
"Apa hasilnya??"
Dewa menunggu Niko dan anak buahnya di tempat yang sama saat Diandra duduk menunggu Bryan. Batang pohon kelapa yang menjadi saksi menghilangnya Diandra sampai saat ini.
"Mereka semua tidak ada yang melihatnya Tuan. Tapi ada yang aneh Tuan"
"Katakan saja Niko, kau mau sengaja membuatku menunggu apa yang akan kau ucapkan??" Dewa semakin emosi karena Niko yang mulai menguji kesabarannya.
"Maafkan saya Tuan. Tadi saat saya mencari tau keberadaan Nyonya melalui para pedagang itu, anehnya mereka semua mengatakan jika mereka baru saja membuka kiosnya. Karena sejak pagi tadi ada seseorang yang membayar mereka agar menutup kiosnya sampai waktu yang orang itu tentukan. Dan saat saya menanyakan kenapa alasannya, mereka juga tidak tau. Yang pasti orang itu memberikan uang yang cukup banyak mereka semua" Jelas Niko.
"Apa mereka tau siapa orangnya??"
"Tidak Tuan. Mereka sama sekali tidak mengenal orang itu. Karena kata mereka baru pertama kali, melihat orang itu di sini"
Dewa semakin kebingungan, dia menggabungkan potongan demi potongan petunjuk menghilangnya Diandra.
"Bukankah ini aneh menurutmu Nik?? Semua ini sungguh terencana dengan rapi" Tampak raut putus asa di wajah Dewa.
"Benar Tuan, saya juga merasa seperti itu. Dan jalan satu-satunya saat ini hanya menemui Bryan Tuan. Kita cari penjelasan langsung dari orangnya"
Dewa tampak berpikir karena ada yang memberatkan pikirannya.
"Apa itu perlu Nik?? Aku jadi berpikir jika Diandra juga menginginkan kebebasan ini. Jadi dia lebih memilih pergi bersama Bryan"
"Tidak mungkin Tuan, di sini ada yang aneh. Di pesan itu, Bryan mengatakan jika meminta Nyonya untuk menemuinya sebentar saja. Tapi sampai saat ini belum juga kembali. Entah ini memang rencana Bryan untuk membawa Nyonya atau memang Nyonya sendiri yang menginginkan pergi, saya rasa kita tetap harus mencari jawabannya"
Penolakan Dewa tadi langsung di sanggah oleh Niko. Menurutnya kepergian Diandra sangat janggal.
"Kalau begitu siapkan Heli sekarang, kita berangkat setelah itu!!" Dewa pergi meninggalkan tempat itu.
Ia akan mencari kepastian jika benar Diandra bersama Bryan. Dewa akan menanyakan kepada Diandra secara langsung apa alasannya memilih pergi darinya. Dewa berpikir sikap baik Diandra akhir-akhir ini hanyalah topeng belaka agar Diandra punya celah untuk melarikan diri dari Dewa.
Tak dapat dipungkiri jika rasa kecewa begitu menyerang Dewa saat ini. Pengorbanannya ternyata sia-sia. Kalau tau jadinya akan seperti ini, Dewa tidak akan membuat perjanjian konyol yang sangat merugikannya itu.
Hanya denggn menjentikkan jarinya saja, karena kekuasaan dan uang yang melimpah, kini Dewa sudah tiba di depan pintu apartemen Bryan.
Kenapa dia ada di sana karena sebelumnya Niko sidah mencari tau keberadaan Bryan melalui orang suruhannya. Dan saat ini Dewa sudah menunggu seseorang membukakan pintu untuknya dari dalam.
Wajah menyeramkan milik Dewa sudah terpasang di sana. Mungkin Dewa yang selalu mengalah pada Diandra dan Bryan seperti kemarin sudah tidak ada lagi saat ini.
Ceklek...
__ADS_1
Bryan yang tidak bersiap dan belum menjaga keseimbangannya langsung terhuyung ke belakang saat Dewa mendorong dada Bryan menggunakan sikunya.
"Dimana kau sembunyikan Diandra?? Suruh dia keluar untuk menghadap ku atau aku yang akan memancingnya keluar sendiri"
Bryan yang masih sangat terkejut dengan serangan tiba-tiba dari Dewa itu belum bisa mencerna apa yang Dewa katakan itu.
"Kenapa kau diam saja b***gsek!!" Dewa mencengkeram kerah kemeja Bryan.
"Tenang Tuan, kendalikan dirimu!!" Niko menepuk bahu Dewa.
"Apa maksud Tuan sebenarnya?? Saya sungguh tidak tau ala yang menyebabkan Tuan bertindak seperti ini kepada saya" Bryan merapihkan kembali bajunya setelah Dewa melepaskan tangannya.
"Dimana Diandra?? Jangan mencoba menyembunyikannya dariku!! Jika dia ingin bersama mu saat ini juga akan aku lepaskan tapi aku ingin tau alasannya dulu kenapa dia berbohong kepadaku!!"
Ulang Dewa dengan amarahnya yang sudah mulai terkontrol. Dewa menurunkan sedikit suaranya. Namun masih terlihat jelas jika menekan di setiap katanya.
