Obsesi Cinta Tuan Psycho

Obsesi Cinta Tuan Psycho
32. Hancur


__ADS_3

Dewa kelimpungan mencari Diandra di dalam rumahnya. Diandra tidak ada di dalam kamar, begitupun tempat melukis milik Dewa. Biasanya Diandra akan berdiri di sana untuk menikmati lukisan-lukisan wajahnya sendiri, tapi kali ini tidak ada.


Dewa menuju ke balkon di tempat melukisnya itu, ruangan yang terbuka di lantai dua. Melihat kebawah mencari keberadaan Diandra. Karena dia yakin Diandra tidak mungkin keluar dari rumah itu.


Mata Dewa menangkap sosok wanita yang duduk di kursi taman dengan baju yang sama seperti saat Diandra lari dari ruangannya tadi. Rambut panjangnya juga memperjelas jika itu memang Diandra, istrinya.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Dewa berlari turun untuk menghampiri Diandra. Dewa sangat takut jika Diandra marah padanya, dia merasa harus menjelaskan kesalahpahaman itu kepadanya. Seolah-olah Diandra benar-benar peduli dengan dirinya.


Dewa tersenyum melihat Diandra masih duduk diam di sana. Berlahan Dewa duduk di samping Diandra dengan tetap berusaha tenang meski hatinya di penuhi dengan rasa takut. Seorang Dewa terlihat garang dan berkuasa kini tak berkutik di depan wanita yang dicintainya.


"Dee??" Dewa menyamping menghadap pada Diandra.


Wanita itu masih menatap lurus ke depan seperti tak peduli dengan seseorang yang duduk di sampingnya.


"Yang kamu lihat tadi hanya salah paham. Manda tiba-tiba datang ke sana dan memelukku. Aku benar-benar sudah tidak ada hubungan dengannya lagi Dee" Jelas Dewa yang kebingungan harus mengatakan apa di depan Diandra.


Diandra justru tersenyum tipis mendengar semua itu dari Dewa.


"Mas, kenapa kamu harus menjelaskan semua itu kepadaku?? Sungguh aku tidak masalah misalnya kamu ingin kembali kepadanya. Aku juga tidak akan melarang mu untuk dekat dengan wanita lain. Aku tidak akan melarang mu" Jawaban itu tanpa Diandra sadari mampu menyakiti perasaan Dewa.


Dewa terkekeh, menertawakan kebodohannya. Diandra yang mendengar Dewa tertawa juga merasa kebingungan.


"Dee, kamu tau tidak?? Saat melihat kamu pergi dari ruangan itu aku sungguh merasa kamu cemburu karena melihat aku di peluk oleh wanita lain. Aku kelimpungan mencari mu di dalam. Takut kamu akan salah paham dan marah padaku. Tapi ternyata aku yang terlalu percaya diri. Ha.. Ha.. Ha.."


Dewa kembali tertawa meski matanya mulai mengembun. Dia memilih berdiri dan sedikit menjauh dari Diandra.


"Aku lupa kalau kamu tidak pernah mencintaiku. Jadi apapun yang aku lakukan tidak akan pernah mempengaruhi perasaanmu sama sekali"


Mendengar rentetan kalimat itu membuat hati Diandra merasakan sesuatu yang tidak bisa di artikan oleh Diandra. Tangannya memegang jantungnya yang mulai berdetak kencang di dalam sana.

__ADS_1


"Mas, aku juga tidak tau kenapa aku lari dari sana saat melihat kamu di peluk oleh Manda. Aku tidak tau kenapa aku jadi lemah seperti itu. Biasanya aku akan melawan Manda, mempertahankan kamu seolah aku ini istri sungguhan yang sangat mencintaimu" Tentu saja jawaban itu hanya mampu Diandra ucapkan dalam hatinya.


Sebenarnya Diandra duduk menyendiri di taman itu bukan karena menghindari Dewa. Tapi dia sedang berpikir tentang dirinya sendiri.


"Aku sudah mengusir Manda dari rumah ini Dee. Kamu peduli atau tidak terserah. Tapi aku akan membuktikan padamu kalau aku bukan pria yang mudah menjalin hubungan dengan wanita lain saat aku mengatakan cinta pada satu wanita" Ucap Dewa dengan masih membelakangi Diandra.


Dewa mengerjabkan matanya, menghilangkan cairan di dalam kelopak matanya yang di tahannya mati-matian agar tidak keluar. Lalu kembali memutar tubuhnya.


