
"Ini kamar buat kamu sayang"
Diandra menggendong Akhtar masuk ke dalam kamar yang sudah di desain sendiri olehnya. Mulai dari warna hingga semua barang yang ada di dalam sana.
Kamar yang tampak ceria dengan nuansa warna biru yang lebih mendominasi. Di tambah berbagai macam mainan yang di tata dengan rapi semakin mempercantik kamar bayi itu.
"Sayang, kenalkan ini namanya Mbak Sari. Mama yang mencarinya untuk membantu kamu mengurus Akhtar" Dewa menyusul Diandra masuk di ikuti seorang perempuan yang terlihat berusia 40 han.
"Mbak Sari, saya Diandra" Diandra menyambut pengasuh bayi itu dengan ramah.
"Sari Nyonya" Dengan sopan pula perempuan yang jauh lebih tua dari Diandra itu menyambut tangan majikannya.
"Mbak Sari, mulai sekarang tempati kamar yang di sebelah saja ya. Supaya dekat dengan kamar ini. Jadi nggak kejauhan kalau sewaktu-waktu Akhtar nangis. Kamar saya ada di sebelah juga" Jelas Dewa sambil menunjuk dengan tangannya.
"Saya mengerti Tuan"
"Mbak Sari, saya nggak menuntut Mbak sari harus menjaga anak saya selama 24 jam. Karena saya juga akan turun tangan sendiri dalam mengasuh anak saya. Tapi yang pasti saya minta sama Mbak, untuk menyayangi anak saya dengan tulus. Karena kalau Mbak Sari tulus pastinya anak saya juga akan lebih mudah menerima Mbak Sari di dekatnya" Pesan Diandra pada Sari yang tampak sangat keibuan itu.
"Baik Nyonya, saya akan menyayangi aden dengan sepenuh hati saya"
Diandra menatap Dewa dengan senyumnya. Pertanda dia sudah yakin dengan pengasuh yang di pilihkan Mama mertuanya itu.
"Ya sudah kalau begitu, Mbak sari beres-beres barang Mbak Sari dulu. Saya masih ingin sama Akhtar. Nanti kalau saya mau mandi, saya panggil Mbak Sari"
"Baik Nyonya" Perempuan itu lalu pergi menuju kamar yang di tunjukkan Dewa tadi.
Dewa lalu duduk di sofa mendekati istrinya yang sedang memangku Akhtar.
"Maaf ya sayang, Mas juga nggak tau kalau ternyata Mama sudah mencari pengasuh untuk Akhtar" Dewa merasa bersalah karena belum meminta persetujuan istrinya.
"Tidak papa Mas, Aku tau niat Mama itu baik. Tapi sebenarnya aku masih mampu untuk merawatnya sendiri. Makanya tadi aku sudah berpesan sama Mbak Sari kalau nantinya dia hanya akan membantuku sedikit saja. Atau saat kita pergi berdua"
__ADS_1
"Memangnya kita mau pergi kemana kok berdua??" Dewa menggoda Diandra dari perkataannya tadi.
"Emangnya kamu nggak mau quality time sama aku Mas??"
Dewa langsung melingkarkan tangannya pada pinggang Diandra yang masih memangku Akhtar.
"Jelas mau dong sayang, suami istri itu sekali-sekali harus pergi keluar berdua. Entah itu makan atau nonton aja. Biar hubungan antara suami istri itu semakin erat"
Diandra tersipu dengan itu. Suaminya itu termasuk golongan pria romantis ternyata.
"Kamu kalau malu-malu kaya gitu gemesin banget tau, pingin Mas..."
"Aku mau tidurin Akhtar dulu ya Mas, kayaknya dia udah capek deh dari tadi di gendong terus" Diandra langsung berdiri menghindari Dewa.
Dewa tampak kecewa karena tau kalau Diandra mencoba menghindarinya.
🌻🌻🌻
Dengan cara seperti itu perlahan orang-orang mulai mengenal semua barang yang di rancang sendiri oleh Tara. Walau masih terbilang event kecil tapi ada juga model dan artis papan atas yang di undang di sana walau tak banyak. Jadi Tara memanfaatkan hal itu untuk memperkenalkan brand pakaian dan aksesorisnya itu.
Acara sudah berlangsung satu jam yang lalu. Tara terus mengontrol beberapa stand yang di jaga oleh timnya. Mereka harus bekerja semaksimal mungkin untuk mendapatkan penjualan yang fantastis. Karena menurut Tara, barang-barang yang di jualnya masih termasuk harga yang masih tergolong ramah di kantong.
Tara terlalu sibuk sampai tak memperhatikan acara yang sedang berlangsung sama sekali. Padahal acara di atas panggung sana cukup menarik perhatian para pengunjung mall hingga teriakan histeris dari penggemar saat idolanya naik ke atas panggung.
Karena Tara adalah salah satu bagian dari acara itu, jadi dia bebas keluar masuk dan lebih dekat ke area panggung. Seperti saat ini, Tara mendekat ke sisi panggung untuk menemui salah satu even division itu.
Tara terus berbincang sambil menunjukkan sebuah kertas kepada laki-laki yang sedang di ajaknya bicara. Mereka berdua terlihat begitu dekat mengingat suara keras dari musik yang sedang di putar membuat apa yang sedang mereka bicarakan sedikit terganggu.
Dengan tenang Tara terus menjelaskan tentang brandnya yang akan di sebut nantinya di atas panggung. Tanpa mempedulikan seseorang yangs sejak tadi di sadari Tara tengah menatapnya daria tas panggung.
"Itu saja??" Tanya laki-laki dari event division itu.
__ADS_1
"Iya, ini sudah cukup. Terimakasih ya" Tak lupa Tara memberikan senyum terbaiknya. Karena dia adalah salah satu orang yang bisa membuat brand Tara bisa di kenal orang di dalan mall ini.
Tara secepatnya pergi dari sisi panggung, kembali ke standnya menemani timnya yang sedang bekerja keras menjual semua barangnya.
Tara tak bisa terus di sana karena berusaha mengabaikan sesuatu yang tak pernah bisa di abaikannya itu rasanya begitu sulit.
Tapi Tara sudah berjanji untuk membangun dirinya menjadi sosok yang tidak pernah di sangka oleh orang itu. Mencoba membalas semua perlakuan menyakitkan itu dengan cara yang berbeda. Mungkin menuruti keinginan dia menjadi cara yang lebih baik untuk saat ini.
Semua tim Tara tampak bahagia walau terasa lelah hari ini. Barang dagangan mereka sudah ludes terjual bahkan sebelum acaranya benar-benar selesai.
Rasa lelah yang Tara rasakan sejak kemarin mempersiapkan semua ini kini hilang sudah, semua tergantikan dengan penjualan yang memuaskan.
"Cukup untuk hari ini. Kalian rapikan semuanya lalu istirahatlah di rumah, tidak perlu kembali ke kantor lagi untuk hari ini" Ucap Tara pada timnya.
"Aaahhhhh senangnya" Jawab mereka semua dengan merenggangkan otot tangannya.
"Kalau gitu aku pergi dulu. Aku harus ke konveksi dulu untuk memastikan desain baruku" Tara meraih tasnya lalu pergi dari sana.
"Hati-hati bos!!" Teriak Uci, salah satu karyawannya.
Tara terus melihat ponselnya memeriksa jumlah permintaan barangnya yang terus masuk dan meningkat.
Wanita cantik dengan polesan make up yang membuatnya semakin menawan itu terus berjalan keluar tanpa mempedulikan seseorang yang sangat dia kenal datang dari arah kanannya.
Hingga Tara sampai di depan orang itu pun Tara tetap terus berjalan tanpa berhenti bahkan melirik sekalipun.
Sementara orang itu hanya diam melihat kepergian wanita itu dengan sedikit aneh.
"Dia tidak menyapamu?? Bukankah dia mengenalmu??" Tanya pria kemayu yang selalu bersama orang itu.
"Mungkin dia orang yang berbeda" Jawab orang itu sambil terus melihat Tara dari kejauhan.
__ADS_1
Bersambung..