Obsesi Cinta Tuan Psycho

Obsesi Cinta Tuan Psycho
56. Pengakuan Tara


__ADS_3

"Apa yang mau kamu bicarakan Tara??"


Dewa membiarkan Tara masuk ke dalam kamarnya.


"Apa sebaiknya kita bicara di luar saja Kak??" Tara merasa tak yaman dengan keberadaan Diandra.


"Kenapa?? Di sini saja, biar Diandra juga tau apa yang ingin kamu katakan. Aku tidak mau nanti ada salah paham"


Akhirnya Tara hanya pasrah dengan rasa ketakutannya.


"Jadi??" Dewa menatap Tara penuh tanya.


"Kak, aku minta maaf sebelumnya" Tara tidak berani menatap mata Dewa.


"Maaf untuk apa?? Apa kau berbuat kesalahan??"


Pertanyaan Dewa langsung membuat Tara bergetar, tidak tau apa yang harus dikatakannya terlebih dahulu.


FLASHBACK ON


"S*alan!!"


Manda berteriak di dalam kamarnya, yang juga kamar Tara.


"Gue nggak akan tinggal diam, setelah ini aku harus cara untuk memisahkan mereka berdua!!" Manda mengacak rambutnya dengan kesal.


"Kak, sudahlah. Mungkin Kak Dewa memang bukan jodohmu. Dia tidak bisa kembali lagi padamu. Lebih baik lepaskan saja, aku juga sudah mencoba melupakannya. Aku sadar jika dia bukanlah orang yang ditakdirkan untukku" Tara mencoba menenangkan Manda.


Tara sadar jika dirinya juga turut andil dalam masalah ini. Karena Tara lah yang mengundang Manda untuk datang ke sana.


"Ohh, jadi kamu sudah menyerah?? Sikap aneh mu beberapa hari ini karena kau telah menyerah ternyata??"


Manda tertawa dengan sinisnya, dia menertawakan Tara yang menurutnya sangat munafik. Tara sendiri yang waktu itu mengajaknya bersaing namun dia sendiri yang menyerah lebih dulu.


"Bukannya menyerah Kak, tapi aku sudah sadar jika apa yang aku lakukan ini tidak benar. Termasuk mengajakmu kesini. Jadi aku mohon hentikan Kak, sebelum Kak Dewa benar-benar murka kepadamu"


Tara sebenarnya mengkhawatirkan dirinya sendiri, jika Manda benar-benar nekat pasti namanya juga akan terseret.


"Tenang saja Tara. Jika itu terjadi aku tidak akan jatuh sendirian, kamu juga akan merasakan akibatnya" Manda menatap Tara dengan sengit, seolah dia sudah mengibarkan bendera perangnya.

__ADS_1


"KAK!!" Teriak Tara tak terima.


"Kenapa hah?? Takut?? Itu juga akibat ulah mu sendiri. Kalau kau ingin aku diam maka jangan pernah hentikan aku!!" Manda mengatakan itu dengan jari telunjuknya yang tepat di depan wajah Tara.


"Aku sekarang memang harus pergi dari rumah ini. Tapi sebentar lagi Diandra yang akan aku buat meninggalkan rumah ini, dengan sadar atau dengan paksaan sekalipun!!"


Mana berbalik dan menarik kopernya keluar dari kamar Tara. Meninggalkan Tara yang diam karena rasa takutnya dengan ancaman Manda. Dia tau betul jika perempuan itu tidak akan main-main dengan ucapannya itu.


FLASHBACK OFF


"Kak Maaf" Sekali lagi Tara mengucapkan kata itu, tapi kali ini air matanya ikut menemaninya.


"Kenapa kamu menangis?? Katakan yang jelas Tara!! Kamu minta maaf untuk apa??" Dewa sudah tidak bisa menahan kesabarannya. Dia bisa sabar hanya dengan Diandra.


Sementara Diandra menjadi pendengar yang baik tanpa mau menyumbangkan suaranya. Dia hanya menatap Tara yang berdiri di depan suaminya itu.


"Sebenarnya aku.." Tara justru terdiam setelah itu.


"Kalau kamu hanya main-main saja lebih baik keluar saja. Aku lelah, aku ingin bersama istriku"


Diandra malah tersipu dengan tak tau dirinnya, di saat Tara sedang menangis dengan ketakutannya.


"Tunggu Kak, aku akan jelaskan" Tara menarik nafasnya panjang.


"Apa?? Apa maksudmu melakukan itu??" Desis Dewa.


"Maaf Kak, waktu itu aku tidak terima Kak Dewa menikah dengan Diandra. Jadi aku menghubungi Kak Manda agar datang kesini. Aku merasa jika mendatangkan Kak Manda kesini dapat menarik perhatianmu kembali sehingga kamu mencampakkan Diandra. Tapi ternyata aku salah" Tara sudah benar-benar tidak berani mengangkat kepalanya. Lehernya seperti patah tak mampu menopang kepalanya.


