
"Hay sayang"
Jantung Tara hampir saja melompat dari tempatnya karena Bryan tiba-tiba saja sudah ada di belakangnya.
Tara yang tidak peduli dengan Bryan hanya memberikan tatapan tajam pada pria itu kemudian berlalu pergi tanpa tanggapan apapun.
"Tunggu, kamu mau kemana??" Bryan mencekal pergelangan tangan Tara.
"Bukan urusan kamu. Lepas!!" Ketus Tara.
"Kenapa sih kamu masih ketus begitu sama aku. Kamu belum maafin aku ya??" Bryan semakin menarik Tara hingga badan mereka hampir bersentuhan.
"Sudah ku bilang tidak ada yang perlu di maafkan, berarti aku tidak marah!!" Tara mulai kesal dengan hadirnya pria aneh itu beberapa hari ini.
Tara masih tidak tau apa maksud Bryan berbuat seperti ini. Watu itu Bryan dengan kejam menolak perasaan Tara dan tanpa ragu menghinanya pula. Tapi perubahan Bryan ini justru membuat Tara ketakutan.
"Kalau begitu jangan acuhkan aku lagi. Bukankah saat ini kita adalah pasangan kekasih?" Bryan menatap Tara begitu dalam tanpa penolakan. Bahkan Tara dengan berani menantang tatapan itu .
"Cihh.. Aku tidak sudi menjadi kekasih dari pria tukang menilai orang sembarangan sepertimu!!" Tara ingin berbalik tapi Bryan justru menarik pinggang Tara semakin mendekat.
"Sudah aku katakan maafkan aku soal itu. Kamu boleh menghukum ku semau mu asalkan jangan suruh aku menjauh darimu. Jangan acuhkan aku lagi seperti ini lagi" Bryan menurunkan suaranya hingga seperti berbisik pada Tara.
Tara masih menatap Bryan dengan sengit. Tapi tanpa Bryan ketahui, di dalam sana, jantung Tara sudah tidak dapat di kendalikan lagi. Tara hanya berdoa agar Bryan tidak bisa mendengar suara jantungnya saat ini.
"Apa tujuanmu sebenarnya?? Baru satu bulan yang lalu kau menolak ku, bahkan menghinaku dengan sangat kejam. Tapi saat ini kamu mengatakan jika kita pasangan kekasih??" Tara muak mendengar kata manis yang Bryan ucapkan itu.
"Apa kau hanya tidak mau kalah dari Diandra?? Kau ingin membuktikan kepadanya kalau kau bisa melupakannya secepat ini dengan menjalin hubungan dengan perempuan lain begitu?? Bilang saja kalau kau hanya ingin menjadikan aku sebagai pelarian kan??"
Tara merasakan tangan Bryan yang ada pada pinggangnya berubah mencengkeramnya dengan kuat. Tatapan mata Bryan yang tadi lembut dan dalam kini berubah menajam.
"Jangan menafsirkan sesuka hatimu Tara!!" Tara melihat Bryan seperti ingin menelannya hidup-hidup saat ini.
__ADS_1
"Lalu apa?? Waktu itu aku memang memintamu untuk membuka hatimu. Karena aku yakin berlahan pasti kau bisa mencintaiku. Tapi tidak akan pernah percaya jika akan secepat ini kau merubah perasaanmu. Makanya aku menyimpulkan seperti itu. Kenapa?? Tidak terima??"
Tara memang kepala batu. Menantang sesuatu yang jelas-jelas sudah menguasai dirinya, tumbuhnya bahkan hatinya. Ibarat rusa yang sudah di cengkeram singa tapi masih mencoba melawan dengan tanduknya.
"Kenapa diam?? Benarkan apa yang aku ka..."
Suara Tara tiba-tiba hilang tak dapat melanjutkan kata-katanya, karena bibirnya sudah disumpal dengan sesuatu yang basah dan lembut.
Tara bahkan sampai membeku tak dan tak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali di saat Bryan mencoba menggerakkan bibir miliknya.
Tangan Bryan yang semula di pinggang kini salah satunya bergerak naik menahan tengkuk Tara agar wanita itu tidak menjauh.
"Tara, Papa da.."
"Apa yang kalian lakukan!!" Papa Rayan begitu syok sampai badannya terhuyung ke pintu.
Sementara Bryan yang baru saja menikmati permainannya langsung gelagapan karena datangnya seseorang yang pasti akan menghajarnya ketika melihat anak gadisnya di cicipi bibirnya.
"Pa-pa" Badan Tara gemetar melihat Papanya tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya. Apalagi posisinya tadi yang sedang tidak dalam kondisi baik untuk di lihat orang lain.
"Saya akan jelaskan Pak Rayan" Bryan tiba-tiba saja menarik tangan Tara dalam genggamannya.
"Sebenarnya saya dan Tara sudah saling kenal, dan waktu itu kami sedang ada maslah sedikit jadi marah dan pura-pura tidak mengenali saya. Tapi berhubung Pak Rayan sudah melihat semuanya, dan saya bukan laki-laki pengecut. Saya akan jujur kalau Tara adalah kekasih saya saat ini" Tara langsung menghempaskan tangan Bryan.
"Apa-apaan ini!! Tidak Pa, jangan percaya dia. Dia bohong!!"
Tara menatap bergantian kedua pria di hadapannya itu.
"Begitulah Tara Pak. Kami sering bertengkar karena hal-hal kecil dan dia sering tidak mengakui hubungan kami. Saya tau ini bukan waktu yang tepat, tapi saya ingin meminta ijin pada Pak Rayan atas putri Bapak yang cantik ini" Bryan memerankan perannya dengan bagus dengan mengusap kepala Tara dengan lembut dan itu sungguh membuat Tara muak.
"Hentikan Bryan!! Sudahi sandiwara mu ini!! Aku mohon Papa jangan percaya sama dia!!" Tara menunjuk tepat di depan wajah Bryan yang sengaja memasang mimik putus asa.
__ADS_1
"Tara, jaga sikapmu!! Tidak baik memperlakukan kekasih mu seperti itu!!"
"Yes!!" Sorak Bryan dalam hati.
Tara semakin melongo karena ucapan Papanya itu. Dia yakin Papa Rayan sudah termakan omongan Bryan.
"Selesaikan dulu maslaah kalian. Papa pergi dulu. Dan kamu Bryan. Jangan sampai kamu bernai menyakiti anak saya. Biar dia kekanakan seperti itu, tapi dia adalah pelita hati saya" Papa Rayan pergi meninggalkan Tara yang darahnya sudah mulai mendidih.
Tara berlatih menatap Bryan yang sedang menatapnya dengan senyuman mengejek.
"Puas kamu!!" Bentak Tara.
"Tentu saja, sayang" Tara mengepalkan kedua tangannya karena Bryan sudah dua kali memanggilnya dengan sebutan itu.
"Keluar dari sini!!" Tunjuk tara pada pintu keluar.
Bryan justru memperlihatkan deretan giginya yang rapi pada Tara. Bukannya berjalan keluar, dia justru menarik Tara untuk duduk di sofa panjang dalam ruangan itu.
"Lepas!!"
Bryan melepaskan tangan Tara saat wanita cantik yang sedang mengerucutkan bibirnya itu sudah duduk di sampingnya.
Tara semakin terkejut saat Bryan tiba-tiba menjadikan kakinya sebagai bantalan untuk kepalanya.
"A-apa yang kau lakukan??" Tara terlihat jelas sangat gugup dalam posisi itu.
"Biarkan seperti ini sebentar. Aku lelah" Bryan memejamkan matanya kemudian menarik tangan Tara untuk menutup matanya. Tara hanya menurut tak menolak sekalipun.
Di posisi yang seperti ini, Tara bisa melihat wajah Bryan dari atas. Tangannya yang menutup mata Bryan membuat wajahnya hanya terlihat hidung dan bibir yang tadi sempat beradu dengan miliknya.
Melihat bibir menggoda itu membuatnya teringat dengan apa yang baru saja terjadi, dan itu berhasil membuat pipi Tara memerah. Tara mengigit bibinya bawahnya mengingat sensasi yang baru pertama kali dirasakannya itu. Terasa lembut dan panas secara bersamaan. Tara tak menyangka jika akan terbuai dengan apa yang Bryan lakukan tadi.
__ADS_1
"Buang pikiran kotor mu itu sayang. Atau aku akan memberimu lebih dari itu"
Bersambung...