Obsesi Cinta Tuan Psycho

Obsesi Cinta Tuan Psycho
74. Demi wanita yang kucintai


__ADS_3

"Jangan menangis!!" Suara lemah itu kembali terdengar.


"Mas?? Kamu sudah bangun??" Kali ini baru Diandra berani menyentuh Dewa. Langsung diraihnya tangan kiri Dewa yang bebas itu.


"Bukan bangun Dee, aku memang tidak tidur"


Akibat dari pukulan pada wajahnya semalam, kini wajah Dewa yang putih bersih itu sebagian besar berubah menjadi biru keunguan. Bahkan kelopak matanya saja ikut menghitam seperti orang yang tidak tidur satu minggu.


"Jangan bergerak, kamu tiduran saja" Diandra mencegah Dewa yang berusaha bangun dengan memegangi perutnya.


"Dee, kamu tidak papa kan?? Ada yang luka?? Anak kita baik-baik aja kan?? Kenapa kamu nggak minta perawatan dulu?? Kamu terlihat pucat, apa yang kamu rasakan??"


Diandra tersenyum tipis melihat betapa khawatirnya Dewa kepadanya. Baru bangun saja sudah memikirkan Diandra, padahal keadaannya sendiri memperihatinkan.


"Aku tidak papa mas. Lihat sendiri kan kalau aku baik-baik saja. Anak kita juga, dia kuat sekali di dalam"


"Syukurlah kalau begitu, tapi kamu pucat sekali, kamu juga belum makan kan??" Dewa meraih pipi Diandra yang sudah duduk di sampingnya.


"Nanti setelah aku istirahat pasti akan lebih baik. Niko sedang membelikan makanan untuk kita, jadi kamu tidak usah khawatir" Diandra menyingkirkan rambut di kening Dewa.


Dewa memejamkan mata menikmati sentuhan itu. Rasanya ingin dunia berhenti berputar saat ini juga. Menikmati waktu hanya berdua, saling menyentuh menyalurkan kasih sayang mereka.


Dewa sebenarnya bingung dengan perasaan Diandra kepadanya. Wanita di depannya ini terlihat begitu lembut dan penuh kasih sayang kepadanya. Dari tatapannya saja sudah memancarkan ketulusan. Mustahil jika Diandra tidak melakukannya dengan cinta. Tapi nyatanya, saat tadi malam Dewa kembali mengucapkan kata cinta, Diandra justru menjawab ala kadarnya.


Tak lama berselang, Niko datang membawa beberapa kantung plastik. Bukan hanya satu macam, Niko bahkan membeli lebih dari tiga macam makanan.


Niko tidak tau apa yang di inginkan majikannya itu, jadi Niko hanya membeli makanan yang menurutnya cocok untuk ibu hamil dan orang yang terbaring di rumah sakit.


"Ini makan siangnya Nyonya. Maaf saya tidak tau apa yang Nyonya sukai jadi saya membeli beberapa agar Nyonya bisa memilih. Sedangkan untuk Tuan Dewa saya sudah belikan bubur ayam kesukaan anda"


"Tak apa Niko, kamu bisa ikut makan sekalian" Diandra mendekati berbagai makanan yang tampak menggugah seleranya itu. Apalagi rasa laparnya yang amat sangat menyiksa membuat makanan apapun terasa sedap di pandang.


"Terimakasih Nyonya, tapi silahkan kalian nikmati berdua. Saya akan berjaga di luar" Sebelum Niko keluar dia sempat melihat Dewa tersenyum kepadanya.


"Kita makan ya Mas?? Aku suapi" Diandra sudah kembali ke sisi Dewa. Membantu suaminya itu untuk sedikit menegakkan badannya meski harus sedikit bersandar.


"Iya, kamu makan yang banyak. Biar anak kita kenyang" Dewa mengusap lembut perut uang berisi anaknya itu.


Dewa tak pernah melepaskan tatapannya dari Diandra sepanjang mereka menghabiskan satu porsi bubur ayam.

__ADS_1


"Untung aku nggak tremor kamu pandangi kaya gitu terus Mas" Diandra sama sekali tak melihat Dewa sama sekali saat mengatakan itu. Tapi Dewa justru terkekeh mendengarkan celetukan Diandra itu.


"Aku heran aja Dee, kenapa siang bolong begini ada bidadari yang menyuapiku disini" Diandra mencabik seketika karena gombalan Dewa itu.


Dewa kembali tertawa melihat reaksi Diandra yang menggemaskan itu.


"Mas??"


Panggilan Diandra langsung menghentikan tawa Dewa.


"Kenapa sayang??" Tatapan yang selalu lembut untuk Diandra.


"Terimakasih ya"


"Untuk??" Dewa tak melupakan kerutan di dahinya.


