Obsesi Cinta Tuan Psycho

Obsesi Cinta Tuan Psycho
72. Penyergapan


__ADS_3

Diandra terus mengusap pada bagian yang bengkak pada perut Dewa itu. Berharap bisa mengurangi rasa sakit pada tubuh suaminya itu.


"Jangan menangis, kamu jelek kalau menangis" Dewa tersenyum tipis dengan jarinya berada di pipi Diandra untuk mengusir air mata yang terus keluar dari mata indah istrinya.


"Kenapa masih bisa bercanda dalam kondisi seperti ini sih Mas!!" Diandra justru terlihat kesal.


"Memangnya kenapa??" Mata sayu Dewa tidak bisa membohongi siapapun jika dia sedang tidak baik-baik saja.


"Waktunya nggak pas!!" Lirik Diandra tajam.


Dewa terkekeh namun langsung memegangi perutnya karena terasa nyeri.


"Tuh kan!! Makanya jangan bercanda, udah tau sakit kok banyak gaya!!" Omelan Diandra membuat Dewa tersenyum.


Kebahagiaannya sekarang ditemukan. Berada di depan matanya dalam keadaan selamat sudah membuat Dewa begitu banyak bersyukur pada Sang Kuasa.


Jadi tidak dapat di pungkiri jika Dewa masih bisa menggoda Diandra dalam keadaan yang bisa di katakan hampir sekarat itu.


Dewa merogoh katung celananya. Memberikan sesuatu yang hilang dari Diandra.


"Ini punyamu kan??"


Diandra langsung melihat ke jarinya, dia bari sadar jika cincin pernikahannya tidak berada di tempat yang semestinya.


"Mas, ba-bagaimana ini bisa ada padamu?? Mas, kamu jangan salah paham dulu, aku tidak melepasnya. Aku ju..."


Dewa meletakkan jari telunjuknya pada bibir Diandra.


"Aku tau kamu tidak mungkin melepaskan cincin ini. Mereka sengaja melepas cincin ini untuk mengecoh tentang keberadaan mu. Mereka memancingku dengan cincin ini. Entah dari mana mereka tau kalau di dalam cincin ini sudah aku pasang alat pelacak" Jelas Dewa meraih tangan Diandra untuk memasangkan kembali cincin itu pada pemiliknya.


"Alat pelacak?? Jadi dari dulu kamu selalu mengawasi ku??" Diandra tak percaya apa yang Dewa katakan itu.


Pantas saja dulu saat Diandra mencoba kabur, Dewa selalu bisa menemukannya. Termasuk saat kencan bersama Bryan waktu itu.


"Maafkan aku. Mengingat pernikahan kita yang tidak pernah kamu inginkan, aku berpikir kamu pasti akan lari sewaktu-waktu. Jadi hanya dengan cara ini aku akan menemukanmu lagi. Kamu marah??"


Diandra otomatis menggeleng. Dia seharusnya marah tapi rasa itu tidak ada sama sekali di dalam hatinya.


"Kalau begitu, simpan ini baik-baik. Niko pasti bisa melacak kita melalui ini. Tapi kita berdoa saja semoga tempat ini masih ada jaringan sehingga alat ini bisa bekerja" Dewa mengusap pucuk kepala Diandra penuh kasih sayang.


"Pasti Mas" Diandra meraih tangan Dewa yang juga terdapat cincin di jari manisnya. Menyatukan tangan mereka yang begitu saman jika saling menggenggam.


"Aku mencintaimu Dee. Sangat- sangat mencintaimu" Tatapan mata Dewa tak terlepas dari wajah cantik paripurna milik Diandra.

__ADS_1


"Aku tau Mas"


Dewa hanya tersenyum kecut mendengar jawaban dari Diandra itu. Jawaban yang sama sekali tidak memuaskan bagi Dewa.


"Sekarang bolehkah aku tidur sebentar di pangkuan mu lagi Dee??"


"Tentu saja boleh, aku sudah tidak capek kok" Diandra mengambil posisi seperti tadi lagi.


Dengan pelan Dewa menjatuhkan kepalanya ditempat paling nyama saat ini.


"Usap rambutku seperti tadi Dee, rasanya sangat nyaman" Dewa menempatkan tangan Diandra di kepalanya.


Diandra tak bersuara tapi tangannya mulai melakukan apa yang Dewa minta tadi. Dengan terus memandangi wajah tampan di bawahnya, meski babak belur seperti itu, tapi Dewa tetaplah Dewa yang tampan.


Berselang beberapa waktu, Diandra mulai melihat Dewa yang tenang. Tidak seperti tadi yang sering meringis dan mengerutkan keningnya menahan sakit.


Tangan Diandra berhenti mengusap rambut Dewa, kini beralih pada wajahnya yang tampak tak mengeluarkan keringat lagi.


Tapi sesuatu yang aneh mulai Diandra rasakan. Wajah Dewa terasa dingin di tangan Diandra. Kemudian Diandra memegang tangan Dewa yang sama dinginnya.


"Mas??" Panggil Diandra dengan pelan.


"Mas Dewa bangun!!" Diandra menepuk halus pipi Dewa. Namun tak ada reaksi apapun dari Dewa.


