Obsesi Cinta Tuan Psycho

Obsesi Cinta Tuan Psycho
68. Secercah harapan


__ADS_3

"NIKO!!"


Dewa berlari menuruni anak tangga dengan cepat, bahkan beberapa anak tangga bisa dilewati dengan satu langkahnya yang panjang.


"Iya Tuan??" Niko ikut panik karena melihat Dewa berlari memanggil namanya.


"Niko, aku baru ingat satu hal" Dewa menelan air liurnya untuk mengatur nafasnya.


"Apa itu Tuan??"


"Cincin, cincin pernikahanku dan Diandra. Kau ingat itu kan??" Dewa dan Niko saling menatap, kemudian mata Niko terlihat melebar seperti mendapatkan sebuah ingatan yang telah dia lupakan.


"Saya ingat Tuan, saya mengerti!!" Kini giliran Niko yang berlari ke ruang kerjanya untuk mengambil laptopnya.


Dewa berjalan dengan pelan menyusul Niko yang sudah tidak terlihat lagi. Ada sebuah senyuman yang Dewa ukir di bibirnya yang merah itu. Ada secercah harapan baginya untuk mengetahui keberadaan Diandra.


"Maaf Tuan, saya tidak ingat sama sekali tentang hal ini" Ucap Niko setelah Dewa tiba di ruangan Niko.


"Tak apa Niko, saya juga baru ingat setelah melihat cincin ini" Dewa tersenyum melihat cincinnya sendiri.


"Untung saja dulu Tuan sempat memiliki pikiran untuk memasang GPS di cincin milik Nyonya. Ternyata Tuan sudah memiliki firasat seperti ini" Niko terus terfokus pada laptop di depannya.


"Benar, mengingat berbagai masalah yang sering aku hadapi aku harus berpikir ke depan Nik. Tapi nyatanya hal itu tidaklah cukup untuk melindungi Diandra" Wajah Dewa kembali meredup.


"Setelah ini saya akan memperketat keamanan lagi Tuan. Saya akan merubah sistem keamanan kita, untuk menghindari hal ini akan terulang lagi Tuan"


"Sudah, itu pikirkan nanti Nik. Sekarang bagaimana hasilnya?? Kau sudah menemukan titiknya??"


"Sudah Tuan, silahkan"


Niko menggeser laptopnya agar Dewa bisa melihatnya dengan leluasa.


"Ini tidak jauh dari sini Nik. Kita berangkat sekarang!!"


Dewa dan Niko bergegas menyiapkan diri, beserta anak buah yang sudah di berikan arahan oleh Niko. Mereka tak ingin menunda apapun lagi untuk segera menemukan Diandra. Meskipun nanti Dewa mendapatkan kenyataan jika kepergian Diandra itu atas dasar keinginannya sendiri, tapi Dewa tidak akan menyerah sebelum mendengar pernyataan langsung dari mulut Diandra.


"Semuanya sudah siap Tuan!!" Lapor Niko kepada Tuannya.


"Baiklah, kita berangkat sekarang!!" Perintah Dewa yang sudah duduk di kursi belakang mobilnya dengan Niko sebagai orang paling setia mengemudikan mobilnya.


Tak peduli dengan hari yang kini sudah mulai menjelang subuh. Tak peduli juga dengan dirinya yang belum terisi makanan sedikitpun. Dewa tetap berangkat ke titik lokasi yang terdeteksi dari cincin Diandra.


"Semoga kamu dan anak kita baik-baik saja Dee. Aku sangat takut jika terjadi sesuatu pada kalian"


Niko melihat spion ke belakang, memastikan beberapa mobil yang mengikutinya di belakang tidak kehilangan jejaknya.

__ADS_1


Tentu saja beberapa mobil, karena tidak mungkin Dewa untuk pergi hanya berdua saja dengan Niko. Puluhan pengawal juga Dewa bawa bersama mereka saat ini. Alasan Dewa untuk membawa pengawal yang begitu banyak adalah, Dewa tidak bisa menebak apa yang akan terjadi di sana.


"Apa titiknya bergerak lagi Nik??"


"Tidak Tuan, masih tetap di sana"


"Baguslah, kita harus cepat sebelum titik itu berubah lagi"


Dewa kembali meremas tangannya, mengurangi rasa ketakutannya jika Diandra pergi semakin jauh lagi sebelum dia menemukannya.


Dewa melihat ke sisi jalan yang di lewati rombongan mobilnya. Terlihat gelap dan penuh pepohonan besar di segala sisinya. Tak terdapat cahaya sekalipun di sana termasuk lampu penduduk atau warung pinggir jalan juga taka ada sama sekali.


"Kenapa sepi sekali Nik?? Kita seperti sedang memasuki hutan"


"Benar Tuan, kita sudah memasuki kawasan hutan. Karena memang titiknya berada di tengah hutan"


Penjelasan Niko membuat Dewa terkejut bukan main. Bagaimana Diandra bisa sampai ke tempat itu jika Diandra pergi sendiri.