"Masuklah ini sudah malam. Disini dingin, tidak baik untuk ibu hamil sepertimu" Dewa meninggalkan Diandra yang masih terpaku di sana.


Tidak sempat menjawab atau sekedar menganggukkan kepalanya. Diandra hanya menatap punggung Dewa yang semakin menjauh darinya. Ada rasa ingin menahan kepergian pria perusak masa depannya itu. Tapi rasanya berat untuk mengeluarkan suaranya.


"Dengar sendiri kan Tara?? Diandra tidak mencintai Dewa. Aku sudah tau beberapa hari yang lalu saat dia menelepon seorang laki-laki. Aku kira Dewa belum tau jika istrinya itu menjalin hubungan dengan pria lain. Tapi nyatanya aku salah. Dewa begitu bodoh mencintai wanita seperti dia" Ucap Manda kepada Tara yang semenjak tadi ternyata mendengarkan apa perkataan Dewa.


"Benar, ternyata perempuan itu benar-benar memainkan perannya dengan baik di depan kita"


"Lalu apa yang akan kamu lakukan??" Tanya Tara.


"Sudah aku katakan, kita akan meniupkan pada api yang sudah mulai tersulut. Kamu lihat saja nanti, aku sudah menyiapkan kejutan untuknya. Diandra yang sangat sombong itu pasti akan sangat senang dengan hadiah yang aku berikan" Senyum Manda dengan licik.


"Apapun yang akan kamu lakukan aku akan mendukungmu asal jangan pernah membahayakan nyawa orang lain. Aku tidak akan ikut campur jika sampai kamu melakukan hal di luar batas" Ucap Tara.


Dia memang begitu tergila-gila dengan Dewa. Tapi dia masih bisa berpikir untuk tidak melibatkan yang namanya nyawa dalam memperebutkan cinta. Dia masih waras, terlebih lagi dia tidak mau orang tuanya sampai murka jika Tara bertindak kriminal yang mengakibatkan orang lain celaka.


"Tenang saja, kamu tidak akan terlibat masalah apapun" Balas Manda dengan kesal.


🌻🌻🌻


Dewa kembali ke atas, menuju tempat melukisnya. Rasa sesak di dadanya sungguh tidak bisa tertahankan lagi. Dia butuh pelampiasan agar dadanya tidak sesakit itu.

__ADS_1


"Kenapa Dee?? Kenapa kamu sama sekali tidak pernah menganggap ku ada?? Apa perhatianku selama ini tidak pernah menyentuh hatimu sama sekali?? Aku rela berubah hanya demi kamu Dee, aku menghilangkan semua sikap buruk ku hanya demi kamu, agar kamu mau bertahan di sisiku Dee"


Seandainya saja ada orang lain di sana, Dewa pasti saat ini merasakan malu. Karena seorang Sadewa yang gagah, garang dan di takuti pesaing bisnisnya, kini hanya mampu menangis, meraung merasakan sakit di dalam hatinya. Bahkan terkena libasan pisau pada tubuhnya saja tidak membuat Dewa menangis.


Dewa mendekati lukisan-lukisannya yang hanya berjejer belum terpasang di dinding itu. Bahkan sebagian besar lukisan itu belum selesai sepenuhnya walau sudah jelas sekali lukisan apa yang ada di atas kanvas itu.


Dewa mengambil kuasnya, lalu membasahinya dengan cat yang masih basah di sana.


Dengan amarah di dalam dirinya yang ingin di lepaskan saat itu juga. Dewa mengoleskan kuasnya pada kanvas itu dengan asal. Hingga membuat lukisan yang semula indah kini berubah menjadi tak berbentuk. Tertutup dengan coretan-coretan asal dari kuasnya yang terus bergerak tak beraturan.


"Aaakkkhhhh...."


Teriak Dewa dengan keras melepaskan beban di hatinya. Tangan tak berhenti dari kanvas-kanvas itu. Dewa merusak semua hasil lukisannya sendiri.


BRAAKKKK.....


Dewa benar-benar tak terkendali. Apa saja yang ada di hadapannya menjadi sasaran empuknya. Dia menendang, melempar semua barang yang bisa di raihnya. Dewa si psycho itu terlihat kembali saat ini.


Sementara itu Diandra yang masih duduk di posisi semula belum berubah sedikitpun di kejutkan dengan suara bising dari lantai atas.


"Aaakkkhhhh..."


"Suara siapa itu??"


BRAAKKKK..


"Mas Dewa??"


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2