Obsesi Cinta Tuan Psycho

Obsesi Cinta Tuan Psycho
40. Maafkan aku


__ADS_3

"Silahkan Tuan" Niko menyerahkan laptopnya yang berisi bukti-bukti tentang pelaku pembakaran gudang miliknya.


Ternyata dugaan Dewa itu tidak meleset sama sekali. Niko benar-benar menyelidiki putra sulung Tuan Yoon, daan hasilnya kini sudah ada di tangan Dewa.


"B****sek!! Berani-beraninya dia mengusikku. Dia pikir aku takut dengan ancaman membakar gudang itu??" Dewa mengepalkan tangannya dengan kuat.


"Niko!"


"Saya Tuan"


"Lakukan sedikit sentilan untuk menggoyangkan perusahaannya. Jangan biarkan hancur dulu, kita lihat apa yang akan dia datang kepadaku atau tidak. Karena seharusnya dia akan datang dengan permintaan maaf"


"Tapi Tuan, jika dia justru memilih berbuat lebih nekat lagi daripada menjatuhkan harga dirinya untuk meminta maaf bagaimana??" Tanya Niko.


"Maka aku akan benar-benar menghancurkannya!!" Ucap Dewa dengan tajam. Membuat Niko yang sudah sangat mengenalnya pun tetap merinding jika Dewa sudah seperti itu.


"Lalu apa yang harus saya lakukan sekarang tuan??"


"Lakukan seperti yang aku perintahkan tadi, beri dia sedikit pelajaran. Dia orang baru di dunia seperti ini meskipun dia lulusan terbaik. Jadi beri dia sedikit sambutan" Ucap Dewa sambil menyilangkan kakinya di atas meja yang sejajar dengan sofa yang didudukinya.


"Baik Tuan, saya tau apa yang anda maksud"


"Kalau begitu kau keluarlah. Aku ingi istirahat" Titah Dewa.


"Saya permisi Tuan" Seperti biasa Niko membungkukkan badannya sebelum meninggalkan ruangan Dewa.


Dewa sudah terlalu biasa menghadapi masalah seperti ini. Jika pengusaha yang tau diri maka mereka akan langsung meminta maaf atas apa yang mereka lakukan pad Dewa. Tapi Dewa tidak akan pernah melepaskan mereka-mereka yang justru semakin menantang kekuasaan Dewa.


Dewa merebahkan tubuhnya di sofa. Bukan hanya badannya saja yang lelah, namun juga hatinya. Pikirannya menerawang jauh ke masa depan. Bayangan hidup bahagia dengan Diandra bersama anak mereka hanya bisa Dewa lihat dalam angannya saja. Karena hubungannya dengan Diandra kini semakin dekat dengan perceraian. Pernikahannya akan hancur dalam waktu tidak lebih dari satu tahun.


Sementara itu Diandra masih belum terlelap dalam tidurnya. Wanita yang semakin cantik karena aura kehamilannya itu masih menunggu suaminya.


Sudah hampir menunjukkan jam 12 malam tapi Dewa belum juga kembali ke kamarnya. Sejak tadi sore Dewa mengatakan butuh waktu untuk sendiri, pria itu memang sengaja mengasingkan diri ke ruang kerjanya. Bahkan Dewa dengan sengaja melewatkan waktu makan malamnya.


Diandra sebenarnya sudah sejak tadi ingin menyambangi suaminya itu, tapi dia takut kehadirannya justru akan membuat Dewa semakin menghindarinya.


Hanya rasa gelisah yang Diandra rasakan saat ini. Mau menghampiri Dewa dia takut, mau tidur pun tak bisa. Diandra hanya terus mencoba untuk memejamkan matanya, mengosongkan pikirannya yang membuatnya begitu sulit untuk terlelap.


Ceklek...

__ADS_1


Pintu ruang kerja Dewa terbuka. Ruangan yang luas itu hanya diterangi oleh lampu kecil di samping sofa. Namun terlihat jelas sekali siapa yang berbaring di sofa lebar itu.


Tap..tap..tap..


Suara langkah kaki yang semakin mendekat pada pria tinggi yang tertidur dengan lengan yang digunakan untuk menutup matanya.


Berlahan sofa itu bergerak karena seseorang telah duduk di samping pria itu. Memperhatikan wajah yang masih terlihat tampan meski sebagian wajah itu tertutup tangan.


Dengan selimut yang wanita itu bawa di tangannya, kini tubuh Dewa sudah tertutup hingga sebatas dada.


Untuk sejenak wanita itu memperhatikan wajah yang tak pernah membosankan untuk di pandang mata, sebelum dia beralih pada singel sofa yang berada di depannya.


Sofa yang cukup nyaman untuk orang itu menyandarkan kepalanya sambil terus memandangi Dewa yang telah terlelap dengan tenang.


Semakin lama matanya semakin berat, semakin tak mampu untuk menggerakkan kelopak matanya untuk sekedar berkedip. Wanita itu akhirnya tertidur dengan posisi duduk bersandar dengan tangan kanannya sebagai tumpuan kepalanya.


-


-


Tidur nyaman Dewa mulai terganggu dengan rasa tidak nyaman pada punggungnya. Ternyata tidur di sofa bukanlah pilihan yang bagus untuk dirinya.


Tangannya memijat leher belakangnya dengan matanya yang masih terpejam. Saat Dewa membalikkan badannya dia tersadar jika ada selimut yang menyelimuti tubuhnya. Barulah Dewa membuka matanya saat itu juga.


