Obsesi Cinta Tuan Psycho

Obsesi Cinta Tuan Psycho
97. Aku takdirmu


__ADS_3

Mata Diandra langsung terkunci dengan oleh mata Bryan untuk beberapa Detik. Tidak ada getaran sama sekali dalam hatinya. Hanya rasa gugup karena kini ada Dewa di sampingnya


Sementara Dewa tau betul arah mata itu kemana. Dewa melepaskan tangan yang bergelayut manja itu dan beralih menggenggamnya.


Akhirnya Dewa membawa langkah Diandra kembali. Meski ragu, tapi Diandra terus maju mengimbangi Dewa menuju arah Bryan.


Tak sepatah katapun terucap dari bibir Diandra, begitupun Bryan yang tetap mematung di posisinya.


"Selamat!!" Satu kata itu muncul saat Dewa persis berada di hadapan Bryan.


"Akhirnya perjuangan anda untuk merebutnya dariku tak sia-sia" Bryan sudah mengulurkan tangannya ke depan.


Dewa tentu saja tak menghindar, dia menerima begitu saja uluran tangan Bryan.


"Tapi aku sudah menepati janjiku bukan?? Setelah kau menagih janji waktu itu, aku benar-benar mengirimkannya surat cerai. Tapi Diandra sendiri tidak mau menandatanganinya"


Diandra sempat melirik pada Dewa, dia tidak tau kapan Bryan menagih janji kepada Dewa.


"Benar, biar bagaimanapun itu tergantung Diandra. Pada kenyataannya memang hatinya sudah berpaling kepada anda" Bryan menatap Diandra dengan senyum pilunya.


"Maaf Bryan" Lirih wanita yang sedang menjadi topik pembicaraan itu.


"Tidak papa Diandra. Memang begitulah cinta, datang dan perginya tidak bisa di tebak. Lebih baik seperti ini dari pada nantinya kita sama-sama menyesal" Lagi-lagi Bryan memberikan senyuman penuh luka itu pada Diandra.


"Aku yang seharusnya minta maaf. Karena hadirnya aku di kehidupan kalian, dan dengan sengaja memisahkan kalian. Aku juga sempat putus asa tapi tidak tau kalau akhirnya akan seperti ini" Untuk pertama kakinya Dewa meminta maaf kepada orang lain. Yang biasanya acuh tak acuh kini dia benar-benar merendah. Memang Diandra adalah orang yang bisa merubah Dewa menjadi seperti itu.


"Terimakasih karena kesadaran anda Tuan Dewa. Tapi sepertinya aku harus menarik kata-kata yang pernah aku ucapkan kepadamu"


"Kata apalagi yang mereka maksud??" Diandra sungguh tidak tau apa-apa.


Dewa mencoba mengingat apa yang pernah Bryan katakan kepadanya.


"Segala sesuatu yang tidak ditakdirkan untuk anda miliki maka sekeras apapun anda berusaha, anda tidak akan pernah memilikinya"


Dewa ingat betul Bryan pernah mengatakan itu kepadanya di depan ruangan Diandra waktu itu.

__ADS_1


"Jadi, apa sekarang kau sudah mengakui jika Diandra memang ditakdirkan untukku??"


Bryan tersenyum kecut lalu mengangguk setuju. Dia harus menelan mentah-mentah kalimat yang pernah dia ucapkan.


"Kalau begitu sekali lagi selamat. Aku akan bahagia jika pernikahan kalian bahagia. Tapi aku tidak janji akan menahan diriku jika tau anda berani menyakiti Diandra lagi"


"Kamu tenang saja Bryan, aku yakin dengan pilihanku kali ini. Amas Dewa tidak akan pernah menyakitiku"


Rasanya sakit sekali mendengar Diandra yang terang-terangan membela suaminya itu.


"Baiklah Diandra, semoga pernikahan kalian selalu bahagia" Kali ini Bryan mengulurkan tangannya kepada Diandra.


Diandra ragu untuk menyambut uluran tangan itu, hingga dia melirik Dewa meminta persetujuan darinya.


Diandra menerima sentuhan lembut di punggungnya dan sebuah anggukan dari Dewa. Barulah Diandra berani meraih tangan yang dulu selalu menggenggamnya itu.


"Kalau begitu, aku pergi dulu. Sampai jumpa" Bryan meninggalkan pasangan itu begitu saja. Rasa di dalam dadanya yang mendorongnya melakukan itu. Dia memilih pergi karena sudah merasa sangat sesak di sana.


