
Persiapan pernikahan yang hanya dua minggu itu terkesan sangat mepet dan mendesak. Tapi bagi Dewa itu bukan masalah. Pesta besar tetap bisa terlaksana karena Niko yang di percaya Dewa untuk mengurus segala sesuatu tentang pesta pernikahannya.
Pria kepercayaan Dewa itu langsung berubah status dari seorang asisten kepercayaan Tuan muda berkuasa menjadi seorang wedding organizer.
Bagaimana tidak, semua vendor dari MUA, pemilihan WO yang sesungguhnya, sampai masalah katering juga Niko yang mengurus semuanya.
Hingga saat ini Dewa sudah siap dengan tuxedo hitam dan dasi kupu-kupunya. Begitu tampak semakin menawan dengan di dukung wajahnya yang tampan tanpa celah.
Sementara pria yang sudah begitu sempurna itu terus menatap istrinya yang sedang di pakaikan mahkota di kepalanya. Ternyata kecantikan wanita yang sudah melahirkan seorang putra tampan untuknya itu mampu mengalihkan dunia Dewa.
"Tutup mulut mu itu. Air liur mu hampir menetes" Papa Elang sangat mengganggu Dewa yang sedang mengagumi disadarinya.
Dewa mendengus menatap Papa Elang dengan kesal.
"Dulu Mama kamu juga begitu cantik dengan gaun pengantinnya. Meski pernikahan kita di lakukan karena ulah Mamamu. Tapi Papa mengakui jika Mama wanita tercantik waktu itu" Papa Elang menerawang jauh ke masa lalunya.
"Makanya kalau cinta itu ngomong. Jangan di pendam terus sok tau, terus jadinya salah paham. Jadi deh saling benci-bencian padahal sama-sama bucin" Balas Dewa telak pada Papaya.
"Dasar anak durhaka kamu. Di ajak curhat malah begitu sama Papa. Setidaknya Papa nggak berbuat g*la kaya kamu"
"Iya, Papa enggak tapi Mama" Bisik Dewa takut Mama Bella mendengarnya.
"Nggak tau diri kamu jadi anak, berani-beraninya ngatain Mama kamu" Papa Elang merutuk Dewa tapi dengan tawanya yang dia tahan.
Sebenarnya Papa Elang hanya mencoba membuat Dewa tenang dan tidak gugup dengan candaannya itu.
"Sudah waktunya keluar. Cepat jemput istrimu itu" Papa Elang sedikit mendorong bahu Dewa untuk mendekat pada Diandra yang sudah siap dengan gaun indahnya.
"Kamu sudah siap sayang??" Dewa mengulurkan tangannya.
"Aku gugup Mas" Tangan Diandra terasa dingin di tangan Dewa.
"Tenang, ada Mas. Tapi kamu yakin udah benar-benar kuat kan, untuk berdiri di sana dengan cukup lama??" Dewa sudah menanyakan hal itu lebih dari 5 kali sejak tadi.
"Yakin Mas, kamu tidak udah khawatir"
__ADS_1
"Tuan, Nyonya. Sudah waktunya keluar" Ucap seorang wanita yang sepertinya salah satu bagian daei wo yang di sewa Dewa.
Diandra melingkarkan tangan Diandra pada lengannya. Berjalan berdampingan dengan sangat serasi. Perpaduan manusia yang sama-sama dianugerahi wajah di atas rata-rata. Semakin membuat pasangan itu menjadi buah bibir siapapun yang melihatnya.
Gaun berwarna putih yang mengembang di bawahnya itu terus bergerak seiring dengan langkah Diandra yang semakin dekat dengan pintu besar yang menjadi pembatas antara dirinya saat ini dan ruangan resepsi di dalam sana.
Pintu besar itu mulai terbuka. Dapat Diandra lihat banyaknya orang di dalam sana dan blitz kamera yang mulai menyilaukan matanya begitu Dewa dan Diandra melangkah ke dalam.
Senyuman bahagia begitu terlihat di bibir keduanya. Seakan melupakan gosip yang berkembang dua minggu terakhir ini. Dewa dan Diandra benar-benar akan membantah semua itu dengan kebahagiaan mereka saat ini.
MC yang sering Diandra lihat mengisi acara kalangan artis papan atas dan para pengusaha itu kini sudah menyambutnya di depan sana.
Decak kagum dan pujian-pujian terus Diandra dengar saat berjalan menuju panggung singgah sananya. Singgah sana yang akan menjadikannya Ratu dalam sehari meskipun terlambat.
Rangkaian acara mukai berjalan satu per satu, hiburan dari penyanyi terkenal di negara ini juga sudah memperdengarkan suara emasnya untuk menghibur semua tamu yang ada di sana.
Hingga tiba saatnya Dewa menunjukkan jawaban dari semua pertanyaan orang di luar sana tentang penikahannya dengan Diandra.
Dewa menerima sebuah mikrofon dari MC terkenal tadi dengan satu tangannya tak pernah melepaskan tangan Diandra.
"Selamat malam semuanya. Sebelumnya saya mengucapkan terimakasih karena sudah meluangkan waktu berharga saudara-saudara sekalian hanya untuk menghadiri pesta pernikahan kami" Diandra begitu mengagumi suaminya yang begitu tegas dan tenang di hadapan ratusan orang di ruangan itu.
