
Diandra memang mendengar suara dengkuran halus tepat di belakang telinganya. Dewa sudah benar-benar terlelap setelah meminum obat itu. Bahkan dengan posisi mereka saat ini Dewa tidak merasa canggung sama sekali. Dia terlihat tidur dengan nyaman dan nyenyak.
Berbeda dengan Diandra yang tidak bisa mengontrol detak jantungnya sendiri. Sudah hampir dua jam dia dalam kondisi seperti itu. Tidak bisa terlelap, hanya diam tanpa bergerak di dalam pelukan Dewa. Dia bahkan takut jika detak jantungnya yang seperti suara gendang di tabuh itu bisa terdengar oleh Dewa.
Dia tidak tau akan terus terkunci dalam posisi seperti itu sampai kapan. Sedangkan perutnya sudah terasa sangat lapar. Apalagi membayangkan kerang yang tadi di ambil Dewa.
Dengan pelan Diandra mencoba menyingkirkan tangan Dewa yang memeluk erat pinggangnya itu.
"Mau kemana??"
"S*al!!" Diandra mengumpat dalam hatinya karena suara Dewa yang serak itu terdengar sangat seksi di telinganya.
"Aku lapar" Jawab Diandra.
"Kamu mau makan?? Apa kerangnya sudah di masak??"
Diandra justru berbalik menghadap Dewa dengan posisi masih berbaring. Dia meletakkan punggung tangannya di kening Dewa. Memastikan demamnya sudah turun atau belum.
Diandra mendongakkan kepalanya untuk melihat tangannya di kening Dewa. Dalam jarak sedekat itu Dewa bisa memandang wajah Diandra yang halus seperti tak mempunyai pori-pori. Bibir Diandra yang kecil namun terlihat berisi berwarna merah alami juga tidak luput dari pandangan Dewa.
Jakun Dewa sudah naik turun karena menelan air liurnya sendiri. Tangan Dewa mengepal kuat, menguatkan dirinya agar tidak menyerang bibir itu.
"Benar katamu, setelah tidur demamnya sudah turun" Diandra melepas tangannya dari wajah Dewa.
"Mau makan bareng??" Hingga Diandra mengeluarkan kalimat ke duanya itu, Dewa masih terpaku belum kembali tersadar dengan lamunannya.
"Hey, kamu melamun??" Tangan Diandra yang menempel pada pipi Dewa justru membuat Dewa semakin tak mampu bergerak. Sepertinya pengaruh Diandra bagi tubuhnya saat ini sungguh luar biasa.
Padahal waktu menyiksa Diandra waktu itu Dewa tidak merasakan seperti ini. Atau mungkin karena Dewa sadar apa yang ada di depannya saat ini bukanlah miliknya.
"Kita makan bareng ya??"
"Iy-iya" Jawab Dewa tergagap.
Diandra kemudian bangkit dari ranjangnya. Merapikan rambutnya sebentar lalu berjalan keluar.
"Dee??" Diandra berbalik menatap Dewa.
"Memangnya kamu bisa ambil makanan?? Nanti kalau mual gimana?? Biar aku saja ya??" Dewa mencoba untuk bangun.
"Tidak usah, aku akan mencobanya. Kalau tidak bisa, aku akan meminta tolong Ely" Tolak Diandra langsung pergi meninggalkan Dewa
🌻🌻🌻
Diandra tersenyum puas melihat makanan yang di bawanya menggunakan nampan. Tapi dia juga masih keheranan kenapa dia tidak mual sama sekali melihat kerang yang telah di masak Ely untuknya.
Dengan wajah cerahnya karena ingin segera mencicipi kerang hasil jerih payah Dewa, Diandra berjalan cepat menuju kamar mereka.
__ADS_1
"Apa yang kau lalukan di sini??" Wajah Diandra berubah muram karena melihat Tara duduk di tepi ranjangnya. Entah apa yang sedang dia bicarakan dengan Dewa, Diandra tidak sempat mendengarnya.
"Aku hanya ingin melihat Kak Dewa, memangnya kenapa?? Gara-gara kau, Kak Dewa jadi sakit begini" Hardik Tara menatap Diandra dengan sengit.
"Sudahlah Tara, lebih baik kau keluar saja. Aku ingin makan bersama istriku!!" Ucap Dewa segera sebelum Tara melanjutkan omongannya yang tak enak di dengar itu.
"Tapi Kak, Ak...."
"Keluar!!" Ucap Dewa dengan pelan namun tatapannya sudah menunjukkan perintah yang telak.
Dengan menghentakkan kakinya Tara akhirnya menuruti perintah Dewa untuk keluar dari kamar itu. Tak lupa lirikan tajam dia tinggalkan untuk Diandra tang sama sekali tidak peduli itu.
"Kamu beneran nggak mual??" Dewa sudah melembutkan suaranya kembali saat melihat Diandra mendekat dengan nampan makan siangnya.
"Aku juga tidak tau, tapi ini ajaib karena sama sekali aku tidak mual saat melihat kerang ini" Jawaban Diandra yang terlihat senang itu mampu membuat Dewa tersenyum.
Diandra buru-buru membuang wajahnya saat dia merasa sedikit terpesona dengan senyuman Dewa itu.
"Ya Allah kenapa Engkau ciptakan manusia sesempurna ini" Batinnya.
"Ayo makan" Dewa terkejut karena Diandra sudah siap dengan sendok yang dia sodorkan ke depan wajahnya.
"Ayo buka mulutnya!! Kamu nggak suka karang??" Tanya Diandra karena Dewa tak juga membuka mulutnya.
