Obsesi Cinta Tuan Psycho

Obsesi Cinta Tuan Psycho
88. Melepasmu


__ADS_3

Tara kini sudah duduk di bangku yang berada di sisi Diandra. Dia pun terlihat tenang tak seperti tadi yang di penuhi amarah yang meletup-letup.


"Lalu Bryan bagaimana??" Tara penasaran dengan apa yang akan di lakukan Diandra pada pria itu.


Diandra melirik Tara, namun pikirannya kembali ke beberapa saat lalu.


FLASHBACK ON


"Aku akan keluar, aku akan memberimu kesempatan untuk menenangkan dirimu dulu"


"Tunggu Bryan!!"


Bryan kembali mendekat pada Diandra, mengurungkan niatnya untuk pergi dari ruangan itu.


"Katakanlah Diandra!! Apa yang menjadi beban di hatimu katakanlah semuanya. Aku sudah siap mendengarnya"


Bryan sudah pasrah seakan dia sudah tau apa yang akan Diandra katakan kepadanya.


"Maafkan aku Bryan" Hanya kata itu yang pertama kali terucap dari bibir bergetar itu.


Bryan tersenyum kecut mendengarnya. Bibirnya memang mampu tersenyum meski bukan senyuman yang tulus. Tapi tidak dengan hatinya, rasanya di dalam sana sudah ingin meneriaki wanita di depannya itu.


"Kamu tidak perlu minta maaf Diandra. Seharusnya aku sadar diri sejak pernikahan kalian. Tapi dengan keras kepalanya aku percaya bahwa cintamu akan tetap utuh untukku. Aku terus menerus menentang kenyataan bahwa berlahan cintamu sudah mulai terkikis"


Diandra terus menggelengkan kepalanya mendengar jawaban pilu dari Bryan. Tangis Diandra pun semakin menjadi. Di dalam rumah sakit yang seharusnya penuh ketenangan dan tempat istirahat, tapi Diandra justru memenuhinya dengan ratapan.


"Walaupun aku hadir lebih dulu di dalam hidupmu. Tapi posisiku saat ini kalah jauh Didi. Aku sama sekali tidak bisa mengimbangi posisi Dewa sebagai suamimu. Apalagi dia adalah sosok yang sempurna, dia kaya, dia tampan dia berkuasa. Jika di bandingkan denganku, aku bukanlah apa-apa"


"Tidak Bryan, aku tidak melihat kalian dari hal-hal seperti itu. Aku dulu mencintai kamu karena kesederhanaan mu, karena ketulusan mu padaku Bryan. Bukan tentang hal lain" Diandra membantah pernyataan Bryan yang seolah mengatakan jika Diandra menyukai Dewa karena pria itu mempunyai segalanya.


"Lalu apa yang membuatmu beralih mencintai Dewa?? Apa yang kamu lihat darinya Didi?? Dia kejam, dia bahkan menyiksamu sampai kamu gelap mata waktu itu" Dewa ingin tau alasan Diandra bisa berpaling darinya.


"Aku tidak tau Bryan"Yang jelas Diandra tidak sanggup mengatakan hal itu kepada Bryan. Dia tidak mau menyakiti Bryan semakin dalam lagi.


Bryan mengusap rambut Diandra dengan lembut, seperti yang sering dia lakukan dulu.


"Aku paham Didi. Tidak usah di pikirkan lagi. Seperti Dewa yang rela melepas mu demi kebahagiaanmu, aku pun begitu. Aku sudah mempersiapkan hatiku sejak lama untuk hal ini Didi. Aku juga sudah membayangkan semua ini akan terjadi. Jadi kamu tidak perlu memikirkan aku Didi. Berbahagialah dengan pilihanmu, suami dan anakmu menunggumu Diandra"


Diandra heran kenapa Bryan mampu mengulas senyumnya meski matanya sudah berair.


"Maafkan aku Bryan, aku sungguh-sungguh minta maaf" Walau Diandra mengucapkan maaf itu seribu kalipun, rasanya tidak akan cukup untuk menebus rasa sakit yang dia torehkan untuk Bryan.

__ADS_1


Memberikan pria itu harapan yang sangat besar tapi mematahkannya begitu saja. Siapapun juga akan merasakan sakit jika di posisi Bryan. Tapi mau bagaimana lagi jika hati dan pikiran sudah tak sejalan. Hati Diandra sudah berganti kepemilikan sedangkan pikirannya tak tega dengan Bryan. Diandra tidak bisa apa-apa lagi, selain mengikuti kata hatinya. Daripada melihat Bryan semakin tersakiti lagi, lebih baik Diandra melepas Bryan saat ini juga.


"Aku juga minta maaf karena tidak bisa mempertahankan cinta kamu Didi"


"Aku yang salah Bryan, kamu tidak perlu minta maaf" Diandra meraih tangan Bryan ke dalam genggamannya.