"Tuan, jujur saya tidak tau apa yang anda maksud. Diandra dimana?? Memangnya dia kemana, bukankah dia bersama anda??"
Niko yang melihat Bryan tampak kebingungan itu pun memberikan ponsel milik Diandra kepadanya.
"Semoga anda bisa mengerti apa yang Tuan saya maksud setelah melihat ini"
Bryan melirik kembali Dewa yang terus menatapnya dengan tajam sebelum melihat isi ponsel yang di berikan Niko.
"Si-siapa dia, kenapa ada orang yang mengaku sebagai diriku??" Bryan menatap Niko dan Dewa untuk mencari jawabannya.
Tapi Bryan akhirnya sadar jika mereka tau jawabannya mereka tidak akan sampai di hadapannya saat ini.
"Lalu dimana Diandra sekarang?? Tuan, bagaiman keadaan Diandra saat ini?? Kenapa kau bisa kehilangan Diandra?? Kenapa kau tidak becus menjaga Diandra hah??" Kini gantian Bryan yang menyerang Dewa dengan menarik kemeja Dewa di bagian dadanya.
"Lepaskan b*debah!! Jangan berpura-pura di depanku!! Aku tau kau berbohong!!"
BUG..
Dewa melayangkan tinjunya tepat di rahang kiri Bryan hingga cengkeraman Bryan padanya terlepas.
Tak berhenti di sana, Dewa kemudian menarik menyusulkan pukulan kedua dan ketiga di saat Bryan masih tersungkur akibat pukulannya yang pertama.
"Tuan!! Sudah Tuan, anda bisa membuatnya sekarat dan kita tidak bisa mendapatkan informasi apapun" Niko menghentikan keberingasan Dewa itu.
Jika biasanya Niko akan diam saja di saat Dewa melakukan itu pada musuh-musuhnya. Kali ini Niko benar-benar menghentikan aksi Dewa itu.
__ADS_1
"Lepaskan aku Nik. Aku akan membuat pria ini menyesali perbuatannya!!" Dewa memberontak saat Niko menahan tangannya.
"Hentikan Tuan, ingat anak dalam kandungan Nyonya Diandra Tuan. Kita belum tau dimana mereka saat ini"
Seakan kegelapan di matanya langsung menghilang saat Niko menyebut anaknya.
Niko membantu Bryan berdiri untuk membicarakan masalah ini tanpa adanya kekerasan lagi.
"Sebenarnya apa yang terjadi Tuan. Saya sungguh tidak ada hubungannya dengan ini. Saya tidak tau apa-apa. Tapi tolong cari Diandra Tuan, saya takut jiak terjadi apa-apa dengannya"
"Kau sungguh tidak ada hubungannya dengan ini??" Selidik Dewa.
"Kalau saya benar-benar ke sana. Saat ini saya tidak akan ada di sini Tuan. Jika dilihat dari waktu pengiriman pesan, tidak mungkin saya sampai ke sini secepat itu. Tadi pagi juga saya ada jadwal pemotretan dan saya baru saja pulang. Tuan bisa cek sendiri saya ada di sana atau tidak"
Dewa berpikir sejenak. Tapi memang benar apa yang di katakan Bryan itu masuk ke logikanya.
"Lalu menurutmu pesan itu dari siapa??" Dewa melipat tangannya di depan dada.
"Apa ini perbuatan Manda??" Tebak Bryan.
"Manda?? Kenapa kau bisa berpikir begitu??" Tentu saja Dewa tak semudah itu percaya dengan perkataan Bryan.
"Beberapa hari setelah saya pulang dari rumah anda, tiba-tiba Manda datang menemui saya. Dia juga bilang jika dia terusir dari sana. Kemudian Manda menawarkan kepada saya sebuah kerja sama, yaitu untuk menghancurkan hubungan kalian berdua. Tapi saya menolak, dan dia mengancam akan tetap menghancurkan hubungan kalian meski tanpa bantuan dariku. Bagaimana jika Manda benar-benar membuktikan ucapannya itu??"
Perkiraan Bryan itu membuat Dewa pusing.Tangan Dewa memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut.
Dewa hampir tak percaya jika Manda melakukan itu. Tapi kenyataanya Diandra juga sudah tidak ada di hadapannya. Mau tidak mau Dewa juga menaruh rasa curiga pada Manda.
"Tapi kenapa kau menolak tawaran Manda?? Bukankah itu juga menguntungkan bagimu?"
Niko tercengang karena Dewa mengeluarkan pertanyaan yang out of the box.
"Karena saya tidak mau Diandra kecewa dengan saya. Dia pasti marah karena saya merebutnya dari Tuan dengan rencana licik"
Dewa terkekeh mendengar penurunan kalimat dari pria yang sangat mencintai kekasihnya itu.
"Apa kau begitu mencintai Diandra??" Dewa kembali memperhatikan mata Bryan untuk mencari kejujuran di sana.
"Cinta saya tak terukur untuk Diandra Tuan" Jawaban yang cukup singkat namun begitu memuaskan bagi Dewa.
"Cari tau soal Manda sekarang juga Nik!!" Dewa mengalihkan semua hak yang berhubungan dengan kata cinta itu pada Niko.
__ADS_1
"Baik Tuan!"
Bersambung...