Obsesi Cinta Tuan Psycho

Obsesi Cinta Tuan Psycho
78. Bertemu Ayah


__ADS_3

Diandra melangkah masuk ke dalam rumah besar kediaman keluarga Bahuwirya. Rumah mewah dengan desain modern dengan material kaca menonjolkan kesan mewah dan elegan pada rumah itu.


Mama Bella benar-benar memboyong menantunya itu untuk tinggal di kediamannya. Seperti membuktikan omongannya yang ingin menjadikan Diandra sebagai anak perempuannya sendiri. Mama Bella bahkan menyiapkan mobil yang sudah seperti rumah berjalan hanya untuk menjemput Diandra.


Sungguh bahagia jika Diandra adalah menantu sungguhan di keluarga itu. Tapi nyatanya Diandra hanyalah istri yang akan bercerai setelah melahirkan pewaris dari keluarga Bahuwirya.


"Selamat datang di rumah kita sayang. Semoga kamu betah di rumah ini. Semoga kamu betah juga dengerin Mama yang bawel ini"


Diandra bahkan bisa tersenyum lebar mendengar candaan dari Mama mertuanya itu.


"Ayo Mama langsung antar ke kamar kalian saja. Kamu masih butuh banyak istirahat. Jangan sungkan sama Mama dan Papa. Ini rumah suami kamu jadi anggap rumah kamu juga. Kalau ada apa-apa tinggal panggil Bi Siti atau hang lainnya saja. Tidak perlu menyusahkan diri kamu sendiri" Ucap Mama Bella menggandeng anak perempuannya itu menuju kamarnya dengan Dewa.


Sementara Dewa masih tertinggal di belakang karena tadi di tahan oleh Niko untuk menandatangani berkas-berkas pentingnya.


"Nah ini kamar kalian. Kalau kamu nggak suka dengan interiornya, kamu bilang aja sama Dewa untuk mengubahnya. Mama juga sebenarnya kurang suka karena ini terlalu manly. Maklum ya, yang punya dulunya bujangan"


"Enggak kok Ma, Diandra suka kok. Sepertinya kamar ini sudah lebih dari cukup, baru masuk saja udah nyaman rasanya"


Kenyamanan-kenyamanan itulah yang membuat Diandra sering lupa diri jika Dewa bukanlah untuknya.


"Ya sudah kalau begitu, Mama keluar dulu. Istirahatlah, sampai jumpa lagi saat makan malam tiba" Mama Bella meninggalkan Diandra yang masih mengagumi seluruh bagian kamar mewah itu.


Kadang terbesit rasa sungkan di dalam hatinya. Bagaimana tidak?? Dirinya di perlakukan bak putri dari negri dongeng oleh orang tua Dewa, serta bagaikan seorang ratu oleh Dewa. Tapi Diandra justru akan mengecewakan mereka semua dengan keputusan yang akan Diandra ambil sebentar lagi.


Diandra melangkahkan kakinya mulai menyusuri kamar, melihat ruangan yang terpisah dari kamar mewah yang menaburkan wangi khas lelaki itu. Sebuah ruangan yang berisi deretan baju-baju mahal dan segala ***** bengek milik Dewa. Ruangan itu sudah seperti toko pakaian milik pribadi.


Lalu perhatian Diandra beralih pada satu demi satu foto yang berjejer di atas kabinet setinggi pinggangnya itu.


Foto-foto Dewa dari semenjak kecil yang menggemaskan hingga berubah menjadi pria tampan penuh pesona semua ada di sana.


Diandra bisa menebaknya jika semua itu pasti hasil karya Mama Bella. Melihat bagaimana sikap Dewa pasti pria itu tidak mungkin melakukan hal-hal manis seperti itu.


"Sedang mengagumi ketampanan ku hemm??" Dewa sengaja berbisik dari belakang Diandra untuk mengejutkan istrinya itu.


"Rasanya jantungku hampir saja jatuh menimpa anak kita Mas!!" Kesal Diandra dengan tangan yang mengusap dadanya.


"Maaf, kamu terkejut ya??"


"Kalau datang biasakan bersuara dong Mas, bikin kaget aja!!" Omel Diandra yang merasakan jantungnya masih berdetak begitu cepat.


"Iya maaf sayang" Diandra menoel pipi Diandra yang menggemaskan itu.


"Ikut Mas yuk!" Dewa menggenggam tangan Diandra.


"Kemana??"

__ADS_1


Dewa tak menyahut, dia hanya tersenyum dan menuntun Diandra keluar kamar.


Masih dalam kebingungannya Diandra berjalan berdampingan mengikuti kemanapun Dewa akan membawanya.


"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu"


"Siapa?" Dewa terus membawa Diandra berjalan menuruni tangga.


"Lihat sendiri saja"


Dari ujung tangga Diandra bisa melihat seseorang yang sudah lama ia rindukan, sampai tak berani hanya untuk sekedar mendengar suaranya.


"Ayah??"


Ayah Diandra yang sedang bercengkerama dengan Papa Elang langsung berdiri saat mendengar anak kesayangannya itu.


"Diandra, anak Ayah" Mereka berdua smaa-sama mendekat dengan mata yang sudah berair.


Melepaskan kerinduan masing-masing melalui sebuah pelukan hang sangat mereka rindukan.


