
Bugg..
Dewa menjauhkan wajahnya dari Diandra begitu mendengar benda jatuh.
"Haissss!! Kelapa jatuh rupanya" Kesal Dewa.
Kemudian terdengar tawa dari keduanya. Suasana canggung yang baru saja terjadi akibat c*uman yang gagal itu mereka tutupi dengan tawa sumbang dari keduanya.
"Apa yang baru saja aku lakukan?? Malu sekali rasanya!! Padahal ini bukan yang pertama untuk kita tapi rasanya seperti ingin mendapatkan c*uman pertama" Gerutu Dewa dalam hati.
"Kenapa aku hanya diam saja dia mau mencium ku?? Kenapa aku terlihat murahan sekali. Oh kelapa kau penyelamatku hari ini" Sahut Diandra di dalam hatinya.
"Jadi makan seafood nggak??" Tanya Dewa dengan masih membawa kecanggungannya.
"Ja-jadi ayo!!" Diandra berjalan cepat meninggalkan Dewa. Dia terlihat gugup seperti itu di depan Dewa.
🌻🌻🌻
Berbagai hidangan olahan seafood sudah tersaji di hadapan mereka berdua. Duduk menikmati makan malam di pinggir pantai dengan beberapa pasangan yang juga menikmati malam seperti yang di lakukan Diandra dan Dewa sekarang.
"Dee, apa kamu tidak memberitahu Ayah tentang kehamilan mu??" Pertanyaan Dewa menghentikan Diandra yang sedang menikmati daging lobster yang tebal itu.
Raut wajahnya tiba-tiba terlihat sendu.
"Aku juga ingin memberitahu Ayah, karena Ayah pasti seneng banget karena akan punya cucu. Tapi kalau ingat kesepakatan kita itu. Aku ragu, aku takut membuat Ayah kecewa. Ayah juga pasti sedih karena akan berpisah dengan cucunya" Diandra tiba-tiba merindukan Ayahnya itu.
"Dee, kamu tenang saja. Kamu jangan khawatir kalau soal itu. Meski kita sudah berpisah, aku tidak akan menghalangi kamu untuk menemui anakku. Begitupun dengan Ayah, kapan saja Ayah ingin melihat cucunya, pasti akan ku ijinkan" Jawab Dewa dengan kesungguhan yang jelas terlihat di matanya.
Tapi ada yang aneh di hati Diandra saat Dewa mengatakan anakku. Dari pertama juga dia sering menyebutnya begitu tapi tidak ada reaksi apapun dari Diandra. Tapi kali ini berbeda, rasanya tidak nyaman, tidak enak di dengar bahkan Diandra merasa tidak suka.
"Sudah lanjutkan dulu makannya, ini sudah malam. Kita harus cepat kembali" Perintah Dewa.
Rasa nikmat dari berbagai macam seafood yang tadi sempat dicicipi oleh Diandra kini terasa hambar. Jangankan memakannya lagi, menatapnya saja sudah tidak berminat.
Dewa merogoh ponsel yang ada di saku jaketnya, sudah dua kali ini ponselnya berdering dan yang pertama Dewa sengaja mengabaikannya. Dia tidak mau malamnya bersama Diandra terganggu oleh pekerjaannya.
Sampai akhirnya Dewa memilih mengangkat panggilan yang ternyata sari Niko itu.
"Ada apa??" Tanya Dewa dengan kesal.
".........."
"Apa?? Baik aku akan ke sana sekarang" Dewa segera memasukkan kembali ponselnya ke dalan saku.
"Dee?? Kita pulang sekarang ya??" Ucap Dewa, Diandra sangat bisa melihat jelas jika Dewa tampak cemas walau berusaha menutupinya dengan bersikap setenang mungkin.
"Ada apa sebenarnya?? Siapa yang menelepon?? Kenapa kamu jadi cemas seperti ini??" Tanya Diandra merasa khawatir.
"Niko, tapi bukan apa-apa. Hanya masalah pekerjaan. Kamu jangan khawatir, ayo aku antar pulang dulu" Dewa sudah bangkit dari kursinya. Sangat terlihat jelas jika dirinya terburu-buru.
__ADS_1
"Kamu mau pergi sekarang??"
Dewa menatap Diandra dan menganggukkan kepalanya dua kali.
Perjalanan dari pantai ke rumah yang hanya beberapa menit itu juga tanpa ada suara di antara ke duanya. Dewa tetap diam sampai mobilnya memasuki gerbang rumahnya.
Dewa membukakan pintu untuk Diandra lalu mengantarnya sampai ke dapan pintu rumahnya.
"Maaf aku tidak mengantarmu sampai ke kamar. Masuklah!! Minum Vitamin mu, ganti bajumu dan lekas tidur" Pesan Dewa dengan mengusap kepala Diandra sekilas.
"Apa kamu tidak akan pulang??" Tanya Diandra dengan sedih.
"Aku akan pulang, sekarang masuklah!!" Perintah Dewa.
"Tidak, aku ingin melihatmu pergi dulu!!"
"Baiklah, aku pergi dulu" Dewa berbalik menuju mobilnya dengan salah beberapa anak buahnya yang sudah menuggu di sana.
Tapi baru beberapa langkah Dewa kembali menghampiri Diandra.
"Ada yang ketinggalan??" Saat melihat Dewa berjalan kembali ke arahnya.
Cup..
Dewa mencium kening Diandra sekilas, tapi berhasil membuat Diandra membeku.
"Ini yang ketinggalan" Ucapnya setelah berhasil membaut pipi Diandra memerah.
Suara klakson mobil yang mulai menjauh itu barulah bisa membuat Diandra mengerjabkan matanya.