-


-


Sejak bertemu Bryan tadi, Diandra terus saja diam sampai saat ini mereka di dalam mobil.


"Kapan Bryan menemui mu untuk menagih janji Mas??" Diandra membalas pertanyaan kepada Dewa.


"Jadi itu yang mengganggu pikiranmu??" Diandra menatap Dewa meminta kejelasan.


"Kamu ingat saat Mas pergi setelah kamu mengatakan mendinginkan Akhtar??" Diandra mengangguk.


"Saat itu Mas berada di atap rumah sakit. Mas merenung di sana, sampai akhirnya tiba-tiba Papa datang ke sana. Papa menyuruh Mas untuk segera mengambil keputusan untuk menahan atau melepas mu. Sampai Mas ingin sekali menanyakan satu hal sama kamu. Andai jawabannya bisa memuaskan Mas, maka Mas akan egois dan tak melepaskan mu. Tapi saat Mas ingin masuk ke dalam ruangan mu lagi. Mas bertemu dengan Bryan"


Diandra sampai menegang sediri mendengarkan cerita Dewa.


"Bryan mulai menagih janji yang pernah Mas ucapan. Bryan tak ingin Mas menemui kamu lagi karena Akhtar sudah lahir, berarti Mas sudah saatnya pergi. Dan senyuman kamu saat menyambut kedatangan Bryan waktu itu akhirnya membuat Mas mengambil keputusan untuk benar-benar berpisah"

__ADS_1


"Memangnya apa yang ingin kamu tanyakan sebelum itu??"


Dewa memiringkan tubuhnya menghadap Diandra lalu meraih kedua tangan istrinya untuk di genggam.


"Mas hanya ingin tau, apa kamu sudah mencintai Mas saat itu. Seandainya sudah, Mas akan tetap mempertahankan kamu dan tidak akan peduli dengan janji yang pernah Mas ucapkan"


Diandra menarik tubuh Dewa lalu masuk ke dalam pelukannya.


"Lalu kenapa kamu tidak masuk saat itu?? Aku akan memberikan jawaban yang kamu inginkan. Aku juga sudah merancang jawaban itu jika Bryan menagihnya kepadaku" Diandra terisak di dalam sana.


Dewa merasakan dadanya basah karena air mata.


"Kita juga tidak harus berpisah seperti kemarin, kita juga bisa memberi nama Akhtar bersama-sama tanpa aku harus mengetahui arti namanya dari selembar kertas" Lanjut Diandra masih enggan melepaskan pelukannya.


"Maafkan Mas sayang. Waktu itu Mas lemah hanya karena senyum yang kamu berikan kepada Bryan"


"Bagaimana aku tidak tersenyum kepadanya. Dia yang menemani aku di sana saat kamu pergi. Aku kehausan sampai akhirnya dia yang membelikan minuman" Dewa ingat jika saat itu Bryan memang membawa kantong yang Dewa tak tau isinya.


"Maaf sayang"


"Tak apa Mas, tapi jika di pikir lagi. Setelah menerima surat itu darimu, itu membuatku semakin tidak ingin lepas darimu. Aku rela menjadi tawanan mu seumur hidupku Mas, walaupun kamu membawaku ke tempat yang jauh dan tak mengijinkan aku keluar. Aku mau selama bersamamu" Diandra sepertinya sudah sangat menggantungkan cintanya kepada Dewa sampai tak mengatakan semua itu.


"Tidak sayang, kamu tetap akan menjadi istri Mas tapi Mas tidak akan mengurung mu seperti kemarin. Sekarang kita tinggal di sini, dan Mas akan membebaskan kamu melakukan apapun yang kamu mau"


Diandra melepaskan pelukannya. Lalu mengusap air matanya dengan kasar.


"Satu hal lagi Mas, kata-kata apa yang Bryan ucapkan kepadamu??"


"Apa kamu sangat ingin mengetahuinya??"


Diandra mengangguk dengan pasti.


"Segala sesuatu yang tidak ditakdirkan untuk anda miliki maka sekeras apapun anda berusaha, anda tidak akan pernah memilikinya"


"Itu yang dia katakan sebelum masuk ke dalam ruangan mu"

__ADS_1


"Tapi sekarang aku milikmu Mas, aku takdirmu"


Bersambung...


__ADS_2