Obsesi Cinta Tuan Psycho

Obsesi Cinta Tuan Psycho
61. Merindukanmu


__ADS_3

Kurang lebih sudah dua jam Tara menunggu di depan tempat pemotretan Bryan. Wanita itu nekat berada di sana tanpa menghubungi Bryan sama sekali. Tara sebenarnya bisa saja mengontak Bryan melalui media sosialnya tapi itu tidak Tara lakukan karena dia ragu Bryan mau menemuinya.


Tapi nyatanya sudah selama itu Tara menunggu Bryan yang tak kunjung keluar. Jangan tanya Tara tau dari mana jika Bryan berada di dalam gedung itu. Sudah pernah kukatakan jika Tara sekarang ini menjadi seorang stalker.


Tara hanya terus di dalam mobil menatap pintu keluar yang kemungkinan besar Bryan keluar dari sana. Tentu saja dia sangat berharap bisa menemui Bryan untuk mengajaknya bicara walau hanya sebentar saja.


Kembali Tara melihat jam di ponselnya, perutnya sudah terasa perih karena sudah menjelang makan siang. Apalagi tadi pagi Tara tidak sempat sarapan karena bangun kesiangan.


"Oke 15 menit lagi kalau nggak keluar juga lebih baik aku pergi"


Tapi nyatanya setelah 15 menit berlalu, Bryan tak juga nampak batang hidungnya. Wajah Tara sudah berubah sendu, karena menunggu selama itu nyatanya tak dapat apa-apa. Akhirnya Tara menyerah, mungkin besok dia akan mencoba menghubungi Bryan dulu, tapi cukup untuk hari ini.


Tara mulai menyalakan mesin mobilnya, tapi di saat itu juga Tara melihat pria dengan postur lebih tinggi di antara orang-orang di sekitarnya. Secepat kilat Tara keluar dari mobilnya dan berlari mendekati pria yang sudah sejak tadi di tunggunya itu.


"BRYAN!" Teriak Tara dari kejauhan.


Tara berlari menghampiri Bryan yang menatap ke arahnya. Tadi Tara sudah berpikir jika apa yang dilakukannya hanyalah sia-sia. Tapi setelah melihat Bryan saat ini, seolah dia lupa seberapa membosankannya yang namanya menunggu.


Sambil terus mengembangkan senyumnya Tara semakin dekat dengan Bryan. Karena terlalu senang dia sampai tidak memperhatikan keadaan di sekitarnya.


"AWAS!!!" Teriak Bryan dan semua orang yang tadi mendengar Tara meneriakkan nama Bryan.


BRAAKK...


Tara tak bisa menghindar dari sepeda motor yang melaju dari sisi kanannya.


"Tara!!"


Bryan berlari menghampiri Tara yang sudah tergeletak di depan gedung pemotretan itu.


"Tara, kamu tidak papa??"


"Awww ssshhhh" Tara meringis memegangi kakinya, dan berusaha untuk duduk.


"Maaf mbak, saya tadi nggak lihat jalan. Saya benar-benar nggak sengaja" Seorang pria paruh baya datang mendekati Tara dengan wajah ketakutannya.


"Nggak papa kok Pak, ini salah saya karena nggak lihat-lihat dulu mau nyebrang" Tara masih memegang lututnya yang terasa begitu sakit.


"Kalau gitu saya antar ke rumah sakit mbak, saya akan tanggung jawab" Pria tua itu terlihat cemas melihat kondisi Tara saat ini.


"Tidak udah Pak, saya nggak papa"


"Tapi mbak.."

__ADS_1


"Sudah Pak, biar saya saja yang bawa dia ke rumah sakit. Dia teman saya" Bryan tau pasti Tara tak tega melihat orang yang menabraknya itu.


Bryan langsung membawa tara ke mobilnya. Tara sempat terkejut dan canggung tapi karen rasa sakit di tangannya, Tara berusaha mengabaikan perasaannya itu. Kakinya sudah terasa begitu sakit saat ini.


Bryan terus menemani Tara sampai akhirnya Tara di perbolehkan pulang karena lukanya tidak menyebabkan cedera yang parah. Hanya saja kakinya memar dan bengkak sehingga membuat Tara sedikit kesusahan saat berjalan.


"Aku antar pulang ya??" Bryan membantu Tara berjalan dengan memegang kedua lengan Tara dari samping.


Tara tiba-tiba merasa gugup dengan sentuhan Bryan itu. Bahkan dia sampai tidak menjawab pertanyaan Bryan tadi.


"Tara??"


"Eh, iya??"


"Aku antar pulang ya??" Ulang Bryan lagi.


"Tapi aku bawa mobil sendiri" Sebenarnya dia mau saja di anatar Bryan tapi bagaimana dengan mobilnya.


"Biar nanti Kimmy yang membawanya, kamu naik mobilku saja" Bryan melihat Kimmy yang datang dari kejauhan.


"Tolong ambil mobilnya di tempat tadi. Aku akan mengantarnya pulang. Nanti aku kirimkan alamatnya" Kimmy menerima kunci mobil yang di berikan Bryan itu.


"Oke, aku duluan" Sebelum pergi Kimmy masih sempat mencolek dagu Bryan yang mampu membuat Tara merasa kegelian.


