan Dewa.
Lalu Manda yang merasa takut jika Dewa semakin dekat dengan Diandra. Sedangkan tadi pagi Dewa baru saja memberikannya secercah harapan untuk hubungan mereka.
Kemudian Tara yang masih bingung dengan perasaannya sendiri. Dia juga sangat ingin melihat Dewa tapi dia juga penasaran dengan keadaan Diandra.
Suara langkah kaki yang menuruni tangga langsung menarik perhatian ketiga orang yang sedang berkutat dengan pikirannya masing-masing.
"Dewa??" Manda langsung menghampiri Dewa yang menuju ke meja makan.
"Dewa gimana keadaan Diandra??" Tanya Manda yang sudah berada di samping Dewa.
"Sudah lebih baik setelah istirahat" Jawab Dewa.
"Ely!!" Panggil Dewa dengan suara yang sedikit keras.
"Kamu kenapa mencari Ely?? Kamu butuh sesuatu??" Manda mencoba ingin membantu Dewa.
"Saya Tuan" Ely datang dari dapur sebelum Dewa menjawab pertanyaan dari Manda.
"Saya butuh nampan dan piring untuk membawa makanan ke kamar. Tolong ambilkan, saya tunggu. Cepat!!" Ucap Dewa dengan dingin.
"Baik Tuan" Ely segera menyiapkan apa yang Tuannya itu minta ta.pa bantahan sekalipun.
Sementara Manda tampak kecewa karena tawarannya tidak di tanggapi oleh Dewa. Manda seperti di beri harapan kemudian dihempaskan lagi oleh Dewa.
"Mau aku bantu siapin buat kamu??" Ucap Manda setelah melihat Ely membawa nampan permintaan Dewa.
"Tidak usah, biar aku saja" Tolak Dewa dengan halus.
Kemudian Dewa mulai menuangkan nasi serta beberapa lauk ke dalam piringnya. Tak lupa juga segelas penuh air putih untuk mereka berdua.
"Kok cuma satu?? Kamu nggak makan?" Manda bertanya karena Dewa hanya mengisi satu piring saja.
"Ini untuk kita berdua. Kami sudah biasa makan seperti ini" Perkataan Dewa itu sukses membuat Manda terdiam.
"Aku ke kamar dulu"
Manda yang sempat melamun beberapa detik lantas mengejar Dewa yang sudah mulai menjauh.
"Dewa tunggu!!" Ternyata Bryan dan Tara juga mendekati Dewa.
Dewa berhenti dan menatap mereka bertiga yang mengelilinginya dengan malas.
__ADS_1
"Bolehkah aku melihat keadaan Diandra??" Tanya Manda dengan lembut.
"Kami hanya sebentar Tuan Dewa" Imbuh Bryan.
Dewa menatap mereka bertiga satu per satu tapi akhirnya Dewa menganggukkan kepalanya.
"Tapi jangan lama-lama, dia masih butuh istirahat" Dewa memperingatkan mereka dengan sedikit ketus.
Mereka bertiga mengangguk lalu mengikuti Dewa dari belakang.
Pemandangan yang mereka lihat saat pertama kali Dewa membuka pintu kamat adalah Diandra yang terbaring dengan selang infus di tangannya.
"Dee??" Diandra sebenarnya tau jika pintu kamarnya sudah terbuka. Namun Diandra yang memejamkan matanya tidak tau jika Dewa masuk bersama tiga orang di belakangnya.
"Diandra?? Bagaimana keadaanmu??" Akhirnya Diandra membuka matanya saat suara milik Manda yang sudah di hafal itu terdengar menyapanya.
"Kalian disini??" Diandra sedikit terkejut.
"Kami khawatir dengan keadaan kamu, terutama Bryan. Jadi kami meminta ijin Dewa untuk melihatmu sebentar" Terang Manda.
"Bagaimana keadaan kamu Didi?? Apa yang kamu rasakan??" Kini Bryan yang mengeluarkan pertanyaannya.
"Sudah lebih baik Bry, hanya kakiku yang mulai terasa perih karena biusnya yang sudah mulai menghilang"
"Diandra, maaf aku tidak tau kalau terjadi sesuatu pada kakimu" Tara yang sejak tadi hanya diam mulai menyumbang suaranya. Diandra sedikit terkejut dengan perubahan pada Tara yang sedikit lebih lembut padanya.
Diandra hanya membalas Tara dengan sedikit tarikan pada bibirnya.
"Aku rasa sudah cukup basa basinya, lebih baik kalian keluar sekarang juga karena kita mau makan. Kasihan anak kami sudah kelaparan" Ucap Dewa dengan sarkasnya.
"Ya udah Diandra. Cepat sembuh ya?? Kita keluar dulu" Ucap Manda masih dengan wajah bak malaikatnya jika di depan Dewa.
Diandra hanya mengangguki saja ucapan dari Manda yang sama sekali tidak tulus itu karena Diandra menangkap senyuman miring dari bibir Manda di akhir kalimatnya.
