
Membawa rasa gugup di dalam dirinya, Tara akhirnya sampai di bukit yang sama satu bulan yang lalu. Suasananya masih sama, hanya udaranya yang sedikit lebih dingin dari waktu itu.
Tara melihat jam di ponselnya. Sudah lewat tiga puluh menit dari waktu yang di tentukan oleh Tara, tapi Bryan belum juga terlihat di sana.
"Apa dia memang tidak akan datang?? Apa akhirnya dia sadar kalau sebenarnya dia tidak bisa mencintaiku??"
Rasa sakit menerpa hati Tara seketika. Mungkin karena dirinya terlalu berharap dengan Bryan. Tak dapat di pungkiri jika Tara sangat menunggu hari ini, tentu saja dengan Bryan yang membawa jawaban atas perasannya pada Tara. Tapi melihat kenyataannya kali ini, Bryan yang belum juga tiba di sana, Tara sudah mulai kecewa. Bukan pada Bryan melainkan pada dirinya sendiri yang terlalu berharap pada pria itu.
Sikap ketus dan tak peduli pada Bryan hanyalah kepalsuan belaka. Dia hanya ingin menunjukkan pada Bryan jika dia bukanlah seperti wanita murahan seperti yang dikatakan Bryan waktu itu. Tapi nyatanya Tara sendiri tersiksa, melawan jantungnya yang berdetak keras saat di dekat Bryan dengan wajahnya yang datar dan acuh tak acuh.
Tara mendudukkan dirinya di bangku kayu itu. Memilih di tempat Bryan duduk waktu itu. Tara begitu menikmati udara dingin yang menerpa wajahnya. Menghilangkan rasa penat setelah bekerja keras setiap harinya, juga mempersiapkan dirinya sendiri untuk menghadapi kenyataan jika Bryan benar-benar tidak datang ke sana.
Suasana sore hari yang mulai berganti malam, menyingsingkan matahari yang telah selsai melakukan tugasnya, membuat Tara semakin kedinginan. Hanya dengan dress yang di tambah dengan kardigan tipis tidak mampu membuat tubuhnya hangat sama sekali. Padahal waktu dia datang bersama Bryan rasanya tak sedingin itu.
Angin yang bertiup pun semakin kencang, hingga pohon besar di atasnya mulai menggugurkan daunnya. Rambut Tara yang panjang kecoklatan itu juga tertiup angin tak beraturan.
"Apa aku harus pulang saja?? Mungkin dia memang tidak akan datang kesini"
Tapi hatinya ragu, dia masih berharap jika Bryan akan datang ke sana.
"Sebentar lagi, yaa.. Aku akan menunggunya sebentar lagi"
Bukannya menunggu di dalam mobil, Tara justru tetap bertahan di bangku itu. Menikmati lampu-lampu kota yang terlihat kecil dari atas bukit itu.
Tara menggosokkan kedua tangannya yang dingin itu, kemudian meniupnya beberapa kali untuk mencoba menghangatkannya. Bibirnya yang merah alami itu juga mulai membiru, terkadang giginya juga bergemeletuk merespon suhu dingin yang menerpa tubuhnya.
Nafasnya semkin memberubu, kemudian isakan kecil mulai keluar dari bibirnya yang bergetar itu. Air matanya terasa hangat membasahi pipinya yang mulai kaku.
Bukan menangis karena kedinginan atau ketakutan sendirian di tempat itu. Karena meski di atas bukit yang sepi tapi banyak lampu yang menerangi tempat itu, seperti sengaja di buat untuk tempat wisata.
Tapi Tara menangisi dirinya sendiri yang masih berharap kepada Bryan. Sudah jelas-jelas pria itu tidak datang, kenapa Tara masih menunggunya selama itu.
"Aaaakkkhhhh!!!!
"BODOH!! KAU MEMANG BODOH TARA!!"
Tara berteriak mengeluarkan segala rasa sakit di dalam hatinya. Tak peduli jika nanti akan mengundang perhatian dari penjaga tempat itu, yang jelas Tara harus mengeluarkan emosinya.
"Kenapa aku harus menunggunya hingga malam begini!! Dia tidak akan datang Tara!! Sadarlah, dia tidak mencintai mu!!" Tara semakin terisak karena rasa sesak di dalam dadanya, rasanya seperti ada batu besar yang menghimpitnya.
"Kamu salah Tara!! Aku mencintaimu!! Aku datang"
Tara menghentikan tangisannya karena mendengar suara yang amat dia kenal itu. Tara melihat kebelakang dan melihat pria yang sejak sore tadi di tunggunya.
