
Dewa sempat terbengong dengan permintaan Diandra itu. Bukankah di sana juga ada Bryan, tapi kenapa Diandra malah meminta Dewa untuk menggendongnya??
"Mas!!" Panggil Diandra sambil menggoyangkan jari milik Dewa.
Dewa langsung menggendong Diandra ala bridal style. Dia tidak mau darah yang keluar dari telapak kaki Diandra semakin banyak jadi Dewa tidak peduli lagi dengan dua orang yang masih terdiam menatapnya itu.
"Naik motor bisa kan??"
"Bisa Mas"
"Pegangan!!" Perintah Dewa ketika Dewa sudah siap dia atas motornya bersama Diandra.
Tangan Diandra melingkar begitu saja di pinggang Dewa. Tanpa rasa canggung lagi, Diandra menyandarkan kepalanya di punggung Dewa.
"Dee, kamu nggak tidur kan??" Tanya Dewa.
"Enggak Mas, cuma kakiku rasanya sakit sekali aku sudah tidak tahan" Ucap Diandra dengan lemas. Darah di kakinya juga tak kunjung berhenti.
"Sabarlah sebentar kita hampir sampai" Tangan kiri Dewa mengusap tangan Diandra yang melingkar di pinggangnya.
Diandra sudah tidak menjawab lagi karena merasakan kakinya yang mulai kebas dan sakit jika di gerakkan.
"Niko!!" Teriak Dewa begitu memasuki gerbang rumahnya.
Anak buah Dewa yang lain menghampiri Dewa. Membantu Tuannya itu untuk membawa Diandra ke dalam rumah.
"Dimana Dokternya??" Tanya Dewa sambil menggendong Diandra yang sudah terlihat pucat itu.
"Sudah menunggu di dalam Tuan" Jawab Niko mengikuti Dewa yang terlihat panik.
Dewa mendudukkan Diandra di sofa ruang tamu dengan Dokter yang sudah sigap menyambut Diandra.
"Cepat lakukan lakukan sesuatu agar darahnya cepat berhenti!!" Perintah Dewa pada Dokter itu.
"Baik Tuan!!" Dokter itu mulai mengeluarkan alat-alatnya.
"Maaf Tuan, bisa saya minta air bersih untuk membersihkan kakinya dari pasir??"
"Saya akan siapkan" Niko segera berlari ke dapur untuk menyiapkan apa yang dokter itu minta.
__ADS_1
"Tahan sebentar lagi Dee" Dewa menggenggam tangan Diandra. Dewa duduk di sisi Diandra dengan raut kekhawatirannya.
"Ini airnya Dokter" Satu baskom air sidah siap di sana. Dokter itu dengan telaten membersihkan kaki Diandra dari pasir pantai yang masih menempel di sana.
"Didi!!" Bryan yang tadi tertinggal di belakang bari saja tiba dengan napasnya yang tersengal-sengal.
"Bryan" Ucap Diandra dengan pelan. Kepalanya sudah bersandar di sofa karena rasa pusing yang menyerangnya saat ini.
"Nyonya, tahan sebentar ya saya aman menyuntikkan bius untuk mencabut pecahan kacanya" Ujar Dokter itu.
"Ini tidak akan sakit Didi, percayalah!!" Ucap Bryan.
Dewa yang merasa keberadaannya tidak di butuhkan oleh Diandra berlahan melepaskan genggaman tangannya. Lalu bergerak sedikit menjauh dari Diandra.
"Mau kemana?? Disini saja temani aku!!" Diandra menahan tangan Brian. Lalu menggenggam satu tangan Dewa seperti yang Dewa lakukan tadi.
Genggaman tangan Diandra sedikit mengerat kala jarum suntik itu menembus kulit Diandra.
"Darahnya sudah terlalu banyak keluar, apa Nyonya merasakan pusing saat ini??" Tanya Dokter.
"Iya, kepala saya rasanya sudah berkunang-kunang sampai saya tidak mampu menegakkannya" Jawab Diandra dengan lemas.
"Tuan, sebaiknya setelah ini saya minta Nyonya untuk dibaringkan di tempat yang nyaman saja. Saya akan melanjutkan menjahit lukanya jika Nyonya sudah merasa nyaman" Terang Dokter itu pada Dewa.
Diandra yang sudah lemas hanya menyandarkan saja kepalanya pada dada milik Dewa, di tambah lagi harum parfum milik Dewa yang wangi semakin membuat Diandra merasa nyaman.
