
"Hay Akhtar anak Mama. Lihat, sekarang Mama datangnya nggak sendiri lagi. Mama sama Papa datang berdua, kamu senang kan?? Oh ya, kata Dokter, sebentar lagi kamu boleh pulang loh. Kamu udah nggak bobok disini lagi. Tapi di rumah sama Papa dan Mama" Diandra baru saja menggendong putranya sudah tam bisa berhenti berceloteh pada putranya.
Dewa bahkan sampai terharu mendengar penuturan istrinya.
"Jagoan Papa udah pinter ya. Udah pingin cepat pulang. Mau main sama Papa di rumah ya??" Dewa yang duduk di depan Diandra menciumi pipi Akhtar yang sudah semakin berisi.
"Iya Papa, besok kalau Akhtar udah besar. Papa ajari Akhtar melukis ya" Diandra menirukan suara anak kecil untuk menyahuti Dewa.
Dewa tersenyum mengusap lembut pipi Diandra. Dia begitu gemas dengan istrinya itu.
Mereka terlalu asik mengajak Akhtar mengobrol sampai tak ingat waktu. Bahkan bayi itu anteng tanpa mengeluarkan rengekan sekalipun. Sepertinya ikatan batin di antara mereka sangatlah kuat.
"Tuan, Nyonya, waktunya sudah habis. Silahkan adik bayinya harus istirahat lagi ya" Suster yang amat ramah itu mengambil alih Akhtar dari gendongan Diandra. Seperti biasa, rasa tak rela menyergap hati Diandra.
"Tidak papa, besok kita datang lagi kesini. Sebentar lagi kita juga akan membawanya pulang" Bisik Dewa merangkul bahu istrinya.
Dewa dan Diandra sempat memberikan salam perpisahan sebentar sebelum meninggalkan Akhtar yang terlelap di atas boxnya.
Suster yang sudah hafal dengan kedua orang itu hanya tersenyum lebar. Akhirnya dia bisa melihat pasangan itu datang berdua. Tidak sendiri-sendiri lagi seperti kemarin.
"Apa masih sakit??" Yang Dewa maksud adalah jahitan di perut Diandra.
"Sedikit, tapi sudah bisa berjalan dengan normal kok" Diandra memperlihatkan cara berjalannya dengan berjalan di depan Dewa beberapa langkah.
"Maafkan Mas yang tidak berada di sampingmu saat itu. Bahkan Mas juga tidak menjemputmu saat pulang dari sini" Dewa mensejajarkan langkahnya lagi dengan Diandra.
"Tidak usah dipikirkan Mas, lagipula kalau Mas Dewa tidak meninggalkan ku kemarin. Mungkin saat ini kita masih diam dengan perasaan masing-masing"
Dewa meraih tangan Diandra untuk di genggamnya. Hanya tangan Diandra namun rasanya sudah menjadi candu bagi Dewa.
__ADS_1
"Kamu benar, ternyata surat perpisahan yang aku berikan justru di balas suratan cinta dari kamu" Diandra terkekeh mendengar perkataan Dewa yang sok romantis itu.
🌻🌻🌻
"Loh Mas, kok kita ke sini??" Diandra baru sadar kalau arah mobil Dewa menuju ke kantor Ayahnya.
"Iya, Mas memang mau ke kantor Ayah. Ada yang ingin Mas sampaikan. Ayo turun!!"
Diandra hanya menurut apa kata Dewa. Dia berpikir bahwa suaminya itu ingin membahas masalah pekerjaan dengan Ayahnya.
Tapi Diandra baru ingat jika tidak ada hang tau sama sekali hubungannya dengan Dewa. Diandra tidak mau membuat Dewa terjerat berita miring karena datang bersamanya yang sudah lama tak muncul ke publik.
"Tunggu Mas!!" Diandra menahan tangan Dewa yang sudah menggandengnya.
"Kenapa sayang??"
"Ingat, tapi Mas sudah tidak peduli lagi. Tidak usah di pikirkan, Ayo!!" Diandra sudah tidak bisa mengelak lagi karena Dewa sudah menarik tangannya untuk masuk ke dalam gedung perkantoran itu.
Benar saja, baru saja Diandra masuk melewati pintu loby, semua mata susah tertuju pasangan serasi yang tampan dan cantik itu. Apalagi tangan yang saling bertautan menambah perhatian mereka terpusat pada dua orang yang tidak pernah terdengar bersama itu.
