
BRAKKK....
Sebuah map sudah terlempar di hadapan Dewa di waktu yang masih terbilang pagi itu.
"Maaf Tuan"
Niko datang dari belakang dengan wajah ketakutannya.
"Tidak papa, keluarlah" Perintah Dewa pada asistennya itu.
"Apa maksudnya ini Tuan Dewa??"
Semua ini seperti dejavu bagi Dewa. Diandra yang datang dengan wajah penuh kemarahan itu. Sama seperti Diandra yang pertama kali menyambangi kantornya setelah mengetahui rencana Dewa untuk menikahinya.
Lemparan map dia atas meja itu juga sama persis. Namun jika pada saat itu yang di lempar adalah surat perjanjian Dewa dengan Ayah Diandra. Kali ini adalah surat yang sudah di tandatangani Dewa sendiri beberapa hari yang lalu.
Dewa tetap mempertahankan wajahnya yang dingin sementara Diandra dengan tatapan sengitnya. Diandra yang sama seperti beberapa bulan yang lalu sudah kembali lagi di hadapan Dewa.
"Apa kamu sudah menandatanganinya??" Dewa terus berusaha menyembunyikan rasa bahagianya karena bisa melihat wanita yang begitu di rindukannya.
"Lihat sendiri saja!!" Diandra juga tak kalah dingin dengan Dewa.
Pria yang kadar ketampanannya itu mampu meluluh lantahkan hati kaum hawa meraih dan membuka map yang tadi di lempar Diandra.
"Kamu belum menandatanganinya??" Dewa menatap Diandra penuh tanya karena belum ada tanda tangan Diandra di atas materai.
"Tidak akan sebelum kamu mengatakan sendiri di depanku kenapa kamu mengirimkan surat terkutuk itu di saat aku baru saja bisa duduk paska melahirkan anak kita??" Kilatan kemarahan jelas sekali terlihat di mata Diandra.
"Kenapa masih harus tanya alasannya Diandra?? Bukannya kamu sendiri yang membuat perjanjian itu, kamu lupa??" Jawab Dewa setenang mungkin.
Diandra terdiam sejenak karena perjanjian konyol yang di buatnya sendiri.
"Iya aku memang yang membuat perjanjian itu, dengan secara sadar meminta kamu untuk menceraikan ku setelah anak kita lahir" Diandra sama sekali tidak menurunkan nada bicaranya yang sedikit tinggi itu.
Dewa berdiri lalu berbalik memunggungi Diandra. Menatap ke arah dinding tembus pandang yang menjanjikan pemandangan langit biru yang sangat cerah.
"Lalu kenapa kamu harus menanyakan itu lagi Diandra?? Bukankah aku sudah menepati janjiku sesuai keinginanmu. Hanya tinggal menandatangani surat itu, maka semuanya akan berakhir. Aku juga sudah menuruti keinginanmu yang lain, tentang anak ku. Aku sudah memberikan hak asuh sepenuhnya kepadamu" Dewa memunggungi Diandra bukan karena tidak mau melihat wajah cantik itu. Tapi karena Dewa pasti tidak akan mampu mengeluarkan kata apapun jika berhadapan dengan Diandra.
__ADS_1
"Benar, kamu memang sudah menepati janjimu. Kamu juga sudah membiarkan aku merawat anak kita. Tapi kamu tidak berhak melakukan ini semua semau mu sendiri Tuan Dewa!! Kenapa kamu selalu bertindak semena-mena dan sesukamu hah??" Diandra yang akhir-akhir ini lembut dan keibuan sudah tidak ada lagi.
"Apa maksudmu Diandra?? Bagaimana bisa kamu menilai ku seperti itu setelah semua yang aku lakukan untukmu" Dewa masih tetap tak mau melihat Diandra.
Kedua tangannya di masukkan ke dalam kantung celananya. Tangannya mengepal kuat menahan gejolak dalam dirinya.
"Sekarang aku tanya satu hal padamu. Apa kamu benar-benar rela untuk melepaskan ku??"
Diandra masih menunggu beberapa detik karena Dewa tak kunjung membuka suaranya.
"Untuk apa pertanyaan itu?? Lagipula, jawabanku tidak akan mengubah apapun kan" Dewa memejamkan matanya saat mengatakan kalimat menyakitkan itu.
"Tidak usah sok tau!! Kamu memang Sadewa yang seperti orang lain katakan. Bukan Mas Dewa yang selama ini berada di sisiku. Kamu jahat, kamu b****sek!!"
Diandra mulai terisak di belakang Dewa. Pertahanannya yang sudah ia bangun sejak memasuki ruangan itu, agar tidak runtuh saat berhadapan dengan Dewa nyatanya hancur juga.
Dewa tidak tau apa sebenarnya maksud Diandra datang ke kantornya. Melempar map kepadanya, marah-marah dengan sendirinya, dan sekarang justru menangis dengan pilu di hadapan Dewa.
"Diandra sebenarnya apa mau mu?? Aku sudah menuruti keinginanmu. Jadi jangan membuatku bingung dengan semua ini. Kenapa kamu kembali mengumpat ku dengan kata-kata kasar itu?? Katakan apa lagi yang harus aku lakukan agar aku bisa segera melepaskan mu??" Dewa akhirnya membuang egonya. Dia kembali lemah hanya karena tangisan Diandra.
Dewa berbaik menghampiri wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu.
"Apa lagi yang aku lakukan padamu Dee?? Apa aku menyakitimu lagi?? Katakan apa yang sebenarnya terjadi" Dewa mencengkeram kedua pergelangan tangan Diandra.
Diandra mengangkat kepalanya untuk menatap mata Dewa yang sudah kembali teduh itu. Ada rasa senang di salam hatinya saat Dewa memanggilnya seperti biasa.