"Didi, sekali lagi maafkan aku. Aku tidak bisa menjagamu. Cepat sembuh ya" Ucap Bryan dengan raut penyesalannya.
"Sudah aku katakan Bryan, ini bukan salah siapa-siapa. Aku yang terlalu ceroboh saja" Tegas Diandra.
"Baiklah, aku keluar dulu. Lekas makanlah, kamu pasti sudah kelaparan" Ucap Bryan sebelum mengikuti Manda melangkah kekuar.
"Tunggu!!" Ucap Diandra.
Semua yang masih ada di ruangan itu tampak bingung karena tidak tau siapa yang di maksud Diandra.
"Bryan, bisa kita bicara??" Susulan kalimat Diandra membuat Manda dan Tara sedikit tau diri. Mereka mulai meninggalkan Bryan di kamar itu.
__ADS_1
Begitupun dengan Dewa, pria itu mulai menggerakkan kakinya keluar. Meski dia juga tidak tau apa yang akan Diandra sampaikan pada Bryan.
"Mas Dewa jangan keluar!! Disini saja temani aku!!" Cegah Diandra ketika melihat Dewa ingin pergi dari sana. Mungkin niatnya Dewa akan memberikan sedikit ruang untuk mereka berbicara.
"Sebenarnya apa yang ingin kamu Bicarakan Didi??" Hatinya penuh tanda tanya karena Diandra menahan Bryan di sana tapi tidak dengan Manda dan Tara.
"Bryan, kemarin saat kamu datang ke sini, kamu bilang jika kamu mengambil cuti satu minggu untuk menginap disini" Diandra berhenti sejenak.
"Iya, lalu??" Bryan masih belum mendapatkan jawabannya.
Dewa yang sudah duduk di sofa hanya diam dan terus memasang telinganya agar bisa dengan jelas mendengar apa yang Diandra katakan.
"Bukan maksudku untuk menyakiti perasaanmu. Tapi dengan sangat berat aku mohon padamu Bry. Bisakah kamu besok kembali ke kota??"
Justru Dewa yang paling terkejut mendengar apa yang Diandra katakan itu. Karena ternyata Diandra tidak main-main dengan apa yang telah dia janjikan kepada Dewa.
"Ma-maksud mu Dee?? Kamu mengusirku dari sini?? Kamu sungguh tidak mau melihatku lagi??" Bryan sangat terlihat kecewa ketika Diandra belum juga menjelaskan apa maksud perkataannya yang sebenarnya.
"Bryan dengarkan dulu!!" Sergah Diandra.
"Pernikahan ini memang akan berakhir tidak lama lagi Bryan. Tapi saat ini statusku masih istri Mas Dewa. Tidak pantas jika kita tinggal satu atap secara bersamaan seperti ini. Jadi aku mohon kembalilah lebih dulu, dan aku akan kembali padamu sebentar lagi. Beri ruang untuk aku menyelesaikan semua ini Bryan"
Kata demi kata yang Diandra ucapkan itu memang tertuju untuk Bryan. Tapi justru terdengar sangat menyakitkan bagi Dewa.
Karena di dalam kalimat Diandra itu seolah Diandra sedang mengelabuhi Dewa bak anak kecil yang akan ditinggalkan oleh ibunya.
"Tapi Diandra. Aku justru takut setelah ini kamu tidak akan pernah kembali lagi padaku" Bryan sudah terlihat begitu kecewa dengan permintaan Diandra.
"Aku mohon Bryan. Kembalilah, dan cukup tunggu aku kembali. Berilah aku ruang sampai anakku lahir" Mohon Diandra sekali lagi.
Dengan anggukan lemah akhirnya Bryan menyetujui apa yang Diandra inginkan itu.
"Terimakasih Bryan" Lirih Diandra. Sebenarnya dia juga sedih melihat Bryan yang terlihat penuh kekecewaan itu.
"Kalau begitu aku keluar dulu. Kamu jaga diri baik-baik sini. Aku akan menunggu mu kembali Diandra. Semoga kamu tidak mengingkari janjimu" Ucap Bryan dengan senyum kecutnya.
"Tuan Dewa. Sekali lagi saya titipkan Diandra pada anda. Jangan sakiti dia lagi, saya akan memberi kalian ruang sampai anak kalian lahir. Saya percayakan Diandra pada anda" Ucap Bryan setelah berbalik menghadap pada Dewa.
"Tidak usah khawatir, itu sudah menjadi tugasku" Balsa Dewa dengan angkuhnya.
Bryan sempat menatap Diandra yang terduduk bersandar pada ranjang dengan tatapan sendu, sebelum benar-benar pergi dalam kamar itu.
"Maafkan aku Bryan, tunggu aku kembali dan doakan aku semoga perasaanku ini tetap utuh untuk kamu" Ucap Diandra dengan terus menatap Bryan yang berlahan mulai tertelan pintu kamarnya.
Bersambung...
__ADS_1