Dewa belum juga tersadar jika ada seseorang yang tidur di sofa tepat di depannya sampai akhirnya Dewa kembali membalikkan badannya seperti semula.


Dapat dilihatnya wanita yang tertidur menghadap ke arahnya. Tertidur pulas hanya dengan dress tipisnya yang bahkan tidak menutupi lututnya.


Dengan berlahan Dewa mendekati wanita itu, dan berjongkok di depannya. Wajah cantik yang berhasil penarik perhatian Dewa. Dialah Diandra, istrinya sendiri memilih tidur dengan posisi duduk seperti itu setelah memberikan selimut untuk dirinya.


Dewa menyingkirkan rambut yang sedikit menutupi wajah Diandra itu. Hingga tak sengaja jari milik Dewa menyentuh mata Diandra yang membuatnya terusik.


"Mas??" Diandra terkejut karena Dewa sudah berada di depannya.


"Kenapa tidak membangunkan aku saja??"


"Aku takut akan mengganggumu dam membuatmu semakin marah" Jawab Diandra tanpa mau menatap Dewa.


"Aku tidak marah sama kamu Dee" Jawaban yang belum bisa melegakan hati Diandra.

__ADS_1


"Kalau kamu tidak marah kenapa kamu memilih tidur disini?? Kamu juga terlihat menghindari ku Mas" Diandra masih setia menundukkan kepalanya. Karena saat ini, menatap Dewa berarti harus siap dengan jantungnya yang akan mulai tak normal.


"Aku tidak akan pernah marah padamu Dee. Kadang aku hanya butuh waktu untuk sendiri" Jawab Dewa.


"Tapi kenapa kamu seperti ini Dee??" Pertanyaan Dewa mampu membuat wajah Diandra terangkat.


"Seperti apa maksudnya??" Heran Diandra.


"Kamu seperti seorang wanita yang mencintai suaminya Dee. Dan itu justru membuat aku semakin takut. Aku takut dengan perasaanku yang mulai mempercayai jika kamu mulai mencintaiku Dee. Tapi kenyataannya sungguh tidak seperti itu"


Diandra masih mencerna apa yang Dewa ucapakan itu.


"Dengan sikapmu yang mulai perhatian, tutur katamu yang berubah lembut, mulai mengerti perasaanku, mencari ku saat aku tak ada di sampingmu, kekhawatiran mu kepadaku"


Kedua pasang mata itu saling menatap satu sama lain.


"Jujur saat dulu kamu begitu membenciku aku sangat ingin di perlakukan seperti ini sama kamu Dee. Tapi setelah aku merasakan yang aku inginkan dulu itu, justru aku ketakutan Dee. Aku takut tidak bisa melepaskan mu. Aku takut jika keegoisanku kembali muncul saat itu tiba. Aku sungguh tidak mau itu semua terjadi Dee"


Dewa meraih kedua tangan Diandra. Menggenggamnya dengan begitu erat.


"Maafkan aku yang begitu egois ini Dee. Jika saja aku tidak terlalu egois untuk memiliki sesuatu yang tidak pernah ditakdirkan untukku, pasti kamu saat ini masih bahagia bersama dengan pria yang kamu cintai. Sekali lagi maafkan aku Dee"


Diandra tidak sanggup menahan air matanya lagi. Dia selalu merasa paling tersakiti di dalam pernikahan itu. Tapi ternyata mereka berdua merasakan hal yang sama.


"Aku sudah memaafkan kamu Mas. Sekarang aku percaya jika cinta itu memang buta. Cinta bisa membuat orang melakukan apapun, tanpa memikirkan apa yang akan terjadi setelah itu"


Mata milik Dewa sudah memerah sedari tadi tapi dia mati-matian menahan agar air matanya tidak keluar menyaingi Diandra.


"Tapi di balik itu, aku bisa melihat ketulusan cinta kamu. Dulu aku selalu mengatakan cinta yang kamu ucapkan itu hanya obsesi semata. Tapi kini kau mulai mempercayai apa yang kamu katakan itu Mas"


"Dan harusnya aku yang meminta maaf padamu, karena aku tidak bisa membalas cintamu itu.Ada seseorang yang dengan setia menungguku. Dia sudah lebih dulu hadir di dalam hidupku Mas" Sambung Diandra dengan deraian air matanya. Tapi kali ini bukan karena ungkapan hati Dewa lagi, melainkan karena dia seperti menyesali apa yang baru saja dia ucapkan.


Dewa tau jika pembicaraan di pagi buta ini terus dilanjutkan maka akan semakin menyakiti hati mereka berdua.


Dewa mengusap air mata mata Diandra di kedua pipinya.


"Sudah, tidak usah bahas ini lagi. Kita sudah tau ujungnya akan kemana, tapi jika di lanjutkan pasti akan sangat panjang. Maaf karena mengungkitnya lebih dulu. Sekarang kita kembali ke kamar. Masih pagi buta begini lebih baik lanjutkan tidurnya daripada menangis seperti ini" Ucap Dewa masih dengan tangannya di pipi Diandra.


"Kamu masih mau di sini atau...."

__ADS_1


"Aku kembali ke kamar bersamamu. Aku tidak akan menyia-nyiakan waktu bersamamu yang hanya tinggal tersisa satu kedipan mata ini"


Bersambung...


__ADS_2