"Kamu bisa jalan kan??" Bryan masih belum melepaskan tangannya dari lengan Tara.


"Kenapa aku merasa gugup seperti ini?? Apa aku benar-benar menyukainya?? Apa semudah itu aku berpaling dari Kak Dewa??" Tara melirik Bryan yang dengan sabar membantunya itu.


"Tapi kalau di lihat-lihat dia tampan, pesonanya mampu membuat aku tak bisa berpaling. Apa aku jahat pada Diandra?? Aku dengan beraninya mengagumi pria ini di saat dia masih mempunyai wanita yang dia cintai" Tara menggelengkan kepalanya, menepis semua pikirannya itu.


-


-


"Tara, kenapa kamu tiba-tiba ada di sini?? Apa kamu juga di keluarkan dari rumah itu seperti Manda??" Bryan akhirnya menanyakan sesuatu yang dipendamnya sejak tadi.


"Tunggu!! Kamu tau kalau Kak Manda juga sudah tidak ada di sana lagi??"


"Dia menemui ku tak berselang lama setelah aku keluar dari sana"


Tara tampak terkejut karena Manda ternyata menemui Bryan. Tara bisa menebak pasti Manda mulai menghasut Bryan untuk membantu rencanannya memisahkan Dewa dan Diandra.


"Apa dia memintamu untuk melakukan sesuatu??"

__ADS_1


Bryan menatap Tara, dia sudah tau kalau Tara bisa menebak tujuan Manda bertemu dengannya.


"Apa kamu juga tau apa yang Manda rencanakan??"


"Tentu saja, maka dari itu aku ada di sini sekarang, karena aku mengakui semua kesalahanku pada Kak Dewa yang membawa Kak Manda ke sana. Aku takut kalau Kak Manda tidak bisa di kendalikan, dan aku akan terseret dalam masalahnya. Jadi lebih baik aku menanggung kemarahan Kak Dewa sekarang daripada nanti dia benar-benar murka. Tapi, apa kamu menerima tawaran Kak Manda??"


Tara menatap Bryan yang masih fokus mengendarai mobilnya meski pembicaraan mereka cenderung serius.


"Tidak!! Sama seperti yang kamu pikirkan. Aku juga tidak mau nantinya Diandra kecewa sama karena aku tidak mempercayainya. Manda saat itu marah, memaki dan menyumpahi ku. Tapi aku tidak peduli"


Bryan tersenyum mengingat reaksi Manda pada saat itu. Wajah cantiknya merah padam memendam kemarahan.


"Benar, pasti Diandra akan sangat marah padamu" Bryan mengangguk menyetujui apa yang Tara katakan itu.


"Oh ya Bryan. Makasih ya kamu udah mau nolongin aku, bahkan sampai mau antar aku pulang" Lagi-lagi Tara tersenyum menatap Bryan.


"Dan makasih juga karena kamu sudah membuka lebar mataku tentang perasaan yang tak seharusnya untuk Kak Dewa" Baru setelah Tara menungging perasaannya itu Bryan langsung mengalihkan perhatiannya pada Tara.


"Maksud kamu??"


"Kamu sudah menyadarkan aku Bryan. Kamu benar jika perasaanku pada Kak Dewa itu bukan cinta. Buktinya setelah aku mencoba membuka pikiranku, mencoba mengikhlaskan Kak Dewa hatiku terasa lebih lega. Tak ada rasa benci pada wanita yang ada di sekitar Kak Dewa, termasuk Diandra juga"


Bryan tampak senang karena ada juga orang yang mau mendengarkan apa yang menurutnya benar. Selama ini banyak orang yang tidak menghargai omongan dan kerja kerasnya.


"Aku ikut senang kalau kamu merasa seperti itu"


"Itu berkat kamu Bryan, terimakasih ya??" Senyuman mereka sama-sama bertemu, Bryan tak menyangka jika Tara yang awalnya terlihat angkuh itu ternyata asik di ajak bicara.


"Sama-sama Tara. Tapi ngomong-ngomong kenapa kamu bisa ada di tempat pemotretan ku??"


Tara sampai lupa tujuan awalnya berada di sana karena kecelakaan kecil ini. Dia menepuk pelan keningnya.


"Aku ingin bertemu dengan mu Bry, aku sengaja menunggu mu di sana" Bryan mengerutkan keningnya.


"Kenapa tidak menghubungi ku saja??" Bryan geleng-geleng kepala dengan kecanggihan teknologi saat ini kenapa harus menunggu. Ibaratnya menguji keberuntungan.


"Aku tidak punya nomor ponselmu, dan untuk media sosialmu aku tidak yakin kamu mau membukanya" Tara sedikit malu karena kebodohannya itu.


"Ya Tuhan Tara, memangnya apa yang ingin kamu bicarakan sampai kamu menunggu di luar sana dengan lama"


Tara bingung harus mencari alasan apa untuk menjawab Bryan.


"A-aku hanya mau berterimakasih sama kamu saja Bryan. Tidak ada alasan lain, iya hanya itu"

__ADS_1


"Mana mungkin aku jujur padamu kalau aku merindukanmu Bryan"


Bersambung..


__ADS_2