Diandra memegang dadanya, dia merasakan sesuatu yang ingin keluar dari sana.
"Tidak, ini tidak benar. Tidak, tidak!! Sadar Diandra!!" Diandra terus menggelengkan kepalanya.
Dia bergegas masuk, rasanya ingin menghubungi kekasihnya saat ini juga. Diandra terus meyakinkan hatinya jika hanya ada Bryan di dalam sana.
Beruntung saat dia masuk rumah sudah tidak ada wanita-wanita penggila suaminya itu di sana. Dia malas berdebat di saat suasana hatinya tidak karuan seperti itu.
Diandra langsung menuju kamarnya, melakukan apa yang Dewa perintahkan tadi. Kemudian dengan bersandar di ranjang, Diandra mulai membuka ponselnya. Sudah ada banyak pesan dan panggilan dari Bryan.
"Halo??" Jawab Bryan saat teleponnya baru saja tersambung.
"Bryan, maaf aku tadi tidak mendengar kamu meneleponku" Diandra merasa bersalah karena terlihat mengabaikan Bryan sejak telepon terakhirnya yang membuat Dewa marah itu.
"Aku kira kamu sudah mencintai pria kaya itu karena beberapa hari ini kamu mengabaikan ku" Ucapan Bryan membuat Diandra kelabakan.
"Bukan begitu Bryan, aku tidak bermaksud untuk mengabaikan mu. Tapi beberapa hari ini aku kurang enak badan, jadi aku tidak sempat membuka ponselku" Bohong Diandra.
"Kamu sakit Dee??" Bryan terdengar panik di sana.
__ADS_1
"Hanya gejala kehamilan saja, kamu tidak perlu khawatir. Sekarang aku sudah baik-baik saja"
"Aku khawatir dengan keadaanmu Didi, apa aku harus datang ke sana untuk menemui mu. Rasanya sudah sangat rindu, kenapa untum menemui mu sekarang begitu sulit"
"Sabar Bryan, ini sebentar lagi"
"Aku akan tetap menunggumu walau bertahun-tahun lamanya. Karena aku sangat mencintaimu Didi" Kata cinta yang dulu sangat membahagiakan jika di dengar di telinga Diandra kini untuk membalasnya saja begitu sulit. Rada bersalah menyeruak begitu saja dari dalam hati Diandra.
"Aku juga Bryan" Hanya itu yang mampu Diandra ucapkan. Lidahnya begitu berat untuk bergerak mengungkapkan cinta.
"Sekarang sudah malam, lebih baik kamu istirahat"
"Iya Bryan, kamu juga. Jangan terlalu lelah bekerja. Jaga kesehatanmu. Aku tutup teleponnya"
"Iya Didi, selamat malam"
Kalimat terakhir dari Bryan tidak mendapat balasan apapun dari Diandra. Dia langsung menutup teleponnya begitu saja.
Diandra meletakkan kembali ponselnya di atas nakas, lalu berbaring untuk mengistirahatkan tubuhnya yang mulai terasa berat itu.
Tampa Diandra sadari, ternyata pintu kamarnya sedikit terbuka. Membuat seseorang berdiri di sana, mencuri dengar apa yang Diandra bicarakan dengan Bryan.
🌻🌻🌻
Diandra terbangun jam 2 dini hari karena merasakan kemihnya begitu penuh. Tapi tidak melihat Dewa di sebelahnya.
"Apa dia belum pulang?? Sebenarnya kemana Mas Dewa?? Apa yang telah terjadi, tidak biasanya dia pergi malam-malam begini. Hufftt aku sungguh tidak tau apa-apa tentang dia" Gumam Diandra, kemudian berjalan ke kamar mandi.
Sudah terbiasa dengan seseorang yang tidur di sampingnya membuat Diandra merasa aneh jika ranjang di sebelahnya kosong.
Dia tidak bisa mencium bau harum yang selalu terpancar dari Dewa. Diandra begitu menyukai aroma tubuh suaminya itu. Menurutnya begitu lembut dan wangi. Walau saat malam hari Dewa tidak menggunakan parfum tapi entah mengapa Dewa tetap wangi di indra penciuman Diandra.
Diandra merebahkan kembali tubuhnya dengan pelan. Perutnya yang mulai membesar membuatnya harus berhati-hati untuk berbaring.
Cahaya matahari yang bisa menembus tirai putih itu membuat Diandra merasakan silau pada matanya. Padahal matanya masih terlalu berat untuk di buka. Diandra memilih memutar tubuhnya membelakangi cahaya, dan sedikit bergeser untuk menghindarinya.
Tapi Diandra akhirnya membuka matanya saat tangannya menyentuh sesuatu di ranjang yang tadi malam kosong di tinggal pemiliknya.
"Jam berapa dia pulang?? Kenapa aku tidak dengar??" Batin Diandra memandangi wajah Dewa yang terlelap menghadap ke arahnya itu.
Wajah tampan itu sama sekali tak berubah walau sedang terlelap begitu. Tetap saja tampan dengan alis tebal dan bibir yang berisi.
Tangan Diandra bergerak pelan menyentuh alis yang terbentuk indah secara alami itu. Hidung mancungnya pun tak luput dari jari lentik Diandra.
Kemudian bibir yang sangat menggoda itu juga tak luput dari incaran Diandra. Jarinya mulai ingin menyentuh bibir yang berwarna merah meski milik seorang pria itu.
GREPPP..
Belum sempat jari itu menyentuh bibir milik Dewa tapi pergelangan tangannya sidah tertahan oleh jari yang lebih besar dari miliknya.
__ADS_1
Bersambung..