Di dalam kamar mereka hanya ada Diandra, Dewa dan Dokter itu saja. Karena Dokter memang tidak mengijinkan terlalu banyak orang untuk ikut masuk ke dalam.
Walaupun Bryan juga sebenarnya sangat ingin menemani Diandra di dalam. Tapi Niko dengan tegas melarangnya. Jadilah mereka menunggu di luar kamar Diandra bersama Manda dan Tara yang baru saja tau apa yang terjadi pada Diandra.
"Dokter kenapa istri saya pucat begini??" Tanya Dewa dengan cemas.
"Tenang Tuan. Ini karena Nyonya lumayan banyak mengeluarkan darah dan juga merasakan sakit pada kakinya. Apalagi keadaannya sedang hamil membuat badannya menjadi lemah" Jelas Dokter itu sambil terus merawat luka Diandra.
"Apa butuh transfusi darah juga??"
"Sepertinya tidak perlu Tuan, tapi setelah ini saya akan memasangkan infus untuk Nyonya"
"Lakukan apapun itu, selama itu yang terbaik untuk istri saya" Ucap Dewa.
__ADS_1
Diandra memang memejamkan matanya, namun dia masih sepenuhnya sadar. Dia melakukan itu hanya untuk mengurangi rasa pusing pada kepalanya. Dan Diandra dengan jelas bisa mendengar pembicaraan Dewa dan Dokter yang usianya hampir setengah abad itu.
Setelah hampir satu jam, akhirnya luka Diandra sudah selesai di tangani oleh Dokter. Kali ini kaki cantiknya harus terbungkus oleh perban yang berwarna putih itu.
"Sudah selesai Tuan, saya mohon undur diri" Ucap Dokter itu.
"Tunggu Dokter, bagaimana dengan infus ini kalau cairannya habis?? Siapa yang akan melepas jarumnya kalau anda sudah pergi??" Pertanyaan yang bagus dari Dewa.
"Kalau begitu ijinkan saya untuk tetap tinggal sampai cairan infusnya habis Tuan" Dokter itu sebenarnya takut untuk meminta ijin pada Dewa.
"Begitu lebih baik. Aku akan meminta asistenku untuk menyiapkan tempat istirahat untukmu. Dan untuk maslaah bayaran, anda tidak perlu khawatir"
"Saya mengerti Tuan" Dokter yang sangat patuh pada Dewa karena tau sepak terjangnya negara ini.
"Kau boleh keluar" Titah Dewa.
"Baiklah saya permisi Tuan" Dokter itu sempat membungkuk sebentar sebelum meninggalkan kamar milik Dewa itu.
Setelah pintu itu benar-benar tertutup. Dewa kembali beralih pada Diandra yang ternyata sudah memandangnya sejak tadi.
Dewa hanya melirik Diandra saja. Lalu duduk diam di tepi ranjangnya.
"Mas??" Lirih Diandra.
Diandra menunggu beberapa Detik tapi taka kunjung ada jawaban atau sekedar gumaman dari Dewa.
"Kamu marah ya sama aku??" Tanya Diandra lagi.
Lagi-lagi Dewa enggan menjawab apa yang Diandra tanyakan itu. Dewa justru menunduk memainkan cincin pernikahan mereka yang melingkar di jari manisnya itu.
Mata Diandra sudah berkaca-kaca karena tak kunjung mendapat jawaban dari Dewa.
Dewa mengubah posisinya. Memegang kaki Diandra yang terbungkus perban dengan pelan.
"Apa ini sakit??" Justru pertanyaan itu yang keluar dari Dewa
"Aku minta maaf Mas. Aku tidak tau jika Bryan aknn ikut kita jalan-jalan ke pantai dan mengacaukan rencana kita. Tadi sebenarnya aku sudah ingin menolak tapi kamu memotong ucapan ku lebih dulu untuk memanggil Manda"
"Aku minta maaf juga soal ini. Aku ceroboh samapi kakiku terkena pecahan kaca. Aku hanya bisa merepotkan mu dan selalu membuat mu marah. Maafkan aku Mas" Dewa juga tidak mendapatkan jawaban yang Dia inginkan.
__ADS_1
Dewa menatap Diandra dengan dalam. Diandra yang terkunci pada tatapan mata itu tak bisa berkutik. Rasa takut mulai menggerayangi dirinya. Dia takut Dewa akan meledak saat itu juga karena hancurnya rencana jalan-jalan berdua mereka di tambah lagi luka di kaki Diandra saat ini.
Bersambung..