
"Kapan Dewa pulang Didi??"
Ayah Diandra sedang menggendong cucu satu-satunya itu.
"Diandra belum tau Yah. Mungkin pekerjaannya belum selesai jadi belum bisa pulang" Ayahnya menatap Diandra penuh tanya.
"Apa dia tidak menghubungimu sama sekali??"
Diandra sempat menahan nafasnya karena Ayahnya sepertinya curiga dengan jawaban yang di berikan Diandra.
"Sudah Yah, tapi Mas Dewa belum tau kapan pulangnya. Jadi belum kasih kepastian" Diandra memang sengaja tidak mengatakan kepada Ayahnya jika seminggu ini Dewa mengabaikannya.
Sejak terakhir kali Diandra menelepon Niko waktu itu, Dewa belum juga menghubungi Diandra. Banyak pertanyaan dalam benak Diandra sebenarnya, tapi ingin bertanya pada orangnya langsung juga tidak bisa karena Dewa sama sekali tidak bisa di hubungi.
"Kalian baik-baik saja kan??" Ayah Diandra takut sekali jika anaknya menyembunyikan maslah rumah tangganya lagi.
"Tentu saja, Ayah tidak perlu khawatir. Mas Dewa sangat mencintaiku Yah, begitupun kedua orang tuanya. Aku seperti merasakan kehadiran ibu saat berada di dekat Mama Bella" Lagi-lagi Diandra berbohong. Dia tidak mungkin memberi tau Ayahnya tentang maslah rumah tangganya.
"Syukurlah, Ayah ikut senang mendengarnya" Ayah Diandra kembali bermain dengan cucunya lagi.
Tak lama dari itu Diandra kembali di temani Akhtar di kamarnya. Ayahnya buru-buru pergi karena ada panggilan mendadak dari kantornya. Selama seminggu ini hanya bayi kecil itu yang mendengarkan keluh kesah Mamanya.
"Sayang, Papa di sana lagi apa ya?? Apa Papa nggak kangen kita kok nggak telepon Mama sama sekali??" Diandra berbaring di sisi Akhtar yang mulai bisa memainkan tangannya ke atas.
"Semoga Papa lekas pulang ya, Mama kangen banget soalnya"
Mama Bella yang ingin masuk ke dalam kamar Diandra tak sengaja mendengar suara hati menantunya itu. Selama beberapa hari ini Diandra memang tak bercerita apapun tentang Dewa. Tapi Mama Bella melihat Diandra begitu gelisah, dan akhirnya dia tau apa penyebab menantunya seperti itu.
"Awas ya kalau pulang Mama jewer jamu sampai putus telinganya" Mama Bella turun ke lantai bawah sambil menggerutu.
"Sadis banget sih Mama. Siapa yang mau di jewer sampai putus telinganya??"
Papa Elang mendengar istrinya itu menggerutu dengan wajah masamnya.
"Papa tau nggak, Diandra akhir-akhir ini gelisah dan melamun. Ternyata penyebabnya adalah anak bandel itu!!" Mama Bella melipat tangannya di depan dada.
"Sini duduk dulu. Papa nggak tau apa yang Mama maksud. Ceritakan dengan benar" Papa Elang menepuk sofa di sebelahnya. Mama Bella menurut untuk duduk di sisi suaminya.
"Pa, ternyata selam Dewa pergi, dia tidak pernah menghubungi Diandra sama sekali. Mama juga nggak tau sebenarnya mereka ada masalah apa. Tapi dari yang mama dengar tadi, Diandra sepertinya tidak bisa menghubungi Dewa. Diandra begitu merindukan Dewa, sementara Dewa memberi kabar pun Tidak Pa"
Sebagai seorang perempuan Mama Bella tau rasnya jauh dari suami. Maka dari itu di usianya hang sudah tak muda lagi, Mama Bella terus berada di dekat Papa Elang. Mama Bella rela ikut kemanapun Papa Elang pergi selama bisa dekat dengannya.
__ADS_1
"Memangnya Mama nggak tanya sama Diandra, kenapa mereka seperti itu"
"Sudah Pa kemarin. Tapi Diandra bilang nggak ada apa-apa. Mungkin karena dia tidak mau membuat Mama kepikiran tentang masalah mereka" Mama Bella terlihat sedih. Bary saja rumah tangga anaknya merasakan bahagia tapi kini sudah di terpa masalah lain yang belum tau itu apa.
"Ya sudah Mama jangan, nanti Papa coba hubungi dia bagaimanapun caranya"
"Iya Ma, suruh dia cepat pulang. Mama pingin dengar apa yang membuatnya menelantarkan istrinya berhari-hari. Biar Mama jewer dia"
"Siapa yang mau Mama jewer??"