Bryan mendekati Tara dengan nafasnya yang masih tersengal-sengal.
"Bryan, kamu datang??" Lirih Tara masih tak percaya. Pria tinggi dan tampan itu sudah berdiri di hadapannya dengan masih mengatur nafasnya.
Bryan tak menjawab Tara namun merengkuh Tara ke dalam dekapannya. Melihat bibir Tara yang membiru membuat Bryan semakin menyalahkan dirinya sendiri. Apalagi setelah merasakan dinginnya tangan Tara saat dia menariknya ke dalam pelukannya. Sungguh Bryan mengutuk dirinya sebagai pria terbodoh saat ini.
FLASHBACK ON
"Apa jadwalku setelah ini Kim??"
Pemotretan dengan produk kosmetik terkemuka itu baru selesai menjelang sore hari. Langit di luar sana juga sudah mulai berubah warna.
"Hanya makan malam bersama perwakilan dari perusahaan M untuk memperpanjang kontrak mu di sana"
"Lalu untuk besok?" Bryan sudah mengganti bajunya lagi, dan bersiap untuk pekerjaan selanjutnya.
"Besok kita syuting untuk iklan ponsel keluaran terbaru" Kimmy melihat lagi jadwal Bryan pada ponselnya.
"Bukannya itu tanggal 2??"
__ADS_1
"Iya tanggal 2, sekarang kan tanggal 1" Jawab Kimmy memperlihatkan ponselnya pada Bryan.
"Bukannya sekarang tanggal 31??" Bryan merebutnya begitu saja, memastikan sekali lagi jika hari benar tanggal 1.
"Bulan lalu hanya sampai tanggal 30 Bryan bukan tanggal 31. Lagian ada apa sih, penting banget kayaknya"
Bryan mengembalikan ponsel Kimmy dengan perasaan yang sudah campur aduk.
"Penting Kim, sangat penting. Ini maslaah hidup dan mati ku" Bryan mencari tas Kimmy untuk mencari kunci mobil milik wanita jadi-jadian itu.
"Wakili aku untuk makan malam itu Kim, aku harus pergi sekarang. Pinjam mobilmu" Bryan berlari keluar dengan terburu-buru tanpa memberikan kesempatan pada Kimmy untuk bertanya.
Bryan mengemudikan mobil Kimmy dengan kecepatan tinggi. Namun harus terhenti saat tiba di pusat kota. Kemacetan tak mungkin bis adi hindari oleh Bryan.
"Bodoh!! Bodoh!! Bodoh!!" Bryan memukul stir mobilnya beberapa kali.
Bagaimana dia bisa melupakan hari ini. Bukan, Bryan tidak lupa sama sekali karena dia begitu menantikan hari ini. Tapi Bryan hanya salah menghitung tanggal saja, tapi itu sungguh membuat Bryan menjadi orang terbodoh di dunia.
Tak sabar dengan kemacetan yang terjadi di sana, akhirnya Bryan memilih menepikan mobilnya. Saat ini naik ojek adalah pilihan yang tepat bagi Bryan.
Menempuh jarak yang tak bisa di bilang dekat karena harus menempuh perjalanan dua jam jika menggunakan mobil membuat Bryan terus uring-uringan.
Meski sudah di atas motor bersama tukang ojek yang membawanya dengan kecepatan tinggi sesuai keinginan Bryan, tapi perasannya belum tenang juga.
Sedangkan saat ini sudah menunjukkan pukul 8 malam. Itu artinya Bryan sudah telat 4 jam dari waktu yang Tara janjikan.
Meski tidak tau Tara datang atau tidak, Bryan masih terus berharap jika Tara akan menunggunya di sana.
Setelah satu setengah jam perjalanan, akhirnya sudah bisa melihat cahaya lampu dari bukit itu. Tinggal sedikit lagi akan sampai di sana.
"Kenapa Pak??" Sepeda motor yang mereka tumpangi tiba-tiba berhenti.
"Sepertinya mogok Pak"
"Apa??" Bryan langsung turun dan mengeluarkan uang dari dompetnya.
"Ini kebanyakan Pak"
"Tidak papa, terimakasih sudah membawa saya dengan selamat meski tidak sampai tujuan" Tak ada waktu lagi Bryan langsung berlari dengan cepat menuju bukit itu.
Nafasnya Bryan sudah hampir putus karena terus berlari tanpa henti. Sedikit lagi dia sampai, hingga Bryan mendengar suara teriakan seseorang.
"Aaaakkkhhhh!!!!