"Apa Nik?? Ditengah hutan??" Ulang dewa.


"Benar Tuan"


Dewa langsung meraup wajahnya dengan ke dua tangan. Rasa khawatir yang amat sangat berlebihan itu kembali menyeruak.


"Bagaimana dengan Diandra dan anakku Nik. Aku tidak becus menjaga mereka. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan mereka??"


"Tuan, saya mohon Tuan tenang dulu. Saya akan mencari Nyonya sampai ketemu tapi asal Tuan bisa mengendalikan diri. Kita harus tetap berpikiran jernih agar kita bisa segera menemukan Nyonya kembali"


Nasehat Niko yang bisa di telan oleh Dewa. Berlahan Dewa mulai mengendalikan dirinya sendiri.


"Kita sudah sampai Tuan. Titiknya berada di sini" Niko melepas seatbeltnya. Kemudian membuka pintu belakang untuk Dewa.


"Ini tidak salah Niko?? Di gedung tua ini?? Bahkan tidak terlihat tanda-tanda kehidupan di dalamnya"


"Saya yakin ini sudah benar Tuan"


"Benar Nik, tapi dari ini saya bisa menyimpulkan bahwa kepergian Diandra itu memang murni penculikan dengan memanfaatkan Bryan dan dengan akalnya menunggu saya keluar dari rumah" Dewa menatap gedung tua tak berpenghuni itu.


"Benar Tuan, saya juga berpikiran seperti itu"


"Ayo kita masuk!" Perintah Dewa membuat sebagian pengawal bergerak lebih dulu untuk memeriksa keadaan di depan. Setelah itu baru Dewa mengikuti di belakang bersama Niko di lanjutkan sisa pengawal lainnya berjaga di belakang Dewa.


BRAAKKK...


Satu kali tendangan dari dua orang pengawal bertubuh besar mampu merobohkan pintu yang menjadi penutup jalan utama memasuki gedung lembab dan gelap itu.

__ADS_1


Satu persatu dari mereka masuk dengan cahaya senter yang di pegang oleh para pengawal.


"Cepat periksa setiap sudut gedung ini, jangan sampai terlewat dan jangan sampai melukai Nyonya jika kalian menemukannya" Perintah Niko.


"Baik Tuan!!" Teriak mereka semua.


Semuanya berpencar termasuk Dewa dan Niko, tapi Dewa masih di ikuti beberapa pengawal di sisinya. Penjagaan mereka pada Dewa memang begitu ketat. Mereka tidak mau terjadi sesuatu yang berbahaya bagi Dewa.


"Tuan!!"


Teriak salah satu pengawalnya.


"Ada apa??" Dewa dan semuanya mendekat pada sumber suara itu.


"Saya menemukan ini Tuan!!"


Tunjuk seorang pengawal pada secarik kertas dengan sebuah cincin di atasnya. Dia tidak berani menyentuhnya sebelum Dewa melihatnya sendiri.


Dengan cepat Dewa menyambar kertas itu dan tak lupa juga cincin yang sangat dia kenali.


"Senter!!" Pinta Niko, dia mencoba menerangi kertas yang baru saja Dewa ambil di atas meja itu.


Dewa membuka dan membaca kalimat yang tertulis di dalamnya. Darahnya berlahan mulai mendidih karena merasa di permainkan. Dewa sudah mulai membayangkan apa yang akan dia lakukan pada lalukan pada orang yang telah berani mengusik ketenangannya itu. Kertas yang telah selesai dia baca itu diserahkannya kepada Niko setelah sebelumnya meremasnya hingga tak berbentuk.


Niko membuka kembali kertas yang terkoyak itu. Melihat pesan apa yang membuat wajah Dewa merah padam seperti saat ini.


*****


Akhirnya kau menemukan surat ini Tuan Dewa. Dan itu artinya kau benar-benar menginginkan apa yang telah aku bawa saat ini.


Jika kau menginginkan sesuatu yang menurutmu sangat berharga ini, temui aku seorang diri. Jangan libatkan siapapun atau aku akan membuat sesuatu yang paling kau sayangi ini musnah sampai kau tidak bisa melihatnya lagi walau seujung rambut pun.


Perintahkan semua anak buah mu pergi dari sana setelah kau membaca surat ini. Setelah itu ada seseorang yang akan menjemputmu.


Kalau kau berani mempermainkan aku, lihat saja apa yang akan aku lalukan kepada istri dan calon anakmu yang sangat kau sayangi.


******


"Tuan"


Niko melihat Tuannya yang sudah mulai tersulut amarah. Terlihat jelas di matanya jika jiwa kekejamannya mulai bangkit lagi setelah beberapa bulan terkubur dengan tenang.


"Turuti dulu apa yang dia inginkan Nik!" Perintah Dewa dengan suara yang sangat berat.


"Tapi Tuan..."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2