Berbeda dengan Dewa, Diandra sudah tidak terkejut lagi dengan pernyataan Tara itu. Dia sudah menebak dari awal jika memang itulah rencana mereka berdua. Menyingkirkan Diandra dari sisi Dewa. Tapi siapa sangka, rencana mereka sungguh tak berarti bagi Diandra.


"Tara kamu...?? Aku benar-benar tak menyangka dengan sikapmu itu. Apa yang sebenarnya kau pikirkan sehingga berani-beraninya menarik Manda ke dalam kehidupanku lagi!!"


Suara Dewa yang tajam, matanya yang menusuk, serta wajahnya yang sudah tampak menyeramkan mampu membuat Tara tak berkutik sama sekali.


"Maaf Kak" Tara mengusap air matanya berkali-kali.


Dewa membalikkan badannya untuk menahan kemarahannya pada Tara. Menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ingin berteriak tapi dia menahannya karena ada Diandra.


"Jadi pertemuanku dengan Manda di pantai itu juga sudah di atur olehmu??"

__ADS_1


Dewa kembali menatap Tara untuk mendapatkan jawabannya. Dan anggukan dari wanita yang sudah di anggap adik olehnya itu membuat tangan Dewa mengepal kuat. Jika Tara laki-laki pasti sudah mendarat pukulan di wajahnya.


"Keluar!!" Dewa berusaha menahan suaranya agar tidak meninggi.


"Tapi Kak.."


"Keluar sekarang juga atau aku benar-benar akan membuatmu keluar dari rumah ini sekarang juga seperti sekutu mu itu!!"


Dewa sudah tidak mau melihat wajah Tara lagi. Semarah apapun pada Tara, Dewa tidak pernah bertindak di luar batas. Karena Dewa menyayangi Tara sebagai adiknya walau Dewa selalu menyebut Tara sebagai pengganggu.


Dengan berat hati dan dengan maaf yang belum di dapatkan Tara dari Dewa. Tara terpaksa melangkahkan kakinya keluar dari kamar mewah itu.


Dia tidak tau apa yang akan dilakukan Dewa kepadanya setelah ini. Tapi hatinya sedikit lega setalah mengatakan kesalahannya itu kepada Dewa. Menurut Tara, lebih baik dia mengatakannya sendiri kepada Dewa daripada Dewa harus mendengar dari Manda.


Tara sudah mengambil resiko itu, jadi Tara akan menanggung semua akibat dari perbuatannya.


Sejak Tara mendengar petuah Bryan pada waktu itu, Tara menjadi berpikir pajang hingga tak dapat memejamkan matanya sampai pagi.


Merenungkan semua perkataan Bryan jika cintanya yang selalu di gadang-gadang itu hanyalah obsesi dan ketergantungan belaka.


Setelah Tara keluar dari kamar mereka, Dewa masih di selimuti kemarahan. Dia belum juga kembali ke samping Diandra.


Dewa terkejut karena tiba-tiba dia merasakan tangannya di genggam seseorang. Siapa lagi jika bukan Diandra. Tapi tadi Dewa masih melihat Diandra duduk di ranjang, tapi tiba-tiba saat ini sudah berada di sampingnya. Meraih tangannya, mengusap lengannya.


"Sudah Mas, tenangkan dirimu" Diandra mengusap dada Dewa yang masih naik turun karena menahan kemarahannya.


"Tapi Dee, Tata benar-benar sudah keterlaluan. Rasanya aku ingin sekali memarahinya saat ini juga, tapi aku takut tidak bisa mengendalikan diriku. Tara selama ini sudah aku anggap sebagai adikku sendiri. Aku menyayanginya sebagai adik Dee. Tapi justru sikapku yang sering menuruti keinginannya membuat Tara selalu menganggap aku ini mencintainya"


Diandra langsung melingkarkan tangannya di pinggang Dewa. Memeluknya, menepuk punggungnya dengan pelan. Diandra melakukan itu untuk menghentikan Dewa yang berapi-api. Dari sorot mata dan kalimat panjang yang baru saja Dewa katakan jelas menunjukkan kekecewaannya pada Tara.


"Aku tau kamu kecewa Mas, tapi lihatlah Tara. Dia sudah menyadari kesalahannya. Dia sudah berani menghadap kamu, meminta maaf darimu. Kamu boleh marah, boleh meluapkan emosi kamu saat ini. Tapi aku harap setelah ini aku bisa melihat Mas Dewa yang sabar dan pemaaf seperti saat menghadapi aku"


Dewa membalas pelukan Diandra dengan erat. Menjadikan bahu Diandra sebagai tumpuan dagunya. Memejamkan matanya, menghirup harum dari Diandra yang begitu menenangkan.


"Tapi Dee.."


"Bisa kan Mas??" Diandra memotong bantahan yang akan di lalukan Dewa.


Akhirnya dewa mengangguk pelan di bahu Diandra. Diandra tersenyum karena bisa menenangkan Dewa.

__ADS_1


"Aku tau di balik sikapmu yang keras sebenarnya hatimu baik Mas. Entah benar atau salah penilaian ku. Tapi sejauh ini, aku melihatnya begitu"


Bersambung...


__ADS_2