"BODOH!! KAU MEMANG BODOH TARA!!"
"Kenapa aku harus menunggunya hingga malam begini!! Dia tidak akan datang Tara!! Sadarlah, dia tidak mencintai mu!!" Bryan ikut merasakan sakit karena suara tangisan Tara itu.
Bryan mempercepat langkahnya yang hanya berjarak beberapa meter lagi.
FLASHBACK OFF
"Iya aku datang, sayang"
Bryan semakin mempererat pelukannya pada Tara, menyalurkan kehangatan pada tubuhnya untuk Tara.
"Maafkan aku karena baru datang, maaf karena membuatmu menunggu begitu lama" Dada Bryan yang basah karena keringat bersatu dengan basahnya wajah Diandra karen air mata.
"Aku kira kamu tidak akan datang" Lirih Tara.
"Aku pasti datang, untuk kamu, untuk cintaku" Jawaban Bryan membuat Tara melepaskan pelukannya lalu mencari kebohongan di mata Bryan.
"Kamu mencintaiku?? Kamu sudah yakin??"
__ADS_1
"Kamu sendiri yang bilang. Kalau kita sudah yakin, datanglah lagi ke tempat ini. Tapi tidak udah datang kalau tidak. Jadi kamu tau sendiri jawabannya kan??" Bryan mengusap pipi Tara yang basah dengan ibu jarinya.
"Tidak, aku ingin mendengar sendiri dari mulutmu" Tara menunggu Bryan yang akan mengeluarkan suaranya.
"Aku mencintaimu, Tara"
Tara bahkan hanya terpaku mendengar pengakuan dari Bryan itu.
"Maaf karena membuatmu menunggu lama. Salahkan aku yang bodoh ini" Bryan mencakup wajah Tata yang terasa dingin itu.
"Aku juga mencintaimu Bryan" Tara kembali memeluk Bryan. Tak sia-sia dia menunggu Bryan sendirian dengan dingin yang menusuk hingga tulang.
Keyakinannya jika Bryan akan datang ternyata tidak salah. Kini Tara sudah ada dalam pelukan pria yang dicintainya itu.
"Aku pikir kamu tidak akan datang. Aku sudah hampir putus asa"
Bryan hanya terkekeh mengingat kebodohannya tadi.
"Kenapa ketawa??" Tara mendongak menatap Bryan.
"Tara, jujur aku sudah menantikan hari ini. Tapi karena kebodohan ku, aku lupa jika saat ini tanggal 1. Aku kira saat ini masih tanggal 31. Maafkan aku" Bryan mencium wangi rambut Tara dalam-dalam.
"Cih.. Dasar bodoh!! Gimana seandainya kalau aku sudah pergi dari sini dan mengira kalau kamu tidak akan datang kemari??"
"Tidak masalah, besok aku akan menemui mu di rumah. Langsung melamar mu di hadapan Papa mu"
Diandra menepuk lengan Bryan dengan cukup keras.
"Jangan gila kamu!!" Bryan suka Tara yang galak-galak menggemaskan seperti itu. Menurutnya begitu lucu dan membuat suasana hatinya menghangat.
Dewa mengambil ponsel dari kantungnya hanya melihatnya sekilas lalu memasukannya lagi. Tapi Tara sempat melihat sebuah foto yang menjadi wallpaper di ponsel Bryan
"Kita pulang yuk, sudah malam kamu juga sudah kedinginan seperti ini" Dewa meraih tangan Tara lalu memasukkannya ke dalam kantung hoodienya.
Merek berdua berjalan saling bergenggaman tangan menuju mobil Tara.
"Sejak kapan kamu menjadikan foto itu sebagai wallpaper di ponselmu??" Tara sedikit malu menanyakannya pada Bryan.
"Sejak aku mulai sadar jika aku mencintaimu"
"Kapan itu??"
"Rahasia"
~ END ~
-
-
-
-
Halo.. halo.. halo..
Akhirnya selesai juga cerita tentang Dewa dan Diandra..
Sebelumnya otor minta maaf jika terdapat banyak kesalahan dalam penulisan dan bahasa yang tak beraturan, ataupun alur cerita yang tidak sesuai dengan ekspektasi kalian readers tercinta.
Tapi terimakasih banyak otor ucapkan untuk kalian semua yang sudah sudi membaca karya ini dari awal sampai akhir.
Terimakasih juga untuk dukungan kalian untuk karya ini..
__ADS_1
Jangan lupa baca karya otor yang lainnya juga ya..
Sampai jumpa di karya selanjutnya..😚😚😚😚😚