"Mas jangan bercanda!! Jangan membuatku takut!!" Rasa ketakutan itu membuat Diandra tak bisa menahan air matanya sendiri. Dia begitu ketakutan saat ini.


"Tolong!! Tolong buka pintunya!!" Diandra memukul-mukul pintu besi isu dengan sekuat tenaganya.


"Tolong bantu aku!! Suamiku pingsan saat ini, dia butuh pertolongan, buka pintunya sekarang juga!!"


Diandra terus memukul pintu yang sama sekali tidak ada reaksi dari luar. Dengan putus asa Diandra kembali menghampiri Dewa yang berbaring tak bergerak di lantai.


"Mas, aku mohon bertahanlah!!"


Diandra meraih kembali Dewa ke pangkuannya. Menangis sejadi-jadinya sambil memeluk wajah suaminya.


🌻🌻🌻


Sementara itu Niko sudah membagi anak buahnya menjadi beberapa kelompok. Mereka sudah tau tugas masing-masing sesuai arahan Niko.


Setelah ke lima anak buahnya tadi berhasil menemukan jalan utama menuju tempat itu. Dan Niko yang berhasil mendatangkan anak buah Dewa dari kota melalui jalur udara. Niko siap untuk melakukan penggerebekan pada tempat itu.


Dan saat ini Niko sudah berdiri dari kejauhan, mengamati keadaan di gedung itu. Dengan melakukan arahan pada anak buahnya di sisi yang lain menggunakan ponsel. Niko siap menyerbu tempat yang diyakininya menjadi tempat penyekapan Tuan dan Nyonyanya itu.

__ADS_1


"Sekarang!!" Instruksi Niko.


Para anak buah Dewa muncul dari segala sisi membuat penjaga gedung itu tampak kebingungan mecari posisi untuk bertahan.


Secara membabi buta Niko menunjukkan skill bela dirinya. Tak di ragukan lagi pria pemegang sabuk hitam itu jika sudah berhadapan dengan musuhnya. Semuanya akan di libas saat itu juga, tanpa ampun tanpa perasaan.


Prok.. Prok.. Prok..


Suara tepuk tangan menggema setelah Niko dan para anak buah Dewa berhasil menerobos masuk ke dalam gedung tua itu.


"Wah, wah, wah. Hebat sekali ternyata k*cung setia Tuan Dewa yang berkuasa ini" Dewa melihat seseorang yang berjalan mendekat.


Sebenarnya Niko sudah menebak jika pelakunya adalah Daniel. Mengingat perbuatannya yang pernah dia lakukan kemudian perubahan sikapnya kemarin saat menemui Dewa.


"Kenapa kau tidak terkejut melihatku?? Apa kau sudah menebak siapa yang menyekap Nyonya mu?? Ternyata kau lebih pintar dari Tuan mu yang sedang di mabuk cinta itu" Tawa sinis mengiringi kalimat Daniel itu.


"Dimana Tuan Dewa?? Katakan sekarang juga atau aku ak..."


"Akan apa?? Apa yang akan kau lakukan padaku, M*****uh ku??" Daniel menatap tajam pada Niko.


"Untuk apa kau rela mati-matian melawanku hanya deni Tuan mu yang sudah sekarat itu??"


"Apa?? Apa yang sebenarnya kau lakukan padanya??" Niko sudah bergerak maju untuk menyerang Daniel.


"Tunggu dulu!! Jangan terburu-buru, tenang dulu. Aku akan melepaskan mereka asal kau membantuku membuat kesepakatan dengan Tuhanmu itu. Dia begitu keras kepala dan lebih memilih aku menghajarnya daripada menuruti keinginanku" Ucap Daniel dengan santai.


"Kurang ajar!!" Niko sudah tidak tahan lagi. Tujuannya menggerebek temat itu dengan lebih banyak pasukan adalah untuk mendapatkan Dewa dan Diandra kembali tanpa harus bernegosiasi lagi dengan Daniel.


Tapi pria itu justru menghambat jalannya dengan permintaan bodohnya.


Daniel tampak kewalahan melawan Niko yang sudah terlanjur marah. Semua anak buah mereka berdua juga mulai bertarung kembali hingga saat Daniel tersungkur, Niko mengambil kesempatan untuk masuk lebih dalam mencari ruangan yang digunakan untuk mengurung Diandra dan Dewa.


Ada banyak ruangan di sana, tapi dengan pencahayaan yang minim membuat Niko sedikit kesusahan untuk melihat dalam jarak jauh.


Niko menyadari jika pantas saja sinyal GPS dari cincin Diandra tidak bisa terdeteksi karena berada di ruangan yang tertutup rapat dan pengap.


Hingga dari kejauhan Niko melihat dua orang berjaga di depan sebuah ruangan. Itu membuat Niko semakin yakin jika ruangan itu yang dia cari.


Sambil berjalan mendekat, Niko meregangkan otot lehernya, dan menautkan jari-jarinya hingga berbunyi.


Niko mulai melayangkan tinjauannya pada dua pria bertubuh besar itu. Hanya dengan satu dua kali pukulan saja dua pria itu sudah kewalahan.


Namun tanpa Niko sadari, Daniel sudah berdiri di belakangnya membawa sebuah tongkat besi di tangannya.

__ADS_1


BUGG...


Bersambung..


__ADS_2