"Iya!! Kamu jelas sangat menyakitiku Mas!! Kenapa kamu jadi manusia bisa sejahat ini?? Menarik ku ke dalam pernikahan ini secara paksa, menyiksaku, kemudian menunjukkan rasa cintamu yang sangat besar kepadaku, LALU MEMBUATKU JATUH CINTA DAN SEKARANG KAMU MENCERAIKAN KU BEGITU SAJA!! BAHKAN KAMU TEGA MENINGGALKAN AKU DAN ANAK KITA YANG BAHKAN BELUM KELUAR DARI RUMAH SAKIT!!"
Deidara meninggikan suaranya tepat di depan wajah Dewa dengan butiran air mata yang terus mengalir di pipinya.
Dewa masih terdiam karena takut pendengarannya salah. Dewa belum bisa percaya jika tadi Diandra sempat mengatakan dia jatuh cinta kepada Dewa.
"Kenapa Mas?? Kenapa kamu begitu kejam?? Kenapa kamu setega ini sama aku??"
Suara Diandra melemah dengan tatapan putus asanya karena Dewa masih tak bergeming.
Dewa melepaskan tangan Diandra. Dia beralih mencakup wajah Diandra, mengusap pipi basah itu dengan jari-jarinya.
__ADS_1
"Katakan Dee, apa yang harus aku lakukan?? Aku tidak tau harus bagaimana, aku menuruti semua keinginanmu tapi kamu justru datang memakiku. Apa lagi yang harus aku perbuat Dee. Tolong jangan membuat hatiku semakin kebingungan"
Tatapan mereka berdua begitu dalam dengan jarak sedekat itu. Jelas sekali terlihat jika cinta mereka berdua begitu dalam.
"Jawab dulu pertanyaan ku. Apa kamu benar-benar rela melepaskan aku??" Suara lirih Diandra dengan bibirnya yang bergetar mampu membuat Dewa merasakan nyeri di dalam dadanya. Dewa menggeleng pelan lalu mengatakan apa yang ingi Diandra dengar dari pertanyaannya.
"Tidak, aku sama sekali tidak rela melepaskan mu. Aku melakukannya hanya karena menepati janjiku. Tapi bukan berarti aku rela Dee. Aku hancur, aku terluka" Diandra saat ini kembali melihat Dewa menangis di hadapannya. Pria kuat dan garang itu mengeluarkan air matanya hanya demi wanita seperti Diandra.
"Kalau begitu, jangan lepaskan aku!!"
Satu kalimat yang kelas dan tegas dari Diandra untuk Dewa.
"A-apa maksudmu Dee?? Bukankah kamu sendiri yang meminta?? Kamu juga tidak mau berpisah dengan anak kita, sampai aku rela memberikan hak asuh sepenuhnya kepadamu" Tangan Dewa masih setia berada di sisi kiri dan kanan pipi Diandra. Seperti tak mau jauh dari istri cantiknya itu.
"Memang aku yang meminta, tapi kamu sudah berhasil membolak balikan hatiku. Kamu sudah berhasil menguasai sepenuhnya Mas. Aku memintamu untuk tidak menjauhkan Akhtar dariku, tapi bukan perpisahan yang aku maksud. Tapi pertahankan aku di sisimu agar aku bisa selalu ada di dekatnya. Kenapa kamu tak paham akan hal itu, dan justru mengirimkan surat tidak penting itu?? Kenapa juga kamu harus sok berkorban sedangkan hati kamu saja sama hancurnya?? Kenapa kamu tidak menjadi egois lagi seperti saat kamu menikahi ku Mas, Kenapa??"
Diandra sudah berada dalam dekapan Dewa dalam sekali hentakan. Merengkuh tubuh yang begitu pas di pelukannya itu. Menghirup aroma tubuh Diandra yang begitu memabukkan itu dengan Dalam.
Diandra dapat merasakan punggung pria yang sedang memeluknya itu kembali bergetar. Dia tidak tau jika dirinya sebegitu berpengaruh bagi seorang Sadewa sehingga bisa membuat pria itu menangis sesenggukan.
"Maafkan aku Dee, aku memang laki-laki payah jika menyangkut tentangmu. Aku menjadi bodoh dan egois di waktu yang bersamaan" Tangis Dewa dalam pelukan Diandra.
"Tidak Mas, kamu salah. Kamu laki-laki terbaik yang pernah aku temui. Kamu rela melakukan apapun demi wanita yang kamu cintai, meski hatimu sendiri juga sakit. Kamu bisa berubah demi cintamu. Aku beruntung di cintai kamu Mas" Mereka berdua saling membasahi bahu masing-masing dengan air mata.
"Apa sekarang aku boleh menyimpulkan jika cintaku sudah terbalaskan Dee??"
Diandra mengurai pelukannya. Sekarang dia yang berganti mencakup wajah Dewa dengan ke dua tangannya. Meniru apa yang di lakukan Dewa tadi saat menghapus air matanya.
"Simpulkan sesukamu Mas, aku tidak akan mengelak lagi" Diandra tersenyum cantik untuk suaminya.
Betapa bahagianya Dewa saat ini, rasanya seperti mimpi. Diandra yang datang dengan ungkapan cintanya di saat pernikahan mereka di ambang perceraian.
"Aku mencintaimu, Diandra veronika" Ucap Dewa dengan suara yang rendah.
"Aku juga mencintaimu Mas Dewa, suamiku dan Papa dari anakku"
Detik berikutnya bibir mereka sudah bersatu. Tidak ada yang memulai lebih dulu, karena mereka berdua sama-sama menginginkannya. Saling meny*sap dan mengecap menyalurkan rasa cinta dan kerinduannya masing-masing.
__ADS_1
Bersambung...