"Diandra kangen Ayah" Ucap Diandra dalam pelukan Ayahnya.


"Ayah juga kangen kamu sayang"


Ayah Diandra melepaskan pelukannya ketika menyadari perut Diandra yang sudah sebesar itu.


"Iya, Ayah, satu bulan lagi. Cucu laki-laki untuk Ayah"


"Alhamdulillah" Mereka kembali berpelukan penuh dengan keharuan. Bahkan Dewa dan Papa Elang tidak berani mengganggu Ayah dan anak itu.


Tapi Diandra ingat jika di sana juga ada Papa mertua dan suaminya. Lantas Diandra.membawa Ayahnya untuk duduk kembali bersama Papa Elang.


"Terimakasih Tuan Elang dan Nak Dewa yang sudah memberikan saya kesempatan bertemu dengan anak saya" Diandra terus melingkarkan tangannya pada lengan Ayahnya. Seperti anak kecil yang takut di tinggal orang tuanya.


"Saya justru minta maaf Yah, karena baru saat ini saya mempertemukan Ayah dengan Diandra"


"Benar Pak, sekali lagi saya minta maaf karena Dewa yang meminta Diandra dengan paksa dari Bapak" Ucap Papa Elang dengan kewibawaannya.


"Tuan, sebenarnya saya juga salah dalam hal ini. Saya rela menjual anak saya demi kelangsungan hidup perusahaan peninggalan istri saya. Saya bukanlah Ayah yang baik untuk anak saya" Ayah Diandra tampak begitu menyesal jika mengingat saat melihat reaksi Diandra pertama kali mengetahui rencananya itu.


"Ayah" lirih Diandra.


"Jadi disini Nak Dewa bukan pihak yang bersalah. Karena saya secara sadar menyerahkan putri saya" Ayah Diandra memandang putrinya dengan tatapannya yang sayu.


"Sudah, sudah. Lagipula semuanya sudah terjadi. Dan kita lihat anak-anak kita juga bahagia. Lebih baik sekarang kita pikirkan kesehatan Diandra sampai dia lahiran nantinya. Memikirkan calon cucu kita sepertinya lebih asik daripada memikirkan hal yang sudah terlanjur terjadi"

__ADS_1


Mama Bella datang dari dapur dengan rentetan kalimatnya yang membuat ke empat orang itu tak berani bersuara.


Dari sambutan kedua orang tua Dewa kepada Ayahnya, juga sikap mereka memperlakukan Diandra dari kemarin, membuat Diandra membantah rumor diluaran sana yang mengatakan mereka adalah keluarga yang kejam dan sering menggunakan kekuasaannya untuk menindas orang lain.


Kenyataannya mereka begitu hangat dan saling menghargai walau Ayah Diandra termasuk jauh du bawah mereka.


🌻🌻🌻


Diandra sudah wangi dengan rambutnya yang masih sedikit basah. Dia duduk bersandar sambil menunggu Dewa yang masih berada di kamar mandi.


Ayah Diandra tadi baru meninggalkan rumah Dewa setelah jamuan makan malam yang di siapkan oleh Mama Bella. Baru setelah itu Dewa membawa Diandra ke kamar untuk membersihkan diri kemudian memulai waktu istirahat mereka.


"Kamu belum ngantuk Dee??" Dewa keluar kamar mandi sudah dengan baju tidurnya yang telah di siapkan Diandra tadi.


"Belum, nungguin Mas"


"Memangnya kenapa??" Dewa masih mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil di tangan kirinya.


"Sini!!" Diandra menepuk ranjang di sebelahnya.


Dewa menghampiri Diandra dengan senyum yang akan membuat semua wanita jatuh cinta.


"Kenapa hem??" Dewa duduk di tepi ranjang menghadap Diandra.


"Makasih ya Mas, kamu udah undang Ayah kesini"


"Sama-sama sayang, kenapa kamu bilang makasih terus. Aku sampai bosan mendengarnya" Canda Dewa.


"Ya nggak papa, padahal aku masih mau bilang makasih lagi loh"


"Untuk apa lagi??" Dewa menaikkan satu alisnya.


"Karena kamu sudah memperlakukan aku dengan baik"


Dewa mengunci mata Diandra dengan tatapannya.


"Dengar Dee, kamu tau sendiri jika aku mencintaimu. Tapi aku sadar karena cintaku ini sempat membuatmu tersiksa di awal pernikahan kita. Jadi walaupun akhirnya nanti kita akan berpisah, aku ingin mengukir kenangan indah dulu bersamamu. Tidak menyisakan kenangan buruk itu sama sekali. Jika menurutmu sikapku ini masih sering menyakitimu, tolong tegur aku. Jangan sampai aku menyia-nyiakan waktu yang hanya tinggal sekejap ini Dee"


Tanpa Diandra harus belajar pada ahli mikro ekspresi saja Diandra sudah bisa membaca jika apa yang di katakan Dewa itu begitu tulus dari dalam hatinya.


"Aku mencintaimu Diandra" Sekali lagi kata cinta itu keluar dari bibir Dewa.


Pandangan yang masih terkunci di putus oleh Diandra begitu saja karena dia memejamkan matanya.


CUP..

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2