"Kalau begitu ijinkan aku berterimakasih padamu Didi. Terimakasih karen kamu sudah memberikan aku kesempatan untuk dicintai wanita secantik dan sebaik kamu. Terimakasih sudah pernah meninggalkan kenangan indah untukku. Mulai sekarang kita jalani hidup kita masing-masing. Kejar kebahagiaanmu begitupun dengan ku. Kita masih bisa berteman, tapi tidak untuk hubungan yang lebih dalam"


Brayan membalas genggaman tangan Diandra. Mungkin ini yang terakhir kalinya untuk mereka berdua.


"Terimakasih Bryan, sekali lagi maafkan aku" Lirih Diandra.


Sekali lagi Bryan mampu tersenyum kepada Diandra. Tapi senyuman itu membuat Diandra semakin merasa bersalah.


FLASHBACK OFF


"Jadi apa yang akan kamu lakukan setelah ini?" Tara mengeluarkan suaranya tanpa urat sekalipun.


"Setelah aku di ijinkan pulang, aku akan menemui Mas Dewa. Aku tidak akan diam saja Tara"


Terlihat jelas tekat di dalam mata Diandra sudah begitu bulat. Ternyata tadi Tara mengeluarkan banyak kata hanyalah sia-sia belaka. Niat awalnya dia datang ke sana adalah untuk menyadarkan Diandra agar menghentikan perceraian mereka. Tapi nyatanya Diandra sudah mengambil keputusan yang tepat menurut Tara.


"Tidak, aku akan berusaha sendiri" Tolak Diandra membuat Tara mengedikkan bahunya.


🌻🌻🌻


BRAKKK...


BUG..


BUG..


BUG..


PLAK..


PLAK..


BUG..


Dewa melampiaskan semua emosinya pada samsak hidup di depannya. Tak peduli samsaknya itu sudah tak berdaya lagi, Dewa terus menghujani samsak barunya dengan tinjuan, tendangan dan tamparan.

__ADS_1


"Katakan siapa yang membantumu merencanakan penculikan pada istriku!!" Dewa mencengkeram dagu samsaknya itu.


Tentu kalian sudah tau siapa yang kini menjadi bulan-bulanan Dewa. Mengurungnya selama beberapa hari ternyata berguna juga bagi Dewa.


Daniel masih diam saja meski giginya sudah tanggal beberapa karena pukulan dari Dewa.


"Katakan b****gan!!"


BUG..


BUG..


BUG..


Niko dan anak buah Dewa yang lain hanya diam menjadi penonton saja. Mereka sudah biasa melihat Tuannya melakukan hal seperti itu.


"Atau kau benar-benar ingin melihat Ayah, ibu dan adik yang kesayanganmu itu menjadi gelandangan. Silahkan pilih saja sesukamu. Katakan siapa orang yang mengatakan hubungan aku dan Diandra. JAWAB!!"


Dewa menggertakan giginya hingga berbunyi. Mungkin jika bisa, Dewa akan mengunyah Daniel dalam deretan giginya yang putih itu.


"Manda, dia orang yang memberitahu kelemahan mu kepadaku" Akhirnya setelah wajahnya berlumuran Darah, Daniel mengeluarkan satu nama yang sudah sejak awal Dewa curigai.


"S*alan!!" Dewa mendorong Daniel hingga tersungkur seperti saat Daniel membuat Dewa tak berdaya waktu itu.


"Kenapa?? Apa kau sudah terperdaya dengan makhluk satu itu?? Dia begitu terobsesi padamu sehingga rela melakukan apapun untuk memisahkan mu dengan istrimu. Bahkan dia tega ingin menyingkirkan istri dan anakmu" Walau dalam keadaan tersungkur, Dewa masih bisa memancing emosi Dewa.


"Dasar Apa kau juga ada hubungannya dengan kecelakaan kemarin itu??" Dewa menginjak betis Daniel bagian belakang.


"Kecelakaan apa maksudmu?? Aku tidak ada hubungannya dengan apapun itu setelah kau berhasil mengurungku di tempat terkutuk ini!!" Daniel bahkan tak merasa kesakitan saat ini.


"Jangan mencoba membodohi ku!! Kau tau sendiri apa yang akan aku lakukan pada keluargamu jika kau bernai membohongiku" Ancam Dewa sambil terus menekan sepatunya pada kaki Daniel.


"Terserah mau percaya atau tidak, yang jelas jangan pernah sentuh keluarga ku. Aku tidak peduli mau kau melenyapkan ku sekarang juga, tapi aku tegaskan sekali lagi, kalau aku tidak ada hubungannya dengan kecelakaan yang kau maksud tadi"


Dewa percaya dengan omongan Daniel kali ini. Berarti saat ini dia harus mengubah targetnya.


"Cari wanita itu Niko!!"


"Baik Tuan"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2