Obsesi Cinta Tuan Psycho

Obsesi Cinta Tuan Psycho
50. Manda belum menyerah


__ADS_3

Matahari yang mulai naik dari singgasananya tidak mampu mengusik kedua orang yang masih saling berbagi kehangatan itu.


Belum ada yang terusik sama sekali bahkan dengan suara burung yang mulai berkicauan dengan merdunya.


Namun posisi mereka sudah tak sama lagi seperti semalam. Itu karena kehamilan Diandra yang semakin membesar membuatnya tak bisa bertahan lama dalam satu posisi.


Diandra yang semalam tidur membelakangi Dewa kini sudah berubah saling berhadapan. Namun tangan Dewa masih setia melingkar di pinggang Diandra dengan lengannya yang juga masih menjadi bantal untuk istrinya itu.


Hingga tak lama kemudian suara sesuatu mulai mengusik mereka berdua. Diandra tentu saja tau bunyi apakah itu. Tapi matanya yang masih terasa berat untuk terbuka mencoba untuk membiarkannya beberapa saat.


Tapi bukannya berhenti, justru suara itu semakin intens dan terdengar keras. Bahkan mampu membuat tidur Dewa ikut terusik.


Diandra yang merasakan pergerakan Dewa itu, berlahan membuka matanya. Siapa sangka jika mereka berdua langsung terkunci dalam tatapan masing-masing karena membuka matanya secara bersamaan.


Selama beberapa detik mereka tidak melepaskan pandangan mereka. Saling mengagumi pahatan wajah yang berada di depan mereka berdua.


Tapi suara yang mengusik tidur mereka itu muncul kembali. Membuat mereka berdua tiba-tiba terbahak bersama-sama.


"Kamu lapar??" Dewa menghentikan tawanya.


Diandra mengangguk menahan rasa malunya. Perutnya memang akhir-akhir ini sering tak tau diri karena tidak mengenal waktu untuk meminta di isi.


"Sekarang ayo bangun, bersihkan dirimu dulu baru kita sarapan" Dewa membantu Diandra untuk bangun dari tidurnya.


Diandra memandangi pria yang berada di sampingnya itu. Dia teringat saat tadi malam bisa tertidur dengan mudahnya saat berada di pelukan Dewa.


"Sudah puas mengaguminya Nyonya??" Sindiran Dewa itu langsung membuat Diandra membuang wajahnya ke samping.


"Aku tau aku ini tampan. Tapi ayo perutmu lebih penting saat ini" Dewa ternyata sudah berdiri di samping kanannya, tak lagi berbaring di sisi Kanannya. Diandra bahkan tidak tau kapan Dewa berpindah tempat.


"Percaya diri sekali anda Tuan" Diandra mulai meraih tangan Dewa untuk membantunya berdiri.

__ADS_1


"Mau ku antar ke kamar mandi??"


"Tidak, aku sudah bisa sendiri Mas"


"Kalau begitu aku bawakan sarapannya kesini, kamu tidak usah turun ya??" Diandra menjawabnya dengan anggukan dan seulas senyum yang menawan di hati Dewa.


Sungguh suasana pagi yang ada dalam impian Dewa sejak menikahi Diandra. Walau itu hanyalah sandiwara saja namun teramat sangat membahagiakan bagi Dewa.


Diandra tidak sadar jika apa yang dilakukannya saat ini justru menyakiti Dewa dengan semakin dalam.


Dewa pergi ke bawah degan keadaan yang masih berantakan. Rambutnya acak-acakan bahkan tidak juga mencuci mukanya. Tapi siapa yang akan mempermasalahkan hal itu karena nyatanya Dewa masih saja terlalu tampan tak berubah sedikitpun.


"Pagi Dewa" Manda menunjukkan senyuman terbaiknya pada Dewa.


"Apa yang sedang kamu lakukan di situ Manda?" Dewa tampak terkejut melihat Manda yang sudah menguasai dapur saat ini.


"Aku sedang membuat sarapan" Diandra menunjukkan beberapa piring yang sudah terisi dengan pancake.


"Memangnya kemana Ely sampai kamu harus membuat sarapan sendiri??"


Dalam hatinya sebenarnya dia juga membenarkan apa yang Manda lalukan itu. Hitung-hitung sebagai rasa balas budinya.