Suara itu membuat kedua orang tuanya menoleh ke arah suara itu berasal.
-
-
"Sudah ya mimiknya sayang. Nanti bisa mabok asi loh kalau nggak mau lepas" Diandra kembali membaringkan Akhtar di ranjangnya. Menciumi pipi gembulnya dengan gemas.
"Sayang!!"
Diandra sempat mengangkat wajahnya yang sedang menciumi Akhtar. Menajamkan telinganya yang seperti mendengar suara suaminya.
Kali ini Diandra yakin itu suara suaminya, dia berbalik ke arah pintu. Dan benar saja, Dewa sudah berdiri di sana dengan senyuman taman yang begitu ia rindukan.
"Mas??"
Diandra langsung loncat dari ranjang dan berlari menghampiri suaminya. Berlari dan menubruk suaminya membuat Dewa terhuyung ke belakang.
"Mas aku kangen hiks.. hiks.." Dewa terkejut karena mendengar isakan Diandra.
"Kenapa menangis sayang?? Mas juga kangen"
"Bohong!!" Diandra melepaskan pelukannya lalu memukuli dada Dewa.
"Mas nggak bohong sayang" Dewa memeluk Diandra kembali.
"Kalau Mas kangen kenapa Mas nggak bisa di hubungi?? Kenapa Mas nggak kasih kabar sama sekali. Kalau aku tanya sama Niko jawabannya selalu saja mengatakan kalau kamu sibuk. Kamu udah bosan sama aku Mas??" Diandra masih terisak di pelukan Dewa.
"Maafkan Mas sayang. Mas salah, Mas terlalu sibuk sampai mengabaikan kamu. Maaf, maaf" Terpaksa Dewa berbohong menutupi kesalahannya sendiri.
Dia mengaku salah karena berpikiran buruk pada istrinya sendiri. Dewa menyesal, Dewa sampai sekarang terus merutuk dirinya sendiri di dalam hati.
__ADS_1
"Kamu mau kan memaafkan Mas??" Meski tanpa bersuara tapi Diandra mengangguk di pelukan Dewa.
Dewa berjanji tak akan mengulangi kesalahannya lagi. Benar memang kata Niko jika kekesalan yang di bangunnya sendiri itu belum tentu benar.
"Bagaimana keadaan kamu sekarang sayang?? Apa masih pusing??" Diandra langsung melepaskan pelukannya.
"Kamu tau aku sakit Mas??"
"Mama yang kasih tau barusan. Maaf ya sayang, Mas memang buka suami yang baik. Mas abai dengan istri Mas sendiri sampai tidak tau kalau kamu sakit" Dewa menyesal saat ini, mengingat dia dengan tega tak mau menerima panggilan dari Diandra dengan mematikan ponselnya.
"Aku hanya tidak mau membuatmu khawatir Mas, makanya aku nggak kasih tau kamu. Karena kamu pasti akan langsung pulang kesini tanpa peduli lagi sama pekerjaan kamu kan??"
Dewa mengangguk canggung. Demi apapun Dewa menyesali kebodohan yang dilakukannya itu. Memang benar kata Niko, jika rasa kesal yang di buat oleh pikirannya sendiri itu salah besar.
"Maaf ya syaang??" Diandra lagi-lagi mengangguk.
"Kalau gitu, aku buatin Mas minum ya?? Mas pasti lelah kan. Tunggu di sini ya"
"Iya sayang, makasih ya. Mas tunggu di sini sama Akhtar" Dewa beralih mendekati putranya yang bermain di ranjang seorang diri
"Akhtar anak Papa, apa kabar sayang. Maafkan Papa yang terlalu sibuk ya Nak"
Diandra meninggalkan kamarnya dengan sayup-sayup suara Dewa yang bercanda dengan putranya.
Sementara Dewa yang melirik Diandra sudah meninggalkannya, langsung menghubungi Niko saat itu juga.
"Halo Tuan"
"Benar katamu Nik. Akulah yang terlalu berpikir berlebihan. Aku mengaku salah telah berpikir seperti itu pada istriku sendiri"
"Sudah ku katakan untuk percaya pada istrimu Tuan. Buktinya sudah jelas, Nyonya lebih memilih meninggalkan kekasihnya dari pada harus berpisah dengan anda. Jadi tidak perlu lagi meragukan cintanya Tuan"
"Benar Nik. Aku salah karena telah meragukan cintanya hanya karena dia beberapa kali menghindari ku. Terimakasih telah menyadarkan ku Nik. Aku tutup dulu"
Hati Dewa kini sudah tenang kembali, tidak seberat saat meninggalkan rumah seminggu yang lalu.
"Jadi itu yang membuatmu mengabaikan ku Mas??"
Jederrr.....
Bersambung..
__ADS_1