Walaupun mereka semua tau bahwa Diandra adalah anak bos mereka. Tapi bisikan-bisikan keheranan dari mereka tetap terdengar ditelinga Diandra. Dewa yang tau jika Diandra mulai gugup semakin mempererat genggaman tangannya. Tanpa rasa peduli pada sekitarnya seperti biasa, Dewa tetap berjalan dengan angkuhnya melewati puluhan pasang mata yang sedang terpesona dengan ketampanannya.
"Masuk!!" Suara Ayah Diandra sudah terdengar setelah sekretarisnya mengetukkan pintu untuk Dewa dan Diandra.
"Silahkan Tuan, Nyonya" Dewa dan Diandra masuk beriringan dengan di sambut senyuman hangat oleh Ayah Diandra.
Pria tua itu sudah menebak dari kedatangan mereka berdua, pastilah usaha Diandra untuk mempertahankan rumah tangganya itu berhasil.
"Ayah senang sekali akhirnya kalian kembali bersama, ayo duduk dulu kita ngobrol dulu." Sambut Ayah Diandra.
__ADS_1
Mereka bertiga kini sudah duduk saling berhadapan di ruangan yang cukup luas itu.
"Ayah, maaf karena kemarin saya sudah membuat keputusan yang membuat Ayah terkejut. Niat awalnya saya hanya ingin melepaskan Diandra agar bisa hidup bahagia tanpa saya. Tapi jangan salah paham dulu, saya melakukan itu bukannya saya tidak mencintai Diandra. Justru saya sangat mencintainya maka dari itu saya tidak mau melihat dia menderita jika hidup dengan saya" Diandra menyelipkan jari-jarinya pada jemari milik Dewa, kemudian menggenggamnya dengan erat.
Ayah Diandra mendengarkan dengan seksama apa yang di sampaikan menantunya itu, belum memberikan tanggapan apapun.
"Dan maksud kedatangan saya kesini bersama Diandra adalah untuk meminta Diandra kembali. Saya mohon pada Ayah untuk mengijinkan saya membawa Diandra pulang, kembali bersama, membangun rumah tangga kami lagi sedari awal" Dewa memandang Diandra dari samping dengan tangan mereka yang masih bertautan.
"Saya janji Ayah, saya tidak akan menyakitinya lagi. Saya akan menjaganya dan selalu berusaha untuk membuatnya bahagia. Saya tidak akan pernah melepaskannya lagi, saya mohon doa dan restu dari Ayah. Karena dulu saat menikahi Diandra saya belum pernah meminta restu dari Ayah melainkan paksaan"
Ayah Diandra tersenyum begitu haru, melihat putrinya yang begitu di cintai oleh Dewa. Ayah Diandra dari dulu memang berdoa jika kelak Diandra menikah, dia ingin putrinya itu di nikahi oleh pria yang bertanggung jawab dan bisa mencintai sepenuh hati. Dan kini semua harapan itu terkabulkan karena hadirnya Dewa sebagai menantunya. Walaupun awal pernikahan mereka di awali dengan paksaan dan saling menyakiti. Namun pada akhirnya hati mereka yang memilih merubah segalanya.
Kini tak ada lagi yang lebih membahagiakan bagi Ayah Diandra selain kebahagiaan putrinya itu.
"Nak Dewa, perbuatan kamu itu memang salah. Meski kamu memaksa menikahi Diandra, tidak sepatutnya kamu menyakiti Diandra. Tapi Ayah tidak menyalahkan kamu sepenuhnya. Diandra juga bersalah dalam hal ini. Seandainya saja Diandra menerima pernikahan kalian, mencoba membuka hatinya untuk kamu, pasti kamu juga tidak akan berbuat kasar kepada Diandra" Sebagai orang tua, Ayah Diandra mencoba di tengah-tengah mereka berdua.
"Tapi syukurlah kalau saat ini kalian sudah bersatu lagi. Ayah merestui kalian, Ayah selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian. Tolong jaga Diandra untuk Ayah, bahagiakan dia dan jangan sakiti dia lagi"
"Baik Ayah" Dewa jelas setuju dengan permintaan Ayah mertuanya itu.
"Dan untuk kamu Diandra. Jadilah istri yang baik, yang berbakti kepada suami. Jangan sampai hal ini terulang lagi. Kamu sudah bersuami, jadi jaga harkat dan martabat suami kamu" Pesan Ayah untuk putri kesayangannya.
"Iya Ayah, Diandra ngerti"
"Maaf ya Mas, Aku juga salah. Tak sepantasnya aku berhubungan dengan pria lain saat aku sudah bersuami. Maafkan aku yang sudah menyakiti hatimu" Diandra mencium punggung tangan kanan Dewa dengan takzim.
"Mas sudah memaafkan mu sayang" Dewa mengusap lembut kepala Diandra.
Bersambung...
__ADS_1