"Suka, tapi kenapa kamu yang suapi aku??"
Bahkan Dewa terkejut karena Diandra menyuapkan makanan ke dalam mulutnya sendiri. Dengan sendok yang sama dan tanpa mual.
Dewa tak pernah melepas tatapan matanya kepada Diandra. Bahkan di dalam hatinya dia mulai lancang meminta kepada Tuhannya.
"Ya Allah seandainya saja Engkau mengizinkanku untuk merasakan kebahagiaan ini selamanya. Pastilah aku orang yang paling bersyukur atas karunia mu di dunia ini"
"Bola mata mu itu sepertinya sebentar lagi akan keluar kalau terus menatapku seperti itu" Ucap Diandra yang masih fokus pada makanannya.
Dewa yang merasa ketahuan sedang mengagumi ciptaan Tuhan itu terlihat canggung dengan membuang wajahnya ke sembarang arah.
Tanpa terasa satu piring penuh telah mereka habiskan bersama. Bahkan satu gelas air pun mereka berdua bagi tanpa rasa jijik sekalipun.
"Sekarang kamu istirahat lagi ya, aku mau turun dulu"
"Enggak, aku udah mendingan. Aku mau ke ruang kerjaku. Ada pekerjaan yang harus aku urus" Tolak Dewa yang mulai menyibakkan selimutnya.
"Nggak bisa Niko aja??" Diandra masih tidak tega melihat Dewa harus bekerja dalam kondisi sakit begini.
"Hanya sebentar" Dewa sudah lebih dulu meninggalkan Diandra di sana. Diandra hanya membuang nafasnya saja karena Dewa tidak mungkin menuruti kata-katanya jika masalah pekerjaan.
Saat Diandra ingin keluar dia teringat jika sedari pagi belum sekalipun mengirim pesan pada Bryan. Diandra lupa segalanya saat melihat wajah pucat Dewa.
__ADS_1
Diandra buru-buru menghubungi kekasihnya itu. Dia berharap Bryan tidak ada jadwal hari ini.
"Halo Bryan, maaf aku tidak sempat menghubungimu dari tadi pagi karena Dewa sedang demam" Ucap Diandra tanpa menunggu Bryan menjawab terlebih dahulu.
"Jadi kamu merawat Dewa yang sedang sakit??"
"Iy-iya" Diandra mencium kemarahan yang akan terjadi setelah ini.
"Oh, jadi sekarang kamu mulai perhatian ya sama dia" Ucapan Bryan dengan terkekeh pelan.
"Bukan begitu Bry, dia demam gara-gara aku karena aku yang menyuruhnya mencari kerang di laut. Jadi aku harus tanggung jawab, karena itu semua karena salahku. Kamu jangan salah paham dulu" Jelas Diandra.
"Kamu pingin makan kerang??"
"Iya kayaknya aku ngidam"
"Ya ya sudah nggak papa. Tapi lain kaki jangan terlalu dekat dengannya. Jangan membuatnya ragu untuk melepaskan mu nantinya. Kalau dia merasa nyaman dengan semua sikap baik yang kamu tunjukkan dia bisa saja mengingkari janjinya" Bryan sebenarnya hanya ketakutan sendiri jiak Diandra akan jatuh hati pada Dewa. Siapa yang mampu menolak pesona seorang Sadewa, bahkan Bryan saja mengakui jika Dewa adalah sosok pria yang tampan.
"Iya aku tau. Ya sudah aku tutup dulu. Aku harus mandi" Ucap Diandra kemudian memutuskan teleponnya.
Karena terlalu asik dengan Bryan, Diandra baru sadar jika Dewa sudah ada di belakangnya menatapnya dengan aneh. Tatapan Dewa itu sungguh tak asing bagi Diandra. Seperti tatapan di toilet saat mengantar Diandra bertemu dengan Bryan.
Tapi sampai saat ini Diandra belum tau apa maksud dari tatapan itu sama sekali.
"Dewa kamu sudah selesai??" Tanya Diandra.
"Hemmm" Dewa hanya bergumam.
"Kamu demam lagi" Diandra menghampiri Dewa dan ingin menyentuh kening itu lagi tapi tangan Dewa sudah lebih dulu menghalangi.
"Tidak usah, itu tidak perlu" Dewa melepaskan tangan Diandra, kemudian berbaring kembali pada ranjangnya.
"Kamu mau minum obat lagi??" Diandra mendekati Dewa dengan duduk di sisinya.
Dewa menggeleng " Tidak. Dan kamu tidak perlu merasa bersalah dan merasa bertanggung jawab atas apa yang aku alami ini. Karena aku melakukan semua ini ikhlas demi anakku" Ucap Dewa lalu memejamkan matanya.
Deg...
Kalimat itu berhasil menohok hati Diandra. Dia rasa Dewa mendengar pembicaraannya dengan Bryan tadi.
"Bu-buka maksudku begitu Dewa. Aku, ak-aku hanya..."
Dewa kembali terduduk dengan tatapan yang dalam pada Diandra.
"Tidak perlu melakukan apapun untukku Dee karena kita memang hanya sebatas teman dan aku hanya Ayah dari anak yang kamu kandung. Dan kamu tidak usah khawatir aku mengingkari janjiku sendiri untuk melepaskan mu setelah anakku lahir!!"
Setelah mengatakan itu Dewa memilih pergi keluar kamar. Meninggalkan Diandra yang diam membisu dengan air matanya yang mulai turun.
__ADS_1
Bersambung...