"Untuk semuanya. Apa aku perlu kasih tau kamu satu-satu?? Harusnya enggak kan??" Diandra memainkan jari-jari tangan Dewa.


"Kalau gitu aku nggak tau kamu berterimakasih untuk apa" Dewa memang benar-benar tidak tau Diandra berterimakasih untuk hal mana.


Meski melirik Dewa tak suka, tapi Diandra mulai mengatakannya satu per satu.


"Tapi aku memak..."


"Ssttttt" Diandra menempelkan jari telunjuknya di bibir Dewa untuk menghentikannya yang menyela omongan Diandra.


"Iya maaf" Dewa tertunduk patuh.


"Aku lanjutkan. Terimakasih untuk kamu yang sudah mau berubah demi aku dan anak kita. Untuk perhatian kamu, untuk kamu yang selalu menuruti apa mau ku meski kamu tidak mau. Seperti saat aku ngidam makan kerang waktu itu. Kamu padahal takut laut, tapi kamu tetap tidak mempedulikannya hanya demi aku. Lalu untuk hari ini, kamu menyelamatkan ku dengan mengorbankan nyawamu sendiri. Dan yang terakhir, terimakasih karena kamu telah menghadirkan dia di rahimku" Diandra menuntun tangan Dewa untuk membelai perutnya.


"Itu semua aku lakukan demi kalian, demi wanita yang aku cintai. Jadi semua itu tak ada artinya apa-apa buatku. Menurutku itu semua sudah kewajiban ku. Bahkan aku rela menyerahkan segalanya demi kamu dan anak kita" Diandra terharu dengan ketulusan Dewa itu.


Rasanya Diandra benar-benar batu jika tidak bisa beralih mencintai Dewa.


"Tapi kenapa kamu ceroboh sekali Mas?? Kenapa kamu mau mengikuti keinginan Daniel untuk membawamu seorang diri ke tempat itu?? Bagaimana jika Niko tidak bisa menemukan kita?? Bagaimana jika akhirnya kita berdua benar-benar berakhir di sana??" Diandra tiba-tiba kesal dengan sendirinya. Tapi itu semat-mata karena rasa khawatirnya pada Dewa.


"Tidak masalah, yang penting aku bisa berdua sama kamu di saat-saat terakhirku" Jawab Dewa dengan cengiran di wajahnya.


Diandra mendengus kesal mendengar jawaban tak masuk akal itu.

__ADS_1


"Kayaknya cinta benar-benar sudah mencuci otakmu sampai-sampai membuatmu jadi bodoh begini" Diandra mencibir dengan lirikan matanya yang tajam.


"Apa kamu bilang tadi??" Dewa mencubit hidung Diandra dengan gemas. Walau berwajah pucat seperti saat ini, tapi Diandra masih terlihat cantik dan menggemaskan.


"Kenapa memangnya??" Tantang Diandra.


"Dosa besar kalau ngatain suami tauk!!"


"Biarin, habisnya suaminya ngeselin" Sungut Diandra tak terima.


"Ngeselin apa ngangenin??" Dewa masih bisa menggoda meski kadang suaranya agak melemah.


"Apaan sih Mas, lagi sakit juga. Nggak usah iseng deh" Diandra melihat ke arah lain. Dia tidak mau bertatapan langsung dengan Dewa yang akan membuat pipinya mengembang.


"Jadi kalau nggak sakit boleh??" Dewa belum juga menghentikan aksinya menggoda Diandra.


"Udah deh Mas, aku pusing dengerin kamu ngomong nggak jelas kaya gini" Kesal Diandra mencari alasan agar Dewa tak membuatnya semakin tersipu.


"Kamu pusing??" Dewa berubah panik.


"Sedikit, aku juga ngantuk rasanya" Keluh Diandra. Memang benar apa yang dia katakan. Diandra tak tidur selama 24 jam kalau kalian lupa.


"Sini!!" Dewa menepuk ranjangnya yang tersisa setelah dia sedikit bergeser.


Diandra menggeleng. Tapi dia meraih lengan Dewa dan menjadikannya sebagai bantalan kepalanya.


"Gini aja ya, sekarang gantian aku aku yang usap kepalaku" Pinta Diandra sudah memejamkan matanya dengan kepalanya yang sudah bersandar pada ranjang dengan lengan Dewa sudah di jadikan bantal.


"Dee, kalau gini kamu nggak nayaman sayang. Pindah di sini saja ya??"


"Nggak mau Mas, gini bentar. Aku sudah terlanjur nyaman"


Dewa akhirnya mengalah, dan tangannya mulai bergerak mengusap kepala Diandra. Mata Diandra semakin berat, mungkin sebentar lagi akan benar-benar terlelap jika buka karena suara pintu di buka begitu keras membuat Diandra melonjak seketika.


BRAKK...


"Sayang!!"


Suara seseorang yang baru datang itu membuat Dewa cemas dan ketakutan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2