Dewa tak mempedulikan Manda lagi. Dia justru mengambil gelas dan menuangkan susu bubuk berwarna merah muda ke dalamnya.


Lain halnya dengan Dewa yang tak peduli sedikitpun pada Manda. Tapi wanita berstatus janda itu tak pernah berhenti melirik segala sesuatu yang di lakukan oleh Dewa.


"Susu buat Diandra ya??" Suara Manda membuat Dewa beralih pada wanita itu.


"Iya" Jawaban yang selalu singkat membuat orang lain merasa mati kutu di dekat Dewa.


"Beruntung ya Diandra, dia memiliki suami yang perhatian seperti kamu. Yang mencintainya setulus hati. Tidak seperti aku" Tiba-tiba Manda mengungkit pernikahannya di depan Dewa.

__ADS_1


"Sudahlah Manda. Tidak udah bandingkan pernikahanmu denhan orang lain. Karena semua tidak akan pernah sama. Itu juga dulu sudah menjadi pilihanmu sendiri. Mungkin itu bukan yang terbaik untukmu, makanya kalian saat ini bisa berpisah"


Dewa sesungguhnya tidak ingin menjadi penasehat untuk hubungan orang lain. Tapi telinganya panas karena mendengar Manda membahas masalahnya di pagi hari seperti ini.


"Kamu benar Dewa. Karena aku sadar yang terbaik hanyalah kamu"


Entah keberanian dari mana, Manda mulai mengungkit masa lalunya lagi.


"Manda aku sudah bilang jangan ung...."


"Aku tau Dewa, aku tau kalau kamu tidak mau mendengar secuil saja penderitaan ku ini. Maafkan aku yang masih terlalu berharap jika kamu adalah Dewa ku yang dulu. Aku minta maaf karena belum sadar juga jika hatimu sudah terisi oleh wanita lain" Diandra menunduk untuk menyembunyikan air matanya yang mulai menetes.


Dewa masih terdiam di tempatnya, bahkan susu bubuk yang telah dia tuang ke dalam gelas belum juga di isi oleh air.


"Tapi aku sudah berusaha semampuku untuk menghilangkan rasa ini untukmu Dewa. Tapi rasanya susah sekali. Rasa penyesalan itu terus menggerogoti hatiku. Jika aku di beri kesempatan sekali lagi untuk kembali ke masa lalu. Pasti aku memilih untuk tidak bertemu dengan Alex" Manda mengangkat wajahnya untuk memastikan Dewa tak pergi dari sana, karena sejak gadi dia tidak mendengar suara laki-laki itu menanggapi ocehannya itu.


"Seperti halnya yang kamu rasakan pada Diandra. Bukankah kamu tetap mencintainya meski dia bersama orang lain?? Aku tau pengakuanku ini sudah terlambat, tapi aku rasa kamu memang harus tau isi hatiku Dewa"


Tetes demi tetes air mata terus mengalir dari mata Diandra. Dewa yang melihatnya pun tak tau harus berbuat apa. Dia tak mau membuat Manda salah paham jika dia mengeluarkan kata-kata yang akan membuat Manda semakin berharap.


"Manda, masa lalu kita biarkanlah menjadi masa lalu. Kamu jangan terus terpaku dengan hal itu. Tenangkan hatimu dulu, aku yakin perasaanmu kali ini hanyalah imbas dari perceraian mu. Kamu kecewa dengan mantan suamimu, sehingga kamu selalu membandingkannya dengan ku"


Dewa ingin meninggalkan Manda di sana. Dewa yakin jika dia tetap di sana pasti pembicaraan yang sudah tak penting lagi baginya itu akan bertambah panjang.


Greepp...


Dewa tampak sangat terkejut karena tiba-tiba saja tangan Manda sudah melingkar di pinggangnya. Manda memeluk Dewa dari belakang.


Tapi yang membuat Dewa tampak pias adalah, Dewa melihat Diandra juga ada di sana. Tepat saat Manda memeluk dirinya.


Dengan langkah tertatihnya Diandra berbalik pergi meninggalkan Dewa yang masih terpaku dalam pelukan Manda.

__ADS_1


"Dee!! Tunggu!!"


Bersambung...


__ADS_2