Setelah itu, foto pernikahan mereka sembilan bulan yang lalu mulai tampak pada layar monitor besar di ruangan itu.
Tentu saja foto itu berhasil membuat riuh karena bisik-bisik dari semua orang di sana.
"Ini adalah foto pernikahan kami kira-kira sembilan bulan yang lalu. Anda bisa lihat sendiri di pojok kanan atas terdapat tanggal kapan foto itu di ambil"
Kemudian foto yang ke dua adalah foto Akhtar yang menggemaskan sedang dalam pangkuan Diandra dengan Dewa di sampingnya.
"Dan ini foto anak kami namanya Abiseka Akhtar bahuwirya usianya baru satu bulan. Seharusnya dia baru lahir tiga hari yang lalu menurut prediksi Dokter. Tapi karena waktu itu istri saya terlibat kecelakaan, terpaksa Dokter mengambil keputusan untuk melahirkan anak kami di usia 8 bulan. Jadi foto di rumah sakit itu memang benar saya dan istri saya. Kami sedang menjemput anak kami yang baru saja di perbolehkan pulang setelah dua minggu di dalam inkubator. Jadi kami sama sekali tidak membantah hubungan kami"
"Tapi yang saya tidak suka adalah banyaknya berita miring tentang istri saya. Tapi kami berdua maklum karena memang saat itu pernikahan kami belum terendus media sama sekali. Bukan bermaksud menyembunyikan status kami. Tapi kami hanya menunggu waktu yang tepat untuk mempublikasikan hubungan kami"
"Jadi setelah pesta pernikahan ini saya harap semua orang di luar sana berhenti berspekulasi negatif kepada istri saya. Dia wanita terbaik dalam hidup saya, jadi saya pastinya tidak akan rela melihatnya bersedih hanya karena berita tidak benar itu" Diandra merasa terharu mendengar penuturan Dewa yang begitu menunjukkan rasa cintanya di depan semua orang.
__ADS_1
"Untuk yang terakhir, saya minta maaf karena telah membuat gaduh dengan berita tentang kami. Saya minta maaf karena telah membuat anda semua merasa tidak nyaman. Terimakasih untuk waktunya silahkan kembali menikmati pestanya. Selamat malam"
Tepuk tangan untuk Dewa dari semua tamu di dalam sana terdengar begitu meriah.
"Terimakasih Mas" Bisik Diandra pada suaminya. Begitu bahagianya Diandra mendapatkan sosok suami seperti Dewa. Dia rela menjadi apapun termasuk tameng untuk melindungi Diandra.
"Sama-sama sayang" Dewa tersenyum pada Diandra. Senyuman terbaik milik Dewa hanya untuk Diandra. Diandra begitu mengagumi senyuman yang mampu melelehkan hatinya itu.
Pesta terus berlanjut hingga menjelang tengah malam. Satu persatu tamu undangan sudah mulai meninggalkan ballroom mewah itu.
Rasa lelah mulai menyerang Diandra, terlebih berdiri di tempat yang sama selama beberapa jam membuat kakinya terasa pegal.
"Kamu mengundangnya sayang??" Tanya Dewa pada Diandra ketika mereka berdua melihat Bryan mendekat ke arahnya.
"Iya Mas, maaf aku nggak bilang sama kamu. Aku hanya ingin membuktikan sama kamu bahwa aku sudah benar-benar melupakannya" Dewa menerima alasan yang di ucapkan Diandra itu.
Dewa juga tak lepas menatap manik mata hitam itu ketika melihat Bryan. Sama sekali tak ada raut penyesalan dan kesedihan di sana. Hanya ada seulas senyum tipis yang di berikan Diandra untuk menyambut Bryan.
"Selamat Diandra. Aku turut bahagia untuk kalian berdua" Bryan menjabat tangan Diandra.
Ada rasa senang di hati Dewa karena Bryan sudah tidak memanggil Diandra dengan sebutan Didi lagi.
"Terimakasih sudah datang Bryan. Maaf sudah pernah mengecewakanmu. Aku berharap suatu saat kamu bisa menemukan wanita yang baik untukmu" Ucap Diandra.
"Terimakasih Diandra"
Bryan lalu beralih pad Dewa yang sedari tadi terus menatapnya dengan tidak bersahabat
"Selamat Tuan Dewa. Anda telah berhasil meluluhkan hati Diandra dalam waktu yang cukup singkat"
"Terimakasih Bryan, aku suka pujian mu kepadaku itu" Dewa menyambut uluran tangan Bryan.
"Semoga kalian berdua terus diliputi kebahagiaan. Saya permisi" Bryan meninggalkan panggung itu tanpa menoleh ke belakang lagi. Baginya saat ini mendoakan Diandra lebih baik daripada menyimpan dendam.
Bryan langsung menuju pintu keluar. Dia rasa urusannya di tempat itu sudah selesai. Lebih baik dia pulang daripada melihat senyum Diandra yang terus di tujukan bukan untuknya.
__ADS_1
Tapi Bryan menghentikan langkahnya saat melihat seseorang yang sedang berjalan ke arah toilet. Bryan mengganti arah kakinya yang semula menuju ke pintu keluar kini berputar menyusul orang